Pihak keluarga begitu kaget dan tidak menyangka akan ditinggal Rosihan selamanya. Sebab, baru Rabu malam (13/ 4) pria kelahiran Kubang Nan Dua, Solok, Sumatera Barat, itu pulang dari Rumah Sakit Harapan Kita. Setelah menjalani operasi jantung pada 24 Maret lalu, dokter menganggap kondisinya berangsur membaik hingga dipersilakan pulang untuk menjalani rawat jalan. ’’Tadi malam (Rabu malam) masih baik-baik saja,’’ ungkap salah seorang cucu Rosihan, Alma Tania, saat ditemui di RS MMC. Bahkan, sebelum meninggal kemarin pagi, Rosihan sempat bersarapan Menurut Alma, saat itu Rosihan meminta makanannya dibawa ke teras rumah. Ketika itu dia mengeluh sesak napas. Nah, setelah makan beberapa suap, tiba-tiba Rosihan terkulai.
Keluarga sempat panik dan langsung membawanya ke RS MMC. Namun, Tuhan berkehandak lain. Rosihan wafat. Putra kedua Rosihan, Omar Luthfi, mengungkapkan, kondisi kesehatan Rosihan terus menurun sejak istrinya meninggal. ’’Semangat bapak juga menurun sejak ibu meninggal,’’ katanya. Istri Rosihan, Siti Zuraida, meninggal pada 5 September 2010. Nah, sejak saat itu, lanjut Omar, ayahnya sering sakit-sakitan. Bahkan sebelum menjalani operasi, Rosihan sempat beberapa kali berpindah rumah sakit. Pada 7 Maret lalu, pendiri harian Pedoman itu mengeluhkan sesak di dadanya dan langsung dirawat di RS MMC. Jantung Rosihan ternyata bermasalah. Puncaknya, pada 24 Maret, Rosihan menjalani operasi di RS Harapan Kita. Menurut Omar, ada satu cita-cita ayahnya yang belum tercapai. Yakni, menerbitkan sebuah buku. Tapi, buku itu berbeda dari puluhan buku lain yang pernah ditulis Rosihan. ’’Itu buku cinta-cintaan bapak sama ibu,’’ ujar Omar yang tak henti-henti mengisap rokok sambil menyambut para tamu yang berdatangan di teras depan rumahnya. Dia mengungkapkan, sejak empat bulan lalu Rosihan begitu tekun menyusun buku tersebut.
