LAYAKKAH 12 TOKOH MENGGANTIKAN GUS DUR. ULIL ABSOR ABDALLA PALING PAS

Ada 12 orang yang dinilai bisa sebagai pengganti KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai tokoh pluralisme, pejuang demokrasi, tokoh agama, dan budaya.
TUJUH di antaranya berasal Nahdlatul Ulama (NU), dan lima ber­asal dari luar NU (lengkapnya baca tabel).
Nama-nama itu berdasarkan pendapat sejumlah pengamat politik, pengamat sejarah, dan anggota DPR, yang disampaikan kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
Sebelumnya Khatib Majelis Peng­asuh Pondok Pesantren Bah­rul Ulum, Tambakberas, Jom­bang, KH M Irfan Sholeh (Gus Irfan) mengatakan, penerus Gus Dur akan muncul.
“Seperti Salahudin Al-Ayubi seusai menaklukkan Jerusalem. Sudah (terbuka) tinggal menerus­kan. Seperti Hadratussyekh KH Ha­syim Asy’ari muncul setelah (Pa­nge­ran) Diponegoro,” ungkap Gus Irfan.
Guru Besar Ilmu Politik Uni­versitas Indonesia (UI) Ibram­syah mengatakan, Gus Dur meru­pakan orang yang komplit, se­orang pemikir, ahli agama, po­litikus, budaya, dan lainnya.
“Sulit untuk menempatkan orang yang selevel dengan Gus Dur,” katanya kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, pluralisme bukan merupakan barang aneh. Karena dalam Islam sendiri tidak mengenal pengelompokan-pe­nge­lompokan. Dalam Islam di ke­nal toleransi beragama dan meng­hormati per­be­daan. Apa yang dijalankan Gus Dur men­con­toh yang dilakukan Rasul.
Sebagai contoh, Gus Dur melindungi karangan minoritas dan memperjuangkan hak-hak­nya. “Jadi kalau gelarnya plu­ra­lisme itu bukan hal aneh. Ha­rusnya beliau diberi gelar yang lain,” katanya
Dikatakan dia yang mempunyai sikap yang sama dengan Gus Dur, yaitu Azyumardi Azra, Din Syam­­suddin, Mahfud MD dan Koma­ruddin Hi­­dayat. “ Mereka selalu menge­de­pankan nilai-nilai uni­versal dan kerukunan,” katanya.
Sementara peneliti Lembaga Survei Indonesia (LSI), Bur­ha­nud­din Muhtadi mengatakan, In­do­nesia tidak mempunyai stok to­koh mul­ti talenta dan multi di­mensi un­tuk menggantikan sosok Gus Dur.
Menurutnya, selain sosok diterima semua golongan, Gus Dur juga mempunyai kelebihan lain, yaitu mazhab kiainya. Se­bab, keturunan dari tokoh Islam. Kakeknya pendiri NU dan ayahnya bekas Menteri Agama.
Namun, lanjutnya, jika dilihat dari latar belakang intelektual, agama, politisi dan plura­lisme­nya, tentu banyak penggantinya.
Misalnya, dari sisi pluralisme ada Ulil Abshar Abdalla. Tapi biarpun Ulil menantu Mustafa Bisri salah satu kiai yang dihor­mati, na­mun dia bukanlah sosok kha­rismatik.
Dikatakan, tokoh yang mem­pu­nyai kesamaan dengan Gus Dur adalah Jusuf Kalla yang dike­nal sebagai orang yang kon­sen dalam menjalankan plu­ralisme.
Selain itu, lanjutnya, Anis Bas­wedan dan Komaruddin Hidayat dinilai layak sebagai penerus Gus Dur. Mereka terus mengem­bang­kan pluralisme. “Tapi perlu diakui memang tidak ada tokoh yang bisa meng­gantikan Gus Dur secara utuh,” tandasnya.
Sedangkan pengamat politik dari Charta Politika Indonesia (CPI), Andi Syafrani mengata­kan, Ulil Abshar Abdalla yang pa­­­­ling men­dekati untuk meng­gan­­­tikan tokoh pluralisme se­kaliber Gus Dur.
“Dari sisi tradisi keilmuan, Ulil sangat komplit dengan khaza­nah Islam. Ia juga fasih dalam bahasa Arab dan Inggris. Selesaikan pendidikan S2 dan S3 di Amerika. Jadi tradisi barat dan timur sangat tepat menjadi simbol pluralisme,” ungkapnya.

‘’Tidak Bisa Dibandingkan’’
Marwan Ja’far, Ketua Fraksi PKB DPR
Ketua Fraksi PKB DPR Mar­wan Ja’far mengatakan, setiap tokoh tidak bisa dibanding-ban­dingkan. Sebab, tergantung ma­sanya, mo­mentum, dan karak­ternya.
“Misalnya Gus Dur mo­men­tumnya pada saat pergantian Orde Baru ke era reformasi. Se­tiap tokoh juga mempunyai plus minusnya, jadi tidak bisa di­bandingkan,” katanya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Marwan yakin, ke depan akan ada pengganti Gus Dur sesuai dengan momentumnya. Namun. yang perlu dipahami adalah dari sisi konteks nilai bukan tek­stualnya.
“Sebagai anak ideologisnya Gus Dur tentu kami menjalankan apa yang sudah dirintis Gus Dur, misalnya soal mempertahankan pluralisme di negeri ini,” katanya.
Sementara Wasekjen PKB, Daniel Johan mengatakan, pe­waris Gus Dur dalam men­jalankan ajaran dan semangatnya tentu kader-kader PKB.
“Pewaris Gus Dur di PKB adalah kita semua. Karena Mu­hai­min Iskandar adalah Ketua Umum PKB, maka kita akan support full. PKB juga akan tetap me­neruskan ajaran dan pemi­kiran-pemikiran Gus Dur,” katanya.

“Tergantung Sepak Terjang Mereka’’
Alfan Alfian, Pengamat Politik
Masdar F Mas’udi dan Ulil Abshar Abdalla calon pengganti Gus Dur menjadi Pengurus Besar Nah­dlatul Ulama (PBNU).
Demikian disampaikan peng­amat politik dari Universitas Na­sional (Unas), Alfan Alfian, ke­pada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
“Nama-nama itu bisa sebagai pengganti Gus Dur, tapi itu semua ter­gantung sepak terjang me­reka,” ujarnya.
Menurutnya, untuk tokoh di bidang lain, belum terlihat ada kader yang bagus. Namun untuk tokoh sepuh yang bisa menjalan­kan semangat Gus Dur adalah Kiai Mustofa Bisri.
“Kalau dilihat paling sepuh ya Kiai Mustofa Bisri karena sudah malang melintang di PBNU,” tuturnya.
Dikatakan, generasi muda susah meniru karakter dan se­mangat Gus Dur. Karena dalam trah, dalam hal humor, dan ke­ane­han tidak dimiliki generasi muda.
“Darah biru Gus Dur kan sangat kuat sekali. Kemudian memiliki integritas dalam berko­mu­nikasi yang ringan dan baik de­ngan kalangan minoritas. Selain itu menyukai humor dan cerdas,” paparnya.
Menurut Direktur The Akbar Tandjung Institute itu, untuk menggantikan secara persis dengan Gus Dur tidak ada lagi. Akan tetapi dia optimis ajaran plu­ralisme sudah merasuk se­demikian rupa ke berbagai ka­langan, sehingga visinya akan tetap dilanjutkan sampai di luar PBNU.

’’Yang Mirip Memang Ada’’
Komaruddin Hidayat, Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Rektor UIN Syarif Hidaya­tullah Jakarta, Komaruddin Hi­dayat mengatakan, banyak kiai Nahdlatul Ulama (NU) yang men­dukung gagasan pluralisme dan kebangsaan yang diper­juang­kan Gus Dur.
Persoalannya, kata dia, wa­laupun para kiai itu bergaul de­kat dengan Gus Dur. Tapi kalau tidak ada upaya sistematis un­tuk menjaga dan mewariskan pada dunia pesantren, Ko­ma­rud­din khawatir semangat ini suatu saat akan mengendor dan berimplikasi lain.
“Banyak kiai dan orang luar yang berpandangan inklusif dan pluralis. Hanya saja persoalan­nya, tidak ada sevokal Gus Dur,” katanya kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
Perbedaan lainnya, kata dia, Gus Dur melakukan kontek­stua­liasi teologis ke ranah po­litik dan budaya, sehingga dampaknya sangat terasa.
Sedangkan para kiai cukup untuk dirinya dan disampaikan dalam lingkaran terbatas. Pa­dahal, kiai-kiai itu sebagian sa­ngat liberal kalau saja digali ilmu dan pandangannya.
Komaruddin yang dipandang punya visi sama dengan Gus Dur ini, menyatakan, ada be­berapa orang yang mirip de­ngan Gus Dur, yakni Gus Mus (Mus­tofa Bisri), Said Agil Siraj, dan Salahudin Wahid. “Yang mirip memang ada, tapi yang sa­ma belum ada. Kele­bi­han Gus Dur adalah meng­ung­kap­kan pesan Islam dengan meng­gunakan analisis dan jargon ilmu sosial,” katanya
Sedangkan generasi yang lebih muda, kata dia, ada Mas­dar Mas’udi dan Ulil Abshar Abdalla.
Ketika ditanya bahwa Ko­maruddin orang yang identik me­warisi pluralisme Gus Dur, Ko­maruddin mengatakan, harus dibedakan antara plu­ralis­me budaya dan pluralisme aga­ma. Jika pluralisme agama di­pahami bahwa semua agama adalah sama, tidak ada ke­uni­kan dan masing-masing tak ada keotentikan, maka dirinya bukan seorang pluralis.
’’Namun, jika pluralisme berarti kita mesti menghargai, menerima dan menjaga keraga­man umat yang berbeda ke­ya­kinan berdasarkan etika Islam, maka saya setuju,’’ ujarnya.
“Yang kita inginkan adalah masing-masing pemeluknya memberikan kontribusi yg ter­baik bagi Indonesia dan ke­manusiaan,” tambahnya.

’’Saya Khawatir...’’
Sultan Hamengku Buwono X, Tokoh Reformasi
Sultan Hamengku Buwono X yang dikenal sebagai salah satu tokoh reformasi nasional me­ngaku khawatir pluralisme di Indonesia akan terancam pas­cameninggalnya Gus Dur.
Alasannya, melihat perilaku elite politik yang cenderung me­ngutamakan pendekatan eko­nomi ketimbang meng­gu­nakan pendekatan kebudayaan dan mengutamakan peradaban.
“Ya, saya khawatir, padahal me­nggunakan kebudayaan dan me­ngutamakan peradaban lebih pen­ting daripada sekadar mem­buat orang sejahtera,” kata Sultan.
Elite politik, kata Sultan, juga cenderung menggunakan pen­de­katan politik semata, bukan mem­bangun masa depan Indo­nesia, yang memi­liki daya saing dan meng­uta­makan mo­ralitas.
Di mata Sultan, Gus Dur adalah sosok idealis, bukan ha­nya demokrasi saja, namun juga penjaga pluralisme di Indo­nesia. Maka tak mengherankan hingga saat ini belum ada satupun tokoh yang muncul me­nggantikan posisi Gus Dur.
“Kita kehilangan orang besar yang selama ini meng­idealisasikan tidak hanya de­mokrasi tetapi juga pluralisme,” kata Sultan.

"Harus Berada Di Hati Kita’’
Adhie Massardi, Bekas Jubir Gus Dur
’’Belum ada tokoh yang bisa menggantikan Gus Dur dalam sikap berdemokrasi dan plura­lismenya,’’ ujar bekas Juru Bi­cara (Jubir) Gus Dur saat men­jadi Presiden, Adhie Massardi, kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
Hal yang sama, lanjutnya, terjadi di India. Biarpun banyak tokoh di sana sampai sekarang belum ada yang bisa meng­gan­tikan sosok Mahatma Gandhi dan Jawaharlal Nehru. Begitu ju­ga di Indonesia, belum ada yang bisa menggantikan keto­ko­han Soekarno.
“Jika berdasarkan ketokohan dan kemampuan Gus Dur se­cara menyeluruh, belum ada yang bisa menggantikannya,” katanya.
Namun, kata Adhie, jika sosok dan ketokohan serta jasa Gus Dur dipecah-pecah baru bisa. Misalnya, dari sosok keu­lamaannya dan pemersatu umat, ada sosok KH Hasyim Muzadi yang dapat meng­gan­tikannya.
“Tapi dari segi demokrasi dan pluralisme Gus Dur sampai seka­rang belum ada yang bisa meng­gantikannya,” paparnya.
Dikatakan, kelebihan dari Gus Dur adalah keberaniannya mem­bela kaum minoritas. Se­karang siapa yang berani me­lakukan itu. “Ke depan Gus Dur harus ber­ada di hati kita. Sebab, tidak ada yang bisa meng­ganti­kannya,” tandasnya.

‘’Sulit Cari Penggantinya’’
JJ Rizal, Pengamat Sejarah
Tokoh sekaliber Gus Dur hanya dilahirkan satu abad sekali. Jadi sulit untuk mencari peng­gantinya.
Demikian disampaikan peng­amat sejarah dari Komunitas Bam­bu, JJ Rizal, kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
‘’Saya kira sulit cari peng­gan­tinya. Tidak ada yang sehebat Gus Dur,’’ ujarnya.
Menurutnya, tidak ada sosok yang bisa menggantikan Gus Dur se­bagai bapak pluralisme. Sebab, tokoh seperti ini hanya hidup sekali saja. “Buktinya sampai seka­rang juga tidak ada yang bisa menggantikan sosok Soekarno,” katanya.
Rizal mengatakan, sekarang bukan saatnya kita mendebatkan siapa pengganti Gus Dur. Tapi yang harus dilakukan adalah bagaimana menjaga dan menja­lan­kan wari­san­nya agar tetap hidup.
Dikatakan, Gus Dur meru­pa­kan sosok yang demokrasi dan berhasil merubah Istana Negara menjadi istana rakyat.
“Sekarang yang harus dilaku­kan adalah bagaimana kita men­jaga warisan pluralisme dan anti dikriminasi serta pemikiran-pe­mi­kiran Gus Dur,” tandasnya.

Related Posts :

7 komentar:

dewaji mengatakan...

terus siapa yg cocok menggantikan posisi gusdur

Anonim mengatakan...

ya emang kagak ada, apalagi kalian2 oportunis yang lagi cari sela

Anonim mengatakan...

gus dur itu orang sesat yg bodoh.
pantas sj bodoh krn dia buta dan tidak tau apa-apa.
orang buta dan bodoh kok di sanjung-sanjung.
dia itu musuh islam.
Blog ini kyknya juga bodoh juga mengenai pemahaman islam.

Haq mengatakan...

orang yang gak tau kesalahan memangnya orang juga salah mana mungkin bisa membedakan' seperti orang berakal akan menggunakan akalnya sedangkan yang jahil akan menggunakan kejahilnnya, orang yang bodoh membela akan menggunakan kebodohannya dalam membelanya "kalo melihat kesalahan Orang yang disakralkan tidak menggunakan akan sehatnya tetapi menggunakan akal sakitnya" yakni dengan penilaian ERASIONAL dengan bahasa mereka (sufi) katanya jagan melihat orangnya/perbuatannya tetapi lihatlah dibalik apa yang diperbuat (hakikat, makrifat, syari'at) sedangkan kalo bahasa si Jil/si Ulil jangan melihat teksnya tetapi melihat Subtansinya atau konteksnya, kalo kita telaah secara cermat dan mendalam pemehaman merweka terlalu kampunagn
\

Lalu Ruswandi mengatakan...

memang gusdur tidak pantas ada pengganti. karena gak ada yang mau seperti si busdur eh sory gustur apa gusdur sih. dia gak cocok dijadikan pemimpin, dan pemimpin dalam bidang apapun, orangnya ngawur. hanya orang-orang yang bodoh yang mencari pengganti untuk dia.

Lalu Ruswandi mengatakan...

terang aja gak ada yang mau gantiin gusbur eh sory gustur apa gusdur sih, dia orang nya gak cocok dijadiin pemimpin dalam bidang apapun, semut aja gak mau dipimpin oleh seorang gusdur, hanya orang-orang bodoh yang mau dipimpin oleh gusdur. Celaka dong!

adel lin mengatakan...

A Ainut Tijar ORANG NARSISISTIK (PENYAKIT JIWA KRONIS DLM PSIKOLOGI), GAK TAU ISLAM SECARA KESELURUHAN. TUH,,, BUKTINYA, ANAK2 PEREMPUANNYA AJA GAK PAKE' KERUDUNG DAN GAK DI DIDIK AGAMA DGN BENAR!!!
MAU BERKILAH???? cari dalam al qur'an ayat surat al-ahzab ayat 59 tentang mengharuskan berjilba. atau kitabmu memang bukan kitab qur'an asli??? tapi dari amerika karangan ulil???????????

Poskan Komentar

 

AKU DI PERSIMPANGAN JALAN

Kebingungan saat ini berkecamuk di otak dan dada. Yang kubingungkan adalah kebenaran paling benar itu apa? Siapa? dan Bagaimana? Termasuk tawaran konsep kehidupan setelah mati yang ditawarkan para agamawan yang bersumber dari kitab suci masing masing. Bahkan dalam satu agamapun terdapat berbagai penafsiran tentang kehidupan ke depan setelah mati. Ataukah setelah mati ya habis dan selesai, sebagaimana konsep yang ditawarkan oleh ilmuwan yang tidak beragama, yang mendasarkan pada penelitian fakta fakta alam? Itulah kini yang kadang berkecamuk di otakku, dan kukira banyak berkecamuk pada jutaan manusia lain di bumi ini.
Untuk agar kita tidak teromabang ambing kita harus meyakini dan memilih konsep konsep itu yang kita anggap paling benar. Baik itu yang berdasarkan agama maupun yang bukan berdasarkan agama.
Dan mungkin kalau aku memilih yang berdasarkan agama yang kuanut, meski kadang masih terombang ambing. Dalam hal ini. dosa besarkah aku?

SURAT NOORDIN M TOP KEPADA BAGUS TV

Ekslusif BAGUSTV.com kami redaksi bagustv.com menerima e-mail dari seseorang yang mengaku Noordin M top berikut isi e-mail tersebut: Assalamualaikum Wr. Wb Saya Noordin M Top mau membenarkan bahwa yang meninggal di temanggung Adalah Ibrohim Alias Boim,Sebenarnya saya memang pada waktu itu berada di Temanggung dengan kedua pengawal Saya dan Ibrohim,Tetapi pada waktu Pegepungan saya berhasil lolos dari kepungan polisi.Saya tidak akan pernah menyerah sebelum amerika beserta sekutunya keluar dari irak atau negara islam lainnya.Kami mempunyai landasan mengapa kita akan terus meneror orang asing: 1. Sebagai Qishoh (pembalasan yang setimpal) atas perbuatan yang dilakukan oleh Amerika dan antek-anteknya terhadap saudara kami kaum muslimin dan mujahidin di penjuru dunia 2. Menghancurkan kekuatan mereka di negeri ini, yang mana mereka adalan pencuri dan perampok barang-barang berharga kaum muslimin di negeri ini 3. Mengeluarkan mereka dari negeri-negeri kaum muslimin. Terutama dari negeri Indonesia 4. Amaliyat Istisyhadiyah ini sebagai penyejuk dan obat hati buat kaum muslimin yang terdholimi dan tersiksa di seluruh penjuru dunia Yang terakhir ….. bahwasanya Amaliyat Jihadiyah ini akan menjadi pendorong semangat untuk ummat ini dan untuk menghidupkan kewajiban Jihad yang menjadi satu-satunya jalan untuk menegakkan Khilafah Rosyidah yang telah lalu, bi idznillah. Dan kami beri nama Amaliyat Jihadiyah ini dengan : “SARIYAH JABIR” الله أكبر ولله العزة ولرسوله والمؤمنون Amir Tandzim Al Qo’idah Indonesia Abu Mu’awwidz Nur Din bin Muhammad Top

PUTRIKU NURUL ILMI AINUT TIJAR HAMAMI

PKS JADI PARTAI TERBUKA BAGI NON MUSLIM, BLUNDERKAH?

Langkah PKS yang menjadi partai terbuka dengan memberikan peluang kepada non muslim menjadi anggota dan malah menjadi pengurus partai sangat beresiko.

Demikian dikatakan peneliti LSI Burhanuddin Muhtadi menyikapi strategi marketing politik yang dilakukan PKS dengan merubah citra dari partai konservatif menjadi partai terbuka. Sebagai bukti, PKS membuka pintu bagi kaum non muslim untuk bergabung. Soal mendulang perolehan suara ini, Burhanuddin Muhtadi pesimis. Kalau itu dilaksanakan, kata dia, PKS akan menghadapi dua resiko.

Pertama, tidak mudah bagi PKS untuk menyakinkan basis tradisional PKS yang konservatif terhadap perubahan citra tersebut, apalagi membuka bagi non muslim untuk bergabung. Kalau mereka tidak menerimanya karena merasa perubahan itu membuat PKS jauh dari tujuan awal didirikan, maka basis tradisional PKS, kata Burhanuddin, beramai-ramai pindah ke partai lain.

Kedua, non muslim sendiri tidak mudah dibujuk untuk bergabung, atau diyakinkan untuk bergabung. Pasalnya, karena PKS sudah terlanjur diindentikkan dengan partai Islam yang konservatif.

Sebelumnya di arena Munas ke II PKS, Presiden PKS Lutfi Hasan Ishaq mengatakan, pihaknya tidak perlu risau akan ditinggalkan kaum muslim dengan terbukanya PKS bagi non muslim. Ini lantaran, PKS masih tetap berasaskan Islam dan Pancasila.

ANAKKU BELAJAR AKTING, BAJU MLOROT

AROGANSI AMERIKA SERIKAT


Argumentasi Amerika Serikat (AS) selaku kiblat demokrasi yang sudah tertanam di benak masyarakat perlu dievaluasi lagi. Pasalnya, implementasi di Indonesia jauh lebih maju ketimbang AS dalam banyak persoalan. Buktinya, AS belum menerapkan sistem pemungutan suara one man, one vote, one value (satu orang satu suara, satu pilihan, dan satu nilai).Demokrasi kita jauh lebih maju dari Amerika. Kita lihat sampai saat ini belum sekalipun calon presiden yang berasal dari kaum hawa, apalagi presiden. Begitu juga dengan calon wakil presiden, hanya kali ini perempuan yang diusung menjadi wakil presiden. Selainnya belum pernah

Kita bisa lihat, Israel terlalu dianak-emaskan terutama dalam persoalan nuklir. Sedangkan Iran yang baru akan membuat instalasi sudah dipersoalkan. Padahal tujuan pembangunan pembuatan reaktor nuklir tersebut murni untuk damai dan kebutuhan energi listrik

Sekarang kita tak butuh lagi penatar demokrasi dari Paman Sam. Amerikalah yang perlu belajar demokrasi dengan Indonesia. Namun semua ini belum sepenuhnya difahami sebagian besar pemimpin bangsa. Sehingga, kita masih mengagung-agungkan implementasi demokrasi Amerika. Padahal itu tidak bagus

Sudah saatnya pemerintah mengalihkan perhatiannya kepada Negara Timur Tengah. Kita mengetahui, krisis global sekarang ini tak terlalu berimbas terhadap negara-negara Teluk. Bursa mereka malah naik, bukan melorot. Jadi tak salah kiranya pemerintah membangun hubungan yang lebih hangat dengan Timur Tengah