Showing posts with label bentrok. Show all posts
Showing posts with label bentrok. Show all posts

Friday, 5 April 2013

TNI AD: Oknum Kopassus Serbu Cebongan Dipicu Aksi Keji Preman

Ketua Tim Investigasi TNI AD Brigjen TNI (CPM), Unggul K Yudhoyono, memaparkan hasil investigasi pada Kamis, 4 April 2013.
Markas Besar Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat mengumumkan pelaku penyerbuan Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, adalah 11 personel Komando Pasukan Khusus.
TNI AD menyatakan para oknum prajurit yang memberondong empat tahanan tersangka pembunuhan prajurit TNI AD Sersan Kepala Heru Santoso itu akan diusut sesuai hukum yang berlaku.

Ketua Tim Investigasi TNI AD Brigadir Jenderal (CPM) Unggul K. Yudhoyono mengatakan lancarnya proses investigasi yang dilakukan timnya karena kejujuran dan keterbukaan para pelaku.
"Menjadi catatan khusus, bahwa para pelaku secara kesatria telah mengakui perbuatan sejak hari pertama penyelidikan, 29 Maret 2013," ujar Unggul dalam keterangan pers di Jakarta, Kamis 4 April 2013. "Penyerangan tersebut merupakan tindakan seketika yang dilatarbelakangi jiwa korsa dan membela kesatuan."

Para pelaku ini berdinas di Kopassus Grup II Kandang Menjangan, Kartosuro, Jawa Tengah. Unggul melanjutkan, penyerangan itu dilakukan setelah mereka mendengar salah satu anggota Kopassus, Serka Heru Santoso, diserang oleh sekelompok preman di Hugo's Cafe, Yogyakarta, hingga tewas pada 19 Maret 2013 dan pembacokan Sertu Sriyono pada 20 Maret 2013.

"Mereka membela kesatuan setelah mendapat kabar tentang pengeroyokan dan pembunuhan secara sadis dan brutal terhadap anggota Kopassus atas nama Serka Heru Santoso," tuturnya.

Dari 11 orang itu hanya satu yang bertindak sebagai eksekutor, inisialnya U. Prajurit berinisial U, yang memimpin serangan, dibantu delapan temannya melakukan penyerangan menggunakan Mobil Avanza biru dan Suzuki APV hitam.  "Dari 11 orang tersebut, tiga orang berasal dari pelatihan Gunung Lawu," kata Unggul.

Menurut dia, selain motif membela kehormatan kesatuan, pelaku penembakan juga mengaku memiliki utang budi kepada Heru saat bertugas. "Serka Heru merupakan atasan langsung pelaku yang juga pernah berjasa menyelamatkan jiwa pelaku saat melakukan operasi," kata Unggul.

Kini tim investigasi menyampaikan bahwa pelaksanaan penyelidikan sudah dilakukan, berjalan dengan lancar dan dapat menetapkan kesimpulan awal dalam masa kerja enam hari, dengan kejujuran dan keterbukaan.

Latihan di Gunung Lawu

Beberapa prajurit Kopassus tersebut sedang latihan di Gunung Lawu ketika mendengar ada teman meraka dikeroyok dan dibunuh dengan keji, sadis dan brutal, pada pertengahan Maret lalu.
Selasa 19 Maret dini hari, pukul 02.45, Sersan Satu Heru Santosa yang tercatat mantan anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus) Kandang Menjangan Kartosuro tewas di Hugo's Cafe di Jalan Adisucipto, Sleman, Yogyakarta.

Heru tewas setelah ditikam dengan pecahan botol minuman keras di bagian dada. Insiden ini berawal ketika korban dikeroyok oleh tujuh orang yang salah satunya adalah Dicky Ambon, gembong preman yang tinggal di asrama Nusa Tenggara Timur di Lempuyangan, Yogyakarta.
"Pelakunya adalah DA. Semua orang tahu siapa  DA. Pelaku sudah diamankan oleh pihak keamanan Hugo's Cafe," kata salah satu sumber yang enggan disebutkan namanya.

Keesokan harinya, lagi seorang prajurit TNI, Sersan Satu Sriyono, dikeroyok kawanan preman ini di Jalan Sutomo, Yogyakarta. Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Yogyakarta Komisaris Dodo Hendra Kusuma menceritakan sebelum terjadi pengeroyokan, Sriyono sempat bertengkar dengan seseorang.
"Kemudian datang belasan orang dengan menggunakan satu mobil dan sekitar tujuh sepeda motor. Salah satunya perempuan," kata Dodo, Kamis 21 Maret 2013.

Usai bertengkar, Sriyono dikeroyok oleh belasan orang tersebut. Dia sempat berlari ke arah utara hingga depan bekas Bioskop Mataram. “Di lokasi tersebut dia dikeroyok lagi. Dalam pengeroyokan pelaku menggunakan senjata tajam dan tongkat pemukul berantai (double stick)."

Korban pun terkapar karena luka akibat senjata tajam. Kepala Sriyono robek karena sabetan senjata tajam. Warga yang melihat kemudian melarikannya ke RS Bethesda Yogyakarta. Kepala Sriyono harus dijahit karena luka yang cukup dalam.

Baru Kamisnya, polisi menangkap empat orang termasuk yang diduga menikam Sertu Heru sampai tewas, yakni Hendrik Benyamin Sahetapy Engel alias Dicky Ambon (31 tahun),Yohanes Juan Mambait alias Juan (38 tahun), Gameliel Yermianto Rohi Riwu alias Adi (29 tahun), dan Adrianus Candra Galaja alias Dedi (33 tahun).
Dicky Ambon adalah gembong preman yang lama meresahkan warga Yogyakarta. Ia punya banyak catatan kriminal di wilayah Yogyakarta. Bahkan, pria lelaki kelahiran Kupang, Nusa Tenggara Timur, tersebut tertera pada data Polresta Yogyakarta pernah ditahan dalam kasus pemerkosaan dan pembunuhan. Yang lebih "hebat" lagi, saat ditangkap dalam kasus pemerkosaan, dia baru saja bebas bersyarat dengan sisa masa tahanan 2,5 tahun akibat kasus pembunuhan di Jalan Solo pada tahun 2002.

Unggul menuturkan, belasan prajurit Kopassus mendengar informasi mengenai pembunuhan itu secara tidak sengaja dari warga. "Informasi ini didapatkan secara tak sengaja. Di jalan, mereka dengar dari orang. Karena itu mereka lalu bergerak ke Lapas Cebongan. Jadi, tidak ada info yang disampaikan resmi. Ini secara kebetulan," tuturnya.

Belasan prajurit ini pun naik pitam. "Karena jiwa korsa, mereka bereaksi dan mengajak teman mereka yang berjumlah 11 orang. Ini karena jiwa korsa yang tinggi, apalagi proses penganiayaan begitu sadis, brutal dan biadab," kata Unggul. "Namun, penerapan jiwa korsa tersebut adalah penerapan yang tidak tepat."

Tim bergerak dengan menggunakan dua unit mobil, Toyota Avanza biru dan Suzuki APV warna hitam. Sementara itu, dua prajurit yang menggunakan kendraan Daihatsu Feroza tidak dapat mencegah tindakan penembakan itu.

"Dua orang menggunakan kendaraan Daihatsu Feroza berusaha mencegah tindakan rekan-rekannya tersebut. Dari 11 orang tersebut terdapat tiga orang dari daerah latihan Gunung Lawu," kata Unggul. "Serangan tersebut menggunakan enam pucuk senjata, terdiri dari tiga pucuk jenis AK-47 yang dibawa dari daerah latihan, dua pucuk AK-47 replika dan satu pucuk pistol Sig Sauer replika."

Setelah membunuh keempat preman itu, mereka membawa kabur kamera CCTV beserta rekamannya. "Mereka mengakui barang bukti yang dibawa sudah dimusnahkan dan dibuang ke Sungai Bengawan Solo," kata Unggul di Media Center Dinas Penerangan Angkatan Darat, Jakarta, Kamis 4 April 2013.

Unggul lantas menanyakan dengan cara apa mereka memusnahkannya. "Mereka jawab dibakar sebagian," ujarnya.

Salah dihukum, benar dibela

Tim Investigasi ini dibentuk KSAD Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo pada 29 Maret 2013 lalu. Sejak dibentuknya tim, kata Kepala Dinas Penerangan TNI AD Brigjen Rukman Ahmad, para pelaku sudah mengakui perbuatan mereka.

Dia menegaskan TNI AD akan menjunjung tinggi proses penegakan hukum terhadap siapapun pelaku penyerangan Lapas Cebongan. "Sehubungan dengan ini, TNI AD telah membuktikan jaminan penegakan hukum bagi prajurit yang bersalah," kata Rukman yang bicara di jumpa pers bersama Unggul.

Bercermin pada kasus pembakaran Mapolres Ogan Komering Ulu, kata Rukman, tim investigasi bekerja dengan cepat dan berupaya mencapai hasil sebaik-baiknya, selengkap-lengkapnya, dan transparan.

Sabtu lalu, Jenderal Edhie Pramono sendiri telah menjamin akan menindak anggotanya jika terlibat dalam penyerangan Lapas Cebongan. "Intinya, yang salah saya hukum, yang benar saya bela," kata Edhie Pramono di Mabes TNI AD.

Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Djoko Suyanto mengapresiasi tim investigasi TNI yang berhasil mengungkap kasus penyerangan Lapas Cebongan ini. "Apresiasi yang tinggi kepada KSAD dan tim investigasi yang telah bergerak cepat sesuai instruksi Presiden melalui Panglima TNI dan Kapolri," kata Djoko.

Menurut Djoko, ini baru babak awal dari jawaban atas kasus yang menewaskan empat tahanan itu. "Harus terus dilakukan penyidikan-penyidikan yang lebih tajam sebelum diajukan ke Mahkamah Militer," ujarnya

Friday, 22 February 2013

Bumi Papua Makin Bergolak. Aksi ini untuk mengangkat isu keamanan Papua ke dunia internasional?

Polisi dan TNI merazia warga di Papua
Bumi Papua terus bergejolak. Teror demi teror ditebar oleh kelompok bersenjata. Kali ini, Kamis 21 Februari 2012, kelompok bersenjata menyerang anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) di dua tempat berbeda. Delapan tentara gugur dalam dua serangan itu.

Serangan pertama terjadi pukul 09.30 WIT di Pos TNI yang terletak di Distrik Tingginambut, Puncak Jaya, Papua. Satu anggota Batalyon Infantri 753, Pratu Prabowo Wibowo, tewas di tempat. Dia tertembak di bagian dada. Sementara, Letnan Satu Reza hanya mengalami luka tembak di bagian lengan.

Sekitar pukul 10.30 WIT, kelompok bersenjata menghadang rombongan anggota TNI di Distrik Sinak, Kabupaten Puncak, Papua. Saat itu, sekitar 12 prajurit hendak menuju Bandara Illaga, yang berjarak sekitar 2 kilometer dari markas Koramil Sinak. Para tentara ini berniat mengambil logistik dan radio komunikasi yang dikirim dari Kodim 1714.

"Mereka dihadang di tanjakan jalan, dengan cara ditembaki dari atas bukit," kata Kepala Penerangan Kodam Cenderawasih, Letkol TNI Jansen Simanjuntak.

Tujuh prajurit gugur dalam aksi penyerangan ini. Mereka adalah Sertu M Udin (Kodim 1714 Puncak Jaya), Sertu Frans (Kodim 1714 Pucak Jaya), Sertu Edi (Kodim 1714 Puncak Jaya), Sertu Ramadhan (Batalyon 753), Praka Jojo Wiharja (Batalyon 753), Praka Wempi (Batalyon Infantri 753), dan Pratu Mustofa (Batalyon Infantri 753). Sementara itu, Serda Wahyudi dari Batalyon Infantri 753, terluka. Hingga siang, satu anggota TNI masih dinyatakan hilang.

Aparat, kata Jansen, belum bisa mengetahui identitas para penyerang."Mereka masih dikejar, jadi kami belum bisa simpulkan dari kelompok mana," ujarnya. Yang jelas, imbuh Jansen, para penyerang punya kekuatan besar dan memiliki keberanian.

Sementara itu, polisi tidak tinggal diam. Korps Bhayangkara turut membantu TNI mengejar kelompok bersenjata ini. Anggota Pos Brimob bersama anggota Polres Puncak Jaya dikerahkan. "Mereka di bawah komandan Kompol Hanafiah, Polisi membantu TNI mengejar para pelaku," kata Kepala Bidang Humas Polda Papua, Kombes Pol I Gede Sumerta Jaya.

Menurut Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri, Kombes Pol Agus Rianto, kelompok penyerang melarikan diri ke arah hutan usai beraksi. Aparat,kata dia, butuh waktu untuk pengejaran itu. Hingga Kamis sore, belum ada pelaku yang berhasil ditangkap.
"Lokasi di sekitar Tingginambut, sebelah kanan bukit, sebelah kiri lereng. Jadi jalan hanya satu-satunya. Perlu waktu bagi teman-teman kami TNI maupun Polri melakukan pengejaran pelaku yang melarikan diri ke hutan," kata Agus.

Basis OPM

Menteri Koordinasi Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Djoko Suyanto menyatakan, pemerintah mengutuk keras aksi penyerangan ini. Pemerintah berharap, kelompok ini bisa segera digulung.
"Mudah-mudahan pelaku penembakan dan penghadangan terhadap aparat TNI bisa segera ditangkap supaya bisa jelas siapa pelaku, apa motif penyerangan, dan kelompok mana yang harus bertanggung jawab," kata Djoko di kantornya.

Menurut Djoko, dua daerah tempat penyerangan ini merupakan salah satu basis kelompok bersenjata. Distrik Tingginabut, kata dia, merupakan basis kelompok bersenjata yang dipimpin Panglima Organisasi Papua Merdela (OPM) Goliat Tabuni. Kelompok ini sudah melakukan kegiatan dalam waktu yang cukup lama.
Sementara, di Kampung Tanggulinik, Distrik Sinak, Kabupaten Puncak, terdapat kelompok bersenjata pimpinan Murib. "Di wilayah ini atas dasar perkiraan intelijen diduga merupakan tempat aktivitas kelompok bersenjata pimpinan Murib," ungkap Djoko.

"Kelompok-kelompok ini satu sama lain ada yang berhubungan, dan tidak berhubungan. Kelompok ini selalu melakukan kegiatan-kegiatan yang mengganggu aparat Polri, TNI, dan juga terhadap para pekerja investasi di wilayah tersebut," Djoko menambahkan.

Menurut Djoko, kondisi geografis menjadi kendala aparat dalam melakukan pengejaran. Topografi wilayah yang berhutan lebat, bergunung-gunung dengantebing terjal, cuaca ekstrem, dan sulitnya transportasi serta komunikasi menjadi kendala aparat. Ditambah lagi, kelompok bersenjata ini memiliki pengenalan medan yang jauh lebih bagus daripada aparat. Sehingga, bantuan warga setempat sangat dibutuhkan untuk menangkap para pelaku.

"Saya mengimbau kepada seluruh masyarakat, khususnya tokoh masyarakat, tokoh adat atau kepala-kepala suku, dan tokoh agama untuk beker jasama dengan pemerintah menjaga kondusivitas situasi di Papua, dan tidak terprovokasi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab," pinta Djoko.

Ketua Komisi I bidang Pertahanan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Mahfudz Siddiq, menilai serangan ini bertujuan untuk mengangkat isu keamanan di Papua ke dunia Internasional. Untuk itu, dia meminta TNI dan Polri tidak terprovokasi. "Saya melihat setahun terakhir target separatis bersenjata ini diarahkan ke aparat kepolisian maupun TNI," kata Mahfudz

Mahfudz juga mendesak pemerintah untuk segera mencarikan solusi segala permasalahan di Papua dengan cara sebaik-baiknya. "Sampai sekarang belum ada konsep solusi yang komprehensif, bermartabat dan damai. Warningnya adalah, ini mau pemilu 2014, orang malas urus Papua. Mau sampai kapan nunggu korban?," ujar Mahfudz.

Intensitas Konflik Tinggi

Aksi penyerangan ini terjadi setelah TNI menambah pasukannya di Papua. Pada Minggu, 3 Februari 2013, TNI mengirim 700 personel atau lima kompi pasukan dari Komando Daerah Militer (Kodam) VII/ Wirabuana. Pasukan tergabung dalam satuan tugas (Satgas) Batalyon Infanteri 726/Tamalatea itu dalam upaya menjalankan tugas pengamanan perbatasan RI dengan Papua Nugini.

Pasukan tambahan dini dilepas dalam sebuah upacara yang digelar di Pangkalan Utama Angkatan Laut (Lantamal) VI Makassar. Wakil Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan-Barat, Brigadir Jenderal (Brigjen) Syarul Mamma, menjadi pemimpin upacara dengan disaksikan langsung oleh Pangdam VII/Wirabuana, Mayor Jenderal Muhammad Nizam.

Menurut Pangdam VII/Wirabuana, Mayjen TNI Muhamad Nizam, pengiriman pasukan dimaksudkan untuk mewujudkan keamanan di wilayah perbatasan Indonesia dengan Papua Nugini. Sebab, intensitas gangguan keamanan di Papua dalam beberapa waktu terakhir cukup tinggi, yang ditandai dengan pengibaran bendera Bintang Kejora di beberapa wilayah.

"Perwujudan keamanan sangat dibutuhkan dengan harapan agar permasalahan yang berpotensi menjadi konflik dapat segera diantisipasi," kata Muhammad Nizam usai upacara pelepasan pasukan beberapa waktu yang lalu.

Thursday, 14 February 2013

Bentrok Ormas di Depok, Kenapa Mudah Tersulut?. Pemicu bentrok persoalan sepele, dari soal parkir sampai cabut pendera

Polisi bubarkan massa yang terlibat bentrokan
Perselisihan antar anggota organisasi masyarakat sering terjadi di Depok, Jawa Barat. Persoalan sepele kerap menjadi pemicu keributan. Tidak hanya dengan adu otot. Senjata tajam dan bom molotov makin sering digunakan dalam setiap aksi tawuran di kota penyangga Jakarta itu.

Rabu dini hari, 13 Februari 2013, bentrokan kembali terjadi. Keributan di Jalan Pitara, Kecamatan Pancoran Mas, melibatkan anggota ormas Forum Betawi Rempug (FBR) dan Pemuda Pancasila (PP).

Tawuran itu dipicu pencopotan bendera salah satu ormas di wilayah itu. Bentrokan tidak dapat dihindari, tiga orang luka-luka, sebanyak 23 orang ditangkap dari lokasi kejadian, dan tiga orang ditetapkan sebagai tersangka.

Dari 23 orang yang ditangkap, tidak semua berasal dari Depok. Mereka justru berasal dari Tangerang Selatan, Banten, Jakarta Selatan, dan Jakarta Timur.
Polisi menyita puluhan senjata tajam, bom molotov, dan pistol mainan, delapan sepeda motor, 30 telepon genggam, tiga buah tas hitam, dua dompet dari anggota ormas yang terlibat tawuran.

Menurut Kepala Satuan Reskrim Polres Depok, Komisaris Febriansyah, belum sempat terjadi bentrokan. Patroli polisi yang kebetulan melintas langsung membubarkan massa yang berdekatan dengan pom bensin di kawasan Cipayung. Sebanyak 15 anggota polisi langsung melakukan penangkapan terhadap puluhan orang yang akan melakukan aksi tawuran.

"Kami sigap mengantisipasi ormas yang akan saling serang. Saat patroli keliling," katanya.

Meski begitu, Kepolisian Resor Depok belum bersedia memberikan komentar lebih lanjut terkait kasus ini maupun penetapan ketiga tersangka yang ditangkap karena membawa senjata tajam.

Ketua Pemuda Pancasila Depok, Rudi Samin, membenarkan bahwa keributan terjadi akibat pencopotan bendera. Namun permasalah itu sudah diselesaikan polisi agar tidak meluas.

"Permasalahan sepele, hanya masalah bendera. Kami justru saling menghormati dan bendera siapa saja tidak boleh dilepas," katanya.

Namun, Rudi Samin tidak membantah banyak anggota Pemuda Pancasila dari luar wilayah Depok yang datang untuk membantu. Menurutnya, ada orang yangbermain di air keruh dan menyebarkan pesan melalui sms mengenai kejadian keributan ini. Pesan ini kemudian memancing anggota dari wilayah lain untuk datang.

Karena itu, dia meminta agar polisi menangkap pelaku yang menyebarkan informasi mengenai kejadian serangan yang akan dilakukan kelompok lain kepada anggota Pemuda Pancasila di wilayah Depok.

Tidak bermaksud membela diri, Rudi Samin yang sedang berada di luar kota itu mendapat laporan bahwa keributan berawal saat anggota PP yang sedang melintas di kawasan Pitara, Depok, diserang sejumlah orang yang membawa senjata tajam.

"Ini harus diusut tuntas, siapa saja yang salah diperiksa. Bila salah ditahan," katanya.

Rudi Samin juga tidak membantah bahwa kejadian keributan di Depok juga ada yang dipicu karena perebutan lahan parkir. Menurutnya, ada wilayah-wilayah yang sebenarnya sudah menjadi tanggungjawab PP dan kerap diusik kelompok lain.

Karena itu, polisi diminta bertindak tepat dan cepat. Melakukan musyawarah untuk menghidari bentrokan susulan. Saat ini, sekitar 5.100 anggota PP wilayah Depok berada di bawah kendalinya dan tidak akan melakukan tindakan yang dapat merusak citra organisasi.

"Ada tiga anggota kita masuk rumah sakit dan kondisinya parah. Tapi tidak ada anggota PP yang jadi tersangka," katanya.

Sementara itu, Koordinator Wilayah FBR Depok, H Nawi juga tidak membantah bahwa anggotanya terlibat keributan dengan anggota Pemuda Pancasila. Pemicu keributan juga disebabkan karena aksi pencabutan bendera.

"Tapi kenapa bendera FBR nya dibuang. Menurut informasi yang mencabut itu pakai baju loreng. Bukan PP dan FBR saja, ada anggota ormas Forkabi juga," katanya.

Sebelum terjadi keributan besar, seluruh anggota ormas yang mengalami gesekan sempat datang ke Polsek Pancoran Mas untuk berdialog dan melakukan perdamaian. Saat terjadi kesepakan perdamaian, sejumlah orang justru terlibat bentrokan di tempat lain.

"Ada anggota ormas yang bukan dari Depok membuat ricuh," katanya.

H Nawi juga memastikan bahwa 8.000 anggota FBR Depok tidak akan melakukan penyerangan. Seluruh anggota sudah diminta untuk menenangkan diri dan tidak terpancing dengan isu yang menyesatkan.

"Saya minta agar tidak main hakim. Kami juga mencegah anggota FBR dari wilayah lain untuk masuk ke Depok," katanya.

Kerap terjadi keributan di Depok
Keributan antara anggota Pemuda Pancasila (PP) dan Forum Betawi Rempug (FBR) memang kerap terjadi di wilayah Depok, Jawa Barat. Bahkan beberapa kejadian saling merusak dan membakar posko. Aksi saling serang ini kadang langsung meluas dan melibatkan anggota ormas itu yang berasal dari wilayah lain.

Massa dari dua ormas ini terlibat keributan di kawasan kompleks Grand Depok City (GDC) pada 30 Juli 2011. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini, satu sepeda motor yang terpakir tanpa pemilikhancur jadi sasaran amuk massa.

Anggota ormas PP dan FBR juga terlibat bentrokan yang diduga karena perebutan lahan parkir di Depok Trade Center (DTC), Jalan Raya Sawangan. Satu orang mengalami luka bacok dan satu motor dibakar dalam kejadian ini.

Sepanjang tahun 2012 juga terjadi sejumlah keributan yang melibatkan massa dari dua ormas itu. Aksi saling serang dengan malakukan pembakaran posko terjadi di kawasan Beji dan Sawangan. Keributan selalu terjadi setelah lewat tengah malam. Meski tidak ada korban jiwa, kondisi ini sempat membuat Kota Depok tegang.

Guna meredam keributan, sejumlah ormas di Depok sempat menyepakati perdamaian. Kampanye 'ogah' bentrok dilakukan dan ditandai dengan pemasangan bendera ormas masing-masing di fly over Jalan Arief Rahman Hakim (ARH), secara bersama-sama.

Tapi itu tidak bertahan lama, pada Minggu, 18 November 2012, FBR dan warga dari Maluku terlibat keributan di kawasan Jalan Margonda Raya. Satu kios pulsa dan satu warung rokok rusak akibat terkena lemparan batu.

Tidak hanya di Depok, sejumlah kejadian keribuatan antar ormas juga kerap terjadi di kawasan Tangerang Selatan. Pada Rabu, 27 Juni 2012,  posko FBR Pondok Aren diserang puluhan orang yang datang menggunakan mobil dan motor. Muhidin alias Picuk, Ketua FBR Gardu 287 Pondok Betung, meninggal dunia karena luka bacok.

Sepekan sebelumnya,  aksi penyerangan serupa juga terjadi di gardu FBR 223 di kawasan Kebon Kopi, Bintaro sektor III. Dua orang mengalami luka bacok di bagian kepala paha dan kaki. Dari kedua kejadian itu, mereka mencurigai pelakukanya adalan anggota ormas PP.

Setelah pemakaman Muhidin, ratusan anggota FBR melakukan aksi sweeping. Di kawasan Pamulang, massa FBR merusak posko milik ormas Pemuda Pancasila. Tak cukup merusak posko, ratusan anggota ormas Betawi itu melempari rumah Karnadi, tokoh ormas Pemuda Pancasila yang juga wakil ketua DPRD Kota Tangerang.

Rumah tersebut dilempat dengan bom molotov. Massa yang beringas juga membakar dua mobil jenis Suzuki Escudo warna biru B 1236 KM dan sedan Volvo biru tua B 735 JJ. Belum puas, mereka kemudian membakar motor merek Kaisar B 3201 NUH.

Kepolisian Daerah Metro Jaya memastikan untuk melakukan penegakan hukum terhadap pelaku tindak kekerasan dan aksi anarkis yang menganggu ketertiban umum.

Dari catatan polisi, kedua ormas ini kerap terlibat bentrokan di kawasan Ciputat, Pondok Aren, Pesanggaran, Bintaro, dan Ciledug. Hampir seluruh kawasan itu adalah daerah perbatasan antara Jakarta Selatan dan Tangerang Selatan. Tidak jarang keributan dua ormas ini juga terjadi di kawasan Depok Baru, Sawangan, dan Beji.

Aksi saling serang posko antara dua organisasi massa ini belakangan memang kerap terjadi. Selain menyebabkan kerusakan, kejadian penyerangan juga kerap menimbulkan korban jiwa.

Dari catatan polisi, bentrok antara ormas FBR dan Pemuda Pancasila, tidak jarang karena masalah sepele berupa pencabutan bendera dari salah satu ormas tersebut. Penggunaan bendera, biasanya digunakan sebagai penanda penguasaan wilayah.

"Misalnya seperti pos dirusak, atau bendera organisasi yang dicabut. Sepele, tapi itu menyangkut simbol teritorialnya," kata Kepala Humas Polda Metro Jaya, Rikwanto.

Batas teritorial itu dibuat oleh masing-masing ormas dalam peraturan tidak tertulis. Sehingga, jika ada anggota ormas lain yang melewatinya, maka membuat salah satu pihak merasa dilangkahi. Motif seperti ini, sering terjadi dalam bentrokan antara ormas Front Betawi Rempug (FBR) dan Pemuda Pancasila (PP).

Wednesday, 9 January 2013

Foto di Instagram Picu Kerusuhan di Swedia. Lebih dari 600 pemuda mendatangi sebuah sekolah di Gothenburg

Aplikasi Photo Sharing, Instagram
Pemuatan foto-foto di aplikasi Instagram berakhir petaka. Ratusan orang terlibat kerusuhan di kota Gothenburg, Swedia, lantaran marah atas foto-foto yang menampilkan wanita-wanita yang dituduh "murahan".

Diberitakan Russian Times, kerusuhan terjadi pada Selasa waktu setempat. Lebih dari 600 pemuda mendatangi sebuah sekolah di Gothenburg memprotes pemuatan foto-foto yang memuat kawan-kawan atau saudara mereka tersebut. Situasi memanas saat beberapa pemuda melemparkan botol ke arah aparat.

"Beberapa botol dan batu dilemparkan kepada polisi di di lokasi, dan beberapa warga yang kebetulan melintas dirusak mobilnya," ujar pernyataan polisi.

Kerusuhan terjadi setelah seorang siswi berusia 17 tahun membuat akun anonim di aplikasi berbagi foto, Instagram. Pada akun tersebut, dia meminta para follower-nya untuk mengirimkan foto orang-orang yang mereka anggap murahan dan pelacur di Gothenburg, baik laki-laki maupun perempuan.

Akun ini ternyata disambut sangat antusias. Lebih dari 200 foto beserta nama-nama, paling muda berusia 13 tahun, dikirimkan ke akun ini. Juga disertakan daftar "kenakalan seksual" yang dilakukan oleh orang-orang dalam foto itu. 

"Akun ini langsung memiliki follower hingga 7.000 sampai 8.000. Ada foto-foto adik-adik kawan saya, yang lahir sekitar tahun 1997, yang diunggah di akun itu," kata seorang warga kepada koran  Swedia, Aftonbladet. 

Pihak Instagram telah menghapus akun tersebut. Namun, pemiliknya memindahkan foto-foto itu ke akun baru di Facebook. Di Facebook, para penentang akun ini lantas menggalang perlawanan dan berjanji akan berkumpul di sekolah Plusgymnasiet, SMA yang diyakini tempat belajar pemilik akun itu.

Polisi sempat kewalahan saat para pemuda mulai merusak lampu jalan dan menginjak-injak mobil yang diparkir. Sebanyak 27 orang ditahan dalam peristiwa itu. Tidak ada korban luka.

Sementara itu, gadis pembuat akun yang dirahasiakan namanya itu telah dilarikan polisi ke tempat yang aman.  "Kami akan berbicara padanya dan menyelidiki apakah ada tindak kriminal yang dilakukannya," kata juru bicara kepolisian Gothenburg kepada BBC.

Sunday, 30 December 2012

Dua Kampung Bentrok di Seram Barat, Polisi Klaim Sudah Aman. Ada informasi lima orang diperiksa, namun Polda Maluku belum tahu

Pantai Kuako di Pulau Seram
Pascabentrok antara Desa Kamariang dan Desa Hualoy, Kabupaten Seram Bagian Baray, Maluku, empat orang saksi dikabarkan telah diamankan Polres Kabupaten Seram Bagian Barat, Minggu 30 Desember 2012. Dari informasi yang dihimpun, para saksi yang diamankan polisi adalah warga Desa Hualoy yakni Junus Wakano, Abdul Rahim Wakano, Hasan Hehanussa, dan Ahmad Toisutta.

Meski demikian, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah  Maluku Ajun Komisaris Besar Saleh Mukaddar belum bisa mengonfirmasi. "Kami belum tahu apakah sudah ada pemeriksaan terhadap saksi atau belum," kata Mukkadar saat dihubungi VIVAnews.

Kalaupun ada penahanan, kata Mukaddar, pastinya akan disampaikan kepada pihak Polda Maluku sebagai atase tertinggi Polri di Maluku. Tapi sampai sore ini, Polda Maluku belum juga mendapat laporan resmi dari Polres SBB.

"Polda hanya mem-back up proses hukum yang dilakukan Polres SBB, tapi setiap perkembangan akan tetap disampaikan kepada Polda  Maluku," ujar mantan Kapolres Seram Bagian Timur tersebut.

Mukaddar menjelaskan, proses hukum akan tetap dilakukan, tapi kemungkinan baru akan maksimal dilakukan oleh petugas reserse Polres SBB yang dibantu Polda Maluku ketika situasi sudah benar-benar tenang.

"Kami belum bisa melakukan penyidikan, penyelidikan atau pemeriksaan. Kami akan lihat situasi dulu, yang pasti proses penegakan hukum tetap akan dilakukan," kata Mukaddar yang mengaku situasi di kedua desa sudah aman, arus transformasi di jalan Trans Seram juga mulai ramai setelah adanya pengamanan dari dua pelaton Brimob Polda Maluku yang diterjunkan, Minggu malam.

Sebelumnya, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri, Brigadir Jenderal Boy Rafli Amar menyatakan lima orang meninggal akibat bentrokan antarkampung ini. Boy mengungkapkan, kejadian berawal dari Jumat 28 Desember 2012, yaitu ketika akan dilaksanakan pelantikan Raja Desa Kamarin, Seram Bagian Barat. Dalam pelantikan itu, warga Sepa, Maluku Tengah, diundang karena masih dalam kekerabatan atau gandong.

"Dalam perjalanan menuju Kamarin melewati Desa Hualoy, mobil rombongan warga Sepa menyenggol salah satu warga Hualoy yang mabuk," ujarnya.

Akibat kejadian itu, Boy menambahkan, warga Hualoy menunggu warga Sepa yang akan kembali dari menghadiri pelantikan Raja Kamarin untuk melakukan tindakan balasan. "Sekitar jam 14.30 terjadilah bentrok yang menyebabkan korban lima meninggal dunia dan beberapa luka luka," ujarnya.

Tuesday, 25 December 2012

Bentrok Ormas di Bali, Mengapa Mudah Tersulut? Bentrokan terjadi gara-gara penjualan petasan dan kembang api

Dua ormas di Bali terlibat bentrokan
Minggu malam, 23 Desember 2012, keheningan Kota Denpasar tiba-tiba pecah. Massa dari dua ormas, Laskar Bali dan Pemuda Padang Sambin Bersatu, terlibat bentrokan di sekitar Jalan Mahendradatta dan Jalan Buana Raya. Bentrokan terjadi gara-gara penjualan petasan dan kembang api untuk tahun baru.

Rangkaian kejadian itu bermula pada Sabtu 22 Desember 2012. Awalnya, anggota kelompok Pemuda Padang Sambian Bersatu melakukan sweepingterhadap toko-toko yang menjual petasan untuk tahun baru. Kelompok pemuda ini tidak ingin ada penjualan petasan dan kembang api di daerahnya sebelum mendekati puncak perayaan tahun baru.

Dalam sweeping tersebut, Pemuda Padang Sambian menemukan toko milik Paulina menjual petasan dan kembang api untuk tahun baru. Namun, toko Paulina merasa memiliki izin. Sehingga toko tersebut tetap menjual petasan dan kembang api. Toko Paulina bahkan meminta dukungan kepada kelompok lain, Laskar Bali. 

Ketegangan pun terjadi hari itu. "Namun tidak sampai berujung bentrok," kata Kepala Sub Bagian Humas Polresta Denpasar, Ajun Komisaris Ida Bagus Made Sarjan, kepada VIVAnews, Senin 24 Desember 2012. 

Kersokan harinya, Minggu 23 Dersember 2012, massa dari Laskar Bali menggelar konvoi menuju Mengwi. Mereka hendak menghadiri perayaan ulang tahun rekan mereka, Korlap Laskar Bali wilayah Mengwi. Konvoi tersebut melewati Mahendradatta dan Buana Raya. "Tempat di mana mereka terlibat ketegangan kemarin hari gara-gara toko Paulina," kata Sarjana.

Mengetahui iring-iringan Laskar Bali melintasi daerah mereka, Pemuda Padang Sambian Bersatu mempersiapkan diri. Informasi yang mereka peroleh massa Laskar Bali akan menyerang Pemuda Padang Sambian Bersatu. 

"Timbul kesalahpahaman. Pemuda Padang Sambian Bersatu memukul kul-kul," kata Sarjana. Kul-kul merupakan kentongan yang dibunyikan sebagai pertanda bahaya mengancam desa mereka berdasar kebiasaan adat Bali. Semua penduduk, tua, muda, laki-laki dan perempuan harus siap mati dalam pertempuran menghalau bahaya.

Saat iring-iringan Laskar Bali melintas, ketegangan tak bisa dihindarkan. Massa yang sudah mempersenjatai diri dengan senjata tajam terlibat adu mulut. Saat itulah, massa menjadi beringas. Mereka melakukan perusakan. Dua mobil dirusak, tujuh motor dibakar. "Itu terjadi sekitar pukul 23.10 WITA," ujar Sarjana.

Hanya dalam tempo beberapa menit saja Polresta Denpasar tiba di lokasi yang memang tak jauh dari Mapolresta itu. Dibantu Dalmas dan Brimobda Polda Bali, kedua kelompok massa dihalau agar tak terjadi bentrok fisik. Meski berhasil dihalau, konsentrasi massa masih terlihat.

"Sekitar pukul 23.00 WITA hujan turun, namun masa masih terkonsentrasi di sekitar RS Bali Medika dan toko swalayan Nirmala. Polisi hujan-hujanan menghalau massa," terang Sarjana.

Ketegangan terus berlanjut hingga Senin dini hari, 24 Desember 2012. Massa di Jalan Mahendradatta dan Jalan Buana Raya baru bisa dibubarkan pada pukul 05.00 WITA. Dari inventarisir polisi, ternyata tidak hanya dua mobil dan tujuh motor yang menjadi sasaran. Sebuah Posko milik Laskar Bali di Jalan Buana Raya 2, Padang Sambian, juga dibakar massa.

Berdamai

Polisi bertindak cepat. Mereka tidak ingin kerusuhan itu meluas menjadi lebih besar lagi. Polresta Denpasar langsung mengumpulkan tokoh kedua ormas. Bertempat di Mapolresta Denpasar, proses mediasi dilakukan dengan difasilitasi polisi. "Kedua ormas sepakat untuk menahan diri dan tidak melakukan serangan," tutur Sarjana.

Menurut Sarjana, dalam pertemuan damai tersebut, Laskar Bali dihadiri Gung Kusuma dan Ketut Rochineng, sementara dari Pemuda Padang Sambian Bersatu dihadiri oleh Gung Cilik. "Mereka sepakat damai," kata dia.

Selain tokoh kedua ormas, pertemuan itu juga dihadiri oleh Ketua Komisi I DPRD Bali, Made Arjaya. Dari pertemuan tadi juga disepakati untuk mengelar upacara persembahyangan di Pura Besar di sekitar lokasi bentrokan.

Sementara itu, mengenai tujuh motor yang dibakar dan dua mobil yang dirusak dalam kerusuhan itu, sedang dalam pembicaraan untuk mendapat ganti rugi. "Soal motor dan mobil yang rusak akan dibicarakan dengan Pemkot Denpasar. Difasilitasi oleh Ketua Komisi I DPRD Bali Made Arjaya," kata Sarjana.

Meski sudah berdamai, Sarjana memastikan unsur kriminal kasus ini tetap diusut oleh polisi. "Untuk proses hukum tetap dalam penyelidikan," kata dia. Sarjana menambahkan, bentrok yang terjadi mulai pukul 23.10 WITA itu tetap menyisakan pelanggaran hukum.

Aparat kepolisian juga tetap waspada. Meski sudah berangsur kondusif, polisi tetap menempatkan personel di sekitar Jalan Mahendradatta dan Jalan Buana Raya, Denpasar, untuk mengantisipasi bentrok susulan. "Penempatan personel untuk menciptakan suasana aman dan nyaman di tengah-tengah masyarkat," kata Sarjana.

Jaga Bali

Bentrokan antar ormas itu membuat tokoh masyarakat Bali prihatin. Semua ormas yang bertebaran di Bali diminta untuk menjaga keamanan dan perdamaian, bukan malah membuat kekacauan. "Manusia yang hidup di Bali harus menghargai local genius Bali sebagai Pulau Surga yang damai," kata tokoh masyarakat Bali, Made Mudarta saat berbincang dengan VIVAnews.

Ormas, kata dia, basisnya menciptakan keamanan. Sudah semestinya ormas dikonsentrasikan untuk menciptakan suasana tersebut: kedamaian, saling bantu membantu, saling tolong menolong. "Semua harus tunduk pada aturan hukum yang berlaku," tegas tokoh muda Bali ini. 

Menurut Mudarta, bentrok yang terjadi pada Minggu malam itu merupakan bentuk ketidakpercayaan kepada penegak hukum. "Sehingga yang muncul adalah menyelesaikan masalah sendiri. Mestinya masalah sekecil apapun diserahkan kepada yang berwenang," tutur dia.

Ia berharap pihak kepolisian dapat menjalin komunikasi apik dengan ormas yang ada di Bali. "Aparat kepolisian harus memberikan pembinaan. Koordinasi dengan pihak kepolisian harus terjalin," imbuh Mudarta. Ia percaya, orang-orang yang tergabung dalam wadah ormas tertentu merupakan pribadi mulia.

Sementara itu, tokoh pemuda asal Desa Sanur yang juga Ketua Komisi I DPRD Bali, Made Arjaya menegaskan, hal pertama yang penting dilakukan adalah penegakan hukum. "Lalu komitmen untuk menjaga Bali," kata Arjaya yang ikut mendamaikan bentrok sejak kemarin itu.

Ke depan, kata dia, yang penting diperhatikan adalah antisipasi dari pihak kepolisian. "Harapan kita antisipasi lebih dikedepankan. Kemarin itu sudah damai waktu kasus mercon muncul, kok pecah lagi," tanya Arjaya.

Agar peristiwa serupa tak berulang di kemudian hari, Arjaya menyebut setidaknya ada tiga hal yang mesti dilakukan. Pertama, koordinasi antarormas yang difasilitasi pemerintah menjadi penting. "Ormas bisa hidup pasti karena punya lahan. Ada pembiayan dari kegiatan yang mereka gelar. Dari mana biayanya, ini yang harus diidentifikasi dulu. Semua ormas harus dikoordinasikan untuk kebersamaan," kata dia.

Kedua, pengaturan atas pola kerja masing-masing ormas. "Ormas itu bergerak di bidang apa, itu harus ada pengaturan dan pemantauan. Kalau ke luar dari rel, maka ditegur dan dipertanggungjawabkan," ujar tokoh Pemuda Sanur Bersatu itu.

Ketiga, katanya, antara ormas, pemerintah dan stakeholder lainnya itu harus bahu membahu menjaga ketertiban masyarakat Bali. "Caranya jalin komunikasi dan terus lakukan evaluasi. Hal-hal kecil kalau dibiarkan akan menjadi besar," demikian kata Arjaya.

Monday, 24 December 2012

Pesta Joget Picu Bentrokan Warga di Ambon. Pangkalan ojek dan posko pemenangan bakal calon gubernur dibakar

Pihak TNI/Polri juga menyiagakan puluhan personel untuk mengamankan lokasi bentrokan hingga siang ini.
Bentrok antara warga di kawasan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon kembali pecah  pada Minggu 16 Desemeber 2012 dini hari hingga pagi hari. Tak ada korban jiwa.
Tapi, beberapa warga yang ikut bentrokan mengalami luka memar akibat dihantam benda tumpul dan lemparan batu.

Satu pangkalan ojek dan satu posko pemenangan bakal calon gubernur, Bob Putilehalat, ikut dibakar massa. Hal ini memicu konsentrasi massa antara kedua kelompok warga yang bertikai. Padahal, bentrokan sudah sempat mereda.

Beruntung, puluhan personel TNI/Polri yang turun langsung ke tempat kejadian perkara berhasil membubarkan massa yang sebagian besar telah membawa senjata tajam itu.

Dalam rangka mengamankan situasi agar tak meluas, Kapolres Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease beserta Dandim Kota Ambon yang terjun ke TKP, bertemu para tokoh dari kedua kelompok warga yang saling baku hantam itu.

Pihak TNI/Polri juga telah menyiagakan puluhan personel untuk mengamankan lokasi bentrokan hingga siang ini. Kapolres Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease AKBP Suharwiyono mengatakan, bentrokan ini terjadi akibat cekcok antara warga mengenai penyelenggaraan pesta joget.

"Ada kesalahpahaman antara warga akibat pesta joget yang tak memiliki izin. Sehingga ada yang melarang. Hal ini kemudian memicu bentrokan. Bentrokan itu kemudian meluas melibatkan warga lainnya," kata Kapolres di lokasi bentrokan.

Untuk mengatasi agar bentrokan tidak meluas, meski belum ada satu pun pelaku yang ditahan, kapolres telah mengumpulkan para tokoh di kawasan IAIN dan diberi pemahaman agar masing-masing bisa menahan emosi dan menjaga kerukunan antarsesama warga di kawasan tersebut.

Dua Ormas Bali yang Bentrok Akhirnya Sepakat Damai. Namun, polisi menyatakan tetap memproses hukum unsur kriminalnya

Dua ormas di Bali yang bentrok akhirnya berdamai.
Dua ormas yang terlibat bentrok di Denpasar, Laskar Bali dan Pemuda Padang Sambian Bersatu, akhirnya berdamai. Kesepakatan itu dicapai setelah digelar pertemuan kedua kelompok yang dimediasi oleh Polresta Denpasar.

"Kedua ormas sepakat untuk menahan diri dan tidak melakukan serangan," kata Kasubg Humas Polresta Denpasar, Ajun Komisaris Ida Bagus Made Sarjana, kepada VIVAnews, Senin 24 Desember 2012.

Sarjana mengatakan, dalam pertemuan damai tersebut, kedua ormas diwakili oleh pimpinannya masing-masing. "Laskar Bali dihadiri Gung Kusuma dan Ketut Rochineng, sementara dari Pemuda Padang Sambian Bersatu dihadiri oleh Gung Cilik. Mereka sepakat damai," kata Sarjana.

Selain tokoh kedua ormas, pertemuan itu juga dihadiri oleh Ketua Komisi I DPRD Bali, Made Arjaya. Dari pertemuan tadi juga disepakati untuk mengelar upacara persembahyangan di Pura Besar di sekitar lokasi bentrokan.

Sementara itu, mengenai tujuh motor yang dibakar dan dua mobil yang dirusak dalam kerusuhan itu, sedang dalam pembicaraan untuk mendapat ganti rugi. "Soal motor dan mobil yang rusak akan dibicarakan dengan Pemkot Denpasar. Difasilitasi oleh Ketua Komisi I DPRD Bali Made Arjaya," kata Sarjana.
Meski sudah berdamai, Sarjana memastikan unsur kriminal kasus ini tetap diusut oleh polisi. "Untuk proses hukum tetap dalam penyelidikan," kata dia. Sarjana menambahkan, bentrok yang terjadi mulai pukul 23.10 WITA itu tetap menyisakan pelanggaran hukum.

Sementara itu, tambah Sarjana, situasi di lokasi bentrokan sudah kondusif. Tetapi, aparat kepolisian tetap waspada dengan menempatkan personel di sekitar Jalan Mahendradatta dan Jalan Buana Raya, Denpasar, untuk mengantisipasi bentrok susulan.

"Penempatan personil untuk menciptakan suasana aman dan nyaman di tengah-tengah masyarkat," imbuh Sarjana. Polisi, kata Sarjana, akan terus mengupayakan perdamaian itu berlangsung langgeng.
Polresta Denpasar juga terus melakukan koordinasi dengan tokoh masyarakat dan kedua ormas.

Kronologi Bentrok Massa Bali. Dua mobil dan satu posko ormas dirusak, tujuh motor dibakar massa.

Dua ormas di bali terlibat bentrokan
Anggota organisasi massa dari Laskar Bali dan Pemuda Padang Sambin Bersatu terlibat bentrok di Denpasar, Senin dini hari, 24 Desember 2012. Akibatnya, tujuh motor dibakar, dua mobil dirusak. Tak hanya itu, satu posko milik ormas Laskar Bali juga dirusak.

Menurut Kepala Sub Bagian Humas Polresta Denpasar, Ajun Komisaris Ida Bagus Made Sarjan, bentrokan itu berawal pada Sabtu 22 Desember 2012. Saat itu kelompok Pemuda Padang Sambian Bersatu melakukan sweeping terhadap toko-toko yang menjual petasan untuk tahun baru. 

Mereka menemukan toko milik Paulina menjual petasan dan kembang api untuk tahun baru. Padahal sebelumnya telah ada kesepakatan untuk tidak menjual sebelum mendekati puncak perayaan tahun baru.

Namun, lanjut Sarjana, toko Paulina merasa memiliki izin. Sehingga toko tersebut tetap menjual petasan dan kembang api. Toko Paulina kemudian meminta dukungan kepada Laskar Bali. Ketegangan hari itu berlangsung, meski tak sampai menimbulkan bentrok.

Keesokan harinya, Minggu 23 Desember 2012, massa dari Laskar Bali menggelar konvoi menuju Mengwi. Mereka hendak menghadiri perayaan ulang tahun rekan mereka, Korlap Laskar Bali Mengwi. "Massa Laskar Bali melintasi Mahendradatta dan Buana Raya, di mana mereka terlibat ketegangan kemarin hari gara-gara toko Paulina," terang Sarjana kepada VIVAnews.

Mengetahui iring-iringan Laskar Bali melintasi daerah mereka, Pemuda Padang Sambian Bersatu mempersiapkan diri. Informasi yang mereka peroleh massa Laskar Bali akan menyerang Pemuda Padang Sambian Bersatu. "Timbul kesalahpahaman. Pemuda Padang Sambian Bersatu memukul kul-kul," kata Sarjana.

Kul-kul merupakan kentongan yang dibunyikan sebagai pertanda bahaya mengncam desa mereka berdasar kebiasaan adat Bali. Semua penduduk, tua, muda, laki-laki dan perempuan harus siap mati dalam pertempuran menghalau bahaya.

Saat iring-iringan Laskar Bali melintas, ketegangan tak bisa dihindarkan. Massa yang sudah mempersenjatai diri dengan senjata tajam terlibat adu mulut. Saat itu terjadi perusakan mobil dan pembakaran motor. "Itu terjadi sekitar pukul 23.10 WITA," kata Sarjana.

Hanya dalam tempo beberapa menit saja Polresta Denpasar tiba di lokasi yanf memang tak jauh dari Mapolresta itu. Dibantu Dalmas dan Brimobda Polda Bali, kedua massa dihalau agar tak terjadi bentrok fisik. Meski berjasil dihalau, konsentrasi massa masih terpusat.

"Sekitar pukul 23.00 WITA hujan turun, namun masa masih terkonsentrasi di sekitar RS Bali Medika dan swalayan Nirmala. Polisi hujan-hujanan menghalau massa," terang Sarjana.

Hingga dini hari sekitar pukul 05.00 WITA, massa di Jalan Mahendradatta dan Jalan Buana Raya, Denpasar mulai mencair. Dari inventarisir kejadian, diketahui sebuah Posko milik LB di Jalan Buana Raya 2, Padang Sambian, dibakar massa.

Juga tujuh sepeda motor juga dibakar massa serta dua mobil Mitsubishi Pajero B 911 RIO dan Toyota Hartop DK867 BP, turut dirusak massa. Semua sepeda motor yang dibakar massa telah diamankan di Polresta Denpasar untuk barang bukti dan kepentingan penyelidikan.