KEBINGUNGAN POROS TENGAH

Prabowo Subianto dan  Ketua Umum PPP Suryadharma Ali.Partai Persatuan Pembangunan (PPP) resmi berkoalisi dengan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Jumat, 18 April 2014, kedua partai mendeklarasikan Prabowo Subianto sebagai calon presiden di kantor Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PPP di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat.

Ketua Umum PPP Suryadharma Ali, yang akrab disapa SDA, menegaskan partainya sudah menetapkan untuk menjalin koalisi dengan Gerindra. Koalisi ini menurut SDA merupakan kesepakatan secara bulat dari seluruh pengurus di Dewan Pimpinan Pusat (DPP) partainya.

"Koalisi sudah mengkristal. Ketua umum bersama pengurus DPP sepakat  berkoalisi dengan Pak Prabowo," katanya di kantor DPP PPP, Jakarta, Jumat 18 April 2014.

Tidak hanya berhenti pada koalisi resmi kedua partai, SDA juga menyatakan dukungan penuh dari PPP terhadap pencalonan Prabowo sebagai calon presiden (Capres). “Kami menilai Prabowo cocok memimpin Indonesia ke depan. Ini menurut pandangan kami. Yang lain mungkin punya pandangan berbeda,” kata SDA.

Menurut SDA, koalisinya dengan partai Gerindra adalah karena kesamaan visi dan misi untuk membuat Bangsa Indonesia lebih baik ke depan. Namun, ia tidak bersedia menjelaskan kesepakatan politik kedua partai dalam koalisi ini.

"Seluruhnya diarahkan untuk kepentingan bangsa. Bersatu dulu, kita punya visi dan misi yang sama untuk memperjuangkan bangsa ini. Tidak ada politik transaksi," ujarnya.

Ketika ditanya soal kemungkinan dijagokan sebagai calon wakil presiden (Cawapres), SDA enggan menjawab apakah dia disiapkan untuk menduduki kursi cawapres mendampingi Prabowo. "Saya tidak mau mengandai-andai, mengalir saja. Apa yang akan terjadi nanti kita lihat nanti," katanya.

Namun, PPP sepertinya tak bulat memberikan suara pada Prabowo. Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Muhammad Romahurmuziy tak hadir dalam pendeklarasian Prabowo.

Saat dihubungi VIVAnews, Romi menyatakan partainya tetap membuka diri untuk menjalin koalisi dengan partai-partai lain. "Kemarin malam sudah ada pertemuan sebelumnya dengan partai Islam, menurut saya Poros Tengah hanya sebuah alternatif saja, sebagai pemecah kebuntuan istilahnya," kata Romi ketika dihubungi VIVAnews, 18 April 2014.

Romi mengatakan, pertemuan semalam hanya sebatas pertemuan politik saja dan bukan pertemuan yang langsung menuju ke arah pengambilan keputusan. Menurutnya, PPP juga tidak menutup kemungkinan akan menyerukan koalisi ramping yang terdiri dari empat partai yaitu Partai Demokrasi

Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) dan terakhir adalah PPP.

Direktur Eksekutif Lingkar Madani (Lima) Indonesia, Ray Rangkuti menilai koalisi antara Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) yang baru saja diresmikan oleh Ketua Umum PPP, Suryadharma Ali dan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto adalah koalisi yang membingungkan.

Pasalnya menurut Ray, baru Kamis 17 April malam kemarin, PPP melakukan pertemuan dengan partai-partai Islam dan memunculkan opsi Koalisi Indonesia Raya. "Belum apa-apa sudah berkoalisi, jadi apa gunanya pertemuan kemarin malam, apa untungnya jika ujung-ujungnya partai nasional lagi yang memegang kekuasaan," kata Ray ketika dihubungi VIVAnews, Jumat 18 April 2014.

Saat ini Ray melihat cita-cita yang diusung oleh partai-partai Islam telah memudar. Menurut Ray yang tersisa hanya sebuah kesepakatan untuk mendapatkan keuntungan yang diraih untuk kepentingan masing-masing.

Poros Tengah Didekati Prabowo

Pencalonan Prabowo oleh PPP jelas memperkuat langkah Prabowo mendekati partai-partai Islam. PPP dan Gerindra 'melangkahi' hasil pertemuan tertutup selama tiga jam semalam, antara petinggi partai-partai Islam yang juga dihadiri oleh sejumlah tokoh Islam.

Pertemuan yang dihadiri Ketua Majelis Pertimbangan Partai Amanat Nasional (PAN), Amien Rais, Bendahara Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Bacruddin Nasori, Sekjen Majelis Pertimbangan PAN, Azwar Abubakar, dan Presiden Partai Keadilan Sejahtera, (PKS) Anis Matta, bersama dengan  tokoh-tokoh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), dan MUI itu sepertinya baru sebatas forum silaturahmi. Usai pertemuan, Amien Rais mengatakan pihaknya tengah menyatukan pendapat tentang koalisi ini.

"Jadi, tadi saya dengar sendiri teman-teman parpol Islam ini akan bekerja sama, menyetel orkes yang indah begitu, kemudian mencari platform. Memang tidak mungkin tanpa kekuatan lain," kata Amien.

Senada dengan Amien, Anis Matta, mengemukakan hal yang sama. Anis mengatakan bahwa mereka tengah menyamakan pandangan tentang koalisi.

"Targetnya hanya menyamakan persepsi dulu bahwa perolehan suara parpol Islam sangat signifikan. Ini waktunya untuk memikirkan kemungkinan kita memiliki capres sendiri dari parpol Islam," ujarnya.

Anis mengatakan usai pertemuan itu, akan ada pertemuan selanjutnya untuk membicarakan hal tersebut. Sayangnya, dia tidak menyebutkan waktu pasti pertemuannya. "Masalah ini tidak mungkin diselesaikan dalam satu kali pertemuan, ya," katanya.

Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengapresiasi pertemuan itu. Namun JK mengakui memang sulit menyatukan mereka seperti yang pernah terjadi di tahun 1999 saat mengusung pasangan Presiden Abdurrahman Wahid dan Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri.

"Cita-cita itu kan pasti baik, tetapi kadang tidak mudah dilaksanakan karena masing-masing partai punya cara yang tidak mudah," kata JK di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Semua parpol Islam menurut JK memiliki ideologi yang hampir sama. Namun, di internal partai yang berasas Islam tersebut para elite dan tokohnya memiliki kepentingan yang berbeda-beda.

Mantan Ketua Umum Partai Golongan Karya (Golkar) tersebut mengakui tidak bisa menghadiri pertemuan para elite dan tokoh-tokoh partai Islam tadi malam, lantaran punya agenda lain yang tidak bisa ditinggalkan. JK menambahkan, semua partai itu kini sama, baik itu yang berideologi Islam maupun nasionalis.

"Di mana-mana partai Islam itu sudah nasional semua," ujarnya.

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif mengatakan perolehan suara partai Islam dalam Pemilu legislatif 2014 ini cukup signifikan dan jika bersatu atau berkoalisi maka dapat mengusung calon presiden dan calon wakil presiden. Meski begitu, menurut pria yang akrab disapa Buya ini, untuk mewujudkan partai Islam berkoalisi tidaklah mudah.

Buya Syafii berpendapat, sebaiknya tokoh yang nantinya akan diusung menjadi capres dan cawapres berasal dari tokoh di luar partai Islam. Namun tetap yang santri seperti dalam buku "Tokoh Islam Non Parpol".

"Jika masing-masing parpol berbasis Islam mengusung capresnya masing-masing maka koalisi partai Islam sulit terwujud," kata Buya Syafii di Yogyakarta, Jumat 18 April 2014.

Buya Syafii menambahkan, harus ada kebesaran hati dari partai politik berbasis Islam agar koalisi ini terbentuk. Sebab, pada akhirnya adalah untuk kepentingan umat Islam. "Patut disyukuri perolehan suara partai berbasis agama Islam ini meningkat, karena banyak pihak yang memprediksi suara akan jeblok," ujarnya.

PKB Tak Mau Ikut

Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Kebangkitan Bangsa (DPP PKB),  Marwan Ja'far, mengatakan partainya cenderung berkoalisi dengan partai berbasis nasionalis dari pada partai berbasis Islam. Alasannya, ia tidak melihat figur yang bisa menjadi pemimpin dari partai berbasis Islam.

"Belum ada figur yang mampu menjadi kandidat capres atau cawapres dalam kerangka partai berbasis Islam. Saat ini kondisinya dilematis," katanya di Jakarta, Jumat 18 April 2014.

Dia meragukan berbagai tokoh partai Islam yang saat ini muncul ke permukaan. Para tokoh tersebut dianggapnya dalam posisi yang belum meyakinkan untuk menjadi capres ataupun cawapres.

"Kalau toh mau, belum tentu mampu. Kalau toh mampu, belum tentu mau. Kondisinya sangat dilematis," ungkapnya.

Ia menambahkan alasannya, yakni sampai saat ini belum ada tokoh Islam yang punya elektabilitas dan popularitas tinggi, hingga mampu bersaing dengan tokoh dari partai nasionalis. Ini penting di mana persaingan pilpres sangat mengutamakan figur. "Sementara, waktu untuk mendongkrak popularitas dan elektabilitas sangat mepet," katanya.

Sisi finansial partai Islam menjadi perhatian Marwan. Menurutnya biaya kampanye dalam pemilihan presiden sangat tinggi. Ia meragukan partai Islam mempunyai kemampuan finansial.

"Mulai sosialisasi, membuat iklan, kunjungan ke daerah hingga membantu relawan pembentukan tim sukses, semuanya itu membutuhkan biaya tinggi," ujarnya.

Menurut Marwan dalam situasi politik yang dinamis, semua kemungkinan bisa terjadi. Menurutnya politik sangat dinamis dan penuh nuansa ketidakpastian. Marwan menekankan dalam politik kontemporer Indonesia sudah tidak relevan lagi mendikotomikan antara partai berbasis nasionalis dengan partai berbasis Islam.

"Islam itu rahmatan lil'alamin. Segala kemungkinan politik sedang kami kaji secara mendalam dan komprehensif. Dalam konteks Indonesia, Islam tidak perlu diformalisasikan, tapi dilaksanakan secara substantif. Yang penting spirit Islam mewarnai Indonesia," katanya.

Diposkan oleh Ainut Tijar di Jumat, April 18, 2014 0 komentar

UANG ADALAH TUHAN

Mayer Amschel Rothschild (1744-1812), pendiri House of Rothschild
Mungkin hal yang paling penting untuk mengetahui tentang kekuasaan di dunia saat ini adalah bahwa sebagian besar negara tidak memiliki kontrol atas mata uang mereka sendiri. Sebaliknya swasta, bank nirlaba pusat - seperti Federal Reserve System di AS - membuat uang dari apa-apa dan kemudian meminjamkannya dengan bunga kepada pemerintah masing-masing. Ini adalah penipuan yang sangat menguntungkan, tapi itu bukan yang terburuk.



Tidak hanya bank sentral memiliki kekuatan untuk menciptakan uang secara gratis , mereka juga memiliki kekuatan untuk menetapkan suku bunga , untuk memutuskan berapa banyak kredit yang dikeluarkan , dan untuk memutuskan berapa banyak uang yang dimasukkan ke dalam sirkulasi . Dengan kekuatan ini bank sentral dapat - dan melakukan - mengatur siklus boom dan bust , memungkinkan pemilik super- kaya bank untuk mendapatkan keuntungan dari investasi selama booming , dan membeli aset-aset dengan harga murah selama patung . Dan itu masih belum keseluruhan cerita .

Yang paling menguntungkan dari semua kegiatan bank sentral adalah pembiayaan perang besar , terutama dua Perang Dunia . Ketika negara-negara yang terlibat dalam peperangan , dengan kelangsungan hidup mereka dipertaruhkan , pemerintah menguras sumber daya mereka untuk batas dalam kompetisi untuk menang . Perjuangan untuk mendapatkan lebih banyak pendanaan menjadi sama pentingnya dengan kompetisi di medan perang . Rentenir, cinta peminjam ( per-kreditan ) yang putus asa , dan kekayaan besar telah dibuat dengan memperluas kredit kepada kedua belah pihak dalam konflik : semakin lama perang terus berlanjut , semakin banyak keuntungan bagi bank sentral .

Kekayaan terpusat Menghasilkan Daya yang lebih

Beberapa laki-laki terbesar di Amerika Serikat yang takut akan sesuatu. Mereka tahu ada kekuatan di suatu tempat, sangat terorganisir, begitu halus, begitu waspada, sehingga saling bertautan, begitu lengkap, begitu meluas bahwa mereka lebih baik tidak berbicara atas napas mereka ketika mereka berbicara dalam kutukan itu.

- Woodrow Wilson (1856-1924), Presiden ke-28 Amerika Serikat

Sistem politik kami, berdasarkan partai yang bersaing untuk terpilih, secara intheren rentan terhadap korupsi. Sama seperti perjuangan untuk pembiayaan adalah penting dalam kampanye militer, jadi itu penting dalam kampanye politik. Donor kaya bisa mendapatkan perlakuan khusus, ketika datang ke undang-undang dan regulasi yang mempengaruhi kepentingan bisnis mereka. Korupsi seperti ini, bagaimanapun, adalah hanya puncak gunung es.

Cara yang lebih efektif bahwa kekayaan diterjemahkan menjadi kekuatan adalah dengan menempatkan agen - individu yang setia kepada pendukung kaya - ke posisi pengaruh dan kekuasaan. Sebagai contoh, ketika Rothschild dan Rockefeller bergabung untuk mendirikan Federal Reserve , mereka merekrut seorang profesor diketahui , Woodrow Wilson , berjanji untuk membuat Presiden , dan dijamin janji kembali, bahwa ia akan menandatangani RUU Federal Reserve ketika saatnya tiba .

Dengan pengaruh mereka atas bos partai , kontrol mereka terhadap surat kabar , dan pendanaan terbatas , mereka mampu mendapatkan Wilson terpilih . Dia mungkin kemudian menyesali tawar-menawar dengan setan , seperti yang disarankan dalam kutipan di atas .

Sebuah contoh yang lebih modern adalah Obama , yang pada tahun 2009 ditugaskan oleh Henry Kissinger ( dirinya agen kunci dari Rockefeller ) untuk menciptakan sebuah " tatanan dunia baru . " Seperti Wilson , Obama muncul dari politik mana, yang meroket ke Kepresidenan , dan membuktikan kesetiaannya di kantor . Dalam kasus Obama , ini terlibat segera mengubah Gedung Putih ke agen pusat - bankir dari Wall Street - Timothy Geithner dan teman-temannya . Mereka membuat kebijakan; Obama membuat pidato .

Hal semacam ini telah berlangsung selama berabad-abad , pertama di Eropa dan kemudian di Amerika Serikat . Apa yang dimulai sebagai penempatan agen kunci telah berkembang dari waktu ke waktu . Apa yang kita miliki sekarang adalah sebuah web internasional kontrol , dengan agen kunci ditempatkan dalam partai politik , pemerintah dan lembaga mereka , media , papan perusahaan , badan intelijen , dan militer . Di tengah-tengah web adalah dinasti bank sentral - Dewa Uang - yang tetap sebagian besar di belakang layar , menarik helai kekuasaan yang sesungguhnya .


Teknik Transformasi

Dalam politik , tidak ada yang terjadi secara kebetulan . Jika itu terjadi, Anda dapat bertaruh itu direncanakan dengan cara itu.

- Franklin D. Roosevelt (1882-1945) , Presiden ke-32 Amerika Serikat

Apakah Anda pernah melamun tentang apa yang akan Anda lakukan jika Anda memiliki kekayaan dan kekuasaan ? Untuk beberapa jawabannya mungkin kehidupan luang dan kesenangan , tapi bagi banyak pikiran mereka akan beralih ke mengubah dunia , membuat dunia 'lebih baik' .

Contoh ikon akan Bill Gates , yang lebih suka menggunakan sebagian besar kekayaannya untuk membuat perubahan di dunia - terutama hubungannya dengan pengurangan populasi - daripada mengabdikan untuk mengumpulkan kekayaan lebih besar .

Para Dewa Uang ( The Gods Of Money) seperti itu . Mereka punya kekayaan dan kekuasaan , lebih besar , selama beberapa generasi , dan tidak seperti Anda dan saya , mereka dapat melakukan lebih dari lamunan . Usaha mereka telah terlibat dalam selama beberapa abad belum mengumpulkan lebih banyak kekayaan , melainkan telah mengubah dunia ke dalam jenis yang diinginkan mereka sendiri fiefdom pribadi . Mereka telah mencapai ini dalam serangkaian proyek transformasional pada skala global. Apa yang disebut sebagai ' The New World Order ' hanyalah terbaru dalam proyek seri ini .

The Great America Project : Sebuah Basis Ideal Operasi

Ketika koloni Amerika mencapai kemerdekaan dari Inggris , sebuah negara baru diciptakan yang jelas memiliki potensi untuk menjadi kekuatan dunia benar-benar hebat . Sebuah benua besar , lebih besar dari seluruh Eropa , dan dengan sumber daya yang sangat besar , yang tersedia untuk ditaklukkan dan dieksploitasi . Jika Rothschild bisa menguasai Amerika , mereka bisa menggunakannya sebagai basis operasi untuk mengkonsolidasikan kekuasaan mereka secara global .

Tahun 1800-an AS tumbuh menjadi kekuatan industri yang tangguh . Kami meng-asosiasikan kenaikan ini berkuasa dengan nama-nama seperti Carnegie , Mellon , JP Morgan , dan Rockefeller , yang kemudian dikenal sebagai ' baron perampok ' . Namun itu Rothschild uang , dan bank , yang memainkan peran utama dalam pembiayaan proyek industrialisasi ini Rothschild -linked . Keluarga Rothschild dengan hati-hati mempersiapkan basis masa depan mereka operasi . JD Rockefeller adalah yang terbesar dari para baron perampok , dan ia mampu bergabung dengan Dewa Uang pantheon pada kurang lebih sama dengan istilah Rothschild .

Dengan AS didirikan sebagai kekuatan industri utama , langkah berikutnya adalah untuk Dewa Uang untuk mengambil kontrol yang kuat dari raksasa ini mereka membantu menciptakan . Seperti dijelaskan di atas , ini dicapai dengan biasa di belakang layar manipulasi melalui penciptaan Federal Reserve pada tahun 1913 .

Proyek Perang Dunia 1

Langkah berikutnya adalah untuk memainkan kekuatan Eropa melawan satu sama lain . Dengan dukungan dari Rothschild , seperti yang dijelaskan dalam buku Hidden History (lihat sidebar di halaman 14 edisi ini New Dawn ) , sebuah komplotan rahasia elit Inggris rekayasa ' Perang Besar ' dengan Jerman , yang industri dan kekuatan finansial mulai gerhana bahwa dari Kerajaan Inggris . Tujuannya komplotan rahasia adalah untuk melestarikan supremasi Inggris . Para Dewa Uang , bagaimanapun, memainkan permainan yang lebih dalam . Jerman kalah perang , tapi itu adalah AS yang muncul sebagai penerima manfaat utama , bukan Inggris .

Sementara negara-negara Eropa yang melelahkan diri dalam perang , AS memasok mereka dengan cara-cara untuk melakukannya , dan persediaan tersebut sedang dibayar oleh kredit dimungkinkan oleh Federal Reserve baru - yang telah didirikan tepat pada waktunya untuk tujuan itu . Ketika perang berakhir , kekuatan Eropa berutang jumlah astronomi ke AS , dan AS telah sangat memperluas kapasitas industri dalam proses penyediaan bahan perang .

Sebelum perang , AS, Inggris , dan Jerman yang lebih atau kurang setara sebagai kekuatan industri . Dengan hanya keterlibatan militer diabaikan , AS muncul dari perang jauh kekuatan industri terbesar, dan negara terkaya di dunia juga. Namun AS hanya satu Power Besar di antara banyak . Itu tidak memiliki armada kelas dunia juga tidak memiliki tentara yang kelas dunia

Diposkan oleh Ainut Tijar di Jumat, April 18, 2014 0 komentar

POROS TENGAH JILID II, APAKAH MUNGKIN?

Warna-warni atribut kampanye Pemilu 2014Wacana menggabungkan partai Islam untuk membentuk Poros Tengah Jilid II mulai muncul. Ide menghidupkan lagi Poros Tengah ini mencuat seiring meningkatnya konstelasi politik paska pemilihan umum legislatif dan menjelang pemilihan presiden yang akan digelar Juli nanti. Poros Tengah pernah digagas Amien Rais pada pemilu 1999 lalu.

Seperti diketahui, dari hasil hitung cepat lembaga survei tidak ada partai yang sanggup mendulang suara 20 persen. Dari hasil ini dipastikan juga bahwa tidak ada partai politik yang dapat mengajukan calon presiden dan calon wakil presiden secara mandiri.

Sejumlah pertemuan elit politik pun digelar, termasuk dari kalangan partai Islam, yang kemudian memicu munculnya wacana Poros Tengah Jilid II. Misalnya saja pertemuan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Suryadharma Ali dengan bakal calon presiden yang diusung Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Rhoma Irama, beberapa waktu lalu. Suryadharma bahkan membenarkan bahwa maksud pertemuan itu antara lain untuk membahas koalisi Poros Tengah.

Pertemuan itu, kata dia, bakal digelar kembali. Meski akan menggalang kekuatan partai Islam, tapi menurut Suryadharma, Poros Tengah Jilid II terbuka juga bagi partai-partai lain. SDA optimistis koalisi Poros Tengah dapat mengusung calon presiden alternatif.

"Saya yakin bisa ada Poros Tengah biasa atau Poros Tengah Plus seperti dua periode belakangan," kata Suryadharma di kantor Dewan Pimpinan Pusat PPP, Jakarta, Selasa 15 April 2014.

Rhoma Irama mengamini ucapan SDA. Koalisi partai Islam, kata dia, sangat terbuka. Bahkan, koalisi partai Islam juga terbuka bagi partai nasionalis. Sebelumnya, Raja Dangdut itu juga telah bertemu dengan Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Amanat Nasional (PAN). Ada respons baik dari kedua partai itu, kata Rhoma.

PKS menyatakan kesiapannya menggalang kekuatan partai Islam maupun partai yang berbasis massa Islam untuk menghadapi pemilihan presiden pada 9 Juli 2014. Kesiapan tersebut dikemukakan oleh anggota Majelis Syuro PKS, Refrizal. "Kami siap untuk menjadi konsolidator," katanya.

Menurut Refrizal, bila suara partai Islam dan berbasis Islam digabungkan maka hasilnya akan lebih besar dibanding perolehan suara partai-partai yang berada di peringkat tiga besar.

Namun, Ketua Fraksi PKS Hidayat Nur Wahid menyampaikan kalau partainya tetap membuka komunikasi dengan partai lain. PKS saat ini sedang menjalani komunikasi dengan PDIP, Gerindra, dan Golkar. Tapi siapa yang akan menjadi mitra koalisi diputuskan Majelis Syuro PKS. Begitu juga nasib tiga kandidat calon presiden PKS.

Tetapi Anggota Komisi Pertahanan DPR itu tetap yakin terbentuknya Poros Tengah yang terdiri dari partai-partai Islam mungkin saja terjadi pada periode pemerintahan mendatang. Poros Tengah, kata dia, bisa terjadi jika partai telah mengetahui perolehan suara yang dikeluarkan resmi Komisi Pemilihan Umum.

"Terjadinya Poros Tengah sangat terbuka. Kita mendukung, tapi itu tidak boleh diartikan telah terjadi tim poros idealisme karena partai islam juga bagian yang konstitusional di Indonesia," katanya.

PKS sendiri mempersilakan Partai Kebangkitan Bangsa untuk memprakarsai terbentuknya poros Islam jilid II itu. Sebab, berdasarkan hitung cepat, PKB ada di urutan tertinggi dari partai Islam lainnya.

"Sekarang ini kalau merujuk pada quick count, suara tertinggi partai Islam merujuk pada PKB, karenanya saya mengusulkan agar PKB mengambil prakarsa atau inisiatif," katanya.

Krisis Sosok Kuat
PKB dalam hitung cepat memperoleh suara sekitar 9 persen. Sementara partai bernuansa Islam lainnya, seperti PAN mendapatkan sekitar 8 persen, PPP sekira 7 persen dan PKS sekitar 7 persen. Jika membentuk Poros Tengah, jumlah suara yang terkumpul lebih dari 30 persen, lebih dari cukup untuk mengusung capres sendiri. Tapi permasalahannya, belum ada sosok capres yang dianggap cukup kuat yang bisa mewakili gabungan partai ini.

Apalagi, beberapa partai terang-terangan tidak setuju dengan wacana ini. Partai Amanat Nasional (PAN) misalnya, secara tegas sudah menolak ajakan untuk menggalang koalisi partai-partai Islam. Ketua Umum Partai Amanat Nasional, Hatta Rajasa bahkan tak mau menggunakan lagi istilah Poros Tengah untuk menyebut kumpulan partai tengah yang berkoalisi. Menurutnya, Poros Tengah itu istilah yang digunakan di masa lalu.

"Kondisinya sangat berbeda dan sudah tidak relevan lagi," kata Hatta di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Rabu 16 April 2014.

Menurut Hatta, partainya tidak menutup kemungkinan bekerjasama dengan partai-partai tengah itu lagi meskipun dengan nama yang berbeda. Dia juga menyadari jika partai-partai tengah itu kembali berkoalisi, maka bisa membentuk kekuatan baru. Namun, Hatta belum menutup kesempatan untuk berkomunikasi dengan partai-partai lain. PAN saat ini sedang mendekati Gerindra, PDIP dan Demokrat.

"Biarkan saja partai-partai melakukan pendekatan koalisi, jangan terkotak-kotak yang membuat kita tersekat-sekat untuk membuat bangsa itu bersama-sama," katanya.

Menurut politisi PAN, Nasril Bahar, koalisi yang akan dilakukan partainya tujuannya untuk kepentingan nasional, bukan kepentingan kelompok tertentu. Apabila koalisi dibangun dengan menggunakan kekuatan Islam, maka hal tersebut justru akan merugikan PAN. Sebab partainya telah diterima semua golongan, termasuk di luar kelompok Islam.

Poros tengah adalah kekuatan politik partai-partai Islam yang eksis pada tahun 1999. Saat itu himpunan partai politik Islam yang terdiri dari PPP, PAN, PKB, PK dan PBB, mengusung Abdurrahman Wahid dalam pemilihan presiden yang dipilih oleh MPR dalam Sidang Umum MPR tahun 1999 dan sukses dalam pemilihan presiden.

Keinginan membentuk kembali Poros Tengah Jilid II bisa jadi dilandasi pikiran bahwa kondisi saat ini seperti suasana Pemilihan Presiden pada 1999. Poros Tengah sendiri digagas Amien Rais yang menjabat sebagai Ketua Majelis Pertimbangan PAN.

Soal Poros Tengah Jilid II ini, pengamat politik dari LIPI, Profesor Siti Zuhro berpandangan apa yang terjadi saat ini baru sekadar semangat.

"Semangatnya saja. Baru semangat ketika pemilu 2014 memberikan berkah. Mereka happy banget. Tapi ini baru menyadarkan mereka semua, kalau mereka bersatu ada jumlah 32 persen dan bisa dikerjasamakan. Bila terwujud ini tentu luar biasa," katanya.

Meski begitu, masih banyak hambatan yang akan dihadapi partai-partai yang bersatu untuk membentuk Poros Tengah. Hambatan egosektoral dengan orientasi masing-masing partai belum terlihat bisa diselesaikan.

"Mereka belum selesai dengan orientasi masing-masing. Sub-sub ideologi dan pemimpin yang belum ada menjadi masalah," katanya.

Karena itu, kesepakatan untuk menetapkan siapa calon yang akan diusung harus lebih awal diselesaikan agar Poros Tengah benar-benar dapat terbentuk. Hubungan yang kuat atau chemistry sangat diperlukan agar tidak ada partai yang merasa dikebawahkan.

"Diselesaikan dan harusnya dikonsesikan, bahwa masyarakat diperlihatkan pilihan-pilihan," katanya.

Diposkan oleh Ainut Tijar di Kamis, April 17, 2014 0 komentar

Sejumlah Politikus Beken Tergusur dari Senayan

http://www.voiceofbandung.com/foto_berita/5ruhut.jpgPenghitungan suara - termasuk rekapitulasi - Pemilu Legislatif di Komisi Pemilihan Umum (KPU) belum selesai. Namun, berdasarkan hasil hitung cepat sejumlah lembaga survei sudah ada gambaran cukup jelas partai-partai mana yang dapat jatah kursi lebih banyak dan mana yang kali ini lebih sedikit di parlemen - baik tingkat pusat (DPR) dan daerah (DPRD) - untuk lima tahun ke depan.

Bahkan, Pemilu 9 April lalu mulai menunjukkan siapa-siapa saja politikus, yang selama ini menguasai Senayan, harus tersingkir. Ini dialami para politisi dari Partai Demokrat, yang perolehan suaranya anjlok.
Ada pula ironi yang dialami politisi top dari "kubu pemenang" Pemilu Legislatif, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Walau sudah keluar modal lebih dari semiliar, dia sudah pasrah bakal tergusur dari DPR karena perolehan suara partainya tidak sebesar yang ditargetkan.
Tidak hanya mereka, para petahana (incumbent) dari partai-partai lain juga terancam harus angkat kaki dari DPR maupun DPRD karena raihan suara yang minim.  Nama-nama beken dari Golkar, PKS, dan Hanura pun harap-harap cemas soal posisi mereka di DPR.
Hitung cepat (quick count) versi Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Network menempatkan PDI Perjuangan unggul dalam perolehan suara pemilihan legislatif dengan 19,77 persen, dibayangi Golkar di urutan kedua dengan 14,61 persen dan di posisi ketiga Partai Gerindra dengan perolehan suara 11,80 persen.

Selanjutnya diikuti Partai Demokrat 9,73 persen, PKB 9,07 persen, PAN 7,47 persen, PPP 7,08 persen, PKS 6,61 persen, Nasdem 6,24 persen, Hanura 5,26 persen, PBB 1,36 persen, dan PKPI 0,97 persen.

Sementara itu, menurut hasil hitung cepat Saiful Mujani Research and Consulting (SRMC), PDIP mendapat 18,9 persen, Golkar 14,88 persen, Gerindra 11,93 persen, Demokrat 10,02 persen, PKB 9,08 persen, PAN  7,7 persen, PKS 6,9 persen, PPP 6,3 persen, Nasdem 6,6 persen, Hanura 5,2 persen, PBB 1,4 persen dan PKPI 1,0 persen.

Dari perolehan suara itu, SRMC memprediksi PDIP akan memperoleh jatah paling sedikit 105 kursi dan paling banyak 117 kursi di DPR. Disusul Golkar 85-97 kursi, Gerindra 69-78 kursi, Demokrat 57-68 kursi, PKB 42-52 kursi, PAN 38-48 kursi, PKS 35-45 kursi, Nasdem 31-34 kursi, PPP 27 kursi, Hanura 16-27 kursi, PBB 0 kursi dan PKPI 0 kursi.

Modal Banyak
 Ketua DPR RI Marzuki Alie gagal lolos ke DPR
Meski PDIP menjadi pemenang pileg versi hasil hitung cepat, tidak menjamin Eva Kusuma Sundari kembali lolos ke parlemen. Politikus PDIP yang kini duduk di Komisi III DPR RI itu kembali maju menjadi caleg DPR RI untuk daerah pemilihan Jawa Timur VI dengan nomor urut 3. Di dapilnya Eva bersaing dengan rekan separtainya, seperti Wakil Ketua DPR RI Pramono Anung dan mantan Bupati Blitar Djarot Saiful Hidayat.
"Peluang saya kecil. Saya duga karena serangan fajar," kata Eva saat
dihubungi VIVAnews, Kamis 17 April 2014.

Eva mengaku sudah menghabiskan uang kampanye sekitar Rp1,5 miliar. Uang tersebut dia rogoh dari koceknya sendiri dengan cara yang lurus, dan bukan hutang. Dia mendapat informasi, sejumlah caleg bahkan harus menggelontorkan uang hingga Rp10 miliar untuk biaya kampanye.

"Kampanye lurus itu maksudnya benar-benar ke lapangan dan bertemu dengan pemilih, bukan hanya tim sukses," kata dia.  Eva mengaku sudah turun ke dapilnya, Jawa Timur VI, sejak 6 bulan sebelum pemilu untuk bertemu dengan calon pemilih di Kabupaten Tulungagung, Kota Kediri, Kota Blitar, Kabupaten Kediri, dan Kabupaten Blitar. S

Anggota Komisi Hukum DPR ini pun menyampaikan kemungkinannya kembali ke Senayan sangat kecil. Eva trauma suaranya hancur setelah ada caleg yang siram uang ke pemilih menjelang penyoblosan, 9 April lalu. 

Meski begitu, Eva tak mau menyalahkan calon pemilih yang lebih tertarik pada uang, ketimbang janji dan kontrak politik selama lima tahun. "Saya menyalahkan sistem pemilu kita. Saat Pemilu 2004, tidak parah begini," ujarnya.

Menurutnya, sistem Pemilu 2009 dan 2014 mengubah tingkah laku partai politik, caleg, dan pemilih. Saat ini, caleg yang populer dan banyak uanglah yang bisa memenangkan pertarungan. "Partai politik pun akhirnya mencari pengusaha dan artis yang tingkat keterpilihannya tinggi," terang Eva.

Setali tiga uang, rekan Eva di Komisi III dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Ahmad Yani juga terancam tergusur dari kursi dewan. Yani yang merupakan caleg PPP nomor urut 1 dapil Sumatera Selatan 1 itu masih optimis bisa kembali merebut kursi parlemen. Dia mengklaim ada di posisi keempat dari 8 kursi yang diperebutkan.

"Cuma saya merasakan betul pemilu ini dibanding dulu. Transaksinya luar biasa. Belum siap demokrasi langsung," kata Yani 

Yani mengaku masih menemukan banyak pelanggaran jelang pencoblosan 9 April lalu. Diantaranya manipulasi suara, mobilisasi massa yang dilakukan oleh oknum pejabat pemda sampai politik uang. Bahkan politikus yang dikenal vokal itu berniat mundur sebagai anggota DPR RI bila proses pemilu dilakukan dengan cara-cara kotor.

"Kita tidak bisa mendapat anggota yang baik kalau dalam suasana seperti sekarang ini. Bahkan saya yakin tingkat korupsi semakin meningkat dibandingkan 2009. Saya meyakinkan betul, karena mereka harus mengembalikan uang. Nggak ada demokrasi, mabokrasi kita ini. Penyelenggara pemilunya juga kacau," paparnya.

Sementara itu, dua politisi Golkar, Nudirman Munir dan Tantowi Yahya masih optimistis bisa kembali melenggang ke Senayan. Nudirman yang maju sebagai caleg Golkar dari dapil Sumatera Barat II nomor urut 2 itu mengakui perolehan suaranya tahun 2014 ini tidak signifikan seperti tahun 2009 lalu. Bahkan di beberapa daerah yang semula menjadi lumbung suaranya justru kini berimbang.

"Saya melihat di tempat-tempat tertentu menang, tidak terpengaruh. Ada yang menang ada yang kalah. Di Cikariang (Kab Agam) itu saya menang, di Kab Pasaman tadinya saya menang sekarang fifty-fifty," ujar Nudirman.

Anggota Komisi III DPR itu menyesalkan masih terjadinya politik uang yang dilakukan secara masif dan terang-terangan. Dia khawatir orang-orang yang terpilih di parlemen nanti, adalah mereka yang dipilih karena uang dan popularitasnya semata, bukan karena kualitasnya. Meski begitu, mantan Wakil Ketua Badan Kehormatan DPR itu pasrah dengan pilihan rakyat.

"Ya kalau gagal mau ngapain kita sudah berusaha, kita serahkan Allah SWT. Mau ngotot bukan zamannya lagi, kita minta ke Mabes Polri untuk bertindak bila ada kecurangan. Itu aja harapan kita kedepan," ujarnya.

Adapun Tantowi Yahya, caleg Golkar nomor urut satu yang maju dari Dapil III DKI Jakarta yang meliputi, Jakarta Barat, Jakarta Utara, Kepulauan Seribu sangat yakin perolehan suaranya saat ini paling tinggi dibandingkan caleg Partai Golkar lainnya.

"Perolehan suara saya tertinggi dibanding teman-teman caleg Golkar," kata Tantowi
, Kamis 17 April 2014. Di dapil ini, kursi DPR RI yang diperebutkan sebanyak 8 kursi.

Anggota Komisi 1 DPR itu mengaku sudah melakukan sosialisasi sejak lama. Dengan popularitasnya saat ini, ditambah intensitasnya dalam menyosialisasikan diri, Tantowi yakin akan dipilih masyarakat.

"Modal saya kan populer. Saya turun ke masyarakat jauh lebih lama dibanding teman sesama partai. Bahkan lebih lama dari caleg manapun. Saya punya jaringan. Di Jakarta Barat, di Jakarta Utara, mesin saya kuat," Tantowi menjelaskan.  


Caleg Demokrat Berguguran

Ketua DPR RI Marzuki Alie gagal lolos ke DPRDari 10 partai yang lolos ambang batas parlemen, Partai Demokrat lah yang paling banyak kehilangan kursi di DPR. Dengan perolehan suara yang sekitar 9-10 persen versi hitung cepat, partai berlambang mercy itu diprediksi hanya memperoleh 57-68 kursi di parlemen. Jatah tersebut menurun drastis dari perolehan kursi Demokrat pada pemilu 2009 lalu sebanyak 148 kursi.
Ketua DPR RI Marzuki Alie gagal lolos ke DPRSejumlah nama politikus beken Demokrat terancam tidak akan lolos ke Senayan. Bahkan sesama caleg Demokrat harus bertarung untuk mendapatkan satu kursi tersisa untuk tetap eksis di Senayan. Diantara nama-nama beken politikus Demokrat yang gagal kembali duduk di DPR adalah Ketua DPR RI Marzuki Alie, Ketua Komisi VII Sutan Bhatoegana, Anggota Komisi III Ruhut Sitompul, Anggota Komisi II Ramadhan Pohan dan Wakil Ketua Komisi IX Nova Riyanti Yusuf.

Dihubungi VIVAnews, Marzuki Alie mengaku sudah menduga sejak awal bahwa perolehan suaranya pada pileg tahun 2014 akan anjlok. Penyebabnya kata Marzuki karena memang dia tidak berkampanye di daerah pemilihannya, yakni dapil DKI Jakarta III.

"Saya kan fokusnya menaikkan suara Partai Demokrat, jadi keliling seluruh Indonesia. Saya tidak mengurusi dapil saya sendiri," kata Marzuki yang ditempatkan Demokrat di nomor urut 1 itu. Sehingga, dia sudah menduga tidak lolos ke Senayan.

Marzuki mengaku tak punya pilihan karena kondisi Partai Demokrat di mata publik sedang hancur. "Demokrat kan sedang di-bully media karena kasus korupsi. Saya tidak bisa hanya memikirkan pribadi saya," imbuhnya.

Lagi pula, Marzuki mengaku pernah mengatakan kepada pers bahwa dia memang tidak akan melaju ke Senayan lagi.

Dapil III DKI Jakarta yang disebut dapil neraka itu melingkupi Jakarta Barat, Jakarta Pusat, dan Kepulauan Seribu. Di sini sejumlah pesohor memperebutkan suara. Antara lain: Farhat Abbas (Demokrat), politisi PPP Achmad Dimyati Natakusumah, Nashrullah alias Matsolar (PPP), dan pengacara TPM Poso, Nurlan (PPP).

Lain halnya dengan Marzuki Alie, Ruhut Sitompul justru sudah punya ancang-ancang bila tak lagi terpilih sebagai anggota DPR RI. Ruhut yang maju dari dapil Sumatera Utara 1 itu mengatakan, jika calon presiden yang didukung oleh partainya menang pada pemilihan presiden dan wakil presiden, maka dia akan mendapat kursi jaksa agung.

"Siapa tahu presiden yang kami dukung menang, nanti aku jadi jaksa agung atau menteri hukum dan HAM, lebih keren mana. Jadi harus begitu cara berpikirnya," ujar Ruhut berseloroh.

Tapi politikus Partai Demokrat itu masih optimistis bisa melenggang ke Senayan pada periode 2014-2019. Anggota Komisi Hukum itu mengklaim mendapatkan suara tertinggi dibanding dua koleganya di Demokrat Sutan Bhatoegana dan Ramadhan Pohan. Ruhut, Sutan, dan Ramadhan Pohan sama-sama maju dari daerah pemilihan Sumatera Utara I.

"Sampai sekarang bagus, masih aku yang tertinggi. Ada sekitar 20 ribu suara, kan belum masuk semua, tapi aku yang paling tinggi. Di Dapil aku hampir di semua TPS (tempat pemungutan suara) aku yang pimpin," ujar Ruhut, Kamis, 17 April 2014.

Kolega Ruhut yang juga satu dapil Sumut 1, Sutan Bhatoegana jatuh bangun mempertahankan suaranya untuk bisa eksis di DPR. Meski harus bertarung dengan Ruhut dan Ramadhan Pohan untuk memperebutkan satu kursi ke Senayan, Ketua Komisi VII DPR RI itu tetap optimistis.

"Begini, yang saya investigasi laporan perolehan Demokrat turun. Tapi kalau dilihat capaian orang per orang mestinya saya teratas," kata Sutan.

Sutan menduga ada permainan dalam pengambilan suara di dapilnya. Dia mengaku sudah menurunkan tim untuk melakukan investigasi dan telah menemukan barang bukti terkait adanya praktik curang itu. "Menurut tim saya, suara saya besar. Mudah-mudahan dalam dua hari ini sudah selesai (hasil investigasi tim)," ujarnya.

Ketua DPP Demokrat itu juga tidak khawatir bila tak lagi duduk di Senayan. Baginya, siapapun bisa menjadi anggota dewan yang terhormat, asalkan jujur, bersih dan amanah. "Saya nggak takut. Saya ini pengusaha, kembali jadi pengusaha nggak masalah," kata dia.

Diposkan oleh Ainut Tijar di Kamis, April 17, 2014 0 komentar

 http://www.republika.co.id/berita/hidayat-didik/berita-hidayat-didik/12/06/18/m5t4o5-hidayat-memimpin-mpr-dan-jakarta-itu-mirip

Diposkan oleh Ainut Tijar di Sabtu, Maret 29, 2014 0 komentar

CUMA KAMU, JAKARTA COMEDIAN CLUB

Diposkan oleh Ainut Tijar di Jumat, Maret 14, 2014 0 komentar

TALAK TILU

Diposkan oleh Ainut Tijar di Minggu, Maret 09, 2014 0 komentar

Kala Jepang Keberatan RI Larang Ekspor Produk Tambang Mentah

Kegiatan pengolahan bijih emasPemerintah Jepang akan memperkarakan langkah RI ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) terkait larangan ekspor produk tambang mentah.

Aturan yang dimaksud yakni Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Mineral dan Batu Bara (UU Minerba) yang resmi diberlakukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sejak 12 Januari 2014 lalu.

Jepang menjadi salah satu negara yang keberatan dengan kebijakan itu karena selama ini sudah menikmati membeli bahan tambang mentah dari Indonesia.

Pihak luar negeri membeli mineral mentah dari pengusaha tambang Tanah Air kemudian mengolah dan menjual kembali dengan harga yang lebih mahal dibanding harga belinya.

Dilansir dari kantor berita Reuters, Rabu 19 Februari 2014, yang mengutip pejabat senior di Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri Jepang (METI), mengatakan, pemerintah Negeri Sakura sedang berupaya untuk berdiskusi dengan RI melalui forum WTO pada bulan ini. Apabila isu ini tidak juga terselesaikan, sebuah panel khusus akan dibentuk untuk menangani kasus tersebut.

Kendati begitu, Direktur METI, Osamu Onodera membantah sudah ada keputusan untuk membawa kasus ini ke WTO. Dia menyebut itu baru kemungkinan.

"Membawa isu ini ke forum WTO merupakan salah satu opsi kami. Tetapi kami belum memutuskan apa pun," ujar Onodera yang menangani sengketa dan pemenuhan aturan yang ditetapkan WTO.

Jepang merupakan salah satu produsen baja stainless terbesar di dunia. Para perusahaan asal Negeri Sakura terpaksa harus menghadapi kenyataan biaya produksi yang lebih besar dan berjuang untuk mencari pasokan baru untuk nikel.

Akibat UU yang diberlakukan secara resmi bulan lalu di Indonesia, turut memicu kenaikan harga nikel global. Padahal, Jepang mengimpor 44 persen biji nikel dari Indonesia pada 2012.

Menurut prediksi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada akhir Januari 2014, produksi nikel akan merosot hingga 94 persen menjadi 3,5 juta ton.

Sejak diberlakukannya secara resmi UU Minerba, Pemerintah RI mewajibkan setiap perusahaan mineral dan tambang untuk mengolah dan memurnikan terlebih dahulu bahan mentah tambang dengan menggunakan sebuah fasilitas bernama smelter sebelum diekspor.

Wakil Menteri ESDM, Susilo Siswoutomo, mengatakan, pemerintah akan bertindak tegas, tidak akan memberikan izin ekspor bagi perusahaan yang tidak membangun smelter. Sebab, banyak perusahaan yang mengeluhkan untuk membangun smelter ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Dinilai wajar

Terkait kemungkinan pengaduan kepada badan perdagangan dunia itu, pemerintah Indonesia menilai reaksi Jepang itu wajar.

Menteri Perdagangan, Muhammad Luthfi, mengatakan jika Jepang ingin berkonsultasi terkait larangan itu, pemerintah Indonesia akan membuka diri.

"Ini kan pada dasarnya orang tidak senang. Tetapi, ini kan suatu komitmen juga karena ini amanat undang-undang," ujar Luthfi, Jumat 21 Februari 2014.

Untuk itu, dia menjelaskan, Kemendag akan mempelajari bersama, sehingga aturan tersebut dapat berjalan sesuai amanat undang-undang.

Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Perdagangan, Cris Kanter, mengaku heran dengan rencana pemerintah Jepang tersebut.

"Kalau sebagai pembeli, bukan kewenangan dia (Jepang) untuk menggugat," ujar Cris kepada VIVAnews

Dengan adanya UU ini, pengusaha tambang dilarang menjual enam jenis mineral mentah ke luar negeri yaitu emas, nikel, bauksit, bijih besi, tembaga dan batu bara sebelum diolah.

Pemerintah berharap penerapan regulasi tersebut akan berdampak baik, yakni bisa memberi nilai tambah kepada barang tambang itu, sehingga lebih menguntungkan para pengusaha.

Tidak hanya pihak luar negeri, beberapa perusahaan tambang dalam negeri juga keberatan dengan UU Minerba. Contohnya PT Freeport dan PT Newmont yang sempat mengancam adanya PHK besar-besaran. Bahkan dikabarkan mereka akan membawa masalah tersebut ke arbitrase. Meskipun pada akhirnya kedua perusahaan itu menyatakan akan membangun smelter.

Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Robert O. Blake Jr, memahami pemerintah yang telah memberlakukan UU Minerba. Namun, dia berharap dengan adanya aturan baru itu, tidak lantas menghentikan kontribusi besar yang disumbang oleh PT Freeport dan PT Newmont.

Blake mengingatkan kedua perusahaan itu sudah berkontribusi sebanyak hampir satu persen terhadap Produk Domestik Bruto (GDP) Indonesia.

"Perusahaan itu bahkan telah membuka lapangan pekerjaan bagi lebih dari 100 ribu WNI, khususnya di Papua. Kedua perusahaan itu juga merupakan pembayar pajak terbesar kepada Indonesia," katanya.

Diposkan oleh Ainut Tijar di Sabtu, Februari 22, 2014 1 komentar

GAMBARAN SINGKAT TENTANG APA ITU SUKU MINANGKABAU



http://putrahermanto.files.wordpress.com/2010/09/minangkabau.jpgMinangkabau berasal dari dua kata, minang dan kabau. Nama itu dikaitkan dengan suatu legenda khas Minang yang dikenal di dalam tambo. Dari tambo tersebut, konon pada suatu masa ada satu kerajaan asing (biasa ditafsirkan sebagai Majapahit) yang datang dari laut akan melakukan penaklukan. Untuk mencegah pertempuran, masyarakat setempat mengusulkan untuk mengadu kerbau. Pasukan asing tersebut menyetujui dan menyediakan seekor kerbau yang besar dan agresif, sedangkan masyarakat setempat menyediakan seekor anak kerbau yang lapar. Dalam pertempuran, anak kerbau yang lapar itu menyangka kerbau besar tersebut adalah induknya. Maka anak kerbau itu langsung berlari mencari susu dan menanduk hingga mencabik-cabik perut kerbau besar tersebut. Kemenangan itu menginspirasikan masyarakat setempat memakai nama Minangkabau,   yang berasal dari ucapan "Manang kabau" (artinya menang kerbau). Kisah tambo ini juga dijumpai dalam Hikayat Raja-raja Pasai dan juga menyebutkan bahwa kemenangan itu menjadikan negeri yang sebelumnya bernama Periaman (Pariaman) menggunakan nama tersebut.[16] Selanjutnya penggunaan nama Minangkabau juga digunakan untuk menyebut sebuah nagari, yaitu Nagari Minangkabau, yang terletak di kecamatan Sungayang, kabupaten Tanah Datar, provinsi Sumatera Barat.
Dalam catatan sejarah kerajaan Majapahit, Nagarakretagama  bertarikh 1365, juga telah menyebutkan nama Minangkabwa sebagai salah satu dari negeri Melayu yang ditaklukannya. Begitu juga dalam Tawarikh Ming tahun 1405, terdapat nama kerajaan Mi-nang-ge-bu dari enam kerajaan yang mengirimkan utusan menghadap kepada Kaisar Yongle di Nanjing.  Di sisi lain, nama "Minang" (kerajaan Minanga) itu sendiri juga telah disebutkan dalam Prasasti Kedukan Bukit tahun 682 dan berbahasa Sanskerta. Dalam prasasti itu dinyatakan bahwa pendiri kerajaan Sriwijaya yang bernama Dapunta Hyang bertolak dari "Minānga" ....  Beberapa ahli yang merujuk dari sumber prasasti itu menduga, kata baris ke-4 (...minānga) dan ke-5 (tāmvan....) sebenarnya tergabung, sehingga menjadi mināngatāmvan dan diterjemahkan dengan makna sungai kembar. Sungai kembar yang dimaksud diduga menunjuk kepada pertemuan (temu) dua sumber aliran Sungai Kampar, yaitu Sungai Kampar Kiri dan Sungai Kampar Kanan.  Namun pendapat ini dibantah oleh Casparis, yang membuktikan bahwa "tāmvan" tidak ada hubungannya dengan "temu", karena kata temu dan muara juga dijumpai pada prasasti-prasasti peninggalan zaman Sriwijaya yang lainnya.[21] Oleh karena itu kata Minanga berdiri sendiri dan identik dengan penyebutan Minang itu sendiri.

Asal usul
Dari tambo yang diterima secara turun temurun, menceritakan bahwa nenek moyang mereka berasal dari keturunan Iskandar Zulkarnain. Walau tambo tersebut tidak tersusun secara sistematis dan lebih kepada legenda berbanding fakta serta cendrung kepada sebuah karya sastra yang sudah menjadi milik masyarakat banyak.[5] Namun demikian kisah tambo ini sedikit banyaknya dapat dibandingkan dengan Sulalatus Salatin yang juga menceritakan bagaimana masyarakat Minangkabau mengutus wakilnya untuk meminta Sang Sapurba salah seorang keturunan Iskandar Zulkarnain tersebut untuk menjadi raja mereka.
Masyarakat Minang merupakan bagian dari masyarakat Deutro Melayu (Melayu Muda) yang melakukan migrasi dari daratan China Selatan ke pulau Sumatera sekitar 2.500–2.000 tahun yang lalu. Diperkirakan kelompok masyarakat ini masuk dari arah timur pulau Sumatera, menyusuri aliran sungai Kampar sampai ke dataran tinggi yang disebut darek dan menjadi kampung halaman orang Minangkabau.[23] Beberapa kawasan darek ini kemudian membentuk semacam konfederasi yang dikenal dengan nama luhak, yang selanjutnya disebut juga dengan nama Luhak Nan Tigo, yang terdiri dari Luhak Limo Puluah, Luhak Agam, dan Luhak Tanah Data.   Pada masa pemerintahan Hindia-Belanda, kawasan luhak tersebut menjadi daerah teritorial pemerintahan yang disebut afdeling, dikepalai oleh seorang residen yang oleh masyarakat Minangkabau disebut dengan nama Tuan Luhak. 
Sementara seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan penduduk, masyarakat Minangkabau menyebar ke kawasan darek yang lain serta membentuk beberapa kawasan tertentu menjadi kawasan rantau. Konsep rantau bagi masyarakat Minang merupakan suatu kawasan yang menjadi pintu masuk ke alam Minangkabau. Rantau juga berfungsi sebagai tempat mencari kehidupan, kawasan perdagangan. Rantau di Minangkabau dikenal dengan Rantau Nan Duo terbagi atas Rantau di Hilia (kawasan pesisir timur) dan Rantau di Mudiak (kawasan pesisir barat).
Pada awalnya penyebutan orang Minang belum dibedakan dengan orang Melayu, namun sejak abad ke-19, penyebutan Minang dan Melayu mulai dibedakan melihat budaya matrilineal yang tetap bertahan berbanding patrilineal yang dianut oleh masyarakat Melayu umumnya.   Kemudian pengelompokan ini terus berlangsung demi kepentingan sensus penduduk maupun politik.


 Agama
Masyarakat Minang saat ini merupakan pemeluk agama Islam, jika ada masyarakatnya keluar dari agama Islam (murtad), secara langsung yang bersangkutan juga dianggap keluar dari masyarakat Minang, dalam istilahnya disebut "dibuang sepanjang adat". Agama Islam diperkirakan masuk melalui kawasan pesisir timur, walaupun ada anggapan dari pesisir barat, terutama pada kawasan Pariaman, namun kawasan Arcat (Aru dan Rokan) serta Inderagiri yang berada pada pesisir timur juga telah menjadi kawasan pelabuhan Minangkabau, dan Sungai Kampar maupun Batang Kuantan berhulu pada kawasan pedalaman Minangkabau. Sebagaimana pepatah yang ada di masyarakat, Adat manurun, Syarak mandaki (Adat diturunkan dari pedalaman ke pesisir, sementara agama (Islam) datang dari pesisir ke pedalaman),  serta hal ini juga dikaitkan dengan penyebutan Orang Siak merujuk kepada orang-orang yang ahli dan tekun dalam agama Islam,[26] masih tetap digunakan di dataran tinggi Minangkabau.
Sebelum Islam diterima secara luas, masyarakat ini dari beberapa bukti arkeologis menunjukan pernah memeluk agama Buddha terutama pada masa kerajaan Sriwijaya, Dharmasraya, sampai pada masa-masa pemerintahan Adityawarman dan anaknya Ananggawarman. Kemudian perubahan struktur kerajaan dengan munculnya Kerajaan Pagaruyung yang telah mengadopsi Islam dalam sistem pemerintahannya, walau sampai abad ke-16, Suma Oriental masih menyebutkan dari tiga raja Minangkabau hanya satu yang telah memeluk Islam.
Kedatangan Haji Miskin, Haji Sumanik dan Haji Piobang dari Mekkah sekitar tahun 1803,  memainkan peranan penting dalam penegakan hukum Islam di pedalaman Minangkabau. Walau pada saat bersamaan muncul tantangan dari masyarakat setempat yang masih terbiasa dalam tradisi adat, dan puncak dari konflik ini muncul Perang Padri sebelum akhirnya muncul kesadaran bersama bahwa adat berasaskan Al-Qur'an.

 .
Adat dan budaya
Menurut tambo, sistem adat Minangkabau pertama kali dicetuskan oleh dua orang bersaudara, Datuk Ketumanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sebatang. Datuk Ketumanggungan mewariskan sistem adat Koto Piliang yang aristokratis, sedangkan Datuk Perpatih mewariskan sistem adat Bodi Caniago yang egaliter. Dalam perjalanannya, dua sistem adat yang dikenal dengan kelarasan ini saling isi mengisi dan membentuk sistem masyarakat Minangkabau.
Dalam masyarakat Minangkabau, ada tiga pilar yang membangun dan menjaga keutuhan budaya serta adat istiadat. Mereka adalah alim ulama, cerdik pandai, dan ninik mamak, yang dikenal dengan istilah Tungku Tigo Sajarangan. Ketiganya saling melengkapi dan bahu membahu dalam posisi yang sama tingginya. Dalam masyarakat Minangkabau yang demokratis dan egaliter, semua urusan masyarakat dimusyawarahkan oleh ketiga unsur itu secara mufakat.


Matrilineal
Matrilineal merupakan salah satu aspek utama dalam mendefinisikan identitas masyarakat Minang. Adat dan budaya mereka menempatkan pihak perempuan bertindak sebagai pewaris harta pusaka dan kekerabatan. Garis keturunan dirujuk kepada ibu yang dikenal dengan Samande (se-ibu), sedangkan ayah mereka disebut oleh masyarakat dengan nama Sumando (ipar) dan diperlakukan sebagai tamu dalam keluarga.
Kaum perempuan di Minangkabau memiliki kedudukan yang istimewa sehingga dijuluki dengan Bundo Kanduang, memainkan peranan dalam menentukan keberhasilan pelaksanaan keputusan-keputusan yang dibuat oleh kaum lelaki dalam posisi mereka sebagai mamak (paman atau saudara dari pihak ibu), dan penghulu (kepala suku). Pengaruh yang besar tersebut menjadikan perempuan Minang disimbolkan sebagai Limpapeh Rumah Nan Gadang (pilar utama rumah).   Walau kekuasaan sangat dipengaruhi oleh penguasaan terhadap aset ekonomi namun kaum lelaki dari keluarga pihak perempuan tersebut masih tetap memegang otoritas atau memiliki legitimasi kekuasaan pada komunitasnya.
Bahasa
Bahasa Minangkabau termasuk salah satu anak cabang rumpun bahasa Austronesia. Walaupun ada perbedaan pendapat mengenai hubungan bahasa Minangkabau dengan bahasa Melayu, ada yang menganggap bahasa yang dituturkan masyarakat ini sebagai bagian dari dialek Melayu, karena banyaknya kesamaan kosakata dan bentuk tuturan di dalamnya, sementara yang lain justru beranggapan bahasa ini merupakan bahasa mandiri yang berbeda dengan Melayu serta ada juga yang menyebut bahasa Minangkabau merupakan bahasa Proto-Melayu.  Selain itu dalam masyarakat penutur bahasa Minang itu sendiri juga sudah terdapat berbagai macam dialek bergantung kepada daerahnya masing-masing.
Pengaruh bahasa lain yang diserap ke dalam bahasa Minang umumnya dari Sanskerta, Arab, Tamil, dan Persia. Kemudian kosakata Sanskerta dan Tamil yang dijumpai pada beberapa prasasti di Minangkabau telah ditulis menggunakan bermacam aksara di antaranya Dewanagari, Pallawa, dan Kawi. Menguatnya Islam yang diterima secara luas juga mendorong masyarakatnya menggunakan Abjad Jawi dalam penulisan sebelum berganti dengan Alfabet Latin.
Meskipun memiliki bahasa sendiri, orang Minang juga menggunakan bahasa Melayu dan kemudian bahasa Indonesia secara meluas. Historiografi tradisional orang Minang, Tambo Minangkabau, ditulis dalam bahasa Melayu dan merupakan bagian sastra Melayu atau sastra Indonesia lama.   Suku Minangkabau menolak penggunaan bahasa Minangkabau untuk keperluan pengajaran di sekolah-sekolah.[35] Bahasa Melayu yang dipengaruhi baik secara tata bahasa maupun kosakata oleh bahasa Arab telah digunakan untuk pengajaran agama Islam. Pidato di sekolah agama juga menggunakan bahasa Melayu. Pada awal abad ke-20 sekolah Melayu yang didirikan pemerintah Hindia Belanda di wilayah Minangkabau mengajarkan ragam bahasa Melayu Riau, yang dianggap sebagai bahasa standar dan juga digunakan di wilayah Johor, Malaysia. Namun kenyataannya bahasa yang digunakan oleh sekolah-sekolah Belanda ini adalah ragam yang terpengaruh oleh bahasa Minangkabau.
Guru-guru dan penulis Minangkabau berperan penting dalam pembinaan bahasa Melayu Tinggi. Banyak guru-guru bahasa Melayu berasal dari Minangkabau, dan sekolah di Bukittinggi merupakan salah satu pusat pembentukan bahasa Melayu formal. Dalam masa diterimanya bahasa Melayu Balai Pustaka, orang-orang Minangkabau menjadi percaya bahwa mereka adalah penjaga kemurnian bahasa yang kemudian menjadi bahasa Indonesia itu.


Kesenian
Masyarakat Minangkabau memiliki berbagai macam atraksi dan kesenian, seperti tari-tarian yang biasa ditampilkan dalam pesta adat maupun perkawinan. Di antara tari-tarian tersebut misalnya tari pasambahan merupakan tarian yang dimainkan bermaksud sebagai ucapan selamat datang ataupun ungkapan rasa hormat kepada tamu istimewa yang baru saja sampai, selanjutnya tari piring merupakan bentuk tarian dengan gerak cepat dari para penarinya sambil memegang piring pada telapak tangan masing-masing, yang diiringi dengan lagu yang dimainkan oleh talempong dan saluang.
Silek atau Silat Minangkabau merupakan suatu seni bela diri tradisional khas suku ini yang sudah berkembang sejak lama. Dewasa ini Silek tidak hanya diajarkan di Minangkabau saja, namun juga telah menyebar ke seluruh Kepulauan Melayu bahkan hingga ke Eropa dan Amerika. Selain itu, adapula tarian yang bercampur dengan silek yang disebut dengan randai. Randai biasa diiringi dengan nyanyian atau disebut juga dengan sijobang, dalam randai ini juga terdapat seni peran (acting) berdasarkan skenario.
Selain itu, Minangkabau juga menonjol dalam seni berkata-kata. Terdapat tiga genre seni berkata-kata, yaitu pasambahan (persembahan), indang, dan salawat dulang. Seni berkata-kata atau bersilat lidah, lebih mengedepankan kata sindiran, kiasan, ibarat, alegori, metafora, dan aforisme. Dalam seni berkata-kata seseorang diajarkan untuk mempertahankan kehormatan dan harga diri, tanpa menggunakan senjata dan kontak fisik.


Olahraga
Pacuan kuda merupakan olahraga berkuda yang telah lama ada di nagari-nagari Minang, dan sampai saat ini masih diselenggarakan oleh masyarakatnya, serta menjadi perlombaan tahunan yang dilaksanakan pada kawasan yang memiliki lapangan pacuan kuda. Beberapa pertandingan tradisional lainnya yang masih dilestarikan dan menjadi hiburan bagi masyarakat Minang antara lain lomba pacu jawi dan pacu itik. sipak rago,atau nama lainnya sepak takraw adalah olah raga masyarakat tradisional minang yang dimainkan sedikitnya lima atau empat orang, bolanya terbuat dari anyaman rotan, bola ditendang dari setinggi pinggang sampai setinggi kepala oleh sekelompok orang yang berdiri melingkar, dalam hikayat dan novel serta beberapa film seperti film sengsara membawa nikmat ada menyinggung masalah olahraga sipak rago ini.

Rumah adat
Rumah adat Minangkabau disebut dengan Rumah Gadang, yang biasanya dibangun di atas sebidang tanah milik keluarga induk dalam suku tersebut secara turun temurun. Rumah adat ini dibuat berbentuk empat persegi panjang dan dibagi atas dua bagian muka dan belakang. Umumnya berbahan kayu, dan sepintas kelihatan seperti bentuk rumah panggung dengan atap yang khas, menonjol seperti tanduk kerbau yang biasa disebut gonjong[42] dan dahulunya atap ini berbahan ijuk sebelum berganti dengan atap seng. Di halaman depan Rumah Gadang, biasanya didirikan dua sampai enam buah Rangkiang yang digunakan sebagai tempat penyimpanan padi milik keluarga yang menghuni Rumah Gadang tersebut.
Hanya kaum perempuan bersama suaminya beserta anak-anak yang menjadi penghuni Rumah Gadang, sedangkan laki-laki kaum tersebut yang sudah beristri, menetap di rumah istrinya. Jika laki-laki anggota kaum belum menikah, biasanya tidur di surau. Surau biasanya dibangun tidak jauh dari komplek Rumah Gadang tersebut, selain berfungsi sebagai tempat ibadah, juga berfungsi sebagai tempat tinggal lelaki dewasa namun belum menikah.
Dalam budaya Minangkabau, tidak semua kawasan boleh didirikan Rumah Gadang. Hanya pada kawasan yang telah berstatus nagari saja rumah adat ini boleh ditegakkan. Oleh karenanya di beberapa daerah rantau Minangkabau seperti Riau, Jambi, Negeri Sembilan, pesisir barat Sumatera Utara dan Aceh, tidak dijumpai rumah adat bergonjong.

Perkawinan
Dalam adat budaya Minangkabau, perkawinan merupakan salah satu peristiwa penting dalam siklus kehidupan, dan merupakan masa peralihan yang sangat berarti dalam membentuk kelompok kecil keluarga baru pelanjut keturunan. Bagi lelaki Minang, perkawinan juga menjadi proses untuk masuk lingkungan baru, yakni pihak keluarga istrinya. Sementara bagi keluarga pihak istri, menjadi salah satu proses dalam penambahan anggota di komunitas Rumah Gadang mereka.
Dalam prosesi perkawinan adat Minangkabau, biasa disebut baralek, mempunyai beberapa tahapan yang umum dilakukan. Dimulai dengan maminang (meminang), manjapuik marapulai (menjemput pengantin pria), sampai basandiang (bersanding di pelaminan). Setelah maminang dan muncul kesepakatan manantuan hari (menentukan hari pernikahan), maka kemudian dilanjutkan dengan pernikahan secara Islam yang biasa dilakukan di masjid, sebelum kedua pengantin bersanding di pelaminan. Pada nagari tertentu setelah ijab kabul di depan penghulu atau tuan kadi, mempelai pria akan diberikan gelar baru sebagai panggilan penganti nama kecilnya. Kemudian masyarakat sekitar akan memanggilnya dengan gelar baru tersebut. Gelar panggilan tersebut biasanya bermulai dari sutan, bagindo atau sidi (sayyidi) di kawasan pesisir pantai. Sementara itu di kawasan Luhak Limopuluah, pemberian gelar ini tidak berlaku.

Masakan khas
Masyarakat Minang juga dikenal akan aneka masakannya. Dengan citarasanya yang pedas, membuat masakan ini populer di kalangan masyarakat Indonesia, sehingga dapat ditemukan di hampir seluruh Nusantara.  Di Malaysia dan Singapura, masakan ini juga sangat digemari, begitu pula dengan negara-negara lainnya. Bahkan, seni memasak yang dimiliki masyarakat Minang juga berkembang di kawasan-kawasan lain seperti Riau, Jambi, dan Negeri Sembilan, Malaysia. Salah satu masakan tradisional Minang yang terkenal adalah Rendang, yang mendapat pengakuan dari seluruh dunia sebagai hidangan terlezat.  Masakan lainnya yang khas antara lain Asam Pedas, Soto Padang, Sate Padang, dan Dendeng Balado. Masakan ini umumnya dimakan langsung dengan tangan.
Masakan Minang mengandung bumbu rempah-rempah yang kaya, seperti cabai, serai, lengkuas, kunyit, jahe, bawang putih, dan bawang merah. Beberapa di antaranya diketahui memiliki aktivitas antimikroba yang kuat, sehingga tidak mengherankan jika ada masakan Minang yang dapat bertahan lama.  Pada hari-hari tertentu, masakan yang dihidangkan banyak yang berbahan utama daging, terutama daging sapi, daging kambing, dan daging ayam.
Masakan ini lebih dikenal dengan sebutan Masakan Padang, begitu pula dengan restoran atau rumah makan yang khusus menyajikannya disebut Restoran Padang. Padahal dalam masyarakat Minang itu sendiri, memiliki karakteristik berbeda dalam pemilihan bahan dan proses memasak, bergantung kepada daerahnya masing-masing.
Sosial kemasyarakatan
Persukuan
Suku dalam tatanan Masyarakat Minangkabau merupakan basis dari organisasi sosial, sekaligus tempat pertarungan kekuasaan yang fundamental. Pengertian awal kata suku dalam Bahasa Minang dapat bermaksud satu perempat, sehingga jika dikaitkan dengan pendirian suatu nagari di Minangkabau, dapat dikatakan sempurna apabila telah terdiri dari komposisi empat suku yang mendiami kawasan tersebut. Selanjutnya, setiap suku dalam tradisi Minang, diurut dari garis keturunan yang sama dari pihak ibu, dan diyakini berasal dari satu keturunan nenek moyang yang sama.
Selain sebagai basis politik, suku juga merupakan basis dari unit-unit ekonomi. Kekayaan ditentukan oleh kepemilikan tanah keluarga, harta, dan sumber-sumber pemasukan lainnya yang semuanya itu dikenal sebagai harta pusaka. Harta pusaka merupakan harta milik bersama dari seluruh anggota kaum-keluarga. Harta pusaka tidak dapat diperjualbelikan dan tidak dapat menjadi milik pribadi. Harta pusaka semacam dana jaminan bersama untuk melindungi anggota kaum-keluarga dari kemiskinan. Jika ada anggota keluarga yang mengalami kesulitan atau tertimpa musibah, maka harta pusaka dapat digadaikan.
Suku terbagi-bagi ke dalam beberapa cabang keluarga yang lebih kecil atau disebut payuang (payung). Adapun unit yang paling kecil setelah sapayuang disebut saparuik. Sebuah paruik (perut) biasanya tinggal pada sebuah Rumah Gadang secara bersama-sama.


Nagari
Daerah Minangkabau terdiri atas banyak nagari. Nagari ini merupakan daerah otonom dengan kekuasaan tertinggi di Minangkabau. Tidak ada kekuasaan sosial dan politik lainnya yang dapat mencampuri adat di sebuah nagari. Nagari yang berbeda akan mungkin sekali mempunyai tipikal adat yang berbeda. Tiap nagari dipimpin oleh sebuah dewan yang terdiri dari pemimpin suku dari semua suku yang ada di nagari tersebut. Dewan ini disebut dengan Kerapatan Adat Nagari (KAN). Dari hasil musyawarah dan mufakat dalam dewan inilah sebuah keputusan dan peraturan yang mengikat untuk nagari itu dihasilkan.
Faktor utama yang menentukan dinamika masyarakat Minangkabau adalah terdapatnya kompetisi yang konstan antar nagari, kaum-keluarga, dan individu untuk mendapatkan status dan prestise.  Oleh karenanya setiap kepala kaum akan berlomba-lomba meningkatkan prestise kaum-keluarganya dengan mencari kekayaan (berdagang) serta menyekolahkan anggota kaum ke tingkat yang paling tinggi.
Dalam pembentukan suatu nagari sejak dahulunya telah dikenal dalam istilah pepatah yang ada pada masyarakat adat Minang itu sendiri yaitu Dari Taratak manjadi Dusun, dari Dusun manjadi Koto, dari Koto manjadi Nagari, Nagari ba Panghulu. Jadi dalam sistem administrasi pemerintahan di kawasan Minang dimulai dari struktur terendah disebut dengan Taratak, kemudian berkembang menjadi Dusun, kemudian berkembang menjadi Koto dan kemudian berkembang menjadi Nagari. Biasanya setiap nagari yang dibentuk minimal telah terdiri dari 4 suku yang mendomisili kawasan tersebut. Selanjutnya sebagai pusat administrasi nagari tersebut dibangunlah sebuah Balai Adat sekaligus sebagai tempat pertemuan dalam mengambil keputusan bersama para penghulu di nagari tersebut.

Penghulu
Penghulu atau biasa yang digelari dengan datuk, merupakan kepala kaum keluarga yang diangkat oleh anggota keluarga untuk mengatur semua permasalahan kaum. Penghulu biasanya seorang laki-laki yang terpilih di antara anggota kaum laki-laki lainnya. Setiap kaum-keluarga akan memilih seorang laki-laki yang pandai berbicara, bijaksana, dan memahami adat, untuk menduduki posisi ini. Hal ini dikarenakan ia bertanggung jawab mengurusi semua harta pusaka kaum, membimbing kemenakan, serta sebagai wakil kaum dalam masyarakat nagari. Setiap penghulu berdiri sejajar dengan penghulu lainnya, sehingga dalam rapat-rapat nagari semua suara penghulu yang mewakili setiap kaum bernilai sama.
Seiring dengan bertambahnya anggota kaum, serta permasalahan dan konflik intern yang timbul, maka kadang-kadang dalam sebuah keluarga posisi kepenghuluan ini dipecah menjadi dua. Atau sebaliknya, anggota kaum yang semakin sedikit jumlahnya, cenderung akan menggabungkan gelar kepenghuluannya kepada keluarga lainnya yang sesuku.  Hal ini mengakibatkan berubah-ubahnya jumlah penghulu dalam suatu nagari.
Memiliki penghulu yang mewakili suara kaum dalam rapat nagari, merupakan suatu prestise dan harga diri. Sehingga setiap kaum akan berusaha sekuatnya memiliki penghulu sendiri. Kaum-keluarga yang gelar kepenghuluannya sudah lama terlipat, akan berusaha membangkitkan kembali posisinya dengan mencari kekayaan untuk "membeli" gelar penghulunya yang telah lama terbenam. Bertegak penghulu memakan biaya cukup besar, sehingga tekanan untuk menegakkan penghulu selalu muncul dari keluarga kaya.


Kerajaan
Dalam laporan De Stuers  kepada pemerintah Hindia-Belanda, dinyatakan bahwa di daerah pedalaman Minangkabau, tidak pernah ada suatu kekuasaan pemerintahan terpusat dibawah seorang raja. Tetapi yang ada adalah nagari-nagari kecil yang mirip dengan pemerintahan polis-polis pada masa Yunani kuno.  Namun dari beberapa prasasti yang ditemukan pada kawasan pedalaman Minangkabau, serta dari tambo yang ada pada masyarakat setempat, etnis Minangkabau pernah berada dalam suatu sistem kerajaan yang kuat dengan daerah kekuasaan meliputi pulau Sumatera dan bahkan sampai Semenanjung Malaya. Beberapa kerajaaan yang ada di wilayah Minangkabau antara lain Kerajaan Dharmasraya, Kerajaan Pagaruyung, dan Kerajaan Inderapura.
Sistem kerajaan ini masih dijumpai di Negeri Sembilan, salah satu kawasan dengan komunitas masyarakat Minang yang cukup signifikan. Pada awalnya masyarakat Minang di negeri ini menjemput seorang putra Raja Alam Minangkabau untuk menjadi raja mereka, sebagaimana tradisi masyarakat Minang sebelumnya, seperti yang diceritakan dalam Sulalatus Salatin.

Minangkabau perantauan
Minangkabau perantauan merupakan istilah untuk orang Minang yang hidup di luar kampung halamannya.Bagi laki-laki Minang merantau erat kaitannya dengan pesan nenek moyang “karatau madang di hulu babuah babungo balun” (anjuran merantau kepada laki-laki karena di kampung belum berguna). Dalam kaitan ini harus dikembangkan dan dipahami, apa yang terkandung dan dimaksud “satinggi-tinggi tabangnyo bangau kembalinya ke kubangan juo”. Ungkapan ini ditujukan agar urang Minang agar akan selalu ingat pada ranah asalnya. Merantau merupakan proses interaksi masyarakat Minangkabau dengan dunia luar. Kegiatan ini merupakan sebuah petualangan pengalaman dan geografis, dengan meninggalkan kampung halaman untuk mengadu nasib di negeri orang. Keluarga yang telah lama memiliki tradisi merantau, biasanya mempunyai saudara di hampir semua kota utama di Indonesia dan Malaysia. Keluarga yang paling kuat dalam mengembangkan tradisi merantau biasanya datang dari keluarga pedagang-pengrajin dan penuntut ilmu agama.
Para perantau biasanya telah pergi merantau sejak usia belasan tahun, baik sebagai pedagang ataupun penuntut ilmu. Bagi sebagian besar masyarakat Minangkabau, merantau merupakan sebuah cara yang ideal untuk mencapai kematangan dan kesuksesan. Dengan merantau tidak hanya harta kekayaan dan ilmu pengetahuan yang didapat, namun juga prestise dan kehormatan individu di tengah-tengah lingkungan adat.
Dari pencarian yang diperoleh, para perantau biasanya mengirimkan sebagian hasilnya ke kampung halaman untuk kemudian diinvestasikan dalam usaha keluarga, yakni dengan memperluas kepemilikan sawah, memegang kendali pengolahan lahan, atau menjemput sawah-sawah yang tergadai. Uang dari para perantau biasanya juga dipergunakan untuk memperbaiki sarana-sarana nagari, seperti mesjid, jalan, ataupun pematang sawah.
Etos merantau orang Minangkabau sangatlah tinggi, bahkan diperkirakan tertinggi di Indonesia. Dari hasil studi yang pernah dilakukan oleh Mochtar Naim, pada tahun 1961 terdapat sekitar 32% orang Minang yang berdomisili di luar Sumatera Barat. Kemudian pada tahun 1971 jumlah itu meningkat menjadi 44%.
Berdasarkan sensus tahun 2010, etnis Minang yang tinggal di Sumatera Barat berjumlah 4,2 juta jiwa, dengan perkiraan hampir separuh orang Minang berada di perantauan. Mobilitas migrasi orang Minangkabau dengan proporsi besar terjadi dalam rentang antara tahun 1958 sampai tahun 1978, dimana lebih 80% perantau yang tinggal di kawasan rantau telah meninggalkan kampung halamannya setelah masa kolonial Belanda.
Namun tidak terdapat angka pasti mengenai jumlah orang Minang di perantauan. Angka-angka yang ditampilkan dalam perhitungan, biasanya hanya memasukkan para perantau kelahiran Sumatera Barat. Namun belum mencakup keturunan-keturunan Minang yang telah beberapa generasi menetap di perantauan.
Para perantau Minang, hampir keseluruhannya berada di kota-kota besar Indonesia dan Malaysia. Di beberapa perkotaan, jumlah mereka cukup signifikan dan bahkan menjadi pihak mayoritas. Di Pekanbaru, perantau Minang berjumlah 37,96% dari seluruh penduduk kota, dan menjadi etnis terbesar di kota tersebut. Jumlah ini telah mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun 1971 yang mencapai 65%. 

Gelombang rantau
Merantau pada etnis Minang telah berlangsung cukup lama. Sejarah mencatat migrasi pertama terjadi pada abad ke-7, di mana banyak pedagang-pedagang emas yang berasal dari pedalaman Minangkabau melakukan perdagangan di muara Jambi, dan terlibat dalam pembentukan Kerajaan Malayu. Migrasi besar-besaran terjadi pada abad ke-14, dimana banyak keluarga Minang yang berpindah ke pesisir timur Sumatera. Mereka mendirikan koloni-koloni dagang di Batubara, Pelalawan, hingga melintasi selat ke Penang dan Negeri Sembilan, Malaysia. Bersamaan dengan gelombang migrasi ke arah timur, juga terjadi perpindahan masyarakat Minang ke pesisir barat Sumatera. Di sepanjang pesisir ini perantau Minang banyak bermukim di Meulaboh, Aceh tempat keturunan Minang dikenal dengan sebutan Aneuk Jamee; Barus, Sibolga, Natal, Bengkulu, hingga Lampung.[62] Setelah Kesultanan Malaka jatuh ke tangan Portugis pada tahun 1511, banyak keluarga Minangkabau yang berpindah ke Sulawesi Selatan. Mereka menjadi pendukung kerajaan Gowa, sebagai pedagang dan administratur kerajaan. Datuk Makotta bersama istrinya Tuan Sitti, sebagai cikal bakal keluarga Minangkabau di Sulawesi.[63] Gelombang migrasi berikutnya terjadi pada abad ke-18, yaitu ketika Minangkabau mendapatkan hak istimewa untuk mendiami kawasan Kerajaan Siak.
Pada masa penjajahan Hindia-Belanda, migrasi besar-besaran kembali terjadi pada tahun 1920, ketika perkebunan tembakau di Deli Serdang, Sumatera Timur mulai dibuka. Pada masa kemerdekaan, Minang perantauan banyak mendiami kota-kota besar di Jawa, pada tahun 1961 jumlah perantau Minang terutama di kota Jakarta meningkat 18,7 kali dibandingkan dengan tingkat pertambahan penduduk kota itu yang hanya 3,7 kali,[64] dan pada tahun 1971 etnis ini diperkirakan telah berjumlah sekitar 10% dari jumlah penduduk Jakarta waktu itu.[65] Kini Minang perantauan hampir tersebar di seluruh dunia.

Perantauan intelektual
Pada akhir abad ke-18, banyak pelajar Minang yang merantau ke Mekkah untuk mendalami agama Islam, di antaranya Haji Miskin, Haji Piobang, dan Haji Sumanik. Setibanya di tanah air, mereka menjadi penyokong kuat gerakan Paderi dan menyebarluaskan pemikiran Islam yang murni di seluruh Minangkabau dan Mandailing. Gelombang kedua perantauan ke Timur Tengah terjadi pada awal abad ke-20, yang dimotori oleh Abdul Karim Amrullah, Tahir Jalaluddin, Muhammad Jamil Jambek, dan Ahmad Khatib Al-Minangkabawi.
Selain ke Timur Tengah, pelajar Minangkabau juga banyak yang merantau ke Eropa. Mereka antara lain Abdoel Rivai, Mohammad Hatta, Sutan Syahrir, Roestam Effendi, dan Mohammad Amir. Intelektual lain, Tan Malaka, hidup mengembara di delapan negara Eropa dan Asia, membangun jaringan pergerakan kemerdekaan Asia. Semua pelajar Minang tersebut, yang merantau ke Eropa sejak akhir abad ke-19, menjadi pejuang kemerdekaan dan pendiri Republik Indonesia.

Sebab merantau
Faktor budaya
Ada banyak penjelasan terhadap fenomena ini, salah satu penyebabnya ialah sistem kekerabatan matrilineal. Dengan sistem ini, penguasaan harta pusaka dipegang oleh kaum perempuan sedangkan hak kaum pria dalam hal ini cukup kecil. Selain itu, setelah masa akil baligh para pemuda tidak lagi dapat tidur di rumah orang tuanya, karena rumah hanya diperuntukkan untuk kaum perempuan beserta suaminya, dan anak-anak.
Para perantau yang pulang ke kampung halaman, biasanya akan menceritakan pengalaman merantau kepada anak-anak kampung. Daya tarik kehidupan para perantau inilah yang sangat berpengaruh di kalangan masyarakat Minangkabau sedari kecil. Siapa pun yang tidak pernah mencoba pergi merantau, maka ia akan selalu diperolok-olok oleh teman-temannya.  Hal inilah yang menyebabkan kaum pria Minang memilih untuk merantau. Kini wanita Minangkabau pun sudah lazim merantau. Tidak hanya karena alasan ikut suami, tapi juga karena ingin berdagang, meniti karier dan melanjutkan pendidikan.
Menurut Rudolf Mrazek, sosiolog Belanda, dua tipologi budaya Minang, yakni dinamisme dan anti-parokialisme melahirkan jiwa merdeka, kosmopolitan, egaliter, dan berpandangan luas, hal ini menyebabkan tertanamnya budaya merantau pada masyarakat Minangkabau.[68] Semangat untuk mengubah nasib dengan mengejar ilmu dan kekayaan, serta pepatah Minang yang mengatakan Karatau madang dahulu, babuah babungo alun, marantau bujang dahulu, di rumah paguno balun (lebih baik pergi merantau karena di kampung belum berguna) mengakibatkan pemuda Minang untuk pergi merantau sedari muda.
 
Faktor ekonomi
Penjelasan lain adalah pertumbuhan penduduk yang tidak diiringi dengan bertambahnya sumber daya alam yang dapat diolah. Jika dulu hasil pertanian dan perkebunan, sumber utama tempat mereka hidup dapat menghidupi keluarga, maka kini hasil sumber daya alam yang menjadi penghasilan utama mereka itu tak cukup lagi memberi hasil untuk memenuhi kebutuhan bersama, karena harus dibagi dengan beberapa keluarga. Selain itu adalah tumbuhnya kesempatan baru dengan dibukanya daerah perkebunan dan pertambangan. Faktor-faktor inilah yang kemudian mendorong orang Minang pergi merantau mengadu nasib di negeri orang. Untuk kedatangan pertamanya ke tanah rantau, biasanya para perantau menetap terlebih dahulu di rumah dunsanak yang dianggap sebagai induk semang. Para perantau baru ini biasanya berprofesi sebagai pedagang kecil.
Selain itu, perekonomian masyarakat Minangkabau sejak dahulunya telah ditopang oleh kemampuan berdagang, terutama untuk mendistribusikan hasil bumi mereka. Kawasan pedalaman Minangkabau, secara geologis memiliki cadangan bahan baku terutama emas, tembaga, timah, seng, merkuri, dan besi, semua bahan tersebut telah mampu diolah oleh mereka. Sehingga julukan suvarnadvipa (pulau emas) yang muncul pada cerita legenda di India sebelum Masehi, kemungkinan dirujuk untuk pulau Sumatera karena hal ini.
Pedagang dari Arab pada abad ke-9, telah melaporkan bahwa masyarakat di pulau Sumatera telah menggunakan sejumlah emas dalam perdagangannya. Kemudian dilanjutkan pada abad ke-13 diketahui ada raja di Sumatera yang menggunakan mahkota dari emas. Tomé Pires sekitar abad ke-16 menyebutkan, bahwa emas yang diperdagangangkan di Malaka, Panchur (Barus), Tico (Tiku) dan Priaman (Pariaman), berasal dari kawasan pedalaman Minangkabau. Disebutkan juga kawasan Indragiri pada sehiliran Batang Kuantan di pesisir timur Sumatera, merupakan pusat pelabuhan dari raja Minangkabau.
Dalam prasasti yang ditinggalkan oleh Adityawarman disebut bahwa dia adalah penguasa bumi emas. Hal inilah menjadi salah satu penyebab, mendorong Belanda membangun pelabuhan di Padang  dan sampai pada abad ke-17 Belanda masih menyebut yang menguasai emas kepada raja Pagaruyung. Kemudian meminta Thomas Diaz untuk menyelidiki hal tersebut, dari laporannya dia memasuki pedalaman Minangkabau dari pesisir timur Sumatera dan dia berhasil menjumpai salah seorang raja Minangkabau waktu itu (Rajo Buo), dan raja itu menyebutkan bahwa salah satu pekerjaan masyarakatnya adalah pendulang emas.
Sementara itu dari catatan para geologi Belanda, pada sehiliran Batanghari dijumpai 42 tempat bekas penambangan emas dengan kedalaman mencapai 60 m serta di Kerinci waktu itu, mereka masih menjumpai para pendulang emas.[75] Sampai abad ke-19, legenda akan kandungan emas pedalaman Minangkabau, masih mendorong Raffles untuk membuktikannya, sehingga dia tercatat sebagai orang Eropa pertama yang berhasil mencapai Pagaruyung melalui pesisir barat Sumatera.


Faktor perang
"Orang Minang merupakan masyarakat yang gelisah, dengan tradisi pemberontakan dan perlawanan yang panjang. Selalu merasa bangga dengan perlawanan mereka terhadap kekuatan luar, baik dari Jawa maupun Eropa".[77]
— Pendapat dari Audrey R. Kahin.
Beberapa peperangan juga menimbulkan gelombang perpindahan masyarakat Minangkabau terutama dari daerah konflik, setelah Perang Padri, muncul pemberontakan di Batipuh menentang tanam paksa Belanda, disusul pemberontakan Siti Manggopoh dalam Perang Belasting menentang belasting dan pemberontakan komunis tahun 1926–1927. Setelah kemerdekaan muncul PRRI yang juga menyebabkan timbulnya eksodus besar-besaran masyarakat Minangkabau ke daerah lain.  Dari beberapa perlawanan dan peperangan ini, memperlihatkan karakter masyarakat Minang yang tidak menyukai penindasan. Mereka akan melakukan perlawanan dengan kekuatan fisik, namun jika tidak mampu mereka lebih memilih pergi meninggalkan kampung halaman (merantau). Orang Sakai berdasarkan cerita turun temurun dari para tetuanya menyebutkan bahwa mereka berasal dari Pagaruyung.[78] Orang Kubu menyebut bahwa orang dari Pagaruyung adalah saudara mereka. Kemungkinan masyarakat terasing ini termasuk masyarakat Minang yang melakukan resistansi dengan meninggalkan kampung halaman mereka karena tidak mau menerima perubahan yang terjadi di negeri mereka. De Stuers sebelumnya juga melaporkan bahwa masyarakat Padangsche Bovenlanden sangat berbeda dengan masyarakat di Jawa, di Pagaruyung ia menyaksikan masyarakat setempat begitu percaya diri dan tidak minder dengan orang Eropa. Ia merasakan sendiri, penduduk lokal lalu lalang begitu saja dihadapannya tanpa ia mendapatkan perlakuan istimewa, malah ada penduduk lokal meminta rokoknya, serta meminta ia menyulutkan api untuk rokok tersebut.


Merantau dalam sastra
Fenomena merantau dalam masyarakat Minangkabau, ternyata sering menjadi sumber inspirasi bagi para pekerja seni, terutama sastrawan. Hamka, dalam novelnya Merantau ke Deli, bercerita tentang pengalaman hidup perantau Minang yang pergi ke Deli dan menikah dengan perempuan Jawa. Novelnya yang lain Tenggelamnya Kapal Van der Wijck juga bercerita tentang kisah anak perantau Minang yang pulang kampung. Di kampung, ia menghadapi kendala oleh masyarakat adat Minang yang merupakan induk bakonya sendiri. Selain novel karya Hamka, novel karya Marah Rusli, Sitti Nurbaya dan Salah Asuhannya Abdul Muis juga menceritakan kisah perantau Minang. Dalam novel-novel tersebut, dikisahkan mengenai persinggungan pemuda perantau Minang dengan adat budaya Barat. Novel Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi, mengisahkan perantau Minang yang belajar di pesantren Jawa dan akhirnya menjadi orang yang berhasil. Dalam bentuk yang berbeda, lewat karyanya yang berjudul Kemarau, A.A Navis mengajak masyarakat Minang untuk membangun kampung halamannya yang banyak di tinggal pergi merantau.
Novel yang bercerita tentang perantau Minang tersebut, biasanya berisi kritik sosial dari penulis kepada adat budaya Minang yang kolot dan tertinggal. Selain dalam bentuk novel, kisah perantau Minang juga dikisahkan dalam film Merantau karya sutradara Inggris, Gareth Evans.

Orang Minangkabau dan kiprahnya
Orang Minang terkenal sebagai kelompok yang terpelajar, oleh sebab itu pula mereka menyebar di seluruh Indonesia bahkan manca-negara dalam berbagai macam profesi dan keahlian, antara lain sebagai politisi, penulis, ulama, pengajar, jurnalis, dan pedagang. Berdasarkan jumlah populasi yang relatif kecil (2,7% dari penduduk Indonesia), Minangkabau merupakan salah satu suku tersukses dengan banyak pencapaian.[58] Majalah Tempo dalam edisi khusus tahun 2000 mencatat bahwa 6 dari 10 tokoh penting Indonesia di abad ke-20 merupakan orang Minang. 3 dari 4 orang pendiri Republik Indonesia adalah putra-putra Minangkabau.
Keberhasilan dan kesuksesan orang Minang banyak diraih ketika berada di perantauan. Sejak dulu mereka telah pergi merantau ke berbagai daerah di Jawa, Sulawesi, semenanjung Malaysia, Thailand, Brunei, hingga Philipina. Pada tahun 1390, Raja Bagindo mendirikan Kesultanan Sulu di Filipina selatan.[57] Pada abad ke-14 orang Minang melakukan migrasi ke Negeri Sembilan, Malaysia dan mengangkat raja untuk negeri baru tersebut dari kalangan mereka. Di akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, beberapa ulama Minangkabau seperti Tuan Tunggang Parangan, Dato ri Bandang, Dato ri Patimang, Dato ri Tiro, dan Dato Karama, menyebarkan Islam di Kalimantan, Sulawesi, dan Kepulauan Nusa Tenggara.
Kedatangan reformis Muslim yang menuntut ilmu di Kairo dan Mekkah memengaruhi sistem pendidikan di Minangkabau. Sekolah Islam modern Sumatera Thawalib dan Diniyah Putri, banyak melahirkan aktivis yang berperan dalam proses kemerdekaan, antara lain A.R Sutan Mansur, Siradjuddin Abbas, dan Djamaluddin Tamin.
Pada periode 1920–1960, banyak politisi Indonesia berpengaruh lahir dari ranah Minangkabau. Menjadi salah satu motor perjuangan kemerdekaan Asia, pada tahun 1923 Tan Malaka terpilih menjadi wakil Komunis Internasional untuk wilayah Asia Tenggara. Politisi Minang lainnya Muhammad Yamin, menjadi pelopor Sumpah Pemuda yang mempersatukan seluruh rakyat Hindia-Belanda. Di dalam Volksraad, politisi asal Minang-lah yang paling vokal. Mereka antara lain Jahja Datoek Kajo, Agus Salim, dan Abdul Muis. Tokoh Minang lainnya Mohammad Hatta, menjadi ko-proklamator kemerdekaan Indonesia. Setelah kemerdekaan, empat orang Minangkabau duduk sebagai perdana menteri (Sutan Syahrir, Mohammad Hatta, Abdul Halim, Muhammad Natsir), seorang sebagai presiden (Assaat), seorang sebagai wakil presiden (Mohammad Hatta), seorang menjadi pimpinan parlemen (Chaerul Saleh), dan puluhan yang menjadi menteri, di antara yang cukup terkenal ialah Azwar Anas, Fahmi Idris, dan Emil Salim. Emil bahkan menjadi orang Indonesia terlama yang duduk di kementerian RI. Minangkabau, salah satu dari dua etnis selain etnis Jawa, yang selalu memiliki wakil dalam setiap kabinet pemerintahan Indonesia. Selain di pemerintahan, pada masa Demokrasi liberal parlemen Indonesia didominasi oleh politisi Minang. Mereka tergabung kedalam aneka macam partai dan ideologi, islamis, nasionalis, komunis, dan sosialis.
Selain menjabat gubernur provinsi Sumatera Tengah dan Sumatera Barat, orang Minangkabau juga duduk sebagai gubernur provinsi lain di Indonesia. Mereka adalah Datuk Djamin (Jawa Barat), Daan Jahja (Jakarta), Muhammad Djosan dan Muhammad Padang (Maluku), Anwar Datuk Madjo Basa Nan Kuniang dan Moenafri (Sulawesi Tengah), Adenan Kapau Gani, Mohammad Isa, dan Rosihan Arsyad (Sumatera Selatan), Eny Karim (Sumatera Utara), serta Djamin Datuk Bagindo (Jambi).[82]
Beberapa partai politik Indonesia didirikan oleh politisi Minang. PARI dan Murba didirikan oleh Tan Malaka, Partai Sosialis Indonesia oleh Sutan Sjahrir, PNI Baru oleh Mohammad Hatta, Masyumi oleh Mohammad Natsir, Perti oleh Sulaiman ar-Rasuli, dan Permi oleh Rasuna Said. Selain mendirikan partai politik, politisi Minang juga banyak menghasilkan buku-buku yang menjadi bacaan wajib para aktivis pergerakan.
Penulis Minang banyak memengaruhi perkembangan bahasa dan sastra Indonesia. Mereka mengembangkan bahasa melalui berbagai macam karya tulis dan keahlian. Marah Rusli, Abdul Muis, Idrus, Hamka, dan A.A Navis berkarya melalui penulisan novel. Nur Sutan Iskandar novelis Minang lainnya, tercatat sebagai penulis novel Indonesia yang paling produktif. Chairil Anwar dan Taufik Ismail berkarya lewat penulisan puisi. Serta Sutan Takdir Alisjahbana dan Sutan Muhammad Zain, dua ahli tata bahasa yang melakukan modernisasi bahasa Indonesia sehingga bisa menjadi bahasa persatuan nasional. Novel-novel karya sastrawan Minang seperti Sitti Nurbaya, Salah Asuhan, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Layar Terkembang, dan Robohnya Surau Kami telah menjadi bahan bacaan wajib bagi siswa sekolah di Indonesia dan Malaysia.
Selain melalui karya sastra, pengembangan bahasa Indonesia banyak pula dilakukan oleh jurnalis Minang. Mereka antara lain Djamaluddin Adinegoro, Rosihan Anwar, dan Ani Idrus. Selain Abdul Rivai yang dijuluki sebagai Perintis Pers Indonesia, Rohana Kudus yang menerbitakan Sunting Melayu, menjadi wartawan sekaligus pemilik koran wanita pertama di Indonesia.
Di samping menjadi politisi dan penulis, kiprah Orang Minang juga cukup menonjol di bidang intelektualisme.[83] Kebiasaan mereka yang suka berpikir dan menelaah, telah melahirkan beberapa pakar di dunia kedokteran, humaniora, hukum, dan ekonomi, yang kesemuanya memberikan sumbangan besar terhadap bangsa Indonesia. Di antara mereka yang cukup dikenal adalah Ahmad Syafii Maarif, Hazairin, Syahrir, Taufik Abdullah, dan Azrul Azwar.
Di Indonesia dan Malaysia, selain orang Tionghoa, orang Minang juga terkenal sebagai pengusaha ulung. Banyak pengusaha Minang sukses berbisnis di bidang perdagangan tekstil, rumah makan, perhotelan, pendidikan, keuangan, dan kesehatan. Di antara figur pengusaha sukses adalah, Abdul Latief (pemilik ALatief Corporation), Basrizal Koto (pemilik peternakan sapi terbesar di Asia Tenggara), Hasyim Ning (pengusaha perakitan mobil pertama di Indonesia), dan Tunku Tan Sri Abdullah (pemilik Melewar Corporation Malaysia).
Banyak pula orang Minang yang sukses di dunia hiburan, baik sebagai sutradara, produser, penyanyi, maupun artis. Sebagai sutradara dan produser ada Usmar Ismail, Asrul Sani, Djamaludin Malik, dan Arizal. Arizal bahkan menjadi sutradara dan produser film yang paling banyak menghasilkan karya. Sekurang-kurangnya 52 film dan 8 sinetron dalam 1.196 episode telah dihasilkannya. Pemeran dan penyanyi Minang yang terkenal beberapa di antaranya adalah Afgan Syah Reza, Dorce Gamalama, Marshanda, Eva Arnaz, dan Nirina Zubir. Pekerja seni lainnya, ratu kuis Ani Sumadi, menjadi pelopor dunia perkuisan di Indonesia. Selain mereka, Soekarno M. Noer beserta putranya Rano Karno, mungkin menjadi pekerja hiburan paling sukses di Indonesia, baik sebagai aktor maupun sutradara film. Pada tahun 1993, Karno's Film perusahaan film milik keluarga Soekarno, memproduksi film seri dengan peringkat tertinggi sepanjang sejarah perfilman Indonesia, Si Doel Anak Sekolahan.
Di Malaysia dan Singapura, kontribusi orang Minangkabau juga cukup besar. Pada tahun 1723, Sultan Abdul Jalil Rahmad Syah I, duduk sebagai sultan Johor sebelum akhirnya mendirikan Kerajaan Siak di daratan Riau. Di awal abad ke-18, Nakhoda Bayan, Nakhoda Intan, dan Nakhoda Kecil meneruka Pulau Pinang.[85] Tahun 1773, Raja Melewar diutus Pagaruyung untuk memimpin rantau Negeri Sembilan. Ia juga menyebarkan Adat Perpatih dan Adat Tumenggung, yang sampai saat ini masih berlaku di Semenanjung Malaya. Menjelang masa kemerdekaan beberapa politisi Minang mendirikan partai politik. Di antaranya adalah Ahmad Boestamam yang mendirikan Parti Rakyat Malaysia dan Rashid Maidin yang mengikrarkan Parti Komunis Malaya. Setelah kemerdekaan Tuanku Abdul Rahman menjadi Yang Dipertuan Agung pertama Malaysia, sedangkan Rais Yatim, Amirsham Abdul Aziz, dan Abdul Samad Idris, duduk di kursi kabinet. Beberapa nama lainnya yang cukup berjasa adalah Sheikh Muszaphar Shukor (astronot pertama Malaysia), Muhammad Saleh Al-Minangkabawi (kadi besar Kerajaan Perak), Tahir Jalaluddin Al-Azhari (ulama terkemuka), Adnan bin Saidi (pejuang kemerdekaan Malaysia), dan Abdul Rahim Kajai (perintis pers Malaysia). Di Singapura, Mohammad Eunos Abdullah dan Abdul Rahim Ishak muncul sebagai politisi Singapura terkemuka, Yusof bin Ishak menjadi presiden pertama Singapura, dan Zubir Said menciptakan lagu kebangsaan Singapura Majulah Singapura.
Beberapa tokoh Minang juga memiliki reputasi internasional. Di antaranya, Roestam Effendi yang mewakili Partai Komunis Belanda, dan menjadi orang Hindia pertama yang duduk sebagai anggota parlemen Belanda.[86] Di Arab Saudi, Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, menjadi satu-satunya orang non-Arab yang pernah menjabat imam besar Masjidil Haram, Mekkah. Mohammad Natsir, salah seorang tokoh Islam terkemuka, pernah menduduki posisi presiden Liga Muslim se-Dunia (World Moslem Congress) dan ketua Dewan Masjid se-Dunia. Sementara itu Azyumardi Azra, menjadi orang pertama di luar warga negara Persemakmuran yang mendapat gelar Sir dari Kerajaan Inggris.

 

Diposkan oleh Ainut Tijar di Senin, Februari 10, 2014 1 komentar
 

AKU DI PERSIMPANGAN JALAN

Kebingungan saat ini berkecamuk di otak dan dada. Yang kubingungkan adalah kebenaran paling benar itu apa? Siapa? dan Bagaimana? Termasuk tawaran konsep kehidupan setelah mati yang ditawarkan para agamawan yang bersumber dari kitab suci masing masing. Bahkan dalam satu agamapun terdapat berbagai penafsiran tentang kehidupan ke depan setelah mati. Ataukah setelah mati ya habis dan selesai, sebagaimana konsep yang ditawarkan oleh ilmuwan yang tidak beragama, yang mendasarkan pada penelitian fakta fakta alam? Itulah kini yang kadang berkecamuk di otakku, dan kukira banyak berkecamuk pada jutaan manusia lain di bumi ini.
Untuk agar kita tidak teromabang ambing kita harus meyakini dan memilih konsep konsep itu yang kita anggap paling benar. Baik itu yang berdasarkan agama maupun yang bukan berdasarkan agama.
Dan mungkin kalau aku memilih yang berdasarkan agama yang kuanut, meski kadang masih terombang ambing. Dalam hal ini. dosa besarkah aku?

SURAT NOORDIN M TOP KEPADA BAGUS TV

Ekslusif BAGUSTV.com kami redaksi bagustv.com menerima e-mail dari seseorang yang mengaku Noordin M top berikut isi e-mail tersebut: Assalamualaikum Wr. Wb Saya Noordin M Top mau membenarkan bahwa yang meninggal di temanggung Adalah Ibrohim Alias Boim,Sebenarnya saya memang pada waktu itu berada di Temanggung dengan kedua pengawal Saya dan Ibrohim,Tetapi pada waktu Pegepungan saya berhasil lolos dari kepungan polisi.Saya tidak akan pernah menyerah sebelum amerika beserta sekutunya keluar dari irak atau negara islam lainnya.Kami mempunyai landasan mengapa kita akan terus meneror orang asing: 1. Sebagai Qishoh (pembalasan yang setimpal) atas perbuatan yang dilakukan oleh Amerika dan antek-anteknya terhadap saudara kami kaum muslimin dan mujahidin di penjuru dunia 2. Menghancurkan kekuatan mereka di negeri ini, yang mana mereka adalan pencuri dan perampok barang-barang berharga kaum muslimin di negeri ini 3. Mengeluarkan mereka dari negeri-negeri kaum muslimin. Terutama dari negeri Indonesia 4. Amaliyat Istisyhadiyah ini sebagai penyejuk dan obat hati buat kaum muslimin yang terdholimi dan tersiksa di seluruh penjuru dunia Yang terakhir ….. bahwasanya Amaliyat Jihadiyah ini akan menjadi pendorong semangat untuk ummat ini dan untuk menghidupkan kewajiban Jihad yang menjadi satu-satunya jalan untuk menegakkan Khilafah Rosyidah yang telah lalu, bi idznillah. Dan kami beri nama Amaliyat Jihadiyah ini dengan : “SARIYAH JABIR” الله أكبر ولله العزة ولرسوله والمؤمنون Amir Tandzim Al Qo’idah Indonesia Abu Mu’awwidz Nur Din bin Muhammad Top

PUTRIKU NURUL ILMI AINUT TIJAR HAMAMI

PKS JADI PARTAI TERBUKA BAGI NON MUSLIM, BLUNDERKAH?

Langkah PKS yang menjadi partai terbuka dengan memberikan peluang kepada non muslim menjadi anggota dan malah menjadi pengurus partai sangat beresiko.

Demikian dikatakan peneliti LSI Burhanuddin Muhtadi menyikapi strategi marketing politik yang dilakukan PKS dengan merubah citra dari partai konservatif menjadi partai terbuka. Sebagai bukti, PKS membuka pintu bagi kaum non muslim untuk bergabung. Soal mendulang perolehan suara ini, Burhanuddin Muhtadi pesimis. Kalau itu dilaksanakan, kata dia, PKS akan menghadapi dua resiko.

Pertama, tidak mudah bagi PKS untuk menyakinkan basis tradisional PKS yang konservatif terhadap perubahan citra tersebut, apalagi membuka bagi non muslim untuk bergabung. Kalau mereka tidak menerimanya karena merasa perubahan itu membuat PKS jauh dari tujuan awal didirikan, maka basis tradisional PKS, kata Burhanuddin, beramai-ramai pindah ke partai lain.

Kedua, non muslim sendiri tidak mudah dibujuk untuk bergabung, atau diyakinkan untuk bergabung. Pasalnya, karena PKS sudah terlanjur diindentikkan dengan partai Islam yang konservatif.

Sebelumnya di arena Munas ke II PKS, Presiden PKS Lutfi Hasan Ishaq mengatakan, pihaknya tidak perlu risau akan ditinggalkan kaum muslim dengan terbukanya PKS bagi non muslim. Ini lantaran, PKS masih tetap berasaskan Islam dan Pancasila.

ANAKKU BELAJAR AKTING, BAJU MLOROT

AROGANSI AMERIKA SERIKAT


Argumentasi Amerika Serikat (AS) selaku kiblat demokrasi yang sudah tertanam di benak masyarakat perlu dievaluasi lagi. Pasalnya, implementasi di Indonesia jauh lebih maju ketimbang AS dalam banyak persoalan. Buktinya, AS belum menerapkan sistem pemungutan suara one man, one vote, one value (satu orang satu suara, satu pilihan, dan satu nilai).Demokrasi kita jauh lebih maju dari Amerika. Kita lihat sampai saat ini belum sekalipun calon presiden yang berasal dari kaum hawa, apalagi presiden. Begitu juga dengan calon wakil presiden, hanya kali ini perempuan yang diusung menjadi wakil presiden. Selainnya belum pernah

Kita bisa lihat, Israel terlalu dianak-emaskan terutama dalam persoalan nuklir. Sedangkan Iran yang baru akan membuat instalasi sudah dipersoalkan. Padahal tujuan pembangunan pembuatan reaktor nuklir tersebut murni untuk damai dan kebutuhan energi listrik

Sekarang kita tak butuh lagi penatar demokrasi dari Paman Sam. Amerikalah yang perlu belajar demokrasi dengan Indonesia. Namun semua ini belum sepenuhnya difahami sebagian besar pemimpin bangsa. Sehingga, kita masih mengagung-agungkan implementasi demokrasi Amerika. Padahal itu tidak bagus

Sudah saatnya pemerintah mengalihkan perhatiannya kepada Negara Timur Tengah. Kita mengetahui, krisis global sekarang ini tak terlalu berimbas terhadap negara-negara Teluk. Bursa mereka malah naik, bukan melorot. Jadi tak salah kiranya pemerintah membangun hubungan yang lebih hangat dengan Timur Tengah