Era baru PDIP bakal terjadi kalau Megawati Soekarnoputri tidak mau lagi dicalonkan menjadi ketua umum partai berlambang banteng moncong putih itu dalam Kongres, April mendatang.
Mega sudah memberikan sinyal kepada kader muda, seperti Puan Maharani, Pramono Anung, dan Budiman Sudjatmiko sebagai penggantinya.
Bekas Presiden itu membenarkan bahwa putrinya, Puan Maharani, termasuk salah satu kandidat.
“Ya tentu. Dia punya kesempatan. Dia juga merupakan satu kandidat yang bagus. Tetapi saya juga lihat ada Pramono Anung yang bagus, Budiman Sudjatmiko yang bagus, ada banyak sekali kader-kader PDI Perjuangan yang menurut saya dapat suatu hari memimpin PDI Perjuangan,” katanya saat bertemu dengan para jurnalis asing yang tergabung dalam Jakarta Foreigner Correspondent Club (JFCC) di Intercontinental Midplaza, Jakarta, 3 Juli lalu.
Ketua DPP PDIP Guruh Soekarnoputra juga mengatakan bahwa kakaknya, Megawati, tidak mencalonkan lagi sebagai Ketua Umum PDIP dalam Kongres mendatang.
Menurut Guruh, selama 16 tahun menjabat sebagai Ketua Umum PDIP sudah cukup bagi sang kakak. Kini saatnya Megawati untuk mundur dan meneruskan tongkat estafet kepada kader yang lebih muda.
Guruh menyatakan kesiapannya untuk dicalonkan sebagai ketua umum. Apalagi telah didukung pengurus daerah-daerah yang menjadi basis murni partai.
Jika terpilih nanti, Guruh akan melakukan perubahan-perubahan besar sehingga partai itu bisa diperhitungkan. Salah satunya, ia akan menanamkan kembali ajaran-ajaran Bung Karno yang selama ini sudah banyak ditinggal kader-kadernya.
Menanggapi hal itu, Guru Besar Ilmu Politik Universitas Indonesia (UI) Ibramsyah mengatakan, kalau Megawati tidak memimpin PDIP akan menjadi dilema bagi partai berlambang banteng moncong putih itu.
“PDIP tidak perlu orang itu pintar, tapi harus bisa sebagai perekat atau pemersatu. Orang seperti Megawati belum ada,” katanya kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
Jika Megawati bersikeras mundur sebagai ketua umum PDIP, kata dia, dipastikan PDIP akan berantakan dan tidak punya arah. “Dulu memang ada kader-kader seperti Laksamana Sukardi dan Roy BB Janis tapi mereka tidak sabar dan akhirnya bikin partai yang juga berantakan,” katanya.
Di PDIP, kata dia, banyak kader-kader muda yang bagus dan potensial. Namun belum memiliki jiwa perekat seperti Megawati. “Kenapa harus perekat, karena di PDIP banyak friksi,” katanya.
Menurutnya, Guruh Soekarnoputra, Pramono Anung, Puan Maharani dan Maruarar Sirait kapabilitas pemersatunya masih jauh. “Mungkin yang sedikit agak mendekati yaitu Pramono Anung,” katanya.
Dikatakan, Megawati merupakan sosok yang berani dan konsisten dalam putusannya. Bagi seorang pimpinan sikap seperti itu merupakan modal yang bagus.
“Megawati lebih berani dari SBY dalam mengambil keputusan. Kemudian sikapnya konsisten. Misalnya, soal koalisi dengan Demokrat, Mega tetap keukeuh, tapi Taufik Kiemas goyah juga. Makanya diterima jabatan Ketua MPR,’’ paparnya.
Melihat hal itu, lanjutnya, untuk lima tahun ke depan Megawati masih pas memimpin PDIP. Kemudian dipersiapkan kader-kader terbaik untuk menggantikannya.
Sementara pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Siti Zuhro mengatakan, ada banyak kader PDIP yang cocok untuk menggantikan Megawati, yakni Pramono Anung, Gayus Lumbun, dan Ganjar Pranowo. “Untuk saat ini Pramono Anung yang cocok untuk menggantikan Mega,” ujarnya, kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
Dikatakan, Pramono begitu intensif dalam mengawal PDIP, sehingga lika-liku PDIP sudah dikuasainya.
‘’Demi Eksisnya Partai Ini Mega Tetap Memimpin’’
Budiman Sudjatmiko, Kandidat Ketum PDIP
Salah satu kandidat Ketua Umum PDIP, Budiman Sudjatmiko mengatakan, tidak benar Megawati Soekarnoputri mundur dalam pencalonan Ketua Umum PDIP dalam Kongres mendatang.
“Justru dorongan dari bawah agar Ibu Mega tetap memimpin PDIP dalam Kongres nanti,” katanya kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
Mungkin yang dibutuhkan, lanjut Ketua Relawan Perjuangan Demokrasi (Repdem) itu, semacam ketua harian. Kemudian Sekjen dan jajaran ketua-ketua DPP yang enerjik, visioner, segar, daya juang yang tinggi, militan dan berkomitmen tinggi untuk membesarkan partai dan menyejahterakan rakyat Indonesia.
Menurut Budiman, dalam dua kali Rakernas PDIP yang terakhir, Mega masih memperoleh dukungan dari pengurus-pengurus PDIP di daerah-daerah untuk tetap sebagai Ketua Umum PDIP pada Kongres mendatang.
“Dari kalangan akar rumput partai masih menginginkan demi eksisnya partai ini Ibu Mega tetap memimpin partai ini ke depan,” katanya.
Uniknya, kata dia, kalangan yang selama ini tidak punya ikatan organisasional dengan PDIP tetap berharap agar Megawati tetap bertahan demi eksisnya partai ini.
“Mereka menilai PDIP masih membutuhkan kehadiran Ibu Mega sebabagi pimpinan partai,” katanya.
‘’Kuncinya Tetap Sama Megawati’’
Fachry Ali, Pengamat Politik
Pengamat sosial politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Fachry Ali mengatakan, pergantian tampuk pimpinan PDIP seharusnya sudah dilakukan dari dulu.
“Ini merupakan regenerasi yang harus dilewati,” katanya kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
Menurutnya, yang pas menggantikan Megawati bukan Puan Maharani, Guruh Soekarnoputra, dan Pramono Anung, tapi sosok perekat partai itu.
‘’Saya lihat sosok yang banyak bekerja di belakang layar yang cocok menggantikan Megawati, yakni Joko Widodo,” katanya
Alasannya, kata Fachry, Joko merupakan orang yang paling banyak berkeringat membantu Megawati. Selain itu, merupakan sosok yang merakyat dan tidak punya musuh.
“Dua indikator itu sebagai syarat awal sebagai perekat atau pemersatu di PDIP sama seperti Megawati,” katanya.
Apakah keputusan Megawati mundur sebagai ketua umum akan berimplikasi terhadap solidnya PDIP. Jawab Fachry, dampaknya hanya sebentar, seiring waktu keputusan Megawati roh PDIP memilih penggantinya akan di taati yang lainnya.
“Faktor dukungan Megawati menjadi kuncinya,” katanya.
‘’Pamor Mega Sudah Pudar’’
Ahmad Mubarok, Wakil Ketua Umum Partai Demokrat
Soal siapa pengganti Megawati Soekarnoputri memimpin PDIP dalam Kongres, April tahun depan, merupakan hak kader-kader partai berlambang banteng moncong putih itu.
Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Partai Demokrat, Ahmad Mubarok kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
‘’Tidak etis jika kami ikut-ikutan memprediksi siapa calon pengganti Megawati sebagai Ketua Umum PDIP. Itu semua terserah kader-kader PDIP,’’ ujarnya.
Namun, menurut Guru Besar di Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah itu, secara akedemis dirinya menilai memang ke depan Megawati harus menyerahkan tampuk kekuasaan pada penerusnya.
“Pamor Megawati sudah pudar di dunia politik. Kalau diusung lagi menjadi calon Presiden dalam periode mendatang tetap saja kurang didukung rakyat,” ujar Mubarok
Dikatakan, sebaiknya ke depan PDIP dipimpin tokoh muda yang bisa menjadi simbol partai.
“Saya kira sosok Budiman Sujatmiko mempunyai peluang itu, sebab dia merupakan simbol perlawanan generasi muda terhadap orde baru. Ditambah pengalaman dia di politik,” katanya
Saat ditanya mengenai sosok Pramono Anung dan Puan Maharani, Mubarok mengatakan, Pramono lebih cocok untuk menjadi Sekjen partai, sebab menguasai peran itu.
Mubarok juga menilai, peluang Puan sangat berat untuk menjadi Ketua Umum PDIP, karena putri Megawati itu masih baru di dunia politik..
“Kecuali dalam beberapa waktu ke depan dia membuat banyak manuver politik,” katanya.
‘’Regenerasi Tidak Harus Mengganti Ketum’’
Maruarar Sirait, Ketua DPP PDIP Bidang Pemuda
Semua pengurus dan kader PDIP masih menginginkan Megawati menjadi ketua umum lagi untuk periode 2010-1015.
Hal ini disampaikan Ketua DPP Bidang Pemuda, Maruarar Sirait, kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
Menurut Ketua Taruna Merah Putih (TMP) ini, Megawati merupakan figur yang berhasil membawa PDIP menjadi partai yang solid dan besar.
Anggota Komisi XI DPR ini juga mengatakan, proses regenerasi di PDIP di bawah kepemimpinan Megawati sudah berjalan dengan baik.
“Hal ini bisa dilihat dengan diberikan kesempatan yang sangat luas kepada pengurus muda, seperti saya, Budiman Sudjatmiko, Puan Maharani dan Ganjar Pranowo untuk terus berkembang,” katanya.
‘’Jadi, regenerasi tidak harus mengganti ketum (Ketua Umum),’’ tambahnya.
Sementara Ketua DPP PDIP Bidang Politik, Tjahjo Kumolo mengatakan, Megawati adalah kader terbaik partai yang taat dan tunduk kepada setiap keputusan kongres.
“Ibu Mega tidak bisa menolak keputusan kongres, sebab kongres adalah amanat dan keputusan partai tertinggi. Jadi, kita tunggu saja keputusan kongres nanti,” katanya
“Kalau kongres masih meminta ibu menjadi ketua umum lagi, konsekuensinya sebagai kader partai harus siap melaksanakan tugas sebagai ketua umum,” tambahnya.
‘’Penggantinya Pasti Darah Biru’’
Arbi Sanit, Pengamat Politik
Pengamat politik Arbi Sanit memprediksi pengganti Megawati Soekarnoputri menjadi Ketua Umum PDIP tetap dari trah dinasti Soekarno.
“Penggantinya pasti darah biru, yakni keturunan Soekarno. Lebih tepatnya keturunan Megawati dan Taufik Kiemas, yakni Puan Maharani” katanya kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin
Seharusnya, kata staf pengajar pasca sarjana ilmu politik Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) itu, pergantian pucuk pimpinan PDIP dilakukan pada 2004 lalu. Namun waktu itu belum ada penggantinya.
“Sekarang ada Puan Maharani,” katanya.
Tapi, lanjutnya, Puan Maharani sebenarnya belum pas juga, terlalu muda. Perlu penggemblengan.
“Pramono Anung bisa menggantikan Megawati, tapi syaratnya harus dapat dukungan Megawati dan Taufik Kiemas, tapi apa mungkin itu,” katanya.
Sedangkan untuk menopang partai tetap solid, Megawati harus tetap di belakang layar. “Paling tidak jadi Ketua Dewan Pembina,” katanya.
Sedangkan Guruh Soekarnoputra, kata dia, walau mewarisi trah darah biru Soekarno, namun tidak bisa mengoperasionalkan organisasi partai.
‘’Masih Dibutuhkan Sebagai Perekat’’
Ahmad Muzani, Sekjen Partai Gerindra
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Gerindra, Ahmad Muzani mengatakan, soal regenerasi di PDIP merupakan hak kader-kader partai berlambang banteng moncong putih itu.
‘’ Kami memang koalisi saat Pilpres lalu, tapi tidak cocok kalau kami mengomentari soal pergantian pimpinan PDIP,’’ Sekjen Partai Gerindra, Ahmad Muzani, kepada Rakyat Merdeka,
‘’Tapi Sebagai pribadi saya menilai Mega masih dibutuhkan sebagai perekat partai itu. Tapi semua itu terserah mereka,’’ tambahnya.
“Saya kira bu Mega sudah tahu kapan harus bertahan dan mundur. Karena beliau punya hitung-hitungan yang cepat dan tepat,” ucapnya.
Sebagai partai koalisi, menurutnya, PDIP punya banyak kader-kader yang berpotensi. Tapi siapa orangnya, dia tidak menyebutkannya.’‘’Itu bukan kewenangan saya,’’ ujarnya. di Jakarta, kemarin..
No comments:
Post a Comment