Tiba pukul 11 siang. Kiki merasa ada yang ganjil di rumah itu. Ibu dan sang kakak cuma sekedar menyambut Sesudah itu mereka diam. Lalu murung. Kiki tak bertanya ada apa gerangan. Perut lapar mengajak ke dapur. Siang itu dia makan dengan lauk dua rendang.
Sesudah itu dia masuk kamar. Membaca buku, lalu shalat Dzuhur pukul 12 siang. Belum lagi membereskan mukena, ibunya masuk kamar. Berusaha tenang dia menyampaikan. “Ayahmu diculik bajak laut di Somalia.”
Reski Judiana begitu nama lengkap Kiki semula tak percaya, lalu menangis histeris. Pecahlah tangisan di keluarga ini. Kiki, sang ibu juga abangnya, Rezka Judittya yang sedang menonton televisi di ruang keluarga.
Sang ayah, Slamet Jauhari, adalah nahkoda Kapal Sinar Kudus berangkat ke Belanda Februari 2011. Kapal itu mengangkut nikel milik PT Aneka Tambang senilai ratusan miliar. Melaut dari Pomala Sulawesi Tenggara, kapal itu melepas jangkar terakhir di Rotterdam. Berpuluh hari di laut lepas.
Tanggal 11 Maret sang ayah sempat memberi kabar. Sudah tiba di Kolombo. Tak ada kabar buruk. Sampai tanggal 17 Maret dua orang tak dikenal bertamu ke rumah mereka di Ciledug Tanggerang. Mereka datang pukul 10 pagi. Di rumah itu cuma ada Rezka.
Dua tamu itu rupanya utusan PT Samudera Indonesia, pemilik kapal Sinar Kudus. Mereka lah yang berkisah soal aksi bajak laut di Somalia itu. Ketika sedang berlayar di 320 mil timur laut Pulau Socotra, Rabu pagi 16 Maret 2011, serombongan orang mengurung kapal itu.
Menumpang sejumlah speed boat, jumlahnya 50 orang. Menenteng senjata dengan moncong mengarah ke Sinar Kudus. Kapal itu memperlambat laju. Sekitar 30 perompak naik geladak. Ada yang nekat masuk lewat buritan.
Lalu ke ruang kemudi. Kendali kapal jatuh ke tangan perompak. Kabar pembajakan itu diketahui Samudera Indonesia di Jakarta sebab pada Sinar Kudus itu ada alat yang jika dipencet akan mengirim sinyal darurat ke kantor pusat.
Dari tengah laut, kapal itu dibawa ke pelabuhan. Lalu membuang sauh di tepi Somalia. Diparkir bersama 30 kapal lain yang sukses dibajak. Kapal-kapal yang dibajak itu milik sejumlah negara. Dua puluh Anak Buah Kapal (ABK) Sinar Kudus itu dicekam ketakutan. Para perompak minta uang tebusan US$2,6 juta dolar. Sekitar Rp22 miliar.
