Saturday, 5 September 2009
JK TENTANG KASUS BANK CENTURY
Ainut Tijar
2 jam yang lalu · · Suka / Tidak Suka · Lihat 24 KomentarSembunyikan Komentar (24)Wapres: Kalau Kasus Century Diungkap, Bisa Melebar ke Mana-Mana
WAKIL Presiden Jusuf Kalla mengatakan, jika kasus Bank Century diungkap, kasus itu bisa menjalar ke mana-mana. Hal tersebut terungkap dalam pertemuan antara Wapres Kalla dengan Pengurus Besar Nahdhatul Ulama di Kantor Wapres, Jakarta, Jumat (4/9).
"Kami sendiri terperanjat dan baru agak jelas duduk persoalannya setelah dijelaskan oleh Pak Wapres. Pak Wapres mengatakan, kalau kasus ini diungkap akibatnya bisa panjang dan melebar ke mana-mana," ujar Ketua PBNU Said Agil Siradj kepada pers seusai bertemu Wapres.
Sebelumnya, banyak diungkapkan bahwa penyelamatan Bank Century lebih merupakan upaya penyelamatan dana deposan besar. Hal itu diperkuat dengan diketahuinya bahwa ada satu deposan yang menyimpan uang di Bank Century hingga mencapai Rp1,4 triliun, dan deposan ini merupakan penyandang dana salah satu pasangan capres dan cawapres pada pemilu presiden lalu.
Ditemui usai salat Jumat, Wapres Kalla menegaskan tindakannya yang meminta Kapolri untuk segera menangkap pemilik Bank Century Robert Tantular adalah tugasnya selaku bagian dari pemerintah, bukan intervensi.
"Siapa yang intervensi? Saya kan pemerintah, menginstruksikan Kapolri adalah tugas pemerintah. Kita tahu itu adalah penggelapan, saya menjabat sebagai Wapres, ini masalah kriminal bukan ekonomi," tegasnya.
Ia menambahkan, sejak awal sikapnya menolak bail out kepada Bank Century yang jumlahnya membengkak hingga Rp6,7 triliun. "Sejak awal saya katakan ini bukan krisis, kasus ini bisa terjadi kapan saja selama tidak diatasi. Boleh itu di masa tenang atau di masa krisis. Ini tinggal menunggu meletus sebenarnya karena itu pemerintah harus keras," tukas Kalla.
Namun, Kalla mengelak untuk menyebut lebih detil pihak-pihak yang akan terkena dampak pengungkapan kasus Bank Century ini. "Biarlah BPK yang mengungkap. Saya hanya ingin mendoakan agar kasus ini jangan sampai merugikan rakyat banyak," pungkasnya.
"Kami sendiri terperanjat dan baru agak jelas duduk persoalannya setelah dijelaskan oleh Pak Wapres. Pak Wapres mengatakan, kalau kasus ini diungkap akibatnya bisa panjang dan melebar ke mana-mana," ujar Ketua PBNU Said Agil Siradj kepada pers seusai bertemu Wapres.
Sebelumnya, banyak diungkapkan bahwa penyelamatan Bank Century lebih merupakan upaya penyelamatan dana deposan besar. Hal itu diperkuat dengan diketahuinya bahwa ada satu deposan yang menyimpan uang di Bank Century hingga mencapai Rp1,4 triliun, dan deposan ini merupakan penyandang dana salah satu pasangan capres dan cawapres pada pemilu presiden lalu.
Ditemui usai salat Jumat, Wapres Kalla menegaskan tindakannya yang meminta Kapolri untuk segera menangkap pemilik Bank Century Robert Tantular adalah tugasnya selaku bagian dari pemerintah, bukan intervensi.
"Siapa yang intervensi? Saya kan pemerintah, menginstruksikan Kapolri adalah tugas pemerintah. Kita tahu itu adalah penggelapan, saya menjabat sebagai Wapres, ini masalah kriminal bukan ekonomi," tegasnya.
Ia menambahkan, sejak awal sikapnya menolak bail out kepada Bank Century yang jumlahnya membengkak hingga Rp6,7 triliun. "Sejak awal saya katakan ini bukan krisis, kasus ini bisa terjadi kapan saja selama tidak diatasi. Boleh itu di masa tenang atau di masa krisis. Ini tinggal menunggu meletus sebenarnya karena itu pemerintah harus keras," tukas Kalla.
Namun, Kalla mengelak untuk menyebut lebih detil pihak-pihak yang akan terkena dampak pengungkapan kasus Bank Century ini. "Biarlah BPK yang mengungkap. Saya hanya ingin mendoakan agar kasus ini jangan sampai merugikan rakyat banyak," pungkasnya.
Kasus Bank Century PKS Minta Pemerintah Transparan
Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) M Sohibul Iman mengharapkan kasus dana talangan Bank Century sebesar Rp6,7 triliun agar dibuka secara transparan oleh pihak-pihak yang kompeten seperti Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
"BPK yang berkompeten melakukan audit, kita dorong untuk masuk dan membuka secara transparan, sehingga kasus ini benar-benar jelas dan tidak ada lagi spekulasi," katanya dalam jumpa pers di Jakarta, Jumat (4/9).
Menurut dia, dibukanya kasus itu secara transparan agar masyarakat mengetahui siapa-siapa saja yang bersalah dalam kasus itu sehingga merugikan negara. Dikatakannya, dibukanya kasus itu secara transparan juga akan meningkatkan kredibilitas pemerintahan ke depan, karena kalau tidak jelas justru akan menyisakan pertanyaan-pertanyaan di masyarakat.
PKS, katanya, tidak ingin berandai-andai tentang siapa yang dianggap bersalah dalam kasus itu dan menyerahkannya pada proses audit BPK maupun proses hukum, jika memang ditemukan adanya indikasi korupsi atau kriminal. BPK, kata dia, saat sudah mulai bergerak melakukan audit investigatif terhadap kasus Bank Century itu.
"Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) juga akan bergerak jika ada indikasi korupsi dalam kasus itu dan polisi juga akan menindaklanjuti kalau ada indikasi tindak kriminal dalam kasus itu. Karenanya, biarlah proses itu berjalan," katanya.
"BPK yang berkompeten melakukan audit, kita dorong untuk masuk dan membuka secara transparan, sehingga kasus ini benar-benar jelas dan tidak ada lagi spekulasi," katanya dalam jumpa pers di Jakarta, Jumat (4/9).
Menurut dia, dibukanya kasus itu secara transparan agar masyarakat mengetahui siapa-siapa saja yang bersalah dalam kasus itu sehingga merugikan negara. Dikatakannya, dibukanya kasus itu secara transparan juga akan meningkatkan kredibilitas pemerintahan ke depan, karena kalau tidak jelas justru akan menyisakan pertanyaan-pertanyaan di masyarakat.
PKS, katanya, tidak ingin berandai-andai tentang siapa yang dianggap bersalah dalam kasus itu dan menyerahkannya pada proses audit BPK maupun proses hukum, jika memang ditemukan adanya indikasi korupsi atau kriminal. BPK, kata dia, saat sudah mulai bergerak melakukan audit investigatif terhadap kasus Bank Century itu.
"Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) juga akan bergerak jika ada indikasi korupsi dalam kasus itu dan polisi juga akan menindaklanjuti kalau ada indikasi tindak kriminal dalam kasus itu. Karenanya, biarlah proses itu berjalan," katanya.
Independensi BPK di Kasus Century
SKANDAL Bank Century bergulir bak bola salju, kian ke mari kian membesar. Kasus penyuntikan dana oleh pemerintah ke bank milik Robert Tantular itu juga seperti membuka kotak pandora. Satu per satu spekulasi, dugaan, dan temuan terus bermunculan.
Yang paling mutakhir adalah temuan polisi yang menyebutkan bahwa Bank Century sudah merugi Rp9,15 triliun hingga 20 November 2008. Itu berarti sehari sebelum keputusan penyelamatan oleh pemerintah diambil.
Kerugian itu muncul, menurut polisi, karena pemilik dan pengelola bank menggunakan uang nasabah untuk transaksi yang amat berisiko, di antaranya bermain valas. Dengan demikian, otoritas di pemerintahan dan pengawas bank seharusnya sudah tahu bahwa bank yang mereka awasi tidak menjalankan manajemen risiko secara baik.
Tapi, mengapa Bank Century tetap diselamatkan? Mengapa bank yang sudah dirampok pemiliknya sendiri tetap diinjeksi dana secara ugal-ugalan hingga mencapai Rp6,7 triliun? Bukankah kesepakatan awal dana talangan hanya Rp1,3 triliun?
Deretan pertanyaan makin bertambah ketika kita mendapati fakta masih banyak nasabah kecil yang belum menerima uang mereka. Lalu, ke mana larinya uang Rp6,7 triliun itu?
Spekulasi pun berkembang bahwa suntikan dana itu hanya mengalir deras ke kantong deposan kakap. Di antara mereka bahkan disebut-sebut ada yang memiliki deposito di Bank Century hingga Rp2 triliun.
Tidak ada pilihan lain, dugaan dan spekulasi tersebut harus dijawab dengan audit investigasi sehingga semua perkara busuk itu terbongkar dengan transparan. Tidak hanya Bank Century yang harus diinvestigasi, tapi juga Bank Indonesia, Departemen Keuangan, dan Lembaga Penjamin Simpanan.
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) selaku auditor sudah berjanji bakal menyelesaikan audit awal sebelum Lebaran. Ketua BPK Anwar Nasution juga berjanji para auditornya akan melakukan audit setransparan mungkin.
Kita tunggu realisasi semua janji itu. Inilah saatnya BPK menunjukkan imparsialitas sebagai pemeriksa. Untuk menuju ke sana, auditor yang dipilih haruslah yang independen, berintegritas, dan bernyali.
Auditor yang terbiasa mengaudit laporan keuangan bank sentral, Departemen Keuangan, dan Lembaga Penjamin Simpanan tiap tahun sebaiknya dicoret dari daftar auditor Century. Hal itu supaya auditor investigatif Bank Century fresh dan tidak bias.
Kekhawatiran bakal munculnya auditor yang dependen bukannya tanpa alasan. Beberapa waktu lalu, misalnya, seorang auditor BPK menyatakan bahwa kasus Bank Century merupakan kesalahan bank sentral dan Lembaga Penjamin Simpanan. Padahal, audit belum selesai.
Sekali lagi, kasus Century menunjukkan kepada kita bahwa ruang gelap permainan di dunia perbankan masih terjadi. Itulah ruang yang amat subur bagi munculnya perselingkuhan antara kekuasaan dan uang.
Yang paling mutakhir adalah temuan polisi yang menyebutkan bahwa Bank Century sudah merugi Rp9,15 triliun hingga 20 November 2008. Itu berarti sehari sebelum keputusan penyelamatan oleh pemerintah diambil.
Kerugian itu muncul, menurut polisi, karena pemilik dan pengelola bank menggunakan uang nasabah untuk transaksi yang amat berisiko, di antaranya bermain valas. Dengan demikian, otoritas di pemerintahan dan pengawas bank seharusnya sudah tahu bahwa bank yang mereka awasi tidak menjalankan manajemen risiko secara baik.
Tapi, mengapa Bank Century tetap diselamatkan? Mengapa bank yang sudah dirampok pemiliknya sendiri tetap diinjeksi dana secara ugal-ugalan hingga mencapai Rp6,7 triliun? Bukankah kesepakatan awal dana talangan hanya Rp1,3 triliun?
Deretan pertanyaan makin bertambah ketika kita mendapati fakta masih banyak nasabah kecil yang belum menerima uang mereka. Lalu, ke mana larinya uang Rp6,7 triliun itu?
Spekulasi pun berkembang bahwa suntikan dana itu hanya mengalir deras ke kantong deposan kakap. Di antara mereka bahkan disebut-sebut ada yang memiliki deposito di Bank Century hingga Rp2 triliun.
Tidak ada pilihan lain, dugaan dan spekulasi tersebut harus dijawab dengan audit investigasi sehingga semua perkara busuk itu terbongkar dengan transparan. Tidak hanya Bank Century yang harus diinvestigasi, tapi juga Bank Indonesia, Departemen Keuangan, dan Lembaga Penjamin Simpanan.
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) selaku auditor sudah berjanji bakal menyelesaikan audit awal sebelum Lebaran. Ketua BPK Anwar Nasution juga berjanji para auditornya akan melakukan audit setransparan mungkin.
Kita tunggu realisasi semua janji itu. Inilah saatnya BPK menunjukkan imparsialitas sebagai pemeriksa. Untuk menuju ke sana, auditor yang dipilih haruslah yang independen, berintegritas, dan bernyali.
Auditor yang terbiasa mengaudit laporan keuangan bank sentral, Departemen Keuangan, dan Lembaga Penjamin Simpanan tiap tahun sebaiknya dicoret dari daftar auditor Century. Hal itu supaya auditor investigatif Bank Century fresh dan tidak bias.
Kekhawatiran bakal munculnya auditor yang dependen bukannya tanpa alasan. Beberapa waktu lalu, misalnya, seorang auditor BPK menyatakan bahwa kasus Bank Century merupakan kesalahan bank sentral dan Lembaga Penjamin Simpanan. Padahal, audit belum selesai.
Sekali lagi, kasus Century menunjukkan kepada kita bahwa ruang gelap permainan di dunia perbankan masih terjadi. Itulah ruang yang amat subur bagi munculnya perselingkuhan antara kekuasaan dan uang.
AM HENDROPRIYONO : Tak mudah memonitor sumber logistik aksi terorisme karena sifatnya yang selalu terpencar
Ainut Tijar AM HENDROPRIYONO : Tak mudah memonitor sumber logistik aksi terorisme karena sifatnya yang selalu terpencar. Maka dari itu semua kehidupan masyarakat harus dimonitor, hanya caranya saja dan nanti diatur. Kalau ada yang menyimpang dari aliran Islam m...oderat yang kita anut selama ini, ya tentu saja kita lawan. WAH GAWAT, KALAU GITU KEMBALI ZAMAN ORDE BARU LAGI DONG PAK...! hehehehe............
R HARTONO : YUDDY CHRISNANDI GOMBAL
Ainut Tijar KETUM PKPB R HARTONO : Tidak mungkin Tutut masuk Golkar lagi karena dia kan masih anggota PKPB. Itu hanya kerjaan Yuddy Chrisnandi yang tukang gombal. Yuddy itu tidak ngerti UU dan peraturan. Jadi tidak mungkin sama sekali Tutut mau ke Golkar. Soal ...Yuddy ketemu Tommy dan Tutut itu gombal semua, itu kerjaan Yuddy saja. JADI YUDDY CHRISNANDI ITU TUKANG GOMBAL...!!!? DARI FADJROEL RAHMAN SAMPAI R HARTONO MEMAKINYA.
Ahmad Mustofa
Begitulah sifat para politikus Golkar.....politiknya kurang santun
12 jam yang lalu · Hapus
Tisna Purnawan
Politik sangat dinamis. . .dapat bergerak di luar pemikiran dan logika seseorang. . .
12 jam yang lalu · Hapus
Uzrin To My
"DARI FAJROEL SAMPAI HARTONO MEMAKINYA".. pertanyaanya : siapa lagi tokoh " SAMPAI" yg memaki YUDDY CHIRNANDI selain 2 tokoh itu bang...hehe
12 jam yang lalu · Hapus
Faisal Matondang
Biarkan aja pak internal Golkar, Pak Akabar jg kampanye utk Abu Rizal, kalau golkar anjlok 2014, maka apa yg di blng pak Akbar membohongi Golkar juga kan, he.he.
12 jam yang lalu · Hapus
Dodonk A Elmaduri
wah repoot niii diperebutkan orangnya pa uangnya... maklum golkar jatah mentri melorot... apalagi PKBP...heee dr mn dananya...kwkwkw
12 jam yang lalu · Hapus
Ainut Tijar
@Uzrin : Maksudku Fadjroel (reformis) R Hartono (kebalikannya) artinya dari yang reformis sampai yang orde baru memakinya. hehehe............
12 jam yang lalu · Hapus
Anca Firman
kalo ainut tijar itu sy perhatikan tipe nulis statusnya spt ini ya?
12 jam yang lalu · Hapus
Uzrin To My
ooo gitu..emang bung fadjroel termasuk tokoh reformis apa bang...?? WAKTU PENCALONAN CAPRES DR INDEPENDEN DIA MENCALONKAN DIRI,TP SAAT CALON INDEPENDEN GAK LOLOS MENGIKUTI PILPRES..DIA MALAH MENGKAMPANYEKAN GOLPUT..? gimana itu bang..?
12 jam yang lalu · Hapus
Dodonk A Elmaduri
repot juga ni orang2 tdk tau kalau sy orang madura satu aumni dg R Hartono...hermmmm awas ya...hehehe
11 jam yang lalu · Hapus
Fikri Senada St
cost politik itu luar biasa, apalagi ketika kt berniat maju dlm bursa ketua DPP, sdh brg tentu niat Bung Yudi tdk bisa main2 dlm hal pencalonannya jadi ketum, apalagi partai sebesar Golkar... Jd wajar jk Yuddi melakikan manuver2 politik diluar jangkauan kita, dan sangat masuk akal jika seorg yuddi mendekati keluarga cendana, krn cendana itu ... Baca Selengkapnyasebenarnya adalah Induk Semangnya Golkar pd saat itu, jd yuddi pasti melakukan pendekatan dg dalil lobi2 bagi2 kekuasaan dan harapan masa depan dlm kepemimpinan nasional ke depan. selaku pewaris cendana atw soeharto wajar jk tommy dan mbak tutut mencari anak semang dimana mrk msh mai menjejal perpolitikan negara ini, cendana msh ada.. Cendana itu luar biasa itulah dibenak anak2 soeharto.. Dinasti soeharto hrs ada dan bangkit itulah maunya pewaris2 soeharto... Jadi yuddi selaku politikus muda yg tdk punya uang, wajar kalau berkaloborasi dg keluarga cendana.. Ini politik bung...
10 jam yang lalu · Hapus
Imam Purwadi
Punten...salam sejahtera buat saudara2 semua,salam kenal sy hanya rakyat biasa..,saya melihat,memperhatikan kegiatan para kaum politisi ini kok nga jauh2 dg apa yg namanya saling sikut,saling menjelekan,saling berebut tahta..,sy heran knp dari dulu selalu demikian..,tak adakah kaum politik yg benar2 memikirkan bangsa dan negara tercinta ini..,klaupun ada cuma satu dua orang, mari kita introspection demi bangsa dan negara..,msih byak terutama rakyat kecil yg sangat mengharap kebaikan dari pundak2 mereka,kpn mereka bisa bersatu..,tuk dpt memenuhi keinginanNya..
10 jam yang lalu · Hapus
Uzrin To My
bang ainut...kabur....????hehe
10 jam yang lalu · Hapus
Ainut Tijar
@Uzrin : Masih menyimak dong. hehehe.......................
10 jam yang lalu · Hapus
Isworo Hadi
Memang para politisi lebih suka menerapkan ilmu kodok ketimbang ilmu lebah....kapan maju bangsa ini??????
9 jam yang lalu · Hapus
Muhammad Fitri
Dalam politik tidak ada yang tdk mungkin, kalau tdk mungkin sekali aja bisa diplesetkan jadi tdk mungkin dua kali, krn disana banyak "pakar" alias Paling Ahli Kelabui Aturan Resmi, jadi wajar pak manuver gitu.
6 jam yang lalu · Hapus
Imam Purwadi
Mohon maaf..,klau memang ada pendapat seperti itu..,dan mungkin sudah sering membutakan mata hatinya dalam mengambil kebijakan untuk rakyat..,kenapa masih saja diteruskan budaya seperti itu, yg jelas2 sdh mencederai bangsa sendiri.sebenar nya beliau2 itu ngerti apa tidak dg tugasnya.masa ya baru masuk pasal pertama dari PANCASILA saja sudah tidak masuk kriteria.kita sebut apa coba klau bukan begitu..,bukanya suara rakyat itu mewakili suara tuhan,klau demikian khan berarti juga pengkhianatan terhadap Tuhan.
Tolong dech dengarkan...sebelum azab Tuhan diturunkanNya....,astagfirulloh haladim..,
Tolong dech dengarkan...sebelum azab Tuhan diturunkanNya....,astagfir
5 jam yang lalu · Hapus
Amdali Adhitama
Namanya politik, dimana yang menguntungkan disitulah dia mampir,.. Politik itu khan cara untuk mencapai tujuan dan unutk mencapai tujuan harus punya kendaraan. kalo kendaraannya jalan ditempat kapan bisa sampain tujuan....?
Makanya cari dong kendaraan yang...........
Makanya cari dong kendaraan yang...........
2 jam yang lalu · Hapus
Subscribe to:
Posts (Atom)
Kerugian itu muncul, menurut polisi, karena pemilik dan pengelola bank menggunakan uang nasabah untuk transaksi yang amat berisiko, di antaranya bermain valas. Dengan demikian, otoritas di pemerintahan dan pengawas bank seharusnya sudah tahu bahwa bank yang mereka awasi tidak menjalankan manajemen risiko secara baik.
Tapi, mengapa Bank Century tetap diselamatkan? Mengapa bank yang sudah dirampok pemiliknya sendiri tetap diinjeksi dana secara ugal-ugalan hingga mencapai Rp6,7 triliun? Bukankah kesepakatan awal dana talangan hanya Rp1,3 triliun?
Deretan pertanyaan makin bertambah ketika kita mendapati fakta masih banyak nasabah kecil yang belum menerima uang mereka. Lalu, ke mana larinya uang Rp6,7 triliun itu?
siapa tuh pak?