Saturday, 3 November 2012

SERAT DARMOGANDUL

Ingatlah ketika kerajaan Majapahit diserang Raden Patah
Prabu Brawijaya melarikan diri bersama Sabdo Palon
Kemudian Sunan Kalijaga berhasil menemukannya
Setelah berdebat maka Prabu Brawijaya masuk agama Islam.
Serat Darmogandul merupakan serat yang berisi cerita tentang dialog antara tokoh-tokoh pada jaman dulu kala di Indonesia. Dalam serat ini pula didapatkan cerita berubahnya keyakinan Prabu Brawijaya dari agama Buddha beralih ke agama Islam.Akan tetapi karena serat Darmogandul dinilai banyak pihak sebagai naskah yang bermuatan penghinaan terhadap Islam, maka serat tersebut dilarang beredar. Larangan inilah yang membuat Serat Darmogandul susah untuk diperoleh kembali. Kalaupun ada yang menemukan serat tersebut, biasanya masih asli berbahasa jawa dan belum diterjemahkan ataupun sudah diterjemahkan namun hanya potongan pendek saja. Akan tetapi alangkah senangnya karena kini telah ditemukan terjemahan lengkap Serat Darmogandul tersebut. Bagi anda yang ingin membacanya silahkan beranjak ke http://www.indoforum.org/showthread.php?t=37753 Berikut saya cuplikkan sedikit yang ada dalam Serat Darmogandul pada bagian dialog antara Sunan Kalijaga dengan Prabu Brawijaya dan Sabdo Palon di bawah ini :

Ganti yang diceritakan, perjalanan Sunan Kalijaga dalam mencari Prabu Brawijaya, hanya diiringkan dua sahabat. Perjalanannya terlunta-lunta. Tiap desa dihampiri untuk mencari informasi. Perjalanan Sunan Kalijaga melewati pesisir timur Pulau Jawa, menurutkan bekas jalan-jalan yang dilalui Prabu Brawijaya.
Sunan Kalijaga sang negosiator ulung
Perjalanan Prabu Brawijaya sampailah di Blambangan, Karena merasa lelah kemudian berhenti di pinggir mata air. Waktu itu pikiran Sang Prabu benar-benar gelap. Yang ada di hadapannya hanya abdi berdua, yaitu Nayagenggong dan Sabdapalon. Kedua abdi tadi tidak pernah bercanda, dan memikirkan peristiwa yang baru saja terjadi. Tidak lama kemudian Sunan Kalijaga berhasil menjumpainya. Sunan Kalijaga bersujud menyembah di kaki Sang Prabu. Sang Prabu kemudian bertanya kepada Sunan Kalijaga, “Sahid! Kamu datang ada apa? Apa perlunya mengikuti aku?”
Sunan Kalijaga berkata, “Hamba diutus putra Paduka, untuk mencari dan menghaturkan sembah sujud kepada Paduka dimanapun bertemu. Beliau memohon ampun atas kekhilafannya, sampai lancang berani merebut tahta Paduka, karena terlena oleh darah mudanya yang tidak tahu tata krama ingin menduduki tahta memerintah negeri, disembah para bupati. Sekarang putra Paduka sangat merasa bersalah. Adapun ayahanda Raja Agung yang menaikkan dan memberi derajat Adipati di Demak, tak mungkin bisa membalas kebajikan Paduka, Kini putra Paduka ingat, bahwa Paduka lolos dari istana tidak karuan dimana tinggalnya. Karena itu putra Paduka merasa pasti akan mendapat kutukan Tuhan. Karena itulah hambah yang lemah ini diutus untuk mencari dimana Paduka berada. Jika bertemu mohon kembali pulang ke Majapahit, tetaplah menjadi raja seperti sedia kala, memangku mahligai istana dijunjung para punggawa, menjadi pusaka dan pedoman yang dijunjung tinggi para anak cucu dan para sanak keluarga, dihormati dan dimintai restu keselamatan semua yang di bumi. Jika Paduka berkenan pulang, putra Paduka akan menyerahkan tahta Paduka Raja. Putra Paduka menyerahkan hidup dan mati. Itu pun jika Paduka berkenan. Putra Paduka hanya memohon ampunan Paduka atas kekhilafan dan memohon tetap sebagai Adipati Demak saja. Adapun apabila Paduka tidak berkenan memegang tahta lagi, Paduka inginkan beristirahat dimana, menurut kesenangan Paduka, di gunung mana Paduka ingin tinggal, putra Paduka memberi busana dan makanan untuk Paduka, tetapi memohon pusaka Kraton di tanah Jawa, diminta dengan tulus.”
Sang Prabu Brawijaya bersabda, “Aku sudah dengar kata-katamu, Sahid! Tetapi aku tidak gagas! Aku sudah muak bicara dengan santri! Mereka bicara dengan mata tujuh, lamis semua, maka blero matanya! Menunduk di muka tetapi memukul di belakang. Kata-katanya hanya manis di bibir, batinnya meraup pasir ditaburkan ke mata, agar buta mataku ini. Dulu-dulu aku beri hati, tapi balasannya seperti kenyang buntut! Apa coba salahku? Mengapa negaraku dirusak tanpa kesalahan? Tanpa adat dan tata cara manusia, mengajak perang tanpa tantangan! Apakah mereka memakai tatanan babi, lupa dengan aturan manusia yang utama!”
Setelah mendengar bersabda Sang Prabu demikian, Sunan Kalijaga merasa sangat bersalah karena telah ikut menyerang Majapahit. Ia menarik nafas dalam dan sangat menyesal. Namun yang semua telah terjadi. Maka kemudian ia berkata lembut, “Mudah-mudahan kemarahan Paduka kepada putra Paduka, menjadi jimat yang dipegang erat, diikat dipucuk rambut, dimasukkan dalam ubun-ubun, menambahi cahaya nubuwat yang bening, untuk keselamatan putra cucu Paduka semua. Karena semua telah terjadi, apalagi yang dimohon lagi, kecuali hanya ampunan Paduka. Sekarang paduka hendak pergi ke mana?”
Sang Prabu Brawijaya berkata, “Sekarang aku akan ke Pulau Bali, bertemu dengan yayi Prabu Dewa Agung di Kelungkung. Aku akan beri tahu tingkah si Patah, menyia-nyiakan orang tua tanpa dosa, dan hendak kuminta menggalang para raja sekitar Jawa untuk mengambil kembali tahta Majapahit. Adipati Palembang akan kuberi tahu bahwa kedua anaknya sesampai di tanah Jawa yang aku angkat menjadi Bupati, tetapi tidak tahu aturan. Ia berani memusuhi ayah dan rajanya. Aku akan minta kerelaannya untuk aku bunuh kedua anaknya sekaligus, sebab pertama durhaka kepada ayah dan kedua kepada raja. Aku juga hendak memberitahu kepada Hongte di Cina, bahwa putrinya yang menjadi istriku punya anak laki-laki satu, tetapi tidak tahu jalan, berani durhaka kepada ayah raja. Ia juga kuminta kerelaan cucunya hendak aku bunuh, aku minta bantuan prajurit Cina untuk perang. Akan kuminta agar datang di negeri Bali. Apabila sudah siap semua prajurit, serta ingat kepada kebaikanku, dan punya belas kasih kepada orang tua ini, pasti akan datang di Bali siap dengan perlengkapan perang. Aku ajak menyerang tanah Jawa merebut istanaku. Biarlah terjadi perang besar ayah melawan anak. Aku tidak malu, karena aku tidak memulai kejahatan dan meninggalkan tata cara yang mulia.”
Sunan Kalijaga sangat prihatin. Ia berkata dalam hati, “Tidak salah dengan dugaan Nyai Ageng Ampelgading, bahwa Eyang Bungkuk masih gagah mengangkangi negara, tidak tahu diri, kulit kisut punggung wungkuk. Jika beliau dibiarkan sampai menyeberang ke Pulau Bali, pasti akan ada perang besar dan pasukan Demak pasti kalah karena dalam posisi salah, memusuhi raja dan bapa, ketiga pemberi anugerah, Sudah pasti orang jawa yang belum Islam akan membela raja tua, bersiaga mengangkat senjata. Pasti akan kalah orang Islam tertumpas dalam peperangan.”
Akhirnya Sunan Kalijaga berkata pelan, “Aduh Gusti Prabu! Apabila Paduka nanti tiba di Bali, kemudian memanggil para raja, pasti akan terjadi perang bear. Apakah tidak sayang Negeri Jawa rusak. Sudah dapat dipastikan putra Paduka yang akan celaka, kemudian Paduka bertahta kembali menjadi raja, tapi tidak lama kemudian lengser keprabon. Tahta Jawa lalu diambil oleh bukan darah keturunan Paduka. Jika terjadi demikian ibarat serigala berebut bangkai, yang berkelahi terus berkelahi hingga tewas dan semua daging dimakan serigala lainnya.”
“Ini semua kehendak Dewata Yang Maha Lebih. Aku ini raja bintara, menepati sumpah sejati, tidak memakai dua mata, hanya menepati satu kebenaran, menurut Hukum dan Undang-Undang para leluhur. Seumpamanya si Patah menganggap aku sebagai bapaknya, lalu ingin menjadi raja, diminta dengan baik-baik, istana tana Jawa ini akan kuberikan dengan baik-baik pula. Aku sudah tua renta, sudah kenyang menjadi raja, menerima menjadi pendeta bertafakur di gunung. Sedangkan si Patah meng-aniaya kepadaku. Pastilah aku tidak rela tanah Jawa dirajainya. Bagaimana pertanggungjawabanku kepada rakyatku di belakang hari nanti?”
Mendengar kemarahan Sang Prabu yang tak tertahankan lagi, Sunan Kalijaga merasa tidak bisa meredakan lagi, maka kemudian beliau menyembah kaki Sang Prabu sambil menyerahkan kerisnya dengan berkata, apabila Sang Prabu tidak bersedia mengikuti sarannya, maka ia mohon agar dibunuh saja, karena akan malu mengetahui peristiwa yang menjijikkan itu.
Sang Prabu melihat tingkah Sunan Kalijaga yang demikian tadi, hatinya tersentuh juga. Sampai lama beliau tidak berkata selalu mengambil nafas dalam-dalam dengan meneteskan air mata. Berat sabdanya, “Sahid! Duduklah dahulu. Kupikirkan baik-baik, kupertimbangkan saranmu, benar dan salahnya, baik dan buruknya, karena aku khawatir apabila kata-katamu itu bohong saja. Ketahuilah Sahid! Seumpama aku pulang ke Majapahit, si patah menghadap kepadaku, bencinya tidak bisa sembuh karena punya ayah Buda kawak kafir kufur. Lain hari lupa, aku kemudian ditangkap dikebiri, disuruh menunggu pintu belakang. Pagi sore dibokongi sembahyang, apabila tidak tahu kemudian dicuci di kolam digosok dengan ilalang kering.”
Sang Prabu mengeluh kepada Sunan Kalijaga, “Coba pikirkanlah, Sahid! Alangkah sedih hatiku, orang sudah tua-renta, lemah tidak berdaya koq akan direndam dalam air.” Sunan Kalijaga memendam senyum dan berkata, “Mustahil jika demikian, besok hamba yang tanggung, hamba yakin tidak akan tega putra Paduka memperlakukan sia-sia kepada Paduka. Akan halnya masalah agama hanya terserah sekehendak Paduka, namun lebih baik jika Paduka berkenan berganti syariat rasul, dan mengucapkan asma Allah. Akan tetapi jika Paduka tidak berkenan itu tidak masalah. Toh hanya soal agama. Pedoman orang Islam itu syahadat, meskipun salat dingklak-dingkluk jika belum paham syahadat itu juga tetap kafir namanya.”
PERDEBATAN TEOLOGIS PRABU BRAWIJAYA
Sang Prabu berkata, “Syahadat itu seperti apa, aku koq belum tahu, coba ucapkan biar aku dengarkan “ Sunan Kalijaga kemudian mengucapkan syahadat, asyhadu alla ilaaha ilallah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasuulullah, artinya aku bersaksi, tiada Tuhan selain Allah, dan bersaksi bahwa Kanjeng Nabi Muhammad itu utusan Allah. “
Sunan Kalijaga berkata kepada Sang Prabu, “Manusia yang menyembah kepada angan-angan saja tapi tidak tahu sifat-Nya maka ia tetap kafir, dan manusia yang menyembah kepada sesuatu yang kelihatan mata, itu menyembah berhala namanya, maka manusia itu perlu mengerti secara lahir dan batin. Manusia mengucap itu harus paham kepada apa yang diucapkan. Adapun maksud Nabi Muhammad Rasulullah adalah itu Muhammad itu makam kuburan. Jadi badan manusia itu tempatnya sekalian rasa yang memuji badan sendiri, tidak memuji Muhammad di Arab. Badan manusia itu bayangan Dzat Tuhan. Badan jasmani manusia adalah letak rasa. Rasul adalah rasa kang nusuli. Rasa termasuk lesan, rasul naik ke surga, lullah, luluh menjadi lembut. Disebut Rasulullah itu rasa ala ganda salah. Diringkas menjadi satu Muhammad Rasulullah. Yang pertama pengetahuan badan, kedua tahu makanan. Kewajiban manusia menghayati rasa, rasa dan makanan menjadi sebutan Muhammad Rasulullah, maka sembahyang yang berbunyi ushali itu artinya memahami asalnya. Ada pun raga manusia itu asalnya dari ruh idhafi, ruh Muhamad Rasul, artinya Rasul rasa, keluarnya rasa hidup, keluar dari badan yang terbuka, karena asyhadu alla, jika tidak mengetahui artinya syahadat, tidak tahu rukun Islam maka tidak akan mengerti awal kejadian.”
Sunan Kalijaga berkata banyak-banyak sampai Prabu Brawijaya berkenan pindah Islam, setelah itu minta potong rambut kepada Sunan Kalijaga, akan tetapi rambutnya tidak mempan digunting. Sunan Kalijaga lantas berkata, Sang Prabu dimohon Islam lahir batin, karena apabil hanya lahir saja, rambutnya tidak mempan digunting. Sang Prabu kemudian berkata kalau sudah lahir batin, maka rambutnya bisa dipotong.
Perdebatan dengan Sabdapalon dan Nayageggong
Sang Prabu setelah potong rambut kemudian berkata kepada Sabdapalon dan Nayagenggong, “Kamu berdua kuberitahu mulai hari ini aku meninggalkan agama Buddha dan memeluk agama Islam. Aku sudah menyebut nama Allah yang sejati. Kalau kalian mau, kalian berdua kuajak pindah agama rasul dan meninggalkan agama Buddha.”
Sabdapalon berkata dengan sedih, “Hamba ini Ratu Dang Hyang yang menjaga tanah Jawa, Siapa yang bertahta menjadi asuhan hamba. Mulai dari leluhur Paduka dahulu, Sang Wiku Manumanasa, Sakutrem dan Bambang Sakri, turun-temurun sampai sekarang. Hamba mengasuh penurun raja-raja Jawa. Hamba jika ingin tidur sampai 200 tahun. Selama hamba tidur selalu ada peperangan saudara musuh saudara, yang nakal membunuh manusia bangsanya sendiri. Sampai sekarang umur hamba sudah 2000 lebih 3 tahun dalam mengasuh raja-raja Jawa, tidak ada yang berubah agamanya, sejak pertama menempati agama Buddha, Baru Paduka yang berani meninggalkan pedoman luhur Jawa. Jawa artinya tahu. Mau menerima berarti Jawan. Kalau hanya ikut-ikutan, akan membuat celaka muksa Paduka kelak,” Kata Wikutama yang kemudian disambut halilintar bersahutan.
Prabu Brawijaya disindir oleh Dewata, karena mau masuk agama Islam, yaitu dengan perwujudan keadaan di dunia ditambah tiga hal: (1) rumput Jawan, (2) padi Randanunut, dan (3) padi Mriyi.
Sang Prabu bertanya, “Bagaimana niatanmu, mau apa tidak meninggalkan agama Buddha masuk agama Rasul, lalu menyebut Nabi Muhammad Rasullalah dan nama Allah Yang Sejati?”
Sabdopalon berkata dengan sedih, “Paduka masuklah sendiri. Hamba tidak tega melihat watak sia-sia, seperti manusia Arab itu. Menginjak-injak hukum, menginjak-injak tatanan. Jika hamba pindah agama, pasti akan celaka muksa hamba kelak. Yang mengatakan mulia itu kan orang Arab dan orang Islam semua, memuji diri sendiri. Kalau hamba mengatakan kurang ajar, memuji kebaikan tetangga mencelakai diri sendiri. Hamba suka agama lama menyebut Dewa Yang Maha Lebih. Dunia itu tubuh Dewata yang bersifat budi dan hawa, sudah menjadi kewajiban manusia itu menurut budi kehendaknya, menjadi tuntas dan tidak mengecewakan, jika menyebut Nabi Muhammad Rasulullah, artinya Muhammad itu makam kubur, kubur rasa yang salah, hanya men-Tuhan-kan badan jasmani, hanya mementingkan rasa enak, tidak ingat karma dibelakang. Maka nama Muhammad adalah tempat kuburan sekalian rasa. Ruh idafi artinya tubuh, jika sudah rusak kembali kepada asalnya lagi. Prabu Brawijaya nanti akan pulang kemana. Adam itu sama dengan Hyang Ibrahim, artinya kebrahen ketika hidupnya, tidak mendapatkan rasa yang benar. Tetapi bangunnya rasa yang berwujud badan dinamai Muhammadun, tempat kuruban rasa. Jasa budi menjadi sifat manusia. Jika diambil Yang Maha Kuasa, tubuh Paduka sifatnya jadi dengan sendirinya. Orang tua tidak membuat, maka dinamai anak, karena adanya dengan sendirinya, jadinya atas suatu yang ghaib, atas kehendak Lata wal Hujwa, yang meliputi wujud, wujudi sendiri, rusak-rusaknya sendiri, jika diambil oleh Yang Maha Kuasa, hanya tinggal rasa dan amal yang Paduka bawa ke mana saja. Jika nista menjadi setan yang menjaga suatu tempat. Hanya menunggui daging basi yang sudah luluh menjadi tanah. Demikian tadi tidak ada perlunya. Demikian itu karena kurang budi dan pengetahuannya. Ketika hidupnya belum makan buah pohon pengetahuan dan buah pohon budi. Pilih mati menjadi setan, menunggu batu mengharap-harap manusia mengirim sajian dan selamatan. Kelak meninggalkan mujizat Rahmat memberi kutukan kiamat kepada anak cucunya yang tinggal. Manusia mati tidak dalam aturan raja yang sifatnya lahiriah. Sukma pisah dengan budi, jika tekadnya baik akan menerima kemuliaan. Akan tetapi jika tekadnya buruk akan menerima siksaan. Coba Paduka pikir kata hamba itu!”
Prabu berkata “Kembali kepada asalnya, asal Nur bali kepada Nur”.
Sabdapalon bertutur “Itu pengetahuan manusia yang bingung, hidupnya merugi, tidak punya pengetahuan ingat, belum menghayati buah pengetahuan dan budi, asal satu mendapat satu. Itu bukan mati yang utama. Mati yang utama itu sewu satus telung puluh. Artinya satus itu putus, telu itu tilas, puluh itu pulih, wujud kembali, wujudnya rusak, tetapi yang rusak hanya yang berasal dari ruh idhafi lapisan, bulan surup pasti dari mana asalnya mulai menjadi manusia. Surup artinya sumurup purwa madya wasana, menepati kedudukan manusia.”
Sang Prabu menjawab, “Ciptaku menempel pada orang yang lebih.”
Sabdopalon berkata, “Itu manusia tersesat, seperti kemladeyan menempel di pepohonan besar, tidak punya kemuliaan sendiri hanya numpang. Itu bukan mati yang utama. Tapi matinya manusia nista, sukanya hanya menempel, ikut-ikutan, tidak memiliki sendiri, jika diusir kemudian gentayangan menjadi kuntilanak, kemudian menempel kepada awal mulanya lagi.”
Sang Prabu berkata lagi, “Aku akan kembali kepada yang suwung, kekosongan, ketika aku melum mewujud apa-apa, demikianlah tujuan kematianku kelak.”
“Itu matinya manusia tidak berguna, tidak punya iman dan ilmu, ketika hidupnya seperti hewan, hanya makan, minum, dan tidur. Demikian itu hanya bisa gemuk kaya daging. Penting minum dan kencing saja, hilang makna hidup dalam mati.”
Sang Prabu, “Aku menunggui tempat kubur, apabila sudah hancur luluh menjadi debu.”
Sabdopalon menyambung, “Itulah matinya manusia bodoh, menjadi setan kuburan, menunggui daging di kuburan, daging yang sudah luluh menjadi tanah, tidak mengerti berganti ruh idhafi baru. Itulah manusia bodoh, ketahuliah. Terima kasih!”
Sang Prabu berkata, “Aku akan muksa dengan ragaku.”
Sabdopalon tersenyum, “Kalau orang Islam terang tidak bisa muksa, tidak mampu meringkas makan badannya, gemuk kebanyakan daging. Manusia mati muksa itu celaka, karena mati tetapi tidak meninggalkan jasad. Tidak bersyahadat, tidak mati dan tidak hidup, tidak bisa menjadi ruh idhafi baru, hanya menjadi gunungan demit.”
Sang Prabu, “Aku tidak punya kehendak apa-apa, tidak bisa memilih, terserah Yang Maha Kuasa.”
Sabdopalon, “Paduka meninggalkan sifat tidak merasa sebagai titah yang terpuji, meninggalkan kewajiban sebagai manusia. Manusia diwenangkan untuk menolak atau memilih. Jika sudah menerima akan mati, sudah tidak perlu mencari ilmu kemuliaan mati.”
Sang Prabu, “Keinginanku kembali ke akhirat, masuk surga menghadap Yang Maha Kuasa.”
Sabdopalon berkata, “Akhirat, surga, sudah Paduka kemana-mana, dunia manusia itu sudah menguasai alam kecil dalam bear. Paduka akan pergi ke akhirat mana? Apa tidak tersesat? Padahal akhirat itu artinya melarat, dimana-mana ada akhirat. Bila mau hamba ingatkan, jangan sampai Paduka mendapat kemelaratan seperti dalam pengadilan negara. Jika salah menjawabnya tentu dihukum, ditangkap, dipaksa kerja berat dan tanpa menerima upah. Masuk akhirat Nusa Srenggi. Nusa artinya manusia, sreng artinya berat sekali, enggi artinya kerja.
Jadi maknanya manusia dipaksa bekerja untuk Ratu Nusa Srenggi. Apa tidak celaka, manusia hidup di dunia demikian tadi, sekeluarganya hanya mendapat beras sekojong tanpa daging, sambal, sayur. Itu perumpamaan akhirat yang kelihatan nyata. Jika akhirat manusia mati malah lebih dari itu, Paduka jangan sampai pulang ke akhirat, jangan sampai masuk ke surga, malah tersesat, banyak binatang yang mengganggu, semua tidur berselimut tanah, hidupnya berkerja dengan paksaan, tidak salah dipaksa.
Paduka jangan sampai menghadap Gusti Allah, karena Gusti Allah itu tidak berwujud tidak berbentuk. Wujudnya hanya asma, meliputi dunia dan akhirat, Paduka belum kenal, kenalnya hanya seperti kenalnya cahaya bintang dan rembulan. Bertemunya cahaya menyala menjadi satu, tidak pisah tidak kumpul, jauhnya tanpa batasan, dekat tidak bertemu. Saya tidak tahan dekat apalagi Paduka, Kanjeng Nabi Musa toh tidak tahan melihat Gusti Allah. Maka Allah tidak kelihatan, hanya Dzatnya yang meliputi semua makhluk. Paduka bibit ruhani, bukan jenis malaikat. Manusia raganya berasal dari nutfah, menghadap Hyang Lata wal Hujwa. Jika sudah lama, minta yang baru, tidak bolak-balik. Itulah mati hidup. Orang yang hidup adalah jika nafasnya masih berjalan, hidup yang langgeng, tidak berubah tidak bergeser, yang mati hanya raganya, tidak merasakan kenikmatan, maka bagi manusia Buda, jika raganya sudah tua, sukmanya pun keluar minta ganti yang baik, melebihi yang sudah tua. Nutfah jangan sampai berubah dari dunianya. Dunia manusia itu langgeng, tidak berubah-ubah, yang berubah itu tempat rasa dan raga yang berasal dari ruh idhafi.
Prabu Brawijaya itu tidak muda tidak tua, tetapi langgeng berada di tengah dunianya, berjalan tidak berubah dari tempatnya di gua hasrat cipta yang hening. Bawalah bekalmu, bekal untuk makan raga. Apapun milik kita akan hilang, berkumpul dan berpisah. Denyut jantung sebelah kiri adalah rasa, cipta letaknya di langit-langit mulut. Itu akhir pengetahuan. Pengetahuan manusia beragama Buda. Ruh berjalan lewat langit-langit mulut, berhenti di kerongkongan, keluar lewat kemaluan, hanyut dalam lautan rahmat, kemudian masuk ke gua garbha perempuan. Itulah jatuhnya nikmat di bumi rahmat. Di situ budi membuat istana baitullah yang mulia, terjadi lewat sabda kun fayakun. Di tengah rahim ibu itu takdir manusia ditentukan, rizkinya digariskan, umurnya juga dipastikan, tidak bisa dirubah, seperti tertulis dalam Lauh Mahfudz. Keberuntungan dan kematiannya tergantung pada nalar dan pengetahuan, yang kurang ikhtiarnya akan kurang beruntung pula.
Awal mula Kiblat empat
Awal mula kiblat empat, yaitu timur (Wetan) barat (Kulon) selatan(Kidul) dan utara (Lor) adalah demikian. Wetan artinya wiwitan asal manusia mewujud; kulon artinya bapa kelonan; kidul artinya istri didudul di tengah perutnya; lor artinya lahirnya jabang bayi. Tanggal pertama purnama, tarik sekali tenunan sudah selesai. Artinya pur: jumbuh, na: ana wujud; ma: madep kepada wujud. Jumbuh itu artinya lengkap, serba ada, menguasai alam besar kecil, tanggal manusia, lahir dari ibunya, bersama dengan saudaranya kakang mbarep (kakak tertua) adi ragil (adik terkecil). Kakang mbarep itu kawah, adi itu ari-ari. Saudara ghaib yang lahir bersamaan, menjaga hidupnya selama matahari tetap terbit di dunia, berupa cahaya, isinya ingat semuanya. Siang malam jangan khawatir kepada semua rupa, yang ingat semuanya, surup, dan tanggalnya pun sudah jelas, waktu dulu, sekarang atau besok, itu pengetahuan manusia Jawa yang beragama Buddha.
Raga itu diibaratkan perahu, sedangkan sukma adalah orang yang ada di atas perahu tadi, yang menunjukkan tujuannya. Jika perahunya berjalan salah arah, akhirnya perahu pecah, manusia rebah. Maka harus bertujuan, senyampang perahu masih berjalan, jika tidak bertujuan hidupnya, dan matinya tidak akan bisa sampai tujuan, menepati kemanusiaannya. Jika perahu rusak maka akan pisah dengan orangnya. Artinya sukma juga pisah dengan budi, itu namanya syahadat, pisahnya kawula dengan Gusti. Sah artinya pisah dengan Dzat Tuhan, jika sudah pisah raga dan sukma, budi kemudian berganti baitullah, nafas memuji kepada Gusti.
Jika pisah sukma dan budi, maka manusia harus yang waspada, ingatlah asal-usul manusia, dan wajib meminta kepada Tuhan baitullah yang baru, yang lebih baik dari yang lama. Raga manusia itu namanya baitullah itu perahu buatan Allah, terjadi dari sabda kun fayakun. Jika perahu manusia Jawa bisa berganti baitullah lagi yang lebih baik, perahu orang Islam hidupnya tinggal rasa, perahunya sudah hancur. Jika sukma itu mati di alam dunia kosong, tidak ada manusia. Manusia hidup di dunia dari muda sampai tua. Meskipun sukma manusia, tetapi jika tekadnya melenceng, matinya tersesat menjadi kuwuk, meskipun sukmanya hewan, tetapi bisa menjelma menjadi manusia.
Ketika Batara Wisnu bertahta di Medang Kasapta, binatang hutan dan makhluk halus dicipta menjadi manusia, menjadi rakyat Sang Raja. Ketika Eyang Paduka Prabu Palasara bertahta di Gajahoya, binatang hutan dan makhluk halus juga dicipta menjadi manusia. Maka bau manusia satu dan yang lainnya berbeda-beda, baunya seperti ketika masih menjadi hewan. Serat Tapak Hyang menyebut Sastrajendra Hayuningrat, terjadi dari sabda kun, dan menyebut jituok artinya hanya puji tok.
Dewa yang membuat cahaya bersinar meliputi badan. Cahaya artinya incengan aneng cengelmu. Jiling itu puji eling kepada Gusti. Punuk artinya panakna. Timbangan artinya salang. Pundak itu panduk, hidup di dunia mencari pengetahuan dengan buah kuldi, jika beroleh buah kuldi banyak, beruntungnya kaya daging, apabila beroleh buah pengetahuan banyak, bisa untuk bekal hidup, hidup langgeng yang tidak bisa mati. Tepak artinya tepa-tapa-nira, Walikat, walikaning urip. Ula-ula, ulatana, laleren gegermu kang nggligir. Sungsum artinya sungsungen. Labung, waktu Dewa menyambung umur, alam manusia itu sampungan, ingat hidup mati.
Lempeng kiwa tengen artinya tekad yang lahir batin, purwa benar dan salah, baik dan buruk. Mata artinya lihatlah batin satu, yang lurus kiblatmu, keblat utara benar satu. Tengen artinya tengenen kang terang, di dunia hanya sekedar memakai raga, tidak membuat tidak memakai. Kiwa artinya, raga iki isi hawa kekajengan, tidak wenang mengukuhi mati. Demikian itu bunyi serat tadi. Jika Paduka mencela, siapa yang membuat raga? Siapa yang memberi nama? Hanya Lata wal Hujwa, jika Paduka mencaci, Paduka tetap kafir, cela mati Paduka, tidak percaya kepada takdir Gusti, dan murtad kepada leluhur Jawa semua, menempel pada besi, kayu batu, menjadi iblis menunggu tanah. Jika Paduka tidak bisa membaca sasmita yang ada di badan manusia, mati Paduka tersesat seperti kuwuk. Adapun jika bisa membaca sasmita yang ada pada raga tadi, dari manusia menjadi manusia. Disebut dalam Serat Anbiya, Kanjeng Nabi Musa waktu dahulu manusia yang mati di kubur, kemudian bangun lagi, hidupnya ganti ruh baru, ganti tempat baru.
Tuhan yang Sejati
Jika Paduka memeluk agama Islam, manusia Jawa tentu kemudian Islam semua. Badan halus hamba sudah tercakup dan manunggal menjadi tunggal, lahir batin, jadi tinggal kehendak hamba saja. Adam atau wujud bisa sama, jika saya ingin mewujud, itulah wujud hamba, kehendak Adam, bisa hilang seketika. Bisa mewujud dan bisa menghilang seketika. Raga hamba itu sifat Dewa, badan hamba seluruhnya punya nama sendiri-sendiri. Coba Paduka tunjuk, badan Sabdapalon. Semua sudah jelas, jelas sampai tidak kelihatan Sabdopalon, tinggal asma meliputi badan, tidak muda tidak tua, tidak mati tidak hidup. Hidupnya meliputi dalam matinya. Adapun matinya meliputi dalam hidupnya, langgeng selamanya.”
Sang Prabu bertanya, “Di mana Tuhan yang Sejati?”
Sabdopalon berkata, “ Tidak jauh tidak dekat, Paduka bayangannya. Paduka wujud sifat suksma. Sejati tunggal budi, hawa, dan badan. Tiga-tiganya itu satu, tidak terpisah, tetapi juga tidak berkumpul. Paduka itu raja mulia tenti tidak akan khilaf kepada kata-kata hamba ini.”
“Apa kamu tidak mau masuk agama Islam?” tanya Prabu
Sabdopalon berkata dengan sedih, “Ikut agama lama, kepada agama baru tidak!Kenapa Paduka berganti agama tidak bertanya hamba? Apakah Paduka lupa nama hamba, Sabdapalon? Sabda artinya kata-kata, Palon kayu pengancing kandang. Naya artinya pandangan, Genggong artinya langgeng tidak berubah. Jadi bicara hamba itu, bisa untuk pedoman orang tanah Jawa, langgeng selamanya.”
“Bagaimana ini, aku sudah terlanjur masuk agama Islam, sudah disaksikan Sahid, aku tidak boleh kembali kepada agama Buddha lagi, aku malu apabila ditertawakan bumi langit.”
“Iya sudah, silahkan Paduka jalani sendiri, hamba tidak ikut-ikutan.”
Sunan Kalijaga kemudian berkata kepada Sang Prabu, yang isinya jangan memikirkan yang tidak-tidak, karena agama Islam itu sangat mulia. Ia akan menciptakan air yang di sumber sebagai bukti, lihat bagaimana baunya. Jika air tadi bisa berbau wangi, itu pertanda bahwa Sang Prabu sudah mantap kepada agama Rasul, tetapi apabila baunya tidak wangi, itu pertanda jika Sang Prabu masih berpikir Buddha.
Sunan Kalijaga kemudian mengheningkan cipta. Seketika air sumber menjadi berbau wangi. Sunan Kalijaga berkata kepada Sang Prabu, seperti yang sudah dikatakan, bahwa Sang Prabu nyata sudah mantap kepada agama Rasul, karena air sumber baunya wangi.
Sabdopalon berkata kepada Sang Prabu, “Itu kesaktian apa? Kesaktian kencinghamba kemarin sore dipamerkan kepada hamba. Seperti anak-anak, jika hamba melawan kencing hamba sendiri. Paduka dijerumuskan, hendak menjadi jawan, suka menurut ikut-ikutan, tanpa guna hamba asuh. Hamba wirang kepada bumi langit, malu mengasuh manusia tolol, hamba hendak mencari asuhan yang satu mata. Hamba menyesal telah mengasuh Paduka. Jika hamba mau mengeluarkan kesaktian, air kencing hamba, kentut sekali saja, sudah wangi, Jika paduka tidak percaya, yang disebut pedoman Jawa, yang bernama Manik Maya itu hamba, yang membuat kawah air panas di atas Gunung Mahameru itu semua hamba, Adikku Batara Guru hanya mengizinkan saja. Pada waktu dahulu tanah Jawa gonjang-ganjing, besarnya api di bawah tanah. Gunung-gunung hamba kentuti. Puncaknya pun kemudian berlubang, apinya banyak yang keluar, maka tanah Jawa kemudian tidak bergoyang, maka gunung-gunung tinggi puncaknya, keluar apinya serta ada kawahnya, berisi air panas dan air tawar. Itu hamba yang membuat. Semua tadi atas kehendak Lata wal Hujwa, yang membuat bumi dan langit. Apa cacadnya agama Buddha, manusia bisa memohon sendiri kepada Yang Maha Kuasa. Sungguh jika sudah berganti agama Islam, meninggalkan agama Buddha, keturunan Paduka akan celaka, Jawa tinggal Jawan, artinya hilang, suka ikut bangsa lain. Besok tentu diperintah oleh orang Jawa yang mengerti.
Coba Paduka saksikan, bulan depan bulan tidak kelihatan, biji mati tidak tumbuh, ditolak oleh Dewa. Walaupun tumbuh kecil saja, hanya untuk makanan burung, padi seperti kerikil, karena paduka yang salah, suka menyembah batu. Paduka saksikan besok tanah Jawa berubah udaranya, tambah panas jarang hujan. Berkurang hasil bumi, banyak manusia suka menipu. Berani bertindak nista dan suka bersumpah, hujan salah musim, membuat bingung para petani. Sejak hari ini hujan sudah berkurang, sebagai hukuman banyak manusia berganti agama. Besok apabila sudah bertaubat, ingat kepada agama Buddha lagi, dan kembali mau makan buah pengetahuan, Dewa kemudian memaafkan, hujan kembali seperti jaman Buddha.”
Sang Prabu mendengar kata-kata Sabdapalon dalam batin merasa sangat menyesal karena telah memeluk agama Islam dan meninggalkan agama Buddha, Lama beliau tidak berkata. Kemudian ia menjelaskan bahwa masuknya agama Islam itu karena terpikat kata putri Cempa, yang mengatakan bahwa orang agama Islam itu kelak apabila mati, masuk surga yang melebihi surganya orang kafir.
Sabdapalon berkata sambil meludah, “Sejak jaman kuno, bila laki-laki menurut perempuan, pasti sengsara, karena perempuan itu utamanya untuk wadah, tidak berwewenang memulai kehendak.” Sabdapalon banyak-banyak mencaci Sang Prabu.
“Kamu cela sudah tanpa guna, karena sudah terlanjur, sekarang hanya kamu kutanya, masihkah tetapkah tekadmu? Aku masuk agama Islam, sudah disaksikan oleh si Sahid, sudah tidak bisa kembali kepada Buddha lagi.”
Sabdapalon berkata bahwa dirinya akan memisahkan diri dengan beliau. Ketika ditanya perginya akan ke mana? Ia menjawab tidak pergi, tetapi tidak berada di situ,hanya menepati yang namanya Semar, artinya meliputi sekalian wujud, anglela kalingan padang.
Sang Prabu bersumpah, besok apabila ada orang Jawa tua, berpengetahuan, yaitulah yang akan diasuh Sabdapalon. Orang Jawa akan diajari tahu benar salah. Sang Prabu hendak merangkul Sabdapalon dan Nayagenggong, tetapi kedua orang tersebut musnah.
Sang Prabu kemudian menyesal dan meneteskan air mata. Kemudian berkata kepada Sunan Kalijaga,”Besok Negara Blambangan gantilah nama dengan Negara Banyuwangi agar menjadi pertanda kembalinya Sabdapalon ke tanah Jawa membawa asuhannya. Adapun kini Sabdopalon masih dalam alam Ghaib.”
Demikian cuplikan Serat Darmogandul yang saya ambil darihttp://www.indoforum.org/showthread.php?t=37753

SERAT DARMOGANDUL : SUNAN BONANG DAN BUTO LOCAYA

Majapahit. Pada suatu hari, Darmogandul bertanya kepada Ki Kalamwadi tentang asal mula orang Jawa meninggalkan agama Budha yang dianutnya dan berganti menjadi agama Islam.

Lantas, Ki Kalamwadi-pun menjawab, "Aku tidak mengerti. Tetapi guru yang dapat dipercaya menceritakan asal-usul orang Jawa meninggalkan agama Budha dan berganti memeluk agama Islam. Ini memang perlu dikatakan, agar orang yang belum tahu menjadi tahu."

Putri Campa
Pada zaman dahulu Majapahit bernama Majalengka. Majapahit hanyalah sebuah kiasan. Bagi yang belum mengetahui ceritanya, Majapahit dianggap sebagai nama kerajaan.

Prabu Brawijaya adalah raja terakhir yang berkuasa. Ia menikah dengan Putri Campa yang beragama Islam. Putri inilah yang membuat Brawijaya tertarik dengan Islam.

Ketika mereka sedang beradu asmara, sang putri selalu membeberkan keutamaan agama itu. Setiap dekat sang prabu, tiada kata lain yang terucap dari Putri Campa kecuali kemuliaan agama Islam.

Tak lama kemudian datanglah kemenakan Putri Campa bernama Sayid Rahmad. Ia memohon izin untuk menyebarkan ajaran Islam di Majalengka. Sang Prabu mengabulkan. Sayid Rahmad tinggal di desa Ngampeldento- Surabaya.

Banyak ulama dari seberang datang ke Majalengka. Menghadap sang prabu memohon izin untuk tinggal di wilayah pesisir. Permohonan itu dikabulkan. Akhirnya mereka berkembang dan banyak orang Jawa memeluk agama Islam.

Perkembangan itu menempatkan seorang guru agama Islam yang tinggal di daerah Bonang, termasuk wilayah Tuban. Sayid Kramat namanya. Ia maulana Arab keturunan Nabi Mohammad Rasulullah.

Orang-orang Jawa banyak yang tertarik kepadanya. Penduduk Jawa yang tinggal di pesisir Barat sampai Timur meninggalkan agama Budha dan memeluk agama Islam. Di wilayah Blambangan sampai ke arah Barat menuju Banten pun banyak yang mengikuti ajaran Islam.

Agama Buddha telah mengakar di tanah Jawa lebih dari 1.000 tahun. Menyembah kepada Budi Hawa. Budi adalah Dzat Tuhan. Sedangkan Hawa adalah minat hati.

Manusia tidak dapat berbuat apa-apa. Ia hanya dapat melaksanakan. Sedang yang menggerakkan semua ialah budi.

Raden Patah
Sang Prabu mempunyai seorang putra yang bernama Raden Patah. Ia lahir di Palembang dari rahim seorang Putri Cina. Ketika Raden Patah dewasa, ia menghadap kepada ayahnya bersama saudara lain ayah tetapi masih sekandung, bernama Raden Kusen (Husein).

Sang Prabu bingung memberi nama putranya. Diberi nama dari jalur ayah, beragama Buddha, keturunan raja yang lahir di pengunungan. Dari jalur ibu disebut Kaotiang. Sedangkan menurut orang Arab, ia harus dinamakan Sayid atau Sarib.

Sang Prabu memanggil patih dan abdi lain untuk dimintai pertimbangan. Sang patih pun berpendapat, bila mengikuti leluhur kuno, putra sang Prabu itu dinamakan Bambang. Tetapi karena ibunya orang Cina, lebih baik dinamakan Babah, yang artinya lahir di tempat lain. Pendapat patih ini disetujui abdi yang lain.

Sang Prabu pun berkata kepada seluruh pasukan bahwa putranya diberi nama Babah Patah. Sampai saat ini, keturunan pembauran antara Cian dan Jawa disebut Babah. Meski tidak menyukai nama pemberian ayahnya itu, Raden Patah takut untuk menentangnya.

Babah Patah kemudian diangkat menjadi Bupati di Demak. Ia memimpin para bupati di sepanjang pantai Demak ke Barat. Ia dinikahkan dengan cucu Kyai Ageng Ngampel.

Babah Patah tinggal di desa Bintara, Demak. Babah Patah telah beragama Islam sejak di Palembang. Di Demak ia diminta untuk menyebarkan agama Islam. Raden Kusen diangkat menjadi Adipati di Terung, dengan nama baru Raden Arya Pecattanda.

Ajaran Islam makin berkembang. Banyak ulama berpangkat mendapat gelar Sunan. Sunan artinya budi. Sumber pengetahuan tentang baik dan buruk.

Orang yang berbudi baik patut dimintai ajarannya tentang ilmu lahir batin. Pada waktu itu para ulama baik budinya. Belum memiliki kehendak yang jelek. Banyak yang mengurangi makan dan tidur.

Sang Prabu Brawijaya berpikir, para ulama bersarak Budha itu mengapa disebut Sunan. Mengapa juga masih mengurangi makan dan tidur.


Sunan Bonang
Pada waktu itu sunan Bonang akan pergi ke Kediri, diantar dua sahabatnya. Di utara Kediri, yakni di daerah Kertosono, rombongan terhalang air sungai Brantas yang meluap.

Sunan Bonang dan dua sahabatnya menyeberang. Tiba di timur sungai, Sunan Bonang menyelidiki agama penduduk setempat. Sudah Islam atau masih beragama Budha.

Ternyata, kata Ki Bandar, masyarakat daerah itu beragama Kalang, memuliakan Bandung Bondowoso. Menganggap Bandung Bondowoso sebagai nabi mereka. Hari Jumat Wage wuku wuye, adalah hari raya mereka. Setiap hari itu, mereka bersama-sama makan enak dan bergembira ria.

Kata Sunan Bonang, "Kalau begitu, orang disini semua beragama Gedhah. Artinya, tidak hitam, putih pun tidak. Untuk itu tempat ini kusebut Kota Gedhah." Sejak itu, daerah di sebelah utara Kediri ini bernama Kota Gedhah.

Perawan Tua Hari terik
Waktu sholat dhuhur tiba. Sunan Bonang ingin mengambil air wudlu. Namun karena sungai banjir dan airnya keruh, maka Sunan Bonang meminta salah satu sahabatnya untuk mencari air simpanan penduduk. Salah satu sahabatnya pergi ke desa untuk mencari air yang dimaksud.

Sesampai di desa Patuk ada sebuah rumah. Tak terlihat laki-laki di sini. Hanya ada seorang gadis berajak dewasa sedang menenun. "Hai Gadis, aku minta air simpanan yang jernih dan bersih," kata sahabat itu.

Perawan itu terkejut. Ia menoleh. Dilihatnya seorang laki-laki. Ia salah paham. Menyangka lelaki itu bermaksud menggodanya.

Ia menjawab kasar : "Kamu baru saja lewat sungai. Mengapa minta air simpanan. Di sini tidak ada orang yang menyimpan air kecuali air seniku ini sebagai simpanan yang jernih bila kamu mau meminumnya."

Mendengar kata-kata kasar itu, sahabat itu langsung pergi tampa pamit. Mempercepat langkah sambil mengeluh sepanjang perjalanan. Tiba di hadapan Sunan Bonang, peristiwa tak menyenangkan itu disampaikan.

Mendengar penuturan itu Sunan Bonang naik pitam. Keluarlah kata-kata keras. Sunan menyabda tempat itu akan sulit air. Gadis-gadisnya tidak akan mendapat jodoh sebelum usianya tua. Begitu juga dengan kaum jejakanya. Tidak akan kimpoi sebelum menjadi jejaka tua. Terkena ucapan Sunan Bonang, aliran sungai Brantas menyusut. Aliran sungai berbelok arah. Membanjiri desa-desa, hutan, sawah, dan kebun.

Prahara datang diterjang arus sungai yang menyimpang. Dan setelah itu kering seketika. Sampai kini daerah Gedhah sulit air. Perempuan-perempuan nya menjadi perawan tua. Begitu juga kaum laki-lakinya. Mereka terlambat berumah tangga.

Demit
Kemudian, Sunan Bonang melanjutkan perjalanannya ke Kediri. Di daerah ini ada demit (mahluk halus) bernama Nyai Plencing. Menempati sumur Tanjungtani yang sedang dikerumuni anak cucunya.

Mereka lapor, bahwa ada orang bernama Sunan Bonang suka mengganggu kaum mahluk halus dan menonjolkan kesaktian. Anak cucu Nyai Plencing mengajak Nyai Plencing membalas Sunan Bonang. Caranya dengan meneluh dan menyiksanya sampai mati agar tidak suka mengganggu lagi.

Mendengar usul itu Nyai Plencing langsung menyiapkan pasukan, dan berangkat menemui Sunan Bonang. Tetapi anehnya, para setan itu tidak bisa mendekati Sunan Bonang. Badannya terasa panas seperti dibakar.

Setan-setan itu berhamburan. Lari tunggang langgang. Mereka lapor ke Kediri menemui rajanya. Raja mereka bernama Buta Locaya, tinggal di Selabale, di kaki Gunung Wilis. Buto Locaya semula adalah patih raja Sri Jayabaya, bernama Kyai Daha. Ia dikenal sebagai cikal bakal Kediri. Ketika Raja Jayabaya memerintah daerah ini, namanya diminta untuk nama negara.

Ia diberi nama Buta Locaya dan diangkat patih Prabu Jayabaya. Buta sendiri artinya bodoh. Lo bermakna kamu. Dan Caya dapat dipercaya. Bila disambung, maka Buta Locaya mempunyai makna orang bodoh yang dapat dipercaya.

Sebutan itu hampir menyerupai sebutan kyai, yang bermula dari Kyai Daha dan Kyai Daka. Kyai artinya melaksanakan tugas anak cucu dan orang di sekitarnya. Kisah soal kyai ini bermula saat Sang Raja ke rumah Kyai Daka.

Sang Prabu dijamu Kyai Daka. Sang Prabu suka dengan keramahan itu. Nama Kyai Daka pun diminta untuk desa yang kemudian berganti Tunggulwulung. Seterusnya ia diangkat menjadi panglima perang.

Ketika Prabu Jayabaya moksa (mati bersama raganya hilang) bersama Ni Mas Ratu Pagedongan, Buta Locaya dan Kyai Tunggulwulung juga ikut moksa. Ni Mas kemudian menjadi ratu setan di Jawa. Tinggal di laut Selatan dan bergelar Ni Mas Ratu Angin-Angin. Semua mahluk halus yang ada di laut selatan tunduk dan berbakti kepada Ni Mas Ratu Angin-Angin. Buta Locaya menempati Selabale. Sedangkan Kyai Tunggulwulung tinggal di Gunung Kelud menjaga kawah dan lahar agar tidak merusak desa sekitar.

Ketika Nyai Plencing datang, Buta Locaya sedang duduk di kursi emas beralas kasur babut dihias bulu merak. Ia sedang ditemani patihnya, Megamendung dan anaknya, Panji Sektidiguna dan Panji Sarilaut. Ia amat terkejut melihat Nyai Plencing yang datang sambil menangis.

Ia melaporkan kerusakan-kerusakan di daerah utara Kediri yang disebabkan ulah orang dari Tuban bernama Sunan Bonang. Nyai Plencing juga memaparkan kesedihan para setan dan penduduk daerah itu.

Mendengar laporan Nyai Plencing Buta Locaya murka. Tubuhnya bagaikan api. Ia memanggil anak cucu dan para jin untuk melawan Sunan Bonang. Para setan dan jin itu bersiap berangkat. Lengkap dengan peralatan perang.

Mengikuti arus angin, mereka pun sampai di desa Kukum. Di tempat ini Buta Locaya menjelma menjadi manusia, berganti nama Kyai Sumbre. Sementara setan dan jin yang beribu-ribu jumlahnya tidak menampakkan diri.

Kyai Sumbre berdiri di bawah pohon. Menghadang perjalanan Sunan Bonang yang datang dari utara. Sebagai orang sakti, Sunan Bonang tahu ada raja setan dan jin sedang menghadang perjalanannya. Tubuh Sunan yang panas menjelma bagai bara api. Para setan dan jin yang beribu-ribu itu menjauh. Tidak tahan menghadapi wibawa Sunan Bonang.

Namun tatkala berhadapan dengan Kyai Sumbre, Sunan Bonang juga merasakan hawa panas. Dua sahabatnya pingsan dan demam.

Debat Soal Tuhan dan Kebenaran
Debat sengit antara Sunan Bonang dengan Buta Locaya makin seru. Sunan Bonang dengan tegas menyatakan bahwa, daerah tersebut dikatakan Gedhah karena tidak jelas agamanya. "Kusabdakan sulit air karena ketika aku minta air tidak diberi. Sungai ini kupindah alirannya agar kesulitan mendapatkan air. Sedangkan jejaka dan perawan kusabdakan sulit mendapat jodoh karena yang kumintai air itu perawan desa."

Buta Locaya menjawab, bahwa itu tidak seimbang. Salah yang tak seberapa, apalagi hanya dilakukan oleh seseorang, tetapi penderitaannya dirasakan oleh banyak orang. Bila dilaporkan kepada penguasa, tentu akan mendapatkan hukuman berat karena merusak daerah.

Sunan Bonang menjawab, ia pun tak takut dilaporkan Raja Majalengka. Debat Soal Kebenaran Ketika Buta Locaya mendengar kata-kata itu, ia pun marah. Buta Locaya berkata masygul : "Ucapan tuan bukan ucapan yang paham akan aturan negara. Itu hanya pantas diucapkan oleh orang yang tinggal di rumah madat, yang hanya mengandalkan kesaktian.

Janganlah sombong. Mentang-mentang dikasihi tuan berkawan dengan malaikat, lalu berbuat sekehendak hati. Tidak melihat kesalahan, menganiaya orang lain tanpa sebab. Meskipun di Jawa ini akan ada orang yang lebih kuat dari pada tuan, tapi mereka baik budi dan takut kepada laknat dewa. Tuan akan dijauhi orang-orang baik budi bila tetap berbuat demikian.

Apakah tuan termasuk orang seperti Aji Saka murid Ijajil? Aji Saka menjadi raja di Jawa hanya tiga tahun, lalu pergi sambil membawa seluruh sumber air di Medang. Ia suka membuat sulit air.

Tuan mengaku sunan seharusnya berbudi baik, menyelamatkan orang banyak, tetapi ternyata tidak demikian. Tuan layak seperti setan yang menampakkan diri, tidak tahan digoda anak kecil. Lekas naik darah. Sunan apakah itu ?

Jika memang sebagai Sunan manusia sesungguhnya, tentu suka berbuat kebajikan. Tuan menyiksa orang tanpa dosa. Itulah jalan celaka, tanda bahwa tuan telah menciptakan neraka jahanam. Bila telah jadi lalu tuan tempati sendiri, mandi di dalam air mendidih."

Hamba ini bangsa mahluk halus, tidak selamanya dengan manusia, tetapi hamba masih memperhatikan nasib manusia. Marilah semuanya yang rusak itu tuan kembalikan kepada keadaan semula. Sungai yang kering dan daerah yang terlanda banjir hamba mohon untuk mengembalikan. Semua orang Jawa yang beragama Islam akan hamba teluh supaya mati. Hamba akan meminta bantuan Kangjeng Ratu Angin-Angin di laut Selatan."

Begitu mendengar kemarahan Buta Locaya, Sunan Bonang menyadari kesalahannya. Ia berkata, "Buta Locaya, aku Sunan tidak diperkenankan meralat ucapanku. Aku hanya bisa membatasi saja. Kelak, bila telah berlangsung 500 tahun, sungai ini dapat kembali seperti semula."

Buta Locaya mendengar kesediaan Sunan Bonang, bertambahlah kemarahannya. "Kembalikan sekarang juga. Bila tidak, tuan akan hamba ikat."

"Sudah, jangan berbantah lagi. Aku mohon diri akan berjalan ke timur. Buah Sambi ini kunamakan cacil karena keadaan ini seperti anak kecil yang sedang berkelahi. Setan dan manusia saling berebut kebenaran tentang kerusakan yang ada di daerah dan kesedihan manusia dengan setan.

Kumohonkan kepada Tuhan, buah sambi menjadi dua macam, daging buahnya menjadi asam. Bijinya mengeluarkan minyak sebagai lambang muka yang masam. Tempat perjumpaan ini kuberi nama Singkal di sebelah utara dan di sini bernama Desa Sumbre. Sedangkan tempat kawan-kawanmu di selatan kuberi nama Kawanguran."

Debat Soal Tuhan
Setelah berkata demikian, Sunan Bonang meloncat ke arah Timur sungai. Terkenal sampai kini di Kota Gedhah ada desa yang bernama Singkal, Sumbre dan Kawanguran. Kawanguran artinya pengetahuan, Singkal artinya susah kemudian menemukan akal.

Buta Locaya memburu kepergian Sunan Bonang, yang menyaksikan arca Kuda yang berkepala dua di bawah pohon Trenggulun. Banyak buah trenggulun yang berserakan. Sunan Bonang kemudian memegang parang dan kepala arca Kuda itu dipenggalnya.

Ketika Buta Locaya melihat Sunan Bonang memenggal kepala arca itu, semakin bertambahlah kemarahannya.

"Arca itu buatan sang Prabu Jayabaya sebagai lambang tekad wanita. Kelak di zaman Nusa Srenggi, barang siapa yang melihat arca itu, akan mengetahui tekat para wanita Jawa.

Sunan Bonang pun berkata, "Kau ini bangsa hantu. Jadi kalau berani berdebat dengan manusia, namanya hantu yang sombong. "Apa bedanya. Tuan Sunan, saya ratu Hantu," kata Buta Locaya

Sunan Bonang berkata, Trenggulun ini kuberinama Kentos sebagai peringatan kelak, bahwa aku berdua debat dengan hantu yang sombong tentang kerusakan arca.

Ki Kalamwadi berkata : "Terkenal sampai kini, buah trenggulun bernama kentios karena ucapan Sunan Bonang. Semua itu menurut cerita guruku menurut cerita guruku bernama Raden Budi.

Sunan Bonang kemudian berjalan ke utara. Ketika menjelang salat asar, beliau akan bersiap salat. Di luar desa ada sumur tetapi tiada timba.

Sumur itu kemudian digulingkan. Dengan begitu Sunan Bonang dapat bersuci untuk bersalat. Terkenal sampai sekarang, sumur itu bernama sumur gumuling." Setelah salat, Sunan melanjutkan perjalanan. Sesampai di desa Nyahen, ada patung raksasa perempuan berada di bawah pohon dadap yang berbunga. Sangat banyak dan berguguran di sekitarnya. Patung raksasa itu kelihatan merah menyala, marak oleh bunga yang berjatuhan.

Melihat patung itu, Sunan Bonang keheranan. Patung itu berukuran sangat besar. Arca itu tampak duduk ke arah Barat setinggi 16 kaki. Lingkar pinggulnya 10 kaki. Jika dipindahkan tidak akan terangkat oleh 800 orang kecuali dengan alat. Bahu kanan patung itu dipatahkan, dan dahinya diludahi.

Buta Locaya marah lagi. "Tuan ternyata orang jahil, patung yang masih baik dirusak tanpa alasan. Kini menjadi jelek. Padahal patung itu karya Sang Prabu Jayabaya. Apakah hasilnya bila tuan merusak patung itu?"

"Patung itu kurusak agar tidak disembah banyak orang, agar tidak diberi sesaji dan diberi kemenyan. Orang yang memuja berhala itu kafir, rusak lahir batin."

Kata Buta Locaya, "Orang Jawa kan sudah tahu bahwa itu patung dari batu yang tidak berdaya dan berkuasa. Bukan Tuhan, maka mereka layani. Diberi nyala kemenyan, diberi sesaji, agar para hantu tidak menempati tanah dan kayu yang dapat menghasilkan untuk manusia".

Para hantu mereka tempatkan di patung itu, lalu tuan usir ke mana? Telah lazim setan tinggal di gua, arca, dan makan bau-bauan harum. Bila menyantap bebauan harum, hantu akan merasa nyaman.

Lebih senang lagi bila tinggal di patung yang utuh. Di tempat sepi dan rindang atau di bawah pohon besar. Mereka menyadari bahwa alam halus berbeda dengan alam manusia."

Sunan Bonang Khilaf 
Buta Locaya berkata, "Nabi itu kan manusia kekasih Tuhan? Mendapat wahyu agar pandai. Awas penglihatannya, mengetahui hal-hal yang belum terjadi. Sedangkan yang membuat arca Batu adalah Prabu Jaya Baya, kekasih Tuhan pula, mendapatkan wahyu mulia. Dia pun pandai dan kaya ilmu. Awas penglihatannya, mengetahui hal-hal yang belum terjadi.

Tuan perpedoman pada kitab, orang Jawa pun berpedoman petuah dari para leluhurnya. Sama-sama menghargai kabar, lebih baik menghargai kabar dari leluhur kita sendiri dengan peninggalan yang masih bisa disaksikan.

Pulau Jawa ini tanah suci dan mulia, dingin dan panasnya cukup. Tanah berpasir murah air. Apa saja ditanam dapat tumbuh.

Pria tampak tampan, wanita kelihatan cantik, serba luwes tutur katanya. Bila tuan ingin melihat pusat dunia, yang hamba duduki inilah adanya. Silakan tuan ukur. Seandainya tidak benar, pukullah.

Yang membuat arca itu adalah tuanku Prabu Jayabaya. Dapatkah tuan menebak sesuatu yang belum terjadi? Sudahlah, hamba persilakan tuan pergi dari sini.

Bila menolak akan hamba panggilkan adik hamba dari Gunung Kelud. Tuan akan kami keroyok. Dapatkah tuan menang?

Lalu akan hamba bawa ke dalam kawah gunung Kelud, apakah tuan tidak susah? Inginkah tuan tinggal di Batu seperti hamba? Mari ke Selabale menjadi murid hamba."

Sunan Bonang : "Tak sudi mengikuti kata-katamu. Kau hantu brekasaan."

Buta Locaya berkata, " Meskipun hamba hantu, tetapi hamba raja. Abadi selamanya. Tuan belum tentu seperti hamba.

Tekat tuan kotor, suka mengganggu dan menganiaya. Tampak di sini masih sering melakukan kesalahan menentang adat, menentang agama, merusak kebaikan, mengganggu agama leluhur. Tuan dapat disiksa dan dibuang ke Menado."

Sunan Bonang tak menggubris. Ia berkata : "Dadap ini bunganya kunamai celung, buahnya bernama kledung, karena aku kecelung (sesat) pemikiran dan salah bicara. Jadi saksi ketika aku berdebat dengan hantu, kalah pengetahuan dan pemikiran. [Sampai kini buah dadap bernama kledung, bunganya bernama celung] Sudah, aku akan pulang ke Bonang."

Buta Locaya berkata, " Ya sudah, silakan tuan pergi. Di sini tak ayal akan membikin panas. Bila terlalu lama di sini akan menimbulkan kesusahan, menyebabkan mahal air, dan mengurangi air."

TKI ON SALE

KASUS iklan TKI on sale di Malaysia kian mempertegas citra tenaga kerja Indonesia di luar negeri yang kontradiktif. Di dalam negeri disanjung sebagai pahlawan devisa, tapi di luar negeri tidak lebih sebagai barang dagangan. 

Iklan itu berbunyi: 'Indonesian maids now on sale. Fast and easy application. Now your housework and cooking come easy. You can rest and relax. Deposit only RM3.500 price RM7.500 nett'. Iklan yang tertera di brosur itu bahkan menyebutkan adanya diskon 40%. 

Model iklan seperti itu sesungguhnya tak lebih sama dengan iklan yang ada di mal-mal di Jakarta yang menggelar berbagai diskon untuk berbagai barang, seperti baju, sepatu, dan tas. 

Itu sebabnya iklan TKI on sale tidak saja menghebohkan, tapi juga mengundang kecaman dari berbagai kalangan. Iklan itu jelas menyamakan tenaga kerja Indonesia di Malaysia bak barang dagangan. Mirip di zaman perbudakan. 

Penghinaan terhadap TKI itu hanyalah bagian dari derita pekerja yang mengadu nasib di luar negeri. Sebelumnya, sudah banyak cerita pilu tentang TKI, entah disiksa, diperkosa, entah bahkan dibunuh. 

Iklan TKI on sale jelas memperlihatkan betapa rendahnya martabat anak bangsa ini di Malaysia. Celakanya, menyamakan anak bangsa itu dengan budak justru dimulai di dalam negeri. Banyak pengusaha pengerah TKI memperlakukan mereka seperti bukan manusia. Mereka dijejalkan di tempat-tempat penampungan yang sempit dan dilepas bekerja di negeri orang tanpa perlindungan hukum yang kuat. 

Para TKI, misalnya, dilarang melakukan kontak dengan dunia luar. Tidak mengherankan bila kemudian muncul kasus TKI yang melarikan diri dari tempat penampungan atau bahkan bunuh diri. 

Perbudakan TKI tak hanya terjadi saat mereka akan diberangkatkan ke negeri jiran. Ketika kembali pun mereka menjumpai perlakuan yang hampir sama. Diperas, ditipu, atau dirampok di Tanah Air sendiri sepertinya telah menjadi kisah tak terpisahkan dari para TKI. 

Lantas, apa yang telah dilakukan pemerintah? Jelas, belum banyak dan belum berpengaruh apa-apa. Klaim pemerintah yang telah berbuat banyak mengurus dan melindungi berbeda dengan realitasnya. 

Yang pasti, pemerintah belum mampu menyediakan lapangan pekerjaan sehingga masih banyak pekerja dengan keterampilan minim beradu nasib di negeri orang. 

Langkah pembatasan terhadap pengiriman TKI juga belum berpengaruh apa-apa. Sejatinya, mereka yang ingin bekerja di luar negeri perlu memiliki kemampuan khusus agar mereka tidak dipandang sebagai budak. 

Bagaimanapun, perlindungan terhadap TKI menjadi kewajiban negara. Di Jepang, perdana menteri mau turun langsung hanya untuk mengurus seorang pekerjanya di luar negeri yang sedang bermasalah. Demikian pula dengan presiden Filipina. 

Pemerintah Indonesia sesungguhnya tidak perlu malu meniru apa yang dilakukan pemerintah negara lain demi kemaslahatan rakyat. Atau sebaiknya dimunculkan saja iklan Pemerintah RI on sale.

Mengenal Sistem Pemilihan Presiden AS

Presiden AS tidak terpilih berdasarkan popular vote seperti di RIJum'at, 2 November 2012, 21:07

 Debat Pilpres putaran kedua Barack Obama dan Mitt Romney
Tinggal beberapa hari lagi menjelang pemungutan suara Pemilihan Presiden Amerika Serikat pada Selasa 6 November 2012. Dua kandidat, Barack Obama dan Mitt Romney, kini berupaya mencari suara dari negara-negara bagian yang disebut sebagai "battle states" atau negara bagian pertempuran.

Seperti diketahui, Presiden Amerika Serikat tidak terpilih berdasarkan popular vote seperti pada Pemilihan Presiden di Indonesia. Presiden Amerika Serikat terpilih berdasarkan mayoritas penguasaan electoral college. 

Electoral college berjumlah 538 yang berdasarkan jumlah anggota Kongres Amerika Serikat (435 anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan 100 senator) serta tiga suara dari District of Columbia, Ibukota Amerika Serikat. Dari jumlah itu, maka suara yang harus diperoleh seorang calon untuk menjadi Presiden AS adalah minimal 270 electoral college. 

Jumlah anggota DPR ini berbeda di masing-masing negara bagian, yang ditentukan berdasarkan populasi penduduk. Jadi, jika satu negara bagian memiliki 5 anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan 2 senator (karena setiap negara bagian diwakili 2 senator), jumlah electoral college yang dimiliki negara bagian tersebut adalah 7. California merupakan negara bagian terbesar, memiliki 55 electoral college.

Selanjutnya, di tingkat negara bagian ini, pemilihan dilakukan secara popular vote. Jika yang menang calon dari partai A, semua electoral college di negara bagian tersebut dikuasai partai A. "The winner takes all," kata Rob Snyder, Presiden Young Democrats of America, organisasi sayap pemuda Partai Demokrat AS, dalam sesi diskusi yang diikuti jurnalis VIVAnews, Arfi Bambani Amri, di Washington DC, AS, Rabu 31 Oktober 2012.

Dengan ketentuan "The winner takes all" ini, terbuka kemungkinan seorang calon Presiden bisa memiliki lebih banyak popular vote, namun kalah banyak dalam memperoleh electoral college. Kejadian ini terjadi saat calon Presiden dari Partai Republik, George W Bush, melawan calon Presiden dari Partai Demokrat, Al Gore, pada 2000. Bush memiliki electoral college lebih banyak yakni 271, walaupun Gore memiliki popular vote lebih banyak.

Kemenangan tipis Bush ini ditentukan setelah ada sengketa yang sangat menentukan di negara bagian Florida. Namun, Mahkamah Agung AS akhirnya menetapkan putusan yang membuat Bush memenangi pemilihan. 

Menurut Ben Jourdan, staf American Council of Young Political Leader, meski terkesan tidak demokratis, jika dilihat dari sisi keterwakilan negara bagian akan sangat menentukan.Electoral college membuat negara-negara bagian yang memiliki populasi kecil mendapatkan keterwakilan yang layak di DPR atau Senat.

Nah, masing-masing partai memiliki negara bagian "tradisional". Seperti Demokrat misalnya, secara tradisional selalu menang di negara bagian seperti California, New York dan Maryland. Sementara itu, Republik memiliki negara bagian seperti Texas, Mississippi, dan Alabama.

Lalu, bagaimana dengan peta penguasaan negara bagian di pemilihan 2012 ini? Tunggu tulisan berikutnya.

Situs Gunung Padang Lebih Tua dari Piramida Giza

Laboratorium Beta Analytic Miami, Florida, Amerika Serikat merilis usia bangunan bawah permukaan Gunung Padang. Hasilnya mengejutkan. Umur lapisan dari kedalaman sekitar 5-12 meter pada Bor 2 mencapai 14.500–25.000 SM atau lebih tua dari umur tersebut.
Bahkan, usia tersebut lebih tua dibandingkan dari Piramida Giza di Mesir yang berumur 2.560 SM.

Hasil ini konsisten dan memperkuat hasil uji karbon dating laboratorium Batan, yang dengan metoda LSC C14 dari material paleosoil di kedalaman -4 meter pada lokasi bor coring 1, usia material paleosoil menunjukkan 5500 +130 tahun BP(before present) yang lalu.
Sementara itu, pengujian material pasir di kedalaman -8 sampai dengan -10 meter pada lokasi coring bor 2 adalah 11000 + 150 tahun BP yang lalu.

"Fakta pengukurannya seperti itu, akurasi sangat penting. Di Batan hanya sampel lebih banyak, harusnya ketepatan tidak perlu diragukan lagi, apalagi jika sampelnya lebih banyak. Kita semakin yakin," ujar Budiono Ontowirjo, anggota Tim Terpadu Riset Mandiri kepada VIVAnews, Jumat 2 November 2012.
Budiono mengatakan sampel yang diambil Batan saat itu mencapai 200 gram, sedangkan di laboratorium Miami, yang menghasilkan hasil akurat, cukup mengambil 3 gram dengan materi yang sama diuji di laboratorium Batan.

Sebagaimana diketahui, laboratorium internasional di Miami tersebut kerap menjadi rujukan berbagai riset dunia terutama terkait uji karbon (carbon dating).

Dengan demikian, hasil uji laboratorium Batan dan Beta Analytic Miami, Florida tersebut menjawab keraguan banyak pihak atas uji sampel laboratorium Batan.

Sebelumnya, tim riset terpadu mandiri telah melakukan uji terkait usia Gunung Padang di laboratorium Batan, namun tidak banyak respons positif, bahkan beberapa pihak meragukannya.

"Jadi, sudah bisa dipastikan itu adalah hasil budaya, kalau ada susunan itu hasil budaya, struktur sangat bagus, semakin ke bawah umur semakin tua," ujarnya.

Dengan demikian, ia berharap sudah saatnya kemampuan, kualitas para ilmuwan dan laboratorium Batan diakui.

Usai pengungkapan hasil uji laboratorium Miami, pihaknya semakin terus melanjutkan riset Gunung Padang.

"Ini akan lanjut lagi, riset ini kan perlu 3-5 tahun. Ke depan bisa dipastikan bentuk bangunannya, dan tentu perlu dilakukan renovasi bangunan agar tidak berantakan seperti saat ini," katanya.

Berikut hasil uji kedua laboratorium :

Laboratorium Batan

1. Umur dari lapisan tanah di dekat permukaan (60 cm di bawah permukaan) sekitar 600 tahun SM --hasil carbon dating dari sampel yang diperoleh Arkeolog, DR Ali Akbar, anggota Tim Riset Terpadu di Lab BATAN--

2. Umur dari lapisan pasir-kerikil pada kedalaman sekitar 3-4 meter di Bor-1 yang melandasi situs Gunung Padang di atasnya --sehingga bisa dianggap umur ketika Situs Gunung Padang di lapisan atas dibuat-- sekitar 4700 tahun SM atau lebih tua (diambil dari hasil analisis Batan).

3. Umur dari pasir yang mengisi rongga di kedalaman 8-10 meter di Bor-2, sekitar 11.600-an tahun SM atau lebih tua.

Laboratorium Miami Florida

1. Umur lapisan tanah urug di kedalaman 4 meter diduga man made stuctures (struktur yang dibuat oleh manusia) dengan ruang yang diisi pasir (di kedalaman 8-10 meter) di bawah Teras 5 pada Bor-2,sekitar 7600-7800 SM (Lab Miami Florida).

2. Umur dari lapisan dari kedalaman sekitar 5 meter sampai 12 meter, sekitar 14500–25000 SM/atau lebih tua (Lab Miami Florida)

Perubahan Iklim dan Keganasan Topan Sandy

Hanya melintas dalam hitungan jam, Topan Sandy membuat negara semaju Amerika Serikat kalang kabut. Lebih dari 90 orang tewas, kerugian mencapai angka fantastis US$50 miliar. 

Sebanyak 8 juta warga hidup tanpa listrik, ratusan ribu orang harus dievakuasi, lebih dari 15.000 penerbangan dibatalkan. Pabrik, toko, dan rumah sakit tutup. Pusat kota Manhattan gelap, sunyi, porak-poranda, dan terendam air. 

Seperti dilaporkan BBC, hingga Jumat 2 November 2012, penduduk Pantai Timur AS menderita kekurangan bahan bakar, rusaknya sistem transportasi, dan ketiadaan listrik. 

Perselisihan hingga  perkelahian terjadi di sejumlah SPBU di New York dan New Jersey. Orang-orang berebut bahan bakar. Sementara perusahaan pembangkit memperingatkan, listrik mungkin tak bakal tersedia hingga 11 November mendatang. 

Walikota New York Michael Bloomberg, yang menyaksikan sendiri kehancuran kota yang ia pimpin, menghubungkan bencana itu dengan pemilihan presiden AS. Ia menyebut, Sandy menghangatkan kembali isu perubahan iklim. Dukungan pun ia berikan pada satu-satunya kandidat yang melihatnya sebagai masalah penting: Barack Obama. 

Menurut Bloomberg, Obama telah mengambil langkah penting untuk mengurangi konsumsi karbon. Dibandingkan penantangnya Mitt romney. "Iklim kita sedang berubah," kata Bloomberg dalam sebuah artikel Bloomberg View, seperti dimuat Reuters 2 November 2012. "Dan sementara cuaca ekstrem yang kami alami di New York dan seluruh dunia mungkin adalah dampak dari perubahan iklim." 

Senada, Gubernur New York, Andrew Cuomo menegaskan, "Mereka yang mengatakan tak ada perubahan dalam pola cuaca saat ini, sedang mengingkari kenyataan."

Apa hubungan antara Sandy dengan perubahan iklim?

Banyak ilmuwan muncul dan mendukung hipotesis bahwa Sandy mengganas dan menerjang apapun yang ia lewati tanpa ampun, terkait dengan perubahan iklim. 

Salah satunya adalah laporan yang dikeluarkan Komisi Iklim Australia, yang mengatakan Topan Sandy menjadi lebih besar, lebih ganas, dan lebih merusak akibat pemanasan global yang dipicu ulah manusia. 

Yakni, pembakaran bahan bakar fosil memberikan kontribusi material terhadap kondisi atmosfer yang memperbesar dan menyokong terjadinya badai dahsyat. Demikian laporan Komisi Iklim seperti dimuat Sydney Morning Herald. 

Sandy, siklon tropis terbesar menerjang Pantai Timur AS, menyebabkan kerusakan dalam skala luas di Karibia dan AS. Membunuh 162 orang secara keseluruhan. 

Ada tiga faktor kunci yang membuatnya menjadi petaka: permukaan air laut yang naik 20 centimeter dalam seabad terakhir, kelembaban udara sekitar 5 persen di atas level pra-industri. Juga permukaan laut yang makin panas. 

"Semua bukti menunjukkan, perubahan iklim memperparah tingkat keganasan  Sandy," demikian ujar laporan tersebut. 

Sementara data Badan Kelautan dan Atmosfer AS (NOAA) mengatakan suhu permukaan perairan Atlantik, di mana Sandy menarik energinya, 3 sampai 5 derajat lebih tinggi dari rata-rata. 

Ketua Panel Penasehat Komisi Iklim,  Matthew  England mengatakan, udara dan permukaan laut yang lebih panas, memicu badai yang lebih parah. "Pertanyaan yang tepat bukan 'apakah Sandy disebabkan perubahan iklim?', melainkan 'apakah ia dipengaruhi perubahan iklim." 

Analoginya seperti seorang perokok berat menderita kanker paru-paru. Tak bisa lantas dikatakan kebiasaannya itu menyebabkan kanker, mungkin saja itu karena ia tinggal di kota dengan kualitas udara rendah. 

Meski penyebabnya sulit dijabarkan. "Namun kita tahu pasti seseorang yang merokok akan lebih berpotensi menderita kanker." 

Profesor England mengatakan, bagaimana perubahan iklim mempengaruhi masa depan dipengaruhi keputusan yang kita buat hari ini terkait pembakaran bahan bakar fosil dan aktivitas lain yang meningkatkan gas rumah kaca di atmosfer.  "Di masa depan, badai dan topan seperti Sandy dan siklon tropis Yasi akan lebih sering terjadi, kecuali ada upaya menyetabilkan level karbondiosida di atmosfer, ke tingkat aman."

Dengan kata lain, Sandy menguak fakta pahit masa depan suram umat manusia. Apalagi jika tak ada perbaikan yang dilakukan. 

Hakim Puji, Whistleblower Pengadil Narkoba

Hakim Pengadilan Negeri Bekasi, Puji Wijayanto membuat pengakuan mengejutkan. Tak hanya dirinya hakim yang pengguna narkoba, ada beberapa hakim di Jakarta yang juga pengguna narkotika dan obat-obatan.

Pengakuan ini dia sampaikan ke Wakil Ketua Komisi Yudisial, Imam Anshari Saleh dan Komisioner KY, Suparman Marzuki di kantor Badan Narkotika Nasional (BNN), Kamis, 1 November 2012.

Kepada dua komisioner KY itu, hakim Puji menuturkan, dalam beberapa kesempatan dirinya pernah menggunakan barang haram itu bersama para hakim tersebut.

"Iya begitu pengakuannya. Ada sekitar 5 hakim, di Jakarta semua," ujar Imam kepada wartawan di Jakarta, Jumat 2 November 2012.

Selain pernah menggunakan narkoba dengan para hakim itu, Puji juga mengaku pernah memakai barang haram itu bersama dengan seorang staf di Mahkamah Agung.

Siapa saja hakim dan staf MA tersebut, kata Imam, hakim Puji tidak menyebutkan. "Dia hanya sebut staf MA saja. Tapi bukan hakim agung. Staf di MA kan bisa saja hakim, bisa juga bukan," ucapnya.

Hakim Puji, lanjut Imam, hanya menyebutkan nama-nama hakim dari Jakarta saja. Tidak menyebut ada hakim lain di luar Jakarta. Meski begitu, Imam menegaskan, pengakuan hakim Puji ini akan membuka jalan untuk membersihkan hakim-hakim pengguna narkoba.

Oleh karena itu, dia berjanji akan menindaklanjuti keterangan tersebut. "Makanya, kita mengajak MA untuk bersama-sama memeriksa. Kita ingin meyakinkan bahwa hakim itu benar-benar bebas dari narkoba," tuturnya.

Imam tidak ingin hakim di Indonesia memiliki perilaku buruk. Apalagi sebagai pengguna narkoba. Sebab, bahaya narkoba, kata Imam tak hanya dialami oleh hakim pengguna. Tapi juga akan berpengaruh terhadap putusannya di persidangan.

"Kalau si hakim itu menangani perkara narkoba, nanti akan ada solidaritas antar pengguna narkoba. Ini yang dikhawatirkan. Yang seharusnya berat, nanti divonisnya jadi turun. Makanya kita ingin hindari," Imam menjelaskan.

Meski begitu, dia berharap, hakim yang sudah terlanjur menggunakan narkoba, bisa segera direhabilitasi. Agar posisinya sebagai hakim tetap dipegang."Tapi kalau sudah parah, ya apa boleh buat, harus dicopot sebagai hakim," tuturnya.

KY, kata Imam telah menerima 10 laporan masyarakat mengenai hakim yang suka berpesta narkoba. Laporan itu saat ini sedang ditelusuri. "Ada 10 laporan, tapi ada yang benar dan ada yang sudah lewat peristiwanya. Saat ini kamu sedang usut dan kami juga bekerjasama dengan pihak terkait seperti BNN," ungkapnya.


KY & BNN awasi hakim narkoba
Ketua Komisi Yudisial Eman Suparman menyatakan, pihaknya bersama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) sedang mengawasi beberapa hakim yang senang menggunakan narkoba.

"Tunggu gebrakan kami saja. Dalam waktu yang tidak lama lagi (penggerebekan)," ujar Eman kepada VIVAnews, Jumat 2 November 2012.

Dia meminta kepada BNN untuk segera menangkap hakim yang sudah dipantau karena terlibat dengan barang haram itu.

"Saya sudah mengatakan kepada Ketua BNN Pak Gorris, langsung saja dieksekusi. BNN juga sudah memberikan informasi ke kami. Saya katakan, silakan saja sikat," tegasnya.

Eman mengaku geram dengan prilaku para hakim yang suka menggunakan narkoba. Dengan adanya penandatangan nota kesepahaman antara KY dengan BNN, dia berharap bisa membersihkan hakim-hakim pengguna narkoba.

Meski begitu, dengan banyaknya laporan yang masuk, KY juga akan memprosesnya secara hati-hati. Dia tidak ingin gegabah dalam menindaklanjuti laporan yang masuk. "Kita kan harus hati-hati. Kalau ternyata tidak terbukti, nanti KY disalahkan," tuturnya.

Penangkapan hakim Puji Wijayanto beberapa waktu lalu, menurut Eman merupakan hasil kerjasama antara KY dengan BNN. Karena bukan penegak hukum, KY tidak bisa menangkap seorang hakim yang terlibat kasus hukum.

"Jadi informasi itu kita sampaikan ke BNN. Karena masalah itu BNN yang berhak mengeksekusinya," jelasnya.


Jadi whistleblower
Pengakuan hakim Puji mengejutkan. Bukan hanya dia hakim yang menggunakan narkoba. Ada beberapa hakim di Jakarta, juga pengguna narkoba. Puji mengaku dalam beberapa kesempatan, dirinya pernah menggunakan narkoba dengan para hakim yang bertugas di Jakarta dan seorang staf Mahkamah Agung.

Terkait pengakuannya itu, Wakil Ketua Komisi Yudisial, Imam Anshari Saleh menyatakan, pihaknya akan mengusulkan hakim Puji menjadi whistleblower alias peniup peluit.

"Kami akan usulkan untuk menjadi whistleblower, dan kami ingin agar dalam proses pengadilannya saya kira bisa memperoleh keringanan hukum," ujar Imam.

Hakim Puji itu telah membuka jalan untuk membersihkan hakim-hakim yang terlibat narkoba. Oleh karena itu, pengakuan ini, kata Imam akan ditindaklanjuti secara serius.

Meski begitu, Komisi Yudisial akan terlebih dulu melakukan proses investigasi terhadap hakim-hakim yang disebutkan sebagai pengguna narkoba.

"Ini kan BNN yang sedang menangani. Sambil melihat hasil pemeriksaan oleh BNN, nanti akan melengkapi berkas-berkasnya untuk diajukan sebagai whistleblower," jelasnya.

Sikap MA
Wakil Ketua Mahkamah Agung Bidang Non Yudisial, Ahmad Kamil mengatakan, pihaknya akan menindaklanjuti pengakuan hakim Puji tersebut.

Dia menyampaikan terima kasih kepada pihak manapun yang melaporkan adanya temuan baru dalam kasus narkoba yang menjerat hakim Puji.

"Jadi kalau ada laporan begitu, dari Komisi Yudisial misalnya, akan kita follow up. Dan kita sangat berterima kasih. Sudah saatnya kita bersih-bersih," ucap Kamil di gedung MA, Jakarta, Jumat 2 November 2012.

Saat ini, upaya bersih-bersih itu tengah dilakukan oleh MA. Salah satunya melakukan tes urin dalam seleksi calon hakim yang dilakukan. Tes ini untuk mengetahui, apakah calon hakim sebagai pengguna narkoba atau tidak.

"Yang jelas untuk para calon hakim itu sudah dilakukan tes urin. Sudah dilaksanakan pada saat tahapan seleksi," katanya.

Menurutnya saudah saatnya Mahkamah Agung memberikan sanksi tegas kepada hakim nakal maupun hakim pengguna narkoba.

Kronologi kasus hakim Puji
Puji Wijayanto ditangkap petugas dari Badan Narkotika Nasional di kamar karaoke nomor 331 Illigals Hotel & Club, Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Barat, Selasa sore, 16 Oktober 2012.

Petugas mendapati Puji dan beberapa rekannya, empat wanita muda, dan dua lelaki yang salah satunya berprofesi sebagai pengacara, sedang menggelar pesta narkoba. Sepak terjang hakim Pengadilan Negeri Bekasi itu sebagai narkoba memang sudah diendus sejak dua bulan lalu.

Deputi Pemberantasan Narkoba BNN, Inspektur Jenderal Benny Mamoto, menjelaskan, Puji dan kedua rekannya dibekuk tanpa perlawanan. Anggota menemukan belasan butir narkoba jenis ekstasi.

"Di tangan hakim tersebut, ditemukan 9,5 butir ekstasi. Sedangkan dari dua rekannya ditemukan sebanyak 2,6 gram sabu dan ekstasi," kata Benny di kantornya, Jakarta, Rabu 17 Oktober 2012.

Dari tes urin yang dilakukan di kantor BNN, Puji positif menggunakan dua jenis narkoba yakni, sabu dan ekstasi. Rupanya, Puji sudah menggunakan barang haram itu sejak masih bertugas di Jayapura. Hingga di Bekasi, dia masih aktif menggunakan narkoba.

Puji sendiri mengaku mengkonsumsi narkoba sejak enam bulan lalu. Dia mengatakan awalnya hanya iseng hingga akhirnya ketagihan. "Awalnya memang hanya iseng, sampai ketagihan," kata Puji di ruang penyidik BNN.

Puji menjelaskan, sebelum ditangkap dia membeli 20 butir pil ekstasi. Lima butir telah dia konsumsi. Dalam sehari itu, Puji menghabiskan uang lebih dari Rp11 juta untuk pesta narkoba. "Inex dan sabu saya beli totalnya Rp7,5 juta dan Rp3,5 juta untuk bayar room dan minuman," ujar dia.

Ketua Komisi Yudisial Eman Suparman mengatakan, hakim Puji sebelumnya juga pernah terlibat kasus pelecehan perempuan.
Sehingga KY tidak terkejut dengan penangkapan ini. "Apalagi, KY juga sudah mengetahui, hakim tersebut sudah menjadi target BNN," jelas Eman.

Menurut Juru Bicara Komisi Yudisial, Asep Rahmat Fajar, jika dilihat dari identitas dan data yang dimiliki KY, hakim yang ditangkap itu sudah pernah dilaporkan ke KY sebanyak lima kali. Satu kali pada 2010, dua kali di 2011, dan dua kali di tahun ini.

"Dengan kesimpulan akhir, laporan tidak lengkap dan tidak ada pelanggaran kode etik untuk laporan yang tahun 2010 dan 2011. Sedangkan untuk yang 2012, masih dalam proses investigasi dan pemeriksaan," ujarnya.

Kini, Puji pun menyesali perbuatannya. "Sampaikan maaf saya kepada pimpinan MA. Saya tidak bisa menjaga citra dan kewibawaan hakim," kata Puji. Dia pun pasrah menerima hukuman. "Ini konsekuensinya, saya siap untuk menerima hukuman yang memang harus saya dapatkan."

Puji pun berharap kasusnya jadi pelajaran bagi rekan seprofesinya. Apalagi, bagi mereka yang belum terjerumus narkoba.

BENTROK BERDARAH MEWABAH DI MANA MANA, KALAU ITU TERUS TERJADI INDONESIA BISA MENJADI LADANG PEMBANTAIAN


Wabah Bentrok Berdarah

Wajah Wayan Lastri pias. Matanya memancarkan ketakutan. Di pangkuannya ada bocah balita. Sesekali ia mengusap kening si bocah. Matanya tak bisa tenang,  menoleh ke kiri dan kanan. “Saya tidak tahu mengapa kita dikumpulkan di sini, katanya mau diungsikan,” ujarnya cemas. Bibirnya gemetar.

Tak begitu jauh dari Wayan, ada Ketut Saebang, dan sang istri. Pasangan itu tak berhenti menangis. Bayi mereka masih berumur tujuh belas hari membiru. Ia belum diberi nama. Matanya kuyu, dan mulutnya terus membuka. “Sudah dua hari kami menginap di kebun, kehujanan dan kedinginan. Rumah kami dibakar,” ujar Agung terisak.

Mujur, di hari itu ada petugas medis tiba. Selang oksigen dicolok ke hidung bayi mungil, sebelum dibawa menuju Rumah Sakit Umum Abdul Muluk Bandar Lampung. Menyusul mobil polisi, dan sejumlah bus.  Wayan, Ketut, dan ribuan warga yang dicekam ketakutan pun berkemas. Dengan modal bungkusan berisi baju, mereka berebut masuk ke kendaraan itu.

Wayan Lastri, dan ribuan warga Balinuraga lain itu adalah korban bentrokan dua desa di Lampung Selatan, Desa Agom, Kecamatan Kalianda dan Desa Balinuraga, Kecamatan Way Panji, Lampung Selatan.

Desa mereka dibakar massa, pada bentrokan Senin 29 Oktober 2012. Kini warga Balinuraga mengungsi ke perkebunan yang letaknya cukup jauh dari desa malang itu. Ribuan warga Desa Balinuraga, yang rumahnya luluh lantak terpaksa diungsikan ke Sekolah Polisi Negara (SPN) Kemiling Polda Lampung, di Bandar Lampung. Sekitar 300 KK dengan jumlah 1000 jiwa lebih di tempatkan di tiga gedung di markas pendidikan polisi tersebut.

Mereka tidur seadanya di atas tikar dan terpal plastik. Kaum renta, dewasa, anak-anak, balita. Laki-laki dan perempuan. “Kami sangat sedih melihat rumah kami hancur. Tinggal di pengungsian adalah pilihan terbaik, meski kondisinya memprihatinkan,” ungkap I Nyoman Sude saat ditemui VIVAnews di pengungsian.

Gara-gara motor jatuh

Bentrokan itu diawali oleh hal sepele. Selepas magrib, pada Sabtu, 27 Oktober 2012 lalu, Emilia Elisa dan Nurdiana naik motor berboncengan melintas di desa Balinuraga. Kedua gadis Desa Agom itu hendak pulang setelah berbelanja bersama teman-temannya. Di tengah jalan, motor mereka menabrak sepeda yang dinaiki dua pemuda dari Desa Balinuraga.
Djoko: Damai Lampung Harus Sampai Rakyat Bawah
Emilia dan Nurdiana terjatuh. “Kondisi sudah agak gelap, tiba-tiba ada sepeda di tengah jalan, saya tidak sempat ngerem dan kami bertabrakan. Saya jatuh dan tangan saya lecet,” tutur Nurdiana. “Saya berteriak minta tolong, namun tidak ada orang yang membantu. Dua orang yang naik sepeda itu lalu mendekati kami. Kami ditanya-tanya. Lalu kami dibantu diangkat,” ujarnya.

Menurut Emilia, ia juga dibantu, tapi ia merasa agak risih. “Pas saya dibantu diangkat, tangan orang yang membantu saya itu seperti mencolek-colek paha saya. Saya juga tidak tahu berapa orang membantu karena saat itu gelap,” cerita Emilia. Keduanya lalu dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah Kalianda, Lampung Selatan.

Rupanya kejadian itu berbuntut. Orang tua kedua gadis tidak terima. Mereka merasa anaknya mengalami pelecehan. Puluhan warga desa Agom lalu berkumpul hendak meminta pertanggungjawaban dari para pemuda yang mereka duga berasal dari Desa Balinuraga.

Kondisi yang sempat memanas ini bisa diredam, setelah kedua kepala desa bertemu. “Saya juga ikut dalam pertemuan itu. Kedua pihak sudah menyatakan damai setelah mendengar penjelasan dua pihak,” tutur Ketua Parisade Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Lampung Selatan, Made Sukintre.

Namun, kabar pelecehan  itu keburu menyebar. Sekitar 500 warga desa Agom tetap tidak terima, dan menuntut tanggung jawab keluarga si pemuda desa seberang. Menjelang tengah malam, mereka berarak menuju Desa Balinuraga.

Tapi, kata seorang warga Agom yang ikut arakan rombongan itu,  mereka ternyata sudah 'disambut' saat masuk ke Balinuraga. "Kami sempat bentrok. Lalu terdengar suara tembakan, mungkin dari senjata api rakitan,”kata dia.

Setelah huru hara mereda, mereka baru tahu kalau satu warga Desa Agom, Marhadan,  tertembak. Lekaki malang itu meninggal di tempat. Warga Desa Agom pun mundur, mereka merasa kalah jumlah.

Esoknya, ribuan orang kembali berkumpul di Simpang Way Arong, Kalianda. Bukan hanya warga Desa Agom, namun juga desa-desa tetangga. Setiap orang menenteng senjata. Ada bambu runcing, golok, badik, samurai, tombak, hingga senapan api. “Hutang nyawa harus dibayar nyawa” teriak seseorang dari kerumunan sambil mengacungkan parangnya ke udara.

Hari itu, Minggu 28 Oktober 2012, sekitar pukul 10 pagi mereka bertekad menyerang Desa Balinuraga.

Di perbatasan desa, bentrokan kembali pecah. Sejumlah rumah dibakar, dua orang tewas. Kebanyakan luka bacok dan tertembak. Aparat keamanan dari polisi dan marinir yang berjaga tidak bisa bertindak banyak.

Perkelahian berdarah berlanjut hingga Senin 29 Oktober. Sekitar 10 ribu orang, entah berasal dari wilayah mana, berkumpul di Pasar Patok, yang letaknya persis di tengah kedua desa. Mereka lalu menuju Desa Balinuraga. Massa berniat membantu warga Desa Agom untuk menyerang kembali Desa Balinuraga.

Aparat keamanan tidak tinggal diam. Lebih dari 1.000 aparat dari Polda Lampung dan TNI AD serta AL Lampung mencoba menghalau dengan membuat barikade di pintu masuk kedua desa. Puluhan ribu orang yang kalap, mereka melempari barikade.

Kondisi makin panas. Gagal menembus tiga lapis barikade, massa mencari jalan alternatif. Mereka menyeberangi sungai, melewati kebun jagung, persawahan, hingga kebun karet. Satu jam sekitar 10 ribu massa berjalan kaki menuju Desa Balinuraga dengan memutar jalan.

Desa Balinuraga pun tertembus. Bentrokan di areal persawahan tak bisa dihindari. Rupanya, sekitar 3000 warga Balinuraga itu kalah jumlah, mereka pun terpukul mundur. Nahas, beberapa orang terjebak.  Dengan brutal mereka dihajar sampai tewas. Mayatnya penuh luka bacokan. Ada juga yang dibakar. Seorang korban kakinya dipotong, dan seorang lagi kepalanya dipenggal.

Puas melampiaskan amarahnya, massa kembali pulang. Mereka meninggalkan 12 orang tewas, puluhan orang luka-luka, 300 rumah lebih dibakar, mobil dan motor hangus, sekolah dan fasilitas umum rusak.  Juga trauma dan ketakutan mendalam.

“Peristiwa ini adalah konflik akumulatif,” ujar seorang sosiolog dari Universitas Lampung, Hartoyo, kepada VIVAnews, Jumat  2 November. Dia mencatat sedikitnya sudah terjadi lebih dari lima peristiwa serupa di Lampung Selatan sejak 1990-an.

Tapi bentrokan tak hanya terjadi pada dua etnis itu saja. Menurutnya, peristiwa bentrokan itu menjadi masif karena kejadian ini sudah menyangkut nilai-nilai dasar masyarakat. “Jadi, jika ada sedikit saja isu, akan mudah menjadi pemicu konflik, namun harusnya jangan sampai anarkis,” ujarnya.

Apa yang terjadi di Lampung cukup membuat siapa pun terheyak. Begitu mudah warga tersulut, lalu menjadi buas dan brutal. Bentrokan massal tidak hanya terjadi di Lampung.  Di sejumlah daerah lain, masyarakat tampaknya mudah dibakar angkara murka.  Pemicunya pun soal sepele.

Bentrok di Palu

Di Palu pada 30 Oktober lalu, misalnya. Dua warga kelurahan bertetangga, Tatura, Palu Selatan, Kota Palu dengan warga Kelurahan Tinggede, Kabupaten Sigi, itu berkelahi. Persoalan belum usai, karena sampai Kamis dinihari, 1 November 2012, suara “dum-dum” masih terdengar di Tinggede. Tapi “pancingan” itu tak diladeni warga Tatura.

Kapolsek Palu Selatan, AKP Saemuda Ali mengatakan, ledakan dum-dum itu bukan untuk menyerang ke Tatura. Diduga suara itu memancing warga Tatura agar kembali bentrok. "Beruntung warga Tatura tidak menanggapi pancingan itu," ujar AKP Saemuda Ali.

Di tempat sama, pada Selasa dinihari 30 Oktober, bentrokan dua warga desa itu pun pecah di Jembatan II, Jalan I Gusti Ngurah Rai, salah satu akses yang menghubungkan kota Palu dengan Kabupaten Sigi.

Warga Tatura di ujung jembatan satu. Warga Tinggede di ujung satunya. Mereka saling serang menggunakan batu, senjata busur dan dum-dum. Bentrokan berakhir sekitar pukul 04.00 Wita, setelah puluhan polisi turun.

Karena merasa aman, polisi lalu meninggalkan lokasi bentrok pada Kamis pagi. Ditinggal polisi, kedua kubu kembali saling memancing keributan. Sekitar pukul 9 pagi,  konsentrasi massa yang sedikit, perlahan mencapai ratusan. Lalu sekitar pukul 12.30 Wita, warga Tinggede kembali menyerang ke Tatura.

Tak begitu jelas pemicu bentrok itu. Menurut Saemuda, tiga hari sebelumnya, seorang pemuda Tatura mengaku bermasalah dengan seorang warga pemuda lain. Namun tidak diketahui asal pemuda itu. Yang diingat korban adalah sepeda motor yang digunakan oleh pelaku.

Pemuda Tatura lalu melakukan sweeping mencari motor yang dicurigai. Saat sweeping, mereka menemukan motor dengan ciri-ciri sama. Di dalam bagasi motor tersebut disebut-sebut ditemukan senjata rakitan.

Pengendara motor itu kemudian diserahkan ke polisi setempat dan sempat ditahan selama satu malam. Siangnya, pemuda tersebut dilepas tanpa diketahui alasan yang jelas.

Alhasil, pemuda yang ternyata warga Tinggede ini melapor ke teman-temannya. Dari laporan itu, pemuda Tinggede lalu bersatu, dan menyerang warga Tatura sehingga terjadi bentrokan pada Selasa dini hari, dan terulang pada Selasa siang.

Penculikan

Di Lombok, Nusa Tenggara Barat, suasana damai di Kota Mataram terusik dengan isu penculikan anak melalui pesan singkat. Entah dari mana isu penculikan anak ini datang. Namun, isu itu membuat resah para orang tua di Mataram.

Pada 21 Oktober 2012 sekitar pukul 4 petang, isu ini makin meruncing.  Kabarnya, ada seorang pria yang dituduh penculik anak tertangkap. Ribuan warga pun mendatangi Kantor Kepolisian Kediri, Lombok Barat. Gilanya, warga mengamuk dan minta si pemuda diserahkan kepada mereka. Batu, senjata tajam, bambu, balok, dan lainnya bicara. Tak ayal, lelaki paruh baya yang dituduh menculik anak menjadi bulan-bulanan massa. Kepalanya hancur dihajar batu, juga tubuhnya. Dia terkapar bersimbah darah.

Amuk massa menular ke Desa Selat, Narmada, Kabupaten Lombok Barat. Tak jelas mengapa, amuk tak terbendung. Tiga tewas, dan tubuh hancur dilumat murka. Mereka adalah Badrun alias Amak Rohmani, warga Dusun Dasan Koak, Mekarsari, Swele. Lalu Arif Maulidin Hidayat (26 tahun) warga asli Kota Bima, dan Dedi Sunandar Abdullah (31 tahun) warga Tente, Woha, Bima.  Ada satu kemiripan: mereka tewas setelah dituding sebagai penculik anak.

Dari Lampung, Poso, dan Lombok, entah mengapa bentrok berdarah antar warga seperti sedang mewabah.