Showing posts with label opini bencana. Show all posts
Showing posts with label opini bencana. Show all posts

Sunday, 18 May 2014

10 BENCANA KELAPARAN PALING MENGERIKAN SEPANJANG SEJARAH

Kelaparan sering dianggap sebagai bencana alam terburuk di muka bumi. Efeknya tersebar luas, dan kerusakan yang disebabkan oleh bencana kelaparan bisa bertahan selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Sering kali kelaparan juga disebabkan oleh bencana alam lain, seperti gempa atau tsunami yang menghancurkan seluruh wilayah, dan menyebabkan eksodus massal. Kematian karena kelaparan dan kekurangan gizi sangat menyakitkan, dan sering terjadi pada balita maupun lansia. Tanpa perlu panjang lebar lagi, berikut adalah 10 kelaparan yang paling mengerikan sepanjang sejarah manusia.

Quote

Quote:
10. Kelaparan besar di Irlandia
1,5 juta mati dan 2 juta orang ber-emigrasi
Quote:

Salah satu kelaparan paling terkenal dalam sejarah, Kelaparan besar yang disebabkan oleh penyakit kentang. 33% dari populasi Irlandia bergantung pada kentang untuk bertahan hidup, dan timbulnya penyakit pada tahun 1845 memicu kelaparan massal yang berlangsung sampai tahun 1853. Populasi Katolik yang besar juga diberangus oleh pemerintahan Inggris yang saat itu berkuasa, dan mereka juga tidak dibenarkan memegang profesi. Ketika penyakit melanda, kapal-kapal Inggris mencegah bangsa-bangsa lain untuk mengirimkan bantuan makanan. Akibatnya adalah terjadi eksodus besar-besaran di Irlandia, di mana lebih dari 2 juta orang melarikan diri, dan kebanyakan ke Amerika Serikat. Pada akhir tahun 1853, penduduk yang mati adalah 1,5 juta orang, dan tambahan 2 juta telah beremigrasi. Secara total, penduduk Irlandia menyusut sebanyak 25%.
Sungguh mengerikan

9. Kelaparan di Vietnam tahun 1945 (2 Juta orang tewas)
Quote:

Sebagai daerah perlindungan di bawah Perancis, Vietnam berada di bawah kekuasaan kolonial ketika Perang Dunia II. Ketika ekspansi Jepang dimulai di Indocina, Vietnam diambil oleh Jepang, dan akhirnya berkolaborasi. Fokus pertanian akhirnya bergeser di mana semuanya diarahkan untuk mencukupi bahan makanan dan juga karet pada perang dunia II. Seperti juga yang terjadi di Indonesia, Orang jepang mengambil paksa seluruh daerah pertanian dan merampas sebagian besar tanaman yang ada. Diperparah lagi dengan kekeringan yang melanda, menyebabkan terjadi kelaparan massal di Vietnam Utara. Total penduduk yang mati karena kelaparan diperkirakan 2 juta orang.

8. Kelaparan di Korea Utara (3 Juta orang tewas)
Quote:

Ini adalah bencana kelaparan paling baru, di mana Korea Utara menderita kelaparan luar biasa sejak 1994-1998, Ini terjadi karena dua hal, kepemimpinan sesat dan banjir skala besar (no offense). Hujan deras yang terjadi pada tahun 1995 membanjiri daerah pertanian, dan menghancurkan 1,5 juta ton cadangan biji-bijian. Kemudian kondisi ini diperparah lagi dengan aksi Kim Jung Il yang menerapkan “Kebijakan Militer pertama, yang menempatkan kebutuhan militer atas kebutuhan masyarakat umum, termasuk dalam hal ransum makanan. Ujung-ujungnya bangsa yang terisolasi ini menderita karena ekonomi yang tersendat, dan ketidakmampuan untuk mengimpor pangan. Efeknya adalah Angka kematian anak meningkat menjadi 93 dari 1000 orang, dan tingkat kematian ibu hamil naik menjadi 41 dari 1000 ibu. Selama rentang 4 tahun, diperkirakan 2,5 juta -3 juta orang meninggal karena kekurangan gizi dan kelaparan. Ckckckck... Miris gan

7. Kelaparan di Rusia 1921 (5 juta orang tewas)
Quote:

Awal abad ke-20 adalah masa penuh gejolak bagi Rusia, dimana mereka kehilangan jutaan dollar dalam Perang Dunia I, dan mengalami revolusi kekerasan pada tahun 1917 (termasuk beberapa perang Sipil). Sepanjang perang, tentara Bolshevik selalu memaksa petani untuk menyerahkan makanan dan hasil pertanian mereka. Akibatnya, banyak petani yang berhenti bercocok tanam, karena mereka tidak bisa memakan apa yang mereka tabur. Ini mengakibatkan kekurangan besar makanan dan tidak lagi ada bibit unggul karena semuanya dimakan oleh petani. Pada tahun 1921, korban yang tewas akibat kelaparan di rusia mencapai 5 juta orang.

6. Kelaparan Benggala (1942-1943) (7 Juta orang tewas)
Quote:

Kelaparan Benggala, diawali oleh terjadinya badai (angin puyuh yang melanda). Mayoritas makanan yang dikonsumsi Bengala diimpor dari Burma, tetapi Jepang menghentikannya dan mengalihkannya untuk perang dunia II. Pada tahun 1942, Benggala dilanda topan dan tiga gelombang pasang yang terpisah. Dilanjutkan dengan terjadinya banjir besar yang menghancurkan 3200 mil persegi lahan pertanian yang layak. Daerah pertanian yang tidak hancur memunculkan Jamur liar yang merusak 90% dari semua tanaman padi yang akhirnya menyerang hasil panen. Pada Desember 1943, 7 juta Bengala dan pengungsi Burma mati karena kelaparan

5. Kelaparan benggala (1770) (10 Juta orang tewas)
Quote:

Kelaparan lain di Benggala, sangat mengerikan karena membunuh sepertiga dari populasi. Ketika itu sebagian besar perdagangan dikuasai oleh Inggris milik Perusahaan Hindia Timur. laporan kekeringan dan kekurangan tanaman selalu diabaikan, dan perusahaan terus meningkatkan pajak daerah. Petani tidak dapat bercocok tanam, dan makanan yang dijual juga sangat mahal. Perusahaan memaksa petani untuk menanam indigo dan opium, karena jauh lebih menguntungkan daripada beras yang berharga murah. Tanpa stok beras besar, orang dibiarkan tanpa cadangan pangan, dan kelaparan akhirnya menewaskan 10 juta Benggala

4. Kelaparan di Soviet, 1932-1933 (10 Juta orang Tewas)
Quote:

Luar biasa, tingkat keparahan bencana kelaparan ini tidak sepenuhnya diketahui hingga runtuhnya Uni Soviet pada 1990-an. Penyebab utama adalah kebijakan kolektivisasi yang dikelola oleh Josef Stalin. Dalam kolektivisasi, petak tanah diubah menjadi pertanian kolektif. Jadi tidak ada lagi milik pribadi. Stalin mengambil paksa tanah masyarakat dan merusak tambak yang ada, panen, dan hewan ternak. Dan petani yang menyembunyikan tanaman untuk dikonsumsi secara pribadi membuat pemerintah melakukan pencarian besar-besaran, lalu menghancurkannya. Padahal yang disembunyikan oleh petani adalah benih yang akan ditanam. Perusakan benih dan kolektivisasi paksa tanah menyebabkan kelaparan massal di Soviet yang menewaskan sekitar 10 juta orang.

3. Kelaparan di Chalisa (11 juta orang tewas)
Quote:

Kelaparan di Chalisa merujuk pada tahun dalam kalender Samvat Vikram yang digunakan di India Utara. Terjadi pada tahun 1783, di mana wilayah ini mengalami tahun yang luar biasa kering, sebagai pergeseran dari sistem cuaca El Nino yang tidak membawa hujan. Semua hasil panen layu dan mati, dan ternak juga mati karena kekurangan makanan dan air minuman. Tahun penuh gejolak ini menewaskan 11 juta orang India.

2. Kelaparan di China tahun 1907 (25 juta orang tewas)
Quote:

Peringkat kedua dalam hal jumlah korban tewas, yakni kelaparan di Cina tahun 1907. Ini merupakan peristiwa singkat yang merenggut nyawa hingga 25 juta orang. China sebelah timur terguncang oleh serangkaian panen buruk ketika banjir besar melanda 40.000 mil persegi wilayah pertanian yang subur, dan merusak 100% hasil panen. Hal ini menyebabkan kerusuhan pangan terjadi setiap hari, dan sering dipadamkan dengan penggunaan kekerasan yang mematikan. Dan untuk China, ini tidak akan menjadi kelaparan besar terakhir mereka.

1. Kelaparan di China tahun 1958-1962 (43 Juta tewas)
Quote:

Sama seperti Kelaparan Soviet dari 1932-1933, Kelaparan Besar di China disebabkan oleh pemimpin komunis yang berupaya untuk memaksa perubahan pada masyarakat. Sebagai bagian dari "Lompatan Jauh ke Depan", salah satunya adalah larangan akan kepemilikan tanah pribadi. Dan yang lebih agresif lagi, rezim komunis mendahulukan produksi besi dan baja dibanding pertanian yang akhirnya mengakibatkan Jutaan pekerja pertanian dipaksa keluar dari ladang dan dikirim ke pabrik untuk membuat logam.
Selain kesalahan fatal itu, pejabat Cina juga membuat metode baru dalam menanam. Dimana, benih harus ditanam 3-5 meter di bawah tanah, dan jaraknya juga sangat dekat, di mana maksudnya adalah untuk memaksimalkan pertumbuhan dan efisiensi. Namun dalam prakteknya, biji yang tumbuh menjadi sangat terhambat akibat berdesak-desakan. Pada saat Lompatan Jauh ke Depan berakhir pada tahun 1962, 43 juta orang China meninggal karena kelaparan.

Saturday, 10 May 2014

Bumi Dalam Intaian Meteor. Sejak tahun 2000 hingga 2013, ada 26 asteroid yang masuk ke Bumi.

Meteor terlihat di atas langit Chelyabinsk, Ural, RusiaBulan ini penduduk Bumi akan disajikan pemandangan menakjubkan di langit. Ratusan hingga ribuan cahaya akan berkelebatan di angkasa. Jika dilihat malam hari akan lebih indah, seperti neon yang berjatuhan dari langit--hujan Meteor.

Menurut ahli NASA, hujan benda langit ini diperkirakan terjadi pada 23 dan 24 Mei 2014. Sebelumnya, peristiwa ini terjadi pada 2004 lalu berdasarkan pemantauan Lincoln Near-Earth Asteroid Research yang menamainya Komet 209P/LINEAR.

Asteroid ini mengorbit Matahari setiap lima tahun, bahkan lebih. Tahun ini, posisi asteroid tersebut tepat pada orbit Bumi dan alirannya diposisikan tepat untuk pertemuan antarplanet. Jika prediksi ini benar, bersiaplah menyaksikan langit yang bermandi cahaya komet yang mengandung es, batu, dan debu saat bertabrakan dengan atmosfer Bumi.

"Ini akan menjadi pemandangan yang mengesankan sepanjang malam," kata Bill Cooke, kepala Dinas Lingkungan NASA, sambil mengatakan bahwa hujan meteor ini akan menjadi yang terbaik pada 2014.

Fenomena hujan meteor di Bumi memang memanjakan mata. Namun, apakah hal yang sama akan terjadi jika meteor yang jatuh ke bumi seukuran bus? Sebab, Bumi kian hari kian rentan dihantam meteor ukuran besar.

Seperti diungkap peneliti di Laboratorium Propulsi Jet NASA, di California, Bumi berpotensi kedatangan tamu tak diundang--sebuah asteroid dengan lebar 7,6 meter. Ditemukan pada April lalu oleh astronom dan tim Mount Lemmon Survey, jarak asteroid itu ke Bumi yaitu 299.388 kilometer, lebih dekat dari jarak Bumi ke Bulan.

Walaupun menurut peneliti asteroid ini kecil kemungkinannya masuk ke Bumi, namun tetap harus diwaspadai. Sebab, berdasarkan studi terbaru B612, lembaga bentukan para astronom dan mantan astronot, Bumi telah dihantam asteroid setidaknya sekali dalam enam bulan. Sejak tahun 2000 hingga 2013, ada 26 asteroid yang masuk ke Bumi.

Asteroid-asteroid ini juga memiliki energi yang besar. Perhitungannya antara satu hingga 600 kiloton. Sebagai perbandingan, ledakan nuklir yang meratakan Hiroshima tahun 1945 "hanya" memiliki energi 15 kiloton.

Dr. Ed Lu, mantan astronot NASA dan pendiri B612 Foundation mengatakan bahwa asteroid sebesar 40 meter yang jatuh ke Bumi bisa meluluhlantakkan sebuah kota. Apalagi dengan kecepatan fantastis. Setelah menembus atmosfir, asteroid bisa melesat 50 hingga 100 Mach. Satu Mach sama dengan 1.225 kilometer per jam.

Beruntung kita punya atmosfir sebagai pelindung pertama dari asteroid. Lapisan atmosfir akan membakar benda yang melintasinya, asal lebih kecil dari 82 kaki dan 70 persen permukaannya adalah air. Jadi, kemungkinan asteroid menghantam permukaan bumi adalah 70 per 30.
Selain itu, kemungkinan asteroid menghantam permukiman warga juga cukup kecil. Sebab, hanya 28 persen daratan yang ada di Bumi, sisanya lautan, dan hanya satu persen yang dihuni manusia.

Namun, yang mengancam manusia bukan saja hantaman langsung meteor. Lu mengatakan, yang paling merusak adalah ledakan saat meteor terbakar asteroid dan efek setelahnya. Inilah yang terjadi di Chelyabinsk, Rusia, 15 Februari 2013 lalu.

Saat itu, meteor meledak di udara. Cahaya ledakan yang menyilaukan tertangkap kamera. Kecepatan meteor saat memasuki atmosfir saat itu adalah 57.600 km/jam. Meteor meledak sekitar 30 km di atas tanah.

Sebanyak 7.200 rumah di enam kota dengan radius 49 kilometer rusak, 1.500 orang terluka. Lu mengatakan bahwa meteor yang meledak di Chelyabinsk energinya 600 kiloton, 30 kali lipat dari ledakan nuklir Hiroshima. Tapi untungnya, meteor meledak di udara dan memperkecil kerusakan.

"Gelombang kejutnya yang membunuh dan merusak. Jadi, kebanyakan meteor sangat kecil dan berada di ketinggian sehingga tidak membuat kerusakan di permukaan. Tidak seperti yang terjadi di Chelyabinsk," kata Lu.

Meteor di Chelyabinsk tahun lalu adalah benda langit terbesar yang menembus atmosfir bumi sejak tahun 1908 di Tunguska. Saat itu, meteor meledak di atas Siberia, mencabut 80 juta pohon dari akarnya di radius lebih dari 830 mil persegi.

Sedikitnya, peluang meteor masuk ke atmosfir Bumi tidak berarti kita bisa santai-santai. Lu mengatakan, ada lebih dari satu juta asteroid berbahaya berpotensi mengancam Bumi, 10.000 di antaranya telah diidentifikasi.

Jangan sampai peristiwa 65 juta tahun lalu kembali terjadi di Bumi. Saat itu, disinyalir ada meteor berdiameter 9600 meter yang menghantam Bumi. Dampaknya luar biasa, iklim berubah dan dinosaurus punah.

Teleskop Sentinel
Untuk itu, diperlukan langkah pencegahan, yaitu identifikasi meteor berbahaya di angkasa. B612 sendiri telah mulai insiatif untuk menemukan asteroid berbahaya yang berpotensi mencelakakan Bumi. Salah satunya adalah dengan menempatkan teleskop Sentinel di jarak 274 juta kilometer dari Bumi, dekat Venus tepatnya.

Teleskop dengan infra merah ini rencananya akan diluncurkan 2018 mendatang. Di bulan pertama operasinya, Sentinel diharapkan bisa melacak dan mendeteksi 20 ribu asteroid dekat Bumi. Jika berhasil, teknologi ini akan melampaui seluruh pencapaian teleskop canggih lainnya dalam 30 tahun terakhir.

Sentinel mampu memprediksi mana asteroid berbahaya yang kemungkinan akan menghantam Bumi dalam waktu tahunan atau beberapa dekade ke depan.

Setelah berhasil terdeteksi, kata Lu, maka Bumi harus melakukan pencegahan. Salah satunya adalah mengirim kapal luar angkasa untuk menggiring asteroid yang masih jauh itu keluar jalur, sehingga tidak menabrak Bumi.

Namun masalahnya, proyek ini tidak murah. Satelit swasta buatan B612 ini butuh dana US$250 juta (Rp2,8 triliun) untuk membuatnya, dan tambahan US$200 juta (Rp2,3 triliun) untuk mengoperasikannya. B612 tengah menggalang dana masyarakat untuk ini.

"Karena, kita tidak tahu di mana dan kapan dampak terbesar selanjutnya akan terjadi. Satu-satunya cara adalah dengan mencegah terjadinya bencana akibat asteroid sebesar kota menghantam Bumi. Dan, ini hanya masalah keberuntungan," ujar Lu.

Saking seriusnya ancaman Meteor ini, PBB membentuk tim khusus untuk memantau asteroid. Februari 2014 lalu sekelompok ahli di bidang objek dekat-Bumi (NEO) bertemu di Wina, Austria, membentuk Jaringan Peringatan Asteroid Internasional (IAWN).

Tugas IAWN ini adalah memberikan rekomendasi respon internasional jika ada ancaman asteroid terhadap Bumi. Tujuannya sama dengan B612, yaitu mendeteksi dan menjauhkan asteroid berbahaya dari Bumi. Menurut Ketua NEO Detlef Koschny, ini adalah langkah besar dalam melindungi Bumi.

Sejak 2001 lalu, PBB telah membentuk Tim Aksi untuk Objek Dekat Bumi, atau dikenal dengan nama Tim Aksi 14 (AT-14). Tim ini mengusulkan untuk membentuk Jaringan Peringatan Asteroid Internasional sebagai lembaga berbagi informasi soal serangan asteroid.

Berdoa SajaMenurut NASA, dari seluruh benda langit di angkasa, 95 persennya berukuran besar dan berada di dekat Bumi. Ukuran besar di sini berarti berdiameter satu kilometer atau lebih. "Asteroid sebesar itu, satu kilometer atau lebih, bisa menghancurkan satu peradaban," kata penasehat sains Gedung Putih, John Holdren, diberitakan Reuters, Maret lalu.

Menurut Kepala NASA, Charles Bolden, hanya 10 persen dari 10 ribu asteroid ini yang mengancam Bumi. Rata-rata, kata Bolden, asteroid yang merusak menghantam Bumi sekali dalam 1.000 tahun.

Tapi sekali lagi, hal ini tidak bisa diprediksi. Seperti halnya meteor yang meledak di Chelyabinsk yang tanpa woro-woro. Jika demikian, hanya ada satu cara yang bisa dilakukan manusia di Bumi: Berdoa.

"Dari informasi yang kami miliki, kami tidak tahu asteroid mana yang akan mengancam populasi Amerika Serikat. Tetapi, jika asteroid itu diketahui menghantam Bumi tingga minggu lagi, maka berdoalah," kata Bolden

Wednesday, 11 December 2013

BENCANA BESAR AKAN TERJADI JIKA GUNUNG API SUPER YELLOWSTONE JADI MELETUS, 2 PER 3 WILAYAH AMERIKA AKAN HANCUR

Pada 29 Agustus 1870, seorang letnan Angkatan Darat berusia 30 tahun Gustavus Doane, anggota ekspedisi penjelajahan kawasan Yellowstone di wilayah teritori Wyoming, dengan susah-payah mendaki ke puncak Gunung Washburn di atas Sungai Yellowstone. Sambil memandang ke selatan, dia menyadari ada sesuatu yang hilang dari bentang Pegunungan Rocky, yaitu pegunungan. Dalam rentang berkilo-kilometer, satu-satunya ketinggian hanya ada di kejauhan, mengurung lembah berhutan yang amat luas. Bagi Doane, hanya ada satu cara untuk menjelaskan mengapa tak ada pegunungan di Pegunungan Rocky. “Lembah besar itu,” begitu tulisnya, “dulunya adalah kawah besar gunung api yang sekarang sudah tak ada lagi.”
Si letnan memang benar. Yellowstone adalah sebuah gunung api dan bukan cuma gunung api biasa. Taman nasional tertua dan paling terkenal di Amerika Serikat itu tepat berada di puncak salah satu gunung api terbesar di Bumi. Bagaimanapun, Doane keliru dalam satu aspek penting. Gunung api Yellowstone masih ada. Sampai taraf tertentu yang belum pasti, gunung api itu masih sangat aktif.
Ada yang namanya gunung api, ada juga yang namanya gunung api super. Yang terakhir ini belum punya definisi yang disepakati semua orang—istilah tersebut dipopulerkan lewat siaran dokumenter BBC pada 2000—tetapi, sejumlah ilmuwan menggunakannya untuk menjelaskan letusan yang kehebatan dan volumenya luar biasa. Badan Survei Geologi AS menerapkan istilah itu bagi letusan yang melontarkan lebih dari 1.000 kilometer kubik batu apung dan abu dari serangkaian letusan—lebih dari 50 kali lipat letusan Krakatau yang sangat terkenal pada 1883, yang menewaskan lebih dari 36.000 orang. Gunung api membentuk pegunungan; gunung api super justru menghancurkan pegunungan. Gunung api mematikan tumbuhan dan binatang yang berada dalam radius beberapa kilometer; gunung api super menyebabkan seluruh spesies terancam punah dengan mengubah iklim di seantero Bumi.


 

Belum pernah ada catatan dalam sejarah umat manusia tentang gunung api super yang meletus, tetapi para ahli geologi sudah dapat memperkirakan seperti apa letusannya. Pertama-tama, lapisan batu panas menyeruak naik dari perut planet, melelehkan batu yang berada tepat di bawah kerak Bumi, menciptakan tandon raksasa yang dipenuhi campuran bertekanan dari magma, batu setengah padat, uap air terlarut, karbon dioksida, dan berbagai gas lainnya. Seiring dengan pertambahan magma yang terakumulasi di dalam tandon dalam kurun ribuan tahun, tanah di atas tandon mulai naik membentuk kubah setinggi beberapa sentimeter. Berbagai rekahan pun membuka di sepanjang tepian kubah, seakan-akan perampok menggergaji lubang dari bawah lantai kayu. Ketika tekanan dalam tandon magma lepas melalui rekahan-rekahan itu, gas-gas terlarut langsung meledak dalam reaksi pelepasan raksasa. Seperti “membuka botol Coca Cola setelah kita mengocoknya,” kata Bob Christiansen, ilmuwan Badan Survei Geologi A.S. yang merintis penelitian di gunung api Yellowstone pada 1960-an. Karena tandon magma kosong, permukaan tanah pun runtuh. Seluruh kawasan kubah runtuh memasuki planet, seakan-akan Bumi melahap dirinya sendiri. Yang tersisa adalah kaldera raksasa, dari kata bahasa Spanyol untuk “cauldron” atau ketel.


Daerah “titik panas” yang membentuk kaldera Yellowstone sudah meletus lusinan kali di masa lalu dan sudah berlangsung selama kira-kira 18 juta tahun. Karena titik panas tersebut berakar jauh di perut Bumi dan lempeng tektonik di atasnya bergerak ke arah barat daya, kaldera-kaldera yang gentayangan dan berasal dari letusan yang lebih kuno berselang-seling seperti serangkaian manik-manik raksasa di bagian selatan Idaho hingga memasuki wilayah Oregon dan Nevada. Aliran lava yang selanjutnya terjadi membentuk bentang alam mirip di bulan, yakni Dataran Sungai Ular yang tampilannya mengerikan.
Bagaimanapun, dampak letusan-letusan zaman dulu itu masih sangat terasa dewasa ini. Pohon Pinus contorta yang mendominasi hutan taman nasional tumbuh dengan beradaptasi pada lahan yang miskin zat hara seperti di kaldera Yellowstone. Demikian pula pinus berkulit putih (Pinus albicaulis), yang buahnya menjadi santapan beruang grizzli (Ursus (arctos) horribilis) dan beruang hitam (Ursus (Euarctos) americanus).
Dan tentu saja, sampai sekarang pun lahan itu boleh dikatakan sangat panas. Ikan trout yang menguasai sungai tidak akan berlimpah ruah jika tidak ada dampak pemanasan mata air hidrotermal di dasar Danau Yellowstone yang beku. Taman ini menjadi keruh oleh geiser, fumarol, gunung api lumpur, dan kegiatan hidrotermal lainnya. Separuh geiser di Bumi berada di Yellowstone. Semua fitur hidrotermal tadi terus berubah suhunya dan perilakunya, sementara fitur baru bermunculan di hutan, memuntahkan awan uap yang dapat terlihat dari pesawat udara, memancarkan uap yang diketahui mampu menewaskan bison dalam seketika.

 Meski terjadi “semburan gas yang sangat ganas” ini, begitu kata seorang penjelajah masa awal, gunung api di bawah Yellowstone sudah lama diperkirakan punah, sebagaimana yang diyakini Doane, atau setidaknya sedang sekarat. Dan memang begitulah, setelah dilakukan survei oleh pemerintah federal pada akhir abad ke-19, kegiatan dan kapasitas gunung api Yellowstone tidak terlalu diperhatikan secara ilmiah selama puluhan tahun. Kemudian, pada akhir 1950-an, seorang mahasiswa pascasarjana Harvard yang masih muda Francis “Joe” Boyd terpesona oleh kehadiran batuan tufa—lapisan tebal abu padat nan panas yang disadarinya merupakan tanda aliran piroklastik dari letusan hebat, yang menurut ukuran waktu geologis, terjadi belum begitu lama.
Pada 1965 Bob Christiansen menemukan tufa kedua yang amat jelas; tahun berikutnya dia dan beberapa rekannya mengenali yang ketiga. Dengan menggunakan penentuan-umur dengan potasium-argon, mereka menentukan bahwa ketiga tufa itu adalah hasil tiga kali letusan. Setiap letusan membentuk kaldera raksasa, dan letusan yang terakhir boleh dikatakan menutupi semua bukti terjadinya kedua letusan sebelumnya.
Kemudian, di suatu hari pada 1973, Bob Smith dan seorang rekannya sedang melakukan penelitian di Pulau Peale, di Sayap Selatan Danau Yellowstone, ketika Smith menyadari ada sesuatu yang ganjil: Beberapa pohon di sepanjang garis pantai tampak terbenam sebagian dan hampir mati. Dia pernah melakukan penelitian di daerah itu pada 1956 dan berencana hendak menggunakan dermaga kapal yang sama seperti perjalanannya terdahulu. Tetapi, dermaga itu juga terendam. Ada apa ini?
Karena tergoda, Smith mulai melakukan survei ulang terhadap patok yang ditempatkan pegawai taman di berbagai jalan di seluruh taman nasional sejak 1923. Hasil surveinya menunjukkan bahwa Lembah Hayden yang berada di puncak kaldera sebelah utara danau, naik sekitar 75 cm dalam kurun waktu sekian puluh tahun. Namun, ujung bawah danau sama sekali tidak naik. Akibatnya, ujung utara danau naik dan menyebabkan air mengalir ke bawah ke ujung selatan. Tanahnya membentuk kubah. Gunung api itu ternyata masih aktif.


Smith mempublikasikan hasil surveinya pada 1979, dan dalam sejumlah wawancara menyebut Yellowstone sebagai “kaldera hidup yang bernafas.” Kemudian, pada 1985, setelah diberondong oleh “serbuan” gempa bumi yang kebanyakan berkekuatan kecil, kawasan itu menjadi tenang lagi. Smith mengubah metaforanya: Yellowstone sekarang merupakan “kaldera hidup, bernapas, dan bergoyang.”
Bertahun-tahun sejak saat itu, Smith dan rekan-rekannya menggunakan segala cara untuk memahami apa yang sedang terjadi di bawah taman nasional itu. Secara berangsur-angsur, proporsi dan potensi sistem gunung api bawah tanah pun mulai terkuak. Di level yang paling dangkal, air permukaan merembes beberapa kilometer ke dalam kerak Bumi, memanas, dan mendidih, lalu kembali ke atas, memasok geiser dan fumarol. Di kedalaman sekitar delapan hingga 10 kilometer terdapat puncak kantong magma, sebuah tandon dari sebagian batuan cair yang lebarnya kira-kira 50 kilometer. Magma basaltik terperangkap di dalam tandon oleh lapisan magma sangat asam yang lebih padat, yang terapung di atas basalt cair seperti kepala susu. Para ilmuwan mengamati bagaimana gelombang suara yang diciptakan gempa menyebar melalui bebatuan bawah-permukaan dengan densitas yang beragam. Dari pengamatan itu disimpulkan bahwa kantong magma dipenuhi oleh lapisan batu panas berukuran raksasa yang naik dari mantel Bumi bagian atas, miring ke bawah ke arah barat laut dengan sudut 60 derajat, dan dasarnya mungkin berada 650 kilometer di bawah permukaan. Ketika lapisan itu memompakan panas lebih banyak ke dalam kantong, tanah akan mendesak ke atas. Gempa kecil menyebabkan cairan hidrotermal lepas ke permukaan, mengendurkan tekanan di dalam kantong dan menyebabkan tanah tenang kembali.
Setelah serbuan gempa pada 1985, Yellowstone turun 20 cm selama kurun waktu kira-kira satu dasawarsa. Kemudian naik kembali, kali ini dengan lebih cepat. Sejak 2004, sebagian kaldera mendesak ke atas dengan kecepatan hampir delapan cm setahun, jauh lebih cepat daripada pengangkatan yang terpantau sejak dilakukannya pengamatan cermat yang dimulai pada 1970-an. Permukaannya terus naik, meskipun terjadi serangkaian gempa yang berlangsung 11 hari yang dimulai di akhir 2008. Hal ini menimbulkan desas-desus di internet tentang akan terjadinya kiamat.
“Kami menyebut peristiwa ini kaldera yang bergejolak,” ujar Smith. “Hasil akhir setelah berlangsungnya beberapa siklus adalah bahwa pada akhirnya terkumpul magma dalam jumlah yang cukup untuk bisa meletus. Kami juga belum memahami sifat siklus tersebut.”

Jadi, pertanyaan terbesar: Apakah Yellowstone akan meletus lagi?
Letusan jenis tertentu—mungkin letusan ringan seperti letusan Gunung Pinatubo di Filipina yang menewaskan 800 orang pada 1991—sangat mungkin terjadi di suatu saat nanti. Peluang terjadinya letusan hebat yang membentuk kaldera—malapetaka besar yang mungkin dapat menelan korban ribuan jiwa dan menenggelamkan Bumi ke dalam musim dingin gunung api—tak seorang pun tahu; bisa saja hal ini terjadi di masa kini, atau 100.000 tahun lagi, atau lebih lama lagi, atau mungkin juga tidak akan pernah terjadi. Bob Christiansen yang sekarang sudah pensiun menduga gunung api super mungkin tidak akan pernah meletus. Dalam sebagian besar riwayatnya, titik panas Yellowstone membentuk kaldera di bagian lapisan tipis kerak Lembah dan Pegunungan di Amerika Barat. Sekarang titik panas terbenam di bawah kerak yang jauh lebih tebal, kerak Pegunungan Rocky.
“Menurut pendapatku, kegiatan di bawah Yellowstone boleh dikatakan sudah menyeimbangkan diri,” ujar Christiansen. Kemudian, dengan cepat dia menambahkan, “Tetapi, itu adalah penafsiran yang belum tentu benar.”





Jika Gunung Ini Meletus, 2/3 Amerika Hancur


Taman Nasional Yellowstone di negara bagian Wyoming, Montana, dan Idaho, Amerika Serikat berada tepat di bawah puncak salah satu gunung api terbesar di dunia, Yellowstone. Sebuah supervulkano atau gunung api super.
Para ahli mengkhawatirkan, gunung yang masih aktif ini bakal meletus. Apalagi, kaldera Yellowstone menunjukkan tanda-tanda peningkatan aktivitas sejak tahun 2004 lalu.
Apa yang terjadi jika Yellowstone meletus? Jawabannya, tragedi. Kekuatan erupsinya diperkirakan ribuan kali lebih kuat dari letusan gunung St Helena pada tahun 1980.
Yellowstone akan memuntahkan lava ke langit, sementara abunya yang panas akan mematikan tanaman dan mengubur wilayah sekitarnya hingga radius 1.000 mil atau lebih dari 1.600 kilometer.
Tak hanya itu, dua per tiga wilayah Amerika Serikat bisa jadi tak bisa dihuni karena udara beracun yang berhembus dari kaldera. Ribuan penerbangan terpaksa dibatalkan, jutaan orang menjadi pengungsi.
Ini adalah mimpi buruk yang diprediksi para ilmuwan, jika Yellowstone kembali meletus untuk kali pertamanya dalam 600.000 tahun. Berita buruknya, ini mungkin terjadi di masa depan.
Penelitian menunjukkan, kaldera Yellowstone telah meletus tiga kali dalam kurun waktu 2,1 juta tahun.
Kekhawatiran para ahli bukannya tanpa dasar. Peningkatan terekam sejak tujuh tahun lalu. Juga, dalam tiga tahun terakhir, lantai gunung naik tiga inchi per tahun. Ini tingkat peningkatan tercepat sejak pencatatan yang dimulai tahun 1923.
Namun, kurangnya data tak memungkinkan para ilmuwan memprediksi kapan gunung super itu bakal meletus.
Ahli vulkanologi dari University of Utah, Bob Smith mengatakan, pengangkatan itu luar biasa karena meliputi wilayah yang cukup luas.
Awalnya, tambah dia, para ilmuwan khawatir peningkatan itu bisa mengarah ke letusan. Untungnya, “kami melihat magma berada di kedalaman sepuluh kilometer, kami tidak begitu khawatir,” kata dia, seperti dimuat Daily Mail, Selasa 25 Januari 2011.
Lain halnya jika magma berada di kedalaman dua atau tiga kilometer, para ahli bakal panik.
Sementara, Robert B. Smith, profesor geofisika di University of Utah, mengatakan, ruang magma gunung super itu terisi batu yang mencair.
“Tapi kita tidak tahu berapa lama proses ini berlangsung sebelum akhirnya terjadi letusan, atau sebaliknya aliran batu cair berhenti dan kaldera kembali rata.”
Para ilmuwan yang memantau Yellowstone percaya, ruang penyimpanan magma atau reservoir yang membengkak di kedalaman enam mil di bawah tanah mungkin menyebabkan pengangkatan itu.
Para ilmuwan juga mengamati gumpalan seperti kue panekuk yang terbentuk dari  batuan cair seukuran kota Los Angeles di lokasi itu.
Karena kondisinya yang ekstrem, sulit bagi ilmuwan untuk menentukan apa sebenarnya yang sedang terjadi di bawah Yellowstone.

Sunday, 10 March 2013

Seperlima Lapisan Es Kanada Cair Abad Ini

Gletser atau lapisan es Illecillewaet di Kanada
Seperlima dari gletser atau lapisan es di Kanada akan mencair akhir abad ini. Aktivitas manusia yang menyebabkan isu pemanasan global mendorong naiknya permukaan laut sampai 1,4 inci, atau 3,5 centimeter.

"Meski kita menganggap pemanasan global belum sampai tingkat fatal, sangat besar kemungkinan es yang akan mencair lebih mengkhawatirkan dari perkiraan," ujar Jan Lanaert, kepala studi sekaligus ahli meteorologi Utrech University, Belanda, dalam pernyatannya.

"Dan, kemungkinan gletser itu muncul kembali sangatlah tipis," tandasnya, seperti dikutip Global Post, Sabtu 9 Maret 2013.

Dia mengatakan, proses pembentukan gletser itu tidak bisa terulang kembali atau bertahan, karena salju dan es pada tundra di Kanada Utara akan membantu memantulkan sinar Matahari

Ketika mereka menghilang, porsi sinar matahari yang sampai ke air dan tanah akan lebih besar, menyebabkan suhu udara melambung.

Jika gletser Kanada menyusut seperlima atau 20 persen, sesuai skenario, maka kenaikan suhu rata-rata dunia akan naik tiga derajat Celcius, atau 5,4 Fahrenheit.

Menurut perkiraan Lanaerts, yang menggarisbawahi ini bukan skenario terburuk yang coba menakut-nakuti, lonjakan temperatur di daerah glasial, seperti Kanada Utara, akan jauh lebih tinggi: delapan derajat Celcius.

Jika sampai gletser Kanada, tubuh es terbesar ketiga di dunia, hilang seluruhnya, maka tingkat permukaan laut akan naik 7,9 inci, atau 20 centimeter.

Untuk itu, para ilmuwan mendesak para pembuat kebijakan untuk mempertimbangkan prospek, mencatat bahwa sejak tahun 2000 sampai saat ini, suhu di Kanada bagian Benua Arktik telah meningkat satu sampai dua derajat Celcius, dan volume es telah berkurang secara signifikan.

"Kebanyakan perhatian isu iklim mengarah ke Greenland dan Kutub Selatan, sangat bisa dipahami, karena keduanya adalah dua bagian es terbesar di dunia," kata Michiel van den Broeke, juga dari Universitas Utrecht.

"Namun, dengan penelitian ini, kami ingin menunjukkan bahwa gletser Kanada juga harus mendapat perhatian, karena juga menyumbang kenaikan tingkat permukaan laut," ungkapnya.

Studi ini telah dipublikasikan di Geophysical Research Letters, sebuah jurnal ilmiah AS. 

Wednesday, 6 February 2013

Tsunami Disinyalir Ratakan Desa-desa di Solomon. Peringatan tsunami dikeluarkan menyusul gempa 8 skala richhter

Kepulauan Solomon
Gempa berkekuatan 8 skala richter yang hari ini mengguncang Kepulauan Solomon memicu gelombang tsunami. Belum ada laporan resmi jumlah kerusakan, namun menurut petugas, beberapa desa pesisir dikhawatirkan telah rata dihantam tsunami.

Diberitakan Sky News, sebelumnya peringatan tsunami telah dikeluarkan untuk Kepulauan Solomon, Vanuatu, Nauru, Papua Nugini, Tuvalu, Kaledonia Baru, Kosrae, Fiji, Kiribitai, Wallis dan Futuna. Peringatan tsunami yang lebih ringan dikeluarkan untuk Samoa, Australia, Selandia Baru, dan wilayah timur Indonesia.

Tsunami dilaporkan telah mencapai Kepulauan Solomon. Menurut direktur sebuah rumah sakit di Honiara, beberapa desa di Santa Cruz telah hancur. Belum diketahui besarnya kerusakan akibat gelombang tersebut.

Sementara itu, gempa susulan berkekuatan 6,4-6,6 SR telah terjadi. Evakuasi dilakukan di Jalan Ratu Sukunu, Fiji. Diperkirakan, sore waktu setempat, gelombang tsunami kecil akan sampai di Suva, Fiji.

Di Honiara, ibukota Kepulauan Solomon, warga berlarian ke tempat tinggi. Warga di Yasawas, Mamanucas dan wilayah barat negara tersebut diminta terus waspada. 

Sebelumnya pada 2007, gempa 8,1 SR di negara ini memicu tsunami dan menewaskan 52 orang, ribuan kehilangan tempat tinggal. Kepulauan Solomon terletak di wilayah Cincin Api, yaitu zona aktivitas tektonik di Samudera Pasifik.

Tuesday, 29 January 2013

Menyingkap Cadar Peradaban Prasejarah. Bencana yang Dapat Mengakibatkan Manusia di Ujung Kepunahan


Selain banjir, senjata nuklir, polusi lingkungan, memburuknya iklim, dan lain sebagainya, dimana menurut laporan majalah Discovery, AS, bahwa para ilmuwan juga memperhitungkan puluhan jenis bencana alam atau ulah manusia yang cukup mengakibatkan manusia dalam kondisi mendekati kepunahan.
Saat ini, makhluk hidup di atas bumi, di mana pada setiap waktu akan menyebarkan informasi tentang kepunahan spesies, sehingga membuat orang-orang mulai menyadari bahwa ini bukan sebuah fenomena perputaran alam yang baik. Para ilmuwan telah memperkirakan, bahwa rasio kepunahan spesies organisme sekarang adalah 1.000 kali lipatnya zaman fosil, menurut statistik bahwa di atas bumi secara aktual terdapat 99% spesies berada di ujung kepunahan. Dan pembunuh-pembunuh yang menghancurkan spesies ini, sebagian besar disebabkan aktivitas peradaban manusia saat ini, aktivitas-aktivitas ini menyebabkan berbagai jenis makhluk hidup di bumi, termasuk manusia sendiri secara perlahan-lahan menuju ke dalam kondisi yang kritis, ada beberapa kondisi yang mungkin dapat dialami dalam gerakan putaran alam. Mungkin Anda akan menganggap bahwa peringatan di atas hanya imajinasi sastrawan, namun di bawah pengamatan dan penyelidikan ilmuwan ditemukan bahwa dalam sejarah ratusan juta tahun, di atas bumi berkali-kali menyisakan bekas-bekas dihancurkan.

Gempa bumi, perubahan kerak bumi

Dari sejumlah besar bangunan yang ditemukan di samudra, dengan fosil makhluk hidup samudra di atas daratan, di mana semua ini cukup membuktikan “samudra berubah jadi sawah ladang, dan sawah ladang berubah jadi samudra (dunia mengalami perubahan besar)”, daratan tenggelam ke samudra, perubahan kerak bumi dasar laut yang naik menjadi daratan adalah fenomena yang sangat normal dalam aktivitas bumi. Seperti misalnya Danau Lago Titicaca di Bolivia, Amerika Selatan, meski terletak di atas dataran tinggi, namun di kawasan sekeliling danau muncul jutaan fosil kulit kerang samudra, dan hingga sekarang masih terdapat makhluk samudra di danau tersebut, nelayan dapat menjala kuda laut, udang bercapit hijau dan kerang-kerangan. Ini menunjukkan bahwa pada zaman dulu, dataran tinggi di sini mungkin masih berada di dasar laut, namun, karena perubahan kerak bumi, di desak hingga naik ke atas, dan masa terjadinya diperkirakan kurang lebih pada seratus juta tahun lampau. Daratan Atlantis dalam legenda, adalah peradaban yang hilang tenggelam ke laut karena perubahan kerak bumi.

Kerak bumi berubah posisi


Ketika professor Charles H.Hapgood sedang mempelajari peta kuno Kutub Selatan, ia pernah mengemukakan hipotesa peralihan kerak bumi (Earth Crust Displacement): dalam kondisi tertentu, segenap kerak luar bumi mungkin dapat menggerakkan posisinya secara menyeluruh, bagaikan selembar kulit jeruk tak berisi, setelah kendor dan terkelupas, akan menggerakkan segenap posisinya. Menurut hipotesa tersebut: kerak bumi setebal 30 mil dapat meluncur di atas inti bumi yang tebalnya 8 ribu mil, beberapa sarjana AS mengaitkan hipotesa ini dengan bencana dahsyat di Alaska dan Siberia pada 11 ribu  tahun lampau: mereka memprediksikan daratan di Kutub Selatan saat ini, ternyata adalah daerah berjarak sekitar 2 ribu mil sebelah utara Kutub Selatan. Dan sebelum adanya peradaban manusia ini, minimal pada 6 ribu tahun silam, telah terjadi peralihan kerak bumi, segenap kerak bumi menggerakkan posisi, hingga menggeser daratan Kutub Selatan ke posisinya saat ini. Ini membuat daratan yang hangat mendadak menjadi dingin, dan secara perlahan diselimuti dengan es dan salju. Dan di saat bersamaan, Alaska dan Siberia juga mengarah ke Kutub Utara, sehingga membuat daratan yang semula hangat dalam sekejab menjadi dingin “membeku”. Dan secara rasional telah menjelaskan tentang lapisan tanah beku di utara Siberia, gajah raksasa berbulu panjang yang ditemukan serta sejumlah besar binatang yang tidak dapat hidup di daerah dingin, seperti misalnya badak, banteng, kuda,  gezelle, srigala, machairodont (harimau bergigi pedang), singa dan sebagainya, selain itu juga ada mayat manusia

Ledakan sinar Gamma

Sinar Gamma adalah ledakan dengan kekuatan terdahsyat yang sudah diketahui di alam semesta saat ini, dan pengetahuan yang dipahami ilmuwan atas hal ini masih sangat terbatas. 
Ilmuwan mendapati, bahwa sinar gamma (Gamma Ray Burst, GRB) yang berasal dari galaksi luar yang jauh, adalah energi yang dilepaskan kembali setelah hancurnya 2 bintang tetap, energi pancarannya sangat kuat dan tak dapat diduga, kurang lebih seribu kali lipatnya matahari. Sebelum perubahan besar ini terjadi, manusia sama sekali tidak dapat mengamati perubahan sesudahnya, sehingga dengan demikian juga tidak tahu bagaimana cara mengantisipasinya. Jika terjadi, maka meski berada di tempat sejauh seribu tahun cahaya, dan meski pada malam yang biasanya cerah di sebuah tempat yang jauhnya tidak dapat Anda saksikan, ia juga akan terang secara tiba-tiba seperti matahari, kemudian melepaskan energi yang maha besar, dan menyinari bumi dengan pancarannya. Meskipun lapisan atmosfer dapat melindungi kita terhindar dari serangan sinar Gamma dan sinar -X, namun pancaran-pancaran berenergi tinggi ini dapat membuat lapisan atmosfer menjadi panas dan menghasilkan nitrogenoksida, yang dapat secara serius merusak ozonosfer (lapisan ozon). Namun yang lebih parah adalah dapat secara langsung membunuh fotosintesis plankton di samudera (mereka dapat menyuplai oksigen bagi atmosfer), merusak ekologi sekaligus juga menghancurkan rantai makanan. Jarak sinar gamma yang ditemukan saat ini sangat jauh dari kita, meski pengetahuan yang diketahui ilmuwan atas hal ini sangat terbatas, namun dapat dibayangkan akibat yang mengerikan seandainya secara tiba-tiba ia menyinari bumi kita.

Planet menabrak bumi

Pada 1908 silam, sebuah meteorit komet setinggi kurang lebih 200 kaki (± 60 m) pernah melintasi lapisan atmosfer, dan mengenai kawasan, Siberia, akibatnya terjadi ledakan di kawasan tersebut. Menurut perhitungan astronom bahwa peristiwa sejenis akan terjadi setiap 100-300 tahun. Peristiwa ini, seandainya terjadi di samudera atau daerah yang jarang penduduknya, yang mana meskipun rasio kemungkinan manusia terhindar dari bencana ini sedikit lebih besar, namun ilmuwan mengatakan: terhadap planet besar, tidaklah penting di mana posisi yang diterjang mereka (planet). Jika meteorit selebar ½ mil (± 800 m) menabrak bumi (± setiap 250 ribu tahun) meski tidak sampai menyebabkan kepunahan seluruh umat manusia, namun cukup memusnahkan pembangunan peradaban umat manusia sekarang. Sebuah meteorit selebar 5 mil menabrak bumi dapat menimbulkan gempa, tsunami, letusan gunung berapi, dan mengakibatkan kepunahan yang lebih dahsyat, sama seperti akhir zaman dinosaurus. Pada 1994 silam, ilmuwan berhasil mengamati seluruh proses tabrakan Comet Shoemaker-Levy 9 dengan Jupiter, ini menjelaskan bahwa planet menabrak bumi bukan tidak mungkin, juga bukan peristiwa mengerikan yang baru akan terjadi ratusan tahun kemudian.

Lubang hitam

Dalam sistim galaktik dipenuhi dengan lubang hitam. Menurut prediksi ilmuwan secara garis besar, bahwa dalam sistem galaktik terdapat sekitar satu juta lubang hitam, benda-benda ini beredar sama seperti bintang lainnya. jika ada sebuah planet yang biasa mendekati kita, akan kita temukan, bahwa seandainya itu adalah lubang hitam, kita tidak akan mendapat peringatan. Namun, jika sebuah planet yang akan menabrak bumi, para ilmuwan puluhan tahun silam bisa mengamati, dan dapat memprediksikan waktu maupun energinya secara konkret. Namun lubang hitam tidak akan menabrak atau menghancurkan bumi, akan tetapi, ia dapat mengacaukan orbit peredaran benda langit, sehingga suhu di bumi akan mengalami perubahan yang drastis.

Badai matahari

Selama beberapa tahun terakhir ini, matahari sudah memasuki perubahan periodik medan magnetik yang terjadi setiap 10-11 tahun, dalam masa demikian, partikel dan pancaran kemungkinan akan meniup ke bumi dengan kecepatan 1juta km/jam, dan ancamannya terhadap bumi, adalah suatu hal yang tak dapat diperhitungkan para ilmuwan. Pada April 2001 silam, sebagaimana yang diperkirakan ilmuwan, telah terjadi ledakan bintik matahari yang dahsyat di permukaannya, dan ini merupakan salah satu ledakan terbesar yang tercatat selama ini, untungnya solar Flare (letusan gas matahari) tidak mengarah ke bumi, karena itu sebagian besar energi yang dilepaskan letusan protuberan tidak akan sampai menerjang bumi. Letusan protuberan atau gas matahari disebabkan ledakan tiba-tiba dari energi magnetik, ia dapat menambah kecepatan gerak partikel matahari hingga mendekati kecepatan cahaya dalam beberapa detik, sekaligus membuat suhu di permukaan matahari naik hingga jutaan derajat. Energi yang dilepaskan letusan protuberan bahkan mencapai miliaran ton energi yang dihasilkan ledakan bahan peledak.(erabaru.or.id)*

Saturday, 26 January 2013

Sumber Petaka Banjir Jakarta. Dari vila di Puncak sampai sungai dangkal. Apa aksi selanjutnya?

Tri Susanto, dan tiga rekannya sibuk mematikan panel listrik di basement satu di Gedung United Overseas Bank (UOB), Kamis pagi, pekan lalu. Hujan mengguyur Jakarta sejak malam. Di pekarangan gedung 48 lantai itu, air mulai tergenang. Para pekerja listrik  itu harus bekerja cepat, agar kabel basah tak membawa petaka.
Baru saja kelar, Tri dan kawan-kawannya kaget. Dari luar, air menerjang ke basement itu, seperti ditumpahkan dari bejana raksasa. Coklat. Keruh. Tiap sudut  ruang bawah itu disapu air, yang lalu mengucur ke empat lapis kolong lainnya.  Sebentar lagi, pikir Tri, empat tingkat ruang bawah itu pasti jadi kolam raksasa.
Tanpa pikir panjang, Tri dan rekannya lari menyelamatkan diri. Mereka berkejaran dengan derasnya gelombang air. Ketiganya berhenti berlari, ketika melihat seorang pengemudi terjebak. Mobilnya terhalang tembok. Tri dan rekannya menolong dengan menarik mobil itu pakai selang hidran.
Tapi Tri dan tiga temannya itu justru diseret arus. Tri dan Tito Fitrianto terdampar di pojok. Dua rekan lain, tetap di tengah koridor, dan beruntung bisa meraih tali yang diulurkan petugas keamanan. “Dua teman saya berhasil selamat, dan keluar dari basement satu," kata Tri kepada VIVAnews di rumahnya, Cilodong, Depok, Kamis 23 Januari 2013.
Saat itu, Tri dan Tito terancam tamat. Air sudah setinggi leher. Tri panik, karena tak bisa berenang. Ruang basement itu gelap. Tito mencari jalan keluar melalui salah satu cerobong. Tapi Tri tertinggal. "Saya menangis, dan bilang ke Tito supaya tidak meninggalkan saya," ujar Tri dengan mata berkaca-kaca.
Tri meraba setiap benda. Dia mencari jalan menuju tangga eskalator. Dia menyelam. "Butuh empat kali percobaan bagi agar bisa menyelam, karena saya tidak bisa berenang, dan nafas sudah mulai sesak," ujarnya. Tri akhirnya selamat, setelah dia merangkak menaiki tangga eskalator itu.
Tapi dua cleaning service lain yang terjebak, Abdul Arif Agus dan Hardianto Eko alias Eris, tak seberuntung Tri dan Tito.  Kedua orang itu ditemukan dalam kondisi tak lagi bernyawa.
Hari itu banjir membenam Jakarta. Ibukota dalam kondisi darurat.
Kombinasi ekstrem
Hujan deras mengguyur pekan lalu itu membuat debit air melonjak. Kanal Banjir Barat di Jalan Latuharhary, Menteng, tak kuat menahan arus. Tanggul buatan tahun 2002 itu pun jebol.
Itu sebabnya, air meluber di jalan utama Jakarta, dan menerjang sampai menyisakan tragedi di Gedung UOB itu.
Jalan Jenderal Sudirman dan MH Thamrin tenggelam. Kawasan Dukuh Atas hingga Sarinah menjadi 'sungai'. Gedung pencakar langit dikepung air bah. Lalu lintas lumpuh. Bahkan, air menorobos “ring 1” Istana Negara.
Menteri Koordinator Kesejahteraan, Agung Laksono, pun menyatakan Jakarta Siaga I. Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo, menetapkan tanggap darurat bencana banjir sampai 27 Januari.
Selain menggasak jantung Ibu Kota, banjir melumpuhkan kawasan utara Jakarta. Waduk Pluit meluap merendam rumah warga. Sedikitnya 4.000 jiwa di Kelurahan Pluit kebanjiran. Begitu juga daerah elit Kelapa Gading. Jalan Boulevard Raya depan Mal Kelapa Gading terendam sekitar satu meter.
Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum, Muhamad Hasan, mengatakan banjir lima tahunan itu adalah kombinasi hujan ekstrem, dan kondisi sungai Ibukota yang tak lagi memadai.
Misalkan, kata dia, Rabu malam itu hujan turun sampai 218 milimeter. Itu mendekati puncak hujan pada 2007, yang mencapai 220 milimeter.  Gawatnya lagi, kali ini durasinya lebih lama.
Di Depok, Bogor dan Puncak, hujan juga turun menggila, tiga hari mengucur dengan curah 100 milimeter. Di Pintu Air Katulampa, air membuncah. “Jakarta tak siap menerima beban itu," kata Hasan.  Air kiriman itu pun lolos karena sistem drainase yang buruk. Sedimentasi yang parah, membuat sungai kian dangkal.
Hasan juga menjelaskan, sejumlah waduk juga tak berfungsi baik. Sebagian besar menjadi dangkal. Sedimen Kanal Banjir Barat kian tebal. Pintu air Manggarai turun mencapai 760 senti, masuk siaga tiga. Perbaikan permanen baru dilakukan jika turun mencapai 750 senti.
Jebolnya tanggul di Latuharhary adalah akibat daerah itu menjadi bagian hulu Kanal Banjir Barat. Terjangan air paling kuat di sana. "Selain itu, masih pakai tanggul tanah," ujar Direktur Sungai dan Pantai Direktorat Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum, Pitoyo Subandrio. Tanggul jebol itu, kata dia, akan segera diganti.
Ada empat lokasi yang patut diwaspadai, kata Pitoyo. Antara lain, Stasiun Tanah Abang. Di sana, ada penurunan tanggul, dan dicemaskan penampungan air bisa tak maksimal. Lalu kali dekat Season City. Ada jalan inspeksi untuk lalu lintas umum di sana, dan itu sudah retak.
Kali Ciliwung pun kini hanya mampu menampung air hingga 50 persen, akibat bantaran kali itu sudah padat oleh pemukiman.
Kurang pengawasan
Banjir tak hanya terjadi di aliran sungai Ciliwung melalui Kanal Banjir Barat. Tapi juga di sejumlah daerah yang dilindungi oleh Kanal Banjir Timur. Contohnya Kelapa Gading, Jakarta Utara. Juga daerah perindustrian Pulogadung. Kawasan ini kebanjiran meski telah dilindungi KBT.
Pengamat Perkotaan Yayat Supriatna, menilai tak berfungsinya KBT dan KBB karena soal pengawasan dan perawatan. Bisa juga akibat volume kanal tak terlalu besar. Apalagi, diganggu oleh hal-hal lain. "Saya melihat kala itu ada pekerjaan konstruksi terkait reklame," kata Yayat.
Dia mengatakan, penanganan struktural saja tak akan mempan untuk soal banjir. Misalnya, soal drainase yang tidak optimal. Hal itu sebagian besar akibat tersumbat, alias penyempitan karena banyaknya sampah.
Pendekatan struktural tanpa aspek penataan ruang di kawasan hulu Ciliwung itu, Yayat menabahkan, tak akan efektif. Apalagi sodetan. Soalnya, air yang tumpah di Puncak membawa efek tambahan run off . KBT dan KBB pun tak kuat menampung limpahan air. Tengoklah, kata Yayat, apalagi kini sedimentasi amat tinggi di kedua tempat itu.
Artinya, kata Yayat, pendekatan non struktural, yang melibatkan masyarakat perlu diperbesar. Sejak zaman Belanda, pendekatan struktural  itu gagal terus. Selain itu, perlu dibuat peta mikrodrainase di Jakarta lebih rapi. Apalagi, kini pemukiman kian pesat berkembang.
Bagi pengamat kebijakan publik Andrinof Chaniago, soal solusi banjir sudah kerap dibicarakan. Pemerintah tinggal mewujudkan rencana itu. "Sekarang kita tinggal menunggu aksinya saja," kata dia. Dia menyarankan, ada pembagian peran antara pemerintah pusat dan DKI untuk mengatasi banjir.
Misalnya, daerah aliran sungai itu adalah urusan pemerintah pusat. Termasuk mengeruk sungai, dan memelihara waduk. Lalu Pemprov DKI mengurusi warga, dan relokasi untuk menormalisasi sungai.
Rencana Jokowi
Semua itu, kata Andrinof, sangat tergantung peran gubernur. Lalu apa langkah Jokowi?
Sang gubernur DKI Joko Widodo, melihat faktor terpenting penyebab banjir adalah adaunya intensitas hujan yang tinggi. Dengan menjamurnya vila-vila di hulu, kata Jokowi, daya serap air semakin kecil.  "Percuma kita buat sisi KBT dan lainnya, kalau itu tidak dibenahi," ujarnya.
Itu sebabnya, tahun ini Pemprov DKI tak lagi banyak menunggu. Kata Jokowi, mereka akan konsentrasi mengeruk semua waduk, termasuk di Pluit. Waduk tambahan seperti Waduk Ciawi dan Waduk Cimanggis segera dirampungkan. Normalisasi Ciliwung, Pesanggrahan, Angke, Sunter juga akan dimulai. Tentu, turut dipikirkan pula relokasi warga di sekitar waduk.
Ongkos proyek ini juga besar. Untuk normalisasi Kali Ciliwung, misalnya, dananya Rp250 miliar. Untuk pembebasan tanah di Pesanggarahan, Kali Angke dan Sunter juga sudah dianggarkan sebesar Rp400 miliar. Di Jakarta Utara, pompa-pompa baru akan dibangun, di antaranya di Muara Baru dan Ancol. "Semoga kelihatan lah itu hasilnya," ujarnya. (np)

Friday, 18 January 2013

Jakarta Jadi Lautan, Akses ke Pusat Kota Lumpuh. Banjir memutus sejumlah ruas jalan utama dan rel kereta api Ibu Kota

Banjir di Bundaran HI, Jakarta
Banjir besar melumpuhkan jantung Ibu Kota, Kamis, 17 Januari 2013. Hujan yang mengguyur sejak Senin malam lalu 'menerjang' ring-1 Istana. Kantor presiden terendam air. Ketinggian air di sekitar Monumen Nasional, Jalan Medan Merdeka Selatan, mencapai 40-50 sentimeter. Hanya jalur busway yang bisa dilewati.

Berdasarkan pantauan kamera CCTV Traffic Management Center Polda Metro Jaya, ketinggian air nyaris merata di sekitar Monas. Di Kebon Sirih, Sarinah, menuju Semanggi, ketinggian air juga rata mencapai 40-50 sentimeter. Genangan air membuat arus lalu lintas di sekitar Tugu Tani menuju Monas macet total.

Banjir nyaris membuat kunjungan kenegaraan Presiden Republik Argentina, Cristina Fernandez de Kirchner, ditunda. Rombongan kenegaraan Argentina terpaksa mencari jalur aman menuju kompleks Istana Negara. Cristina tiba di Istana Merdeka pada pukul 11.45 WIB. Sebelumnya, pertemuan ini dijadwalkan pada pukul 10.30 WIB.

Kompleks Balai Kota DKI Jakarta tak luput dari banjir. Petugas dari Dinas Pemadam Kebakaran Pemprov DKI Jakarta menyedot air dan menggerakkan beberapa pompa air untuk membuang air ke luar dari area kantor.

Banjir juga melumpuhkan aktivitas di Komisi Pemberantasan Korupsi. Sejak pagi, gedung KPK, kawasan Rasuna Said, Jakarta Selatan dikepung banjir. Air menggenangi ruang tahanan dan area parkir yang berada di lantai basement gedung. Semua pengunjung dan pegawai KPK memarkir kendaraan roda empat dan dua persis di depan lobi KPK yang memang lebih tinggi. Listrik dimatikan karena genset di belakang kantor terendam banjir.

Wakil Ketua KPK, Bambang Widjojanto, menyampaikan permohonan maaf karena aktivitas pemeriksaan dan pelayanan masyarakat di KPK tidak optimal. "Listrik padam sehingga seluruh perangkat kerja tidak bisa digunakan," kata Bambang di gedung KPK.

Padamnya listrik mengakibatkan seluruh sistem di KPK ikut lumpuh. Di antaranya whistleblowing system dan surveilance system. Pemeriksaan saksi dan tersangka untuk hari ini, kata Bambang, juga ditiadakan.

KPK juga mengevakuasi tahanan di rutan basement gedung KPK ke bagian atas gedung. Sejumlah tahanan perempuan dipindahkan, termasuk Miranda S. Goeltom, Neneng Sri Wahyuni, Hartati Murdaya, dan Ratna Dewi Umar.

Seluruh sidang di Mahkamah Konstitusi ikut ditunda dan dijadwalkan ulang karena gedung 15 lantai tersebut tergenang banjir dan listrik padam. Seharusnya MK menggelar empat sidang yakni berkaitan dengan Undang-undang Pemilu, Pemilukada Memberamo, Pemilukada Purwakarta, dan UU KUHAP.

Untuk keamanan, Perusahaan Listrik Negara memadamkan aliran listrik di sebagian wilayah Jakarta. Hingga siang sudah sekitar 866 gardu dipadamkan di wilayah Jakarta dan Tangerang, dengan sebaran di area Menteng, Cempaka Putih, Tanjung Priok, Marunda, Pondok Kopi, Bandengan, Teluk Naga, Cikupa, Cengkareng, Kebon Jeruk, dan Bulungan.

Jakarta bagaikan sungai
Banjir membuat hampir seluruh ruas jalan di kota metropolitan ini berubah wujud menjadi "sungai". Banjir telah merambah ke pusat kota. Traffic Management Centre Polda Metro Jaya, Briptu Seno, mengatakan genangan merata di sepanjang Jalan Sudirman-Thamrin-Medan Merdeka Barat hingga sekitar Istana. Genangan terparah berada di seputaran Bundaran Hotel Indonesia.
Para pemotor memilih untuk memarkirkan kendaraan di pinggir jalan karena sudah tidak mungkin lagi menerabas genangan. Dari lima jalur yang ada di sepanjang Jalan Sudirman semuanya disesaki oleh kendaraan yang tertahan oleh kemacetan. Bahkan bus Trans Jakarta pun tidak bisa bergerak mengantarkan penumpang.

Banjir di Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat, sejak Senin kemarin tampaknya mencapai puncaknya pada Kamis pagi. Pada pukul 07.30 WIB, ketinggian air di depan kantor Samsat Jakarta Barat mencapai 1,5 meter.

Banjir di depan Kantor Samsat sudah meluas hingga ke kawasan perumahan Cengkareng Indah. Akibat banjir, Bus TransJakarta Koridor III Kalideres-Harmoni tidak beroperasi karena Jalan Daan Mogot tidak bisa dilalui kendaraan berukuran besar sekalipun.

Banjir juga merendam kawasan kantor stasiun televisi Indosiar hingga ke depan kantor Etos dengan ketinggian air mencapai satu meter. Sejumlah kantor di kawasan ini terpaksa diliburkan karena air sudah masuk hingga sepinggang orang dewasa.

Selain karena hujan sejak dinihari, banjir di kawasan Daan Mogot juga disebabkan meluapnya Sungai Cisadane. Genangan di sejumlah kawasan Jakarta Timur terus naik. Kemacetan akibat jalan direndam banjir juga meluas.

Dari pantauan VIVAnews, di kawasan Jalan DI Panjaitan depan Kodam Jaya arah Cawang ada genangan air setinggi 70 sentimeter dan dipastikan sudah tidak dapat dilintasi kendaraan.

Sementara itu, di Jalan Otto Iskandardinata, Kampung Melayu menuju Cawang, direndam banjir dengan ketinggian air mencapai dada orang dewasa. Meski tidak ada petugas, warga yang berada di wilayah itu dengan sukarela memperingatkan pengendara, terlebih sepeda motor yang akan melintas untuk mencari jalan alternatif lain. Warga memblokir jalan, karena jalan sudah tidak dapat dilalui.

Dari arah Kampung Melayu hingga perempatan Matraman dan sebaliknya, juga digenangi air setinggi hampir satu meter. Banyak sepeda motor mogok karena pengendaranya memaksakan diri untuk melintas.

Di Jakarta Timur, air bah juga merendam area di depan Mal Kelapa Gading dan memacetkan arus lalu lintas. Kondisi yang sama juga terlihat di kawasan ITC Cempaka Mas yang menuju Pulogadung.

Genangan banjir dengan ketinggian hampir satu meter juga menenggelamkan Jalan Kayu Putih ke arah Kelapa Gading sehingga tidak bisa dilintasi kendaraan.

Di kawasan Jakarta Selatan, banjir sudah menggenangi kawasan Rasuna Said sejak pagi. Banjir dengan ketinggian 80-100 cm terlihat di dekat Setiabudi Building. Kawasan Semanggi arah Pancoran kemacetan parah terjadi karena imbas genangan air di depan Depnaker setinggi 40 cm. Banjir juga menutup jalur lambat di depan kampus Atmajaya di Jalan Sudirman dan sementara ini sudah tidak bisa dilintasi kendaraan.

Jalur alternatif ikut terendam. Salah satunya, Jalan Bendungan Hilir yang menghubungkan Jalan Gatot Subroto dan Jalan Jenderal Sudirman.Banjir di sepanjang Jalan Bendungan Hilir hingga satu paha orang dewasa, akibatnya pasar Bendungan Hilir yang berada di lantai bawah lumpuh total. Pedagang di lantai dua pun tidak bisa bertransaksi, mereka hanya berkerumun melihat semakin meningginya banjir.

Tidak hanya itu, tanggul kali Ciliwung persis di bawah Flyover Sudirman, Jakarta Pusat jebol. Air dari Ciliwung dengan cepat memasuki jalan Latuharhary dan pemukiman warga. Rel kereta api antara Sudirman - Manggarai Km 3+200 menggantung.

Arus air mengalir sangat deras sekali menuju Jalan Latuharhary. Jalan itu pun sekejap menjadi sungai dengan arus yang sangat deras. Ketinggian air belum bisa diperkirakan, karena tidak ada satupun orang yang berani melintas di tengah arus yang deras itu.

Akibatnya, beberapa perjalanan Kereta Rel Listrik, terganggu. Sebab, Stasiun Sudirman kebanjiran. Antrean panjang penumpang KRL terjadi dari Stasiun Depok hingga Manggarai. Akhirnya, semua kereta tujuan Sudirman - Tanah Abang hanya berhenti sampai Manggarai.

Jadwal KRL di Stasiun Pasar Minggu kacau karena beberapa KRL terpaksa dihentikan di Pasar Minggu. KRL yang seharusnya sampai Jakarta Kota dihentikan perjalanannya di Pasar Minggu. Ratusan penumpang pun kebingungan dan terdampar di stasiun.
Guna mengatasi luapan air akibat jebolnya tanggul di Latuharhary, personel Kodam dan Kopassus mengganjalnya dengan karung-karung yang diisi dengan pasir.

Kondisi parah ini membuat Jokowi turun ke lapangan. Mantan wali kota Solo itu berkeliling menggunakan gerobak untuk memantau banjir.
Tak ketinggalan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, turut memantau banjir. SBY mengunjungi lokasi banjir di kawasan Rawa Jati, Kalibata, Jakarta Selatan. SBY yang mengenakan safari warna biru tua itu bahkan terjun langsung ke lokasi banjir. Celananya digulung sampai lutut. Di tengah hujan deras, SBY berkeliling menggunakan perahu kareta. Dia ditemani Menkokesra Agung Laksono, Kapolri Jenderal Timur Pradopo, dan Mensos Salim Segaf.

Darurat Siaga I
Menteri Koordinator Kesejahteraan, Agung Laksono, menyatakan Jakarta Darurat Siaga I karena situasi Ibu Kota yang telah terkepung banjir. Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo, menetapkan tanggap darurat bencana banjir sudah dimulai sejak hari ini sampai tanggal 27 Januari.

Dengan menetapkan situasi tanggap darurat aparat terkait dan masyarakat harus tetap waspada menghadapi curah hujan tinggi.

Menurut Agung Laksono, hujan deras dengan intensitas tinggi seperti ini masih akan terus terjadi dalam beberapa hari ke depan. "Ini terjadi akibat konvergensi di awan, jadi tidak berlangsung cepat," kata Agung.

Dengan darurat bencana ini, seluruh potensi sumber daya nasional dikerahkan untuk membantu penanganan bencana banjir Jakarta. Banjir menggenangi 500 RT, 203 RW yang berada di 44 kelurahan yang tersebar di 25 kecamatan Jakarta.

Jumlah penduduk yang terendam 25.276 kepala keluarga atau 94.624. Pengungsi mencapai 15.447 jiwa. Dan dari data sementara tercatat lima orang warga meninggal sejak Selasa, 15 Januari. Hingga kini, pendataan masih dilakukan.

Korban meninggal adalah, Angga (13) warga Tanjung Duren Utara, Kecamatan Grogol Petamburan, Jakarta Barat. Ia meninggal karena terhanyut ke sungai Sekretaris.

Korban kedua Mak Inah (82), warga Kampung Pulo, Jatinegara, Jakarta Timur, meninggal karena sudah usia lanjut. Korban ketiga adalah Mujiyo (46), warga Kedaung Kaliangke, Kec Cengkareng Jakarta Barat, meninggal karena tersengat listrik.

Korban keempat adalah Muhamad Haikal (2), warga Kedaung Kaliangke, Kec Cengkareng, Jakarta Barat, meninggal karena jatuh dari tempat tidur di rumahnya yang sedang banjir. Korban kelima adalah Solahuddin (35), warga Kalibata Pulo, Pancoran, Jakarta Selatan. Korban meninggal karena kesetrum listrik.

"Hingga pukul 15.00 Wib, tinggi muka air sungai Ciliwung di Manggarai sudah turun hingga 930 centimeter atau Siaga II," kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho.

Sampai malam hujan terus mengguyur. Dan banjir masih menggenangi beberapa wilayah di Jakarta.

Sunday, 6 January 2013

Super Vulcano Gunung Toba 74.000 Tahun Lalu Di Sumatera Utara Adalah Letusan Gunung Api Yang Terdahsyat di Dunia

SITUS arkeologi baru yang cukup spektakuler, ditemukan para ahli geologi di selatan dan utara India. Di situs itu terungkap bagaimana orang bertahan hidup, sebelum dan sesudah letusan gunung berapi (supervolcano) Toba, 74.000 tahun yang lalu.

Tim peneliti multidisiplin internasional, yang dipimpin oleh Dr. Michael Pe-traglia, mengungkapkan dalam suatu konferensi Pers di Oxford, Amerika Serikat tentang adanya bukti kehidupan di bawah timbunan abu Gunung Toba. Padahal sumber letusan berjarak 3.000 mil, dari sebaran abunya.

Selama tujuh tahun, para ahli dari Oxford University tersebut meneliti projek ekosistem di India, untuk mencari bukti adanya kehidupan, dan peralatan hidup yang mereka tinggalkan di padang yang gundul. Daerah dengan luas ribuan hektare ini hanya ditumbuhi sabana (padang rumput). Sementara, tulang belulang hewan berserakan. Tim menyimpulkan, daerah yang cukup luas inf ternya-ta ditutupi debu dari letusan gunung berapi purba.

Penyebaran debu gunung berapi itu sangat luas, ditemukan hampir di seluruh dunia. Berasal dari sebuah eruption supervokano purba, yaitu Gunung Toba. Dugaan mengarah ke Gunung Toba, karena ditemukan bukti bentuk molekul debu vulkanik yang sama di 2100 titik.

Sejak kaldera kawah yang kini jadi danau Toba di Indonesia, hingga 3.000 mil.dari sumber letusan.Bahkan yang cukup mengejutkan, ternyata penyebaran debu itu sampai terekam hingga ke Kutub Utara. Hal ini mengingatkan para ahli, betapa dahsyatnya letusan super gunung berapi Toba kala itu. Bukti bukti yang ditemukan, memperkuat dugaan, bahwa kekuatan letusan dan gelombang lautnya sempat memusnahkan kehidupan di Atlantis.

Meski para ahli masih mencari bentuk fosil manusia Atlantis secara definitif, temyata populasi manusia yang hadir di India se-belum 74.000 tahun lalu, atau sekitar 15.000 tahun lebih awal berhasil ditemukan dalam beberapa bukti genetik. Wilayah penelitian samp/ing-nya diambil dalam skala luas, meliputi beberapa negara dengan skala penyebaran 12.000 mil dari titik letusan super gunung berapi Toba.

Penelitian ini untuk mencari bukti, sampai sejauh mana manusia purba terhindar dari kepunahan pada saat letusan su-pervolcano Toba terjadi," kata Dr. Michael Petraglia, senior Research Fellow di School of Archaeology Universitas Oxford.

Dari bukti lapangan diketahui alat-alat Palaeolithic tengah, ditemukan tepat sebelum dan sesudah letusan Toba. "Hal ini menunjukkan, orang-orang yang selamat dari letusan berasal dari populasi ras yang sama," kata Dr. Petraglia. Para peneliti setuju dengan bukti lapangan bahwa nenek moyang manusia lainnya, seperti Neanderthal di Eropa dan makhluk berotak kecil Hobbit di Asia Tenggara, mampu bertahan hidup setelah Toba meletus. Beberapa ahli berspekulasi bahwa letusan gunung berapi Toba itu sangat dahsyat, hingga menyebabkan kerusakan lingkungan yang sangat parah.

Penelitian di India menunjukkan, sebuah mosaik ekologis tampak begitu jelas. Ada beberapa daerah yang relatif cepat, mengalami recovery setelah peristiwa vulkanik. Tetapi ada ribuan hektare lahan yang tidak bisa ditumbuhi tanaman keras hingga saat ini, yang hanya bisa ditumbuhi oleh jenis rerumputan gersang.

Tim tidak menemukan banyak bukti tulang belulang di padang rumput itu, tetapi justru penemuan terbesar terdapat dalam kompleks gua "Bil-lasurgam Kurnool", di Provinsi Andhara Pradesh. Namun yang menjadi keheranan para ahli, di padang rumput itu ditemukan bukti bahwa tanahnya mengandung debu gunung berapi bercampur ra-dioaktif.

Debu radio aktif bercampur dengan debu gunung berapi itu, kini menjadi sebuah teka-teki yang cukup pelik. Apakah abu letusan itu mengandung radioaktif, atau memang ada letusan lain dari sebuah senjata yang mengandung radioaktif? Para peneliti juga menemukan sejumlah bukti lain yang mereka yakini deposit (timbunan fosil) berbagai kehidupan dari setidaknya 100.000 tahun yang lalu.

Deposit ini mengandung kekayaan berbagai jenis tulang hewan, manusia, sapi liar, dan berbagai karnivora dan monyet purba. Para ahli juga mengidentifikasi, sejumlah tanaman yang diduga jadi bahan pokok makanan mereka. Gua-gua itu menghasilkan informasi penting, tentang upaya menyelamatkan diri dari letusan super gunung berapi Toba.

Berdasarkan studi dan bukti baru hasil analisis, carbon radio isotop yang tak terbantahkan dari para ahli menyatakan letusan super gunung berapi Toba di Pulau Sumatra terjadi sekitar 73.000 tahun yang lalu. Letusan itu menyemburkan debu sekitar 800 kilometer kubik abu ke atmosfer.

Meninggalkan kawah (sekarang danau vulkanik terbesar di dunia), dengan panjang 100 kilometer dan lebar 35 kilometer. Penyebaran abu dari letusan ini telah ditemukan di India, Samudera Hindia, Teluk Bengala, dan Laut Cina Selatan bahkan terjebak di lapisan es Greenland, Kutub Utara.

Kata Stanley Ambrose , profesor antropologi Universitas Illinois, dan seorang kepala peneliti Studi-studi Kasus Baru, Profesor Martin AJ. Williams, dari University of Adelaide, Australia, letusan gunung berbelerang aerosol tersebut, sempat menutup radiasi matahari selama enam tahun.

Jadi dunia saat itu, benar-benar gelap gulita, yang diduga berdampak pada sebagian dari mahluk hidup yang mati karena tidak ada sinar matahari," ujarnya. Sebuah Instant Ice Age yang terdapat dalam inti es yang diambil di Greenland mengungkapkan, dampak letusan berlangsung sekitar 1.800 tahun hingga kembali ke seperti sekarang ini.

Selama zaman es instan ini, suhu turun hingga 16 derajat Celcius (28 derajat Fahrenheit). Begitu dingin-nya udara.di beberapa daerah Indonesia juga tertutup salju. Prof. Williams menemukan lapisan abu Toba pertama kali di pusat India, pada 1980. Pada tim investigasi ini, ia juga bertidak sebagai pemimpin dan penanggungjawab penelitian.

Efek iklim Toba telah menjadi sumber kontroversi selama bertahun-tahun, seperti dampaknya terhadap populasi manusia dan ekosistem. Pada tahun 1998, Ambrose mengusulkan dalam Journal of Human Evolution bahwa efek dari letusan Toba dan Ice Age menjelaskan terjadinya penurunan drastis pada populasi manusia.

Terutama pengaruh genetikanya, terlihat antara 50.000 dan 100.000 tahun kemudian. Kurangnya keragaman genetik di antara manusia yang hidup hari ini, menjadi suatu bukti bahwa selama periode itu ada sejumlah ras manusia yang punah.

Selain itu, di muka bumi ini diduga telah terjadi kekeringan yang cukup panjang, hingga menunjukkan adanya penurunan suhu ekstrem," kata Ambrose. Analisis isotop karbon pada sejumlah temuan, menunjukkan bahwa hutan tertutup di India tengah. Setelah letusan terjadi, muncul rumput sebagai tanaman pionir. Setidaknya mulai merambah, selama l.ooo tahun setelah letusan kemudian menjadi hutan. "Ini adalah bukti jelas, bahwa Toba juga menyebabkan deforestasi di beberapa daerah tropis untuk waktu yang lama," kata Ambrose.

Hasil penelitian lainnya, akan diterbitkan dalam jurnal Nature Geoscience 25 Mei 2010. Dari sejumlah letusan gunung berapi di dunia, temyata letusan Gunung Tambora di Indonesia pada 1815 tercatat sebagai letusan terkuat kedua setelah Toba.

Dalam letusan itu, Tambora melemparkan abu volcano hingga sejauh 70 km abunya ke udara.Gunung ini, menurut para ahli, adalah satu-satunya jetusan supervolcano yang dikenal setelah letusan super gunung berapi Toba dalam sejarah modern. Menurut ukuran kekuatan, letusan tersebut 10 kali lebih kuat dari letusan Krakatau, dan 100 kali lebih kuat daripada Vesuvius atau Gunung St. Helens.