AHMAD SYAFII MAARIF : PERADABAN POLITIK MASIH KUMUH

Tingkat peradaban politik kita masih rendah dan kumuh. Kotor. Ya politik uang, ya moral. Setelah reformasi, relatif demokrasi kita ada, dipuji, meski berada di tangan mereka yang tidak bertanggung jawab, yang wawasannya picik. Kualitas demokrasi kita di bawah standar.

Ini pernyataan Prof Dr Ahmad Syafii Maarif: bangsa Indonesia mengalami krisis kepemimpinan karena politik menjadi ajang kompetisi kepentingan-kepentingan sempit kelompok, bukan untuk mencapai keadilan sosial dan kesejahteraan seluruh rakyat, seperti dicita-citakan para pendiri negeri ini.

Tokoh intelektual, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah (1998-2005) dan pendiri Maarif Institute itu ditemui suatu pagi, di Jakarta.

Syafii Maarif (73) adalah tokoh Indonesia kedua yang dianugerahi penghargaan Magsaysay untuk kategori Perdamaian dan Pemahaman Internasional setelah tokoh intelektual Soedjatmoko pada tahun 1978.

Tokoh Indonesia yang pernah mendapat penghargaan yang sama adalah Mochtar Lubis (1958), Pramoedya Ananta Toer (1995), dan Atmakusumah Astraatmadja (2000) untuk kategori Jurnalisme, Kesusastraan, dan Seni Komunikasi Kreatif, Abdurrahman Wahid (1993) untuk kategori Kepemimpinan Masyarakat, serta Dita Indah Sari (2001) untuk kategori Kepemimpinan Muda.

Presiden Raymond Magsaysay Award Foundation, Carmencita T Abella, dalam surat elektroniknya kepada Maarif Institute tanggal 31 Juli 2008 menyatakan, Syafii Maarif dipilih karena komitmen dan kesungguhannya membimbing umat Islam untuk meyakini dan menerima toleransi dan pluralisme sebagai basis keadilan dan harmoni di Indonesia, bahkan di dunia.

Mengutip siaran pers Maarif Institute, dalam sambutan singkat di depan sekitar 2.000 undangan pada resepsi tanggal 31 Agustus 2008 di Manila, Filipina, Syafii Maarif mengatakan, penghargaan itu tak bisa dilepaskan dari Persyarikatan Muhammadiyah yang membesarkannya.

Ia mengakui, kerja sama dengan para tokoh lintas agama sebagai kekuatan sosio-kultural sangat penting dalam menentukan masa depan Indonesia yang plural di bawah Pancasila. Usahanya bersama para tokoh lintas agama untuk mempromosikan pluralisme, toleransi, dan inklusivisme itu mendapat apresiasi dan dukungan dari arus besar masyarakat Indonesia.

Komitmen kuat

Penganugerahan itu disambut gembira oleh masyarakat lintas iman dan pendukung pluralisme Indonesia, tetapi dicibir oleh kelompok yang menolaknya. Pagi itu, ia membacakan kalimat bernada keras yang dikirim melalui layanan pesan singkat.

Mengapa ada yang tak mau menerima fakta keberbagaian?

Saya kira karena wawasan yang sempit, atau mungkin kecewa. Solusinya di daerah, ya perda-perda diskrimatif itu. Anehnya, itu didukung partai-partai sekuler. Ini persoalan. Tidak tulus. Tingkat peradaban politik kita masih rendah dan kumuh.

Maksudnya?

Kotor. Ya politik uang, ya moral. Setelah reformasi, relatif demokrasi kita ada, dipuji, meski berada di tangan mereka yang tidak bertanggung jawab, yang wawasannya picik. Kualitas demokrasi kita di bawah standar. Dapat dibilang, politik telah menjadi mata pencaharian karena seluruh kegiatan politik bukan untuk menyejahterakan rakyat.

Mungkin biaya masuk ke politik besar sekali, sehingga kalau sudah masuk banyak yang mencoba mengembalikan investasi yang sudah dikeluarkan…

Kenapa Pemilu 1955 tidak begitu? Itu pemilu terbagus sepanjang sejarah. Meskipun pertentangan ideologi begitu tajam dan galak, tak setetes pun darah yang tumpah. Sekarang banyak politisi instan. Kelakuannya dari pusat sampai daerah sama.

Apa masalah pokoknya?

Saya kira soal kepemimpinan. Kita punya orang-orang hebat, tetapi banyak tetapinya.

Pengaruh kapitalisme global?

Harusnya pengaruh itu bisa diminimalisasi, kalau tak ada proses pembusukan dari dalam. Ada kerapuhan dari dalam. Kultur kita rapuh.

Kalau rapuh, bagaimana bisa bertahan sekian lama?

Itu pertanyaan menarik. Sejarawan besar Australia, MC Ricklefs (penulis buku A History of Modern Indonesia) mengatakan, Indonesia ini terlalu besar untuk jadi satu negara. Diperkirakan pecah, tetapi tidak juga. Ada misteri di situ.

Apakah dasarnya survival?

Bertahan dalam penderitaan dan ketidakadilan. Coba Anda pergi ke pulau-pulau kecil di Indonesia timur. Mereka sangat cinta Indonesia, tetapi selalu dizalimi. Lihat Riau yang terbengkalai, padahal sumbangannya besar, selain sumber daya alamnya, juga bahasa. Lihat juga Aceh yang di zaman revolusi memberi banyak untuk republik ini.

Tujuan kita ini sebagai bangsa apa? Sila kelima Pancasila itu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sekarang lihat angka kemiskinan. Kalau pakai standar pendapatan dua dollar AS sehari, disebut ekonom Faisal Basri angkanya mencapai 106 juta dari sekitar 225 juta orang. Lihat, orang berburu zakat sampai meninggal, entah berapa yang luka-luka, belum lagi daging busuk yang dikonsumsi rakyat. Ini sudah luar biasa….

Rapuh karena tak bisa keluar dari belenggu struktural?

Ya. Salah satu indikator kerapuhan itu adalah kepekaan kita lemah dan semakin lemah, terutama karena kepemimpinan kita tak punya kepekaan dan tidak bertanggung jawab.

Bangsa baru

Bagaimana keterkaitan semua itu dengan sejarah? Syafii Maarif mengatakan, bangsa ini memanggul beban berat sebagai ”bangsa yang terjajah selama 350 tahun”, sehingga kultur bangsa terjajah tetap membayangi.

Rendahnya posisi tawar dalam kontrak-kontrak karya pertambangan, minyak dan gas, adalah salah satu contoh yang ia sebutkan.

”Kapitalisme masuk dengan memanfaatkan parlemen kita dalam pembuatan undang-undang, juga pemerintah. Saya rasa kita tidak begitu yakin dengan diri kita sebagai bangsa yang merdeka,” ia melanjutkan.

”Kita menjual semua yang kita punya, sumber daya alam dan semuanya sumber daya ekonomi yang kita punya. Sebagian UU yang dihasilkan memperlihatkan kepandiran bangsa ini. Ibarat tukang, siang hari ia menenun, malamnya dilepaskan lagi.”

Ketidakmampuan menangkis pengaruh ideologi juga terlihat dari alasan para teroris yang menggunakan kekerasan untuk mewujudkan apa yang dibayangkan sebagai situasi ”ideal”. Di sisi lain, orang tak bisa menahan rayuan konsumtivisme yang disebarkan kapitalisme global karena filternya lemah.

Karena itu, ”Kita harus menyiapkan manusia Indonesia yang tangguh. Bisa dilakukan melalui pendidikan dalam arti luas, dimulai dari keluarga. Kemerdekaan harus diartikan sebagai warga yang terbebaskan, berdaulat, dan punya kebanggaan.”

Ia mengingatkan, Bung Karno selalu mengatakan pembangunan karakter bangsa harus terus dilakukan. ”Tetapi, ada satu hal di pikiran saya. Pertama, saya menolak 100 tahun Kebangkitan Nasional,” ia menegaskan.

Berdasarkan fakta sejarah, Indonesia sebagai bangsa baru muncul tahun 1920-an. Syafii Maarif memaparkan, ”Saya tidak tahu apakah kita ambil peralihan dari Indische Vereeniging, Perhimpunan Hindia, tahun 1908 menjadi Indonesische Vereeniging, Perhimpunan Indonesia, tahun 1922, atau kita ambil Sumpah Pemuda tahun 1928. Sebelum itu yang ada etnisitas. Ali Sastroamidjojo, orang Jawa. Hatta orang Sumatera. Kita perlu bicara lebih mendalam dan serius tentang kapan sebetulnya kita menjadi Indonesia.”

Dengan demikian, beban psikologisnya menjadi lebih ringan karena tidak lagi merasa sebagai bangsa yang dijajah 350 tahun. ”Memang karena penjajahan, kita menjadi Indonesia, menjadi satu atas kemauan sendiri. Jadi, kita harus menghargai keberbagaian di rumah Indonesia ini. Proses menjadi bangsa ini masih terus berlangsung.”

Yang kedua?

Saya tak tertarik dengan jargon NKRI, Negara Kesatuan Republik Indonesia, karena ”kesatuan” membentuk uniformitas yang tak menghargai Bhinneka Tunggal Ika. Saya tertarik dengan Negara Persatuan Republik Indonesia. Persatuan berarti menghargai kultur-kultur yang hebat ini. Dengan ”persatuan” tak bisa lagi melihat Indonesia dari kacamata Jakarta.

Bukankah ada otonomi daerah?

Tak sama benar. Banyak pemekaran yang sifatnya sangat politis. Itu ambisi raja-raja kecil. Kita harus kembali ke filosofi laut. Pensiunan Kepala Angkatan Laut India, Admiral L Ramdas, yang saya temui di Manila, mengingatkan, ”Oceans unite, lands divide”. (Kompas, Minggu, 5 Oktober 2008, Maria Hartiningsih & Ninuk Mardiana Pambudy)

Related Posts :

0 komentar:

Poskan Komentar

 

AKU DI PERSIMPANGAN JALAN

Kebingungan saat ini berkecamuk di otak dan dada. Yang kubingungkan adalah kebenaran paling benar itu apa? Siapa? dan Bagaimana? Termasuk tawaran konsep kehidupan setelah mati yang ditawarkan para agamawan yang bersumber dari kitab suci masing masing. Bahkan dalam satu agamapun terdapat berbagai penafsiran tentang kehidupan ke depan setelah mati. Ataukah setelah mati ya habis dan selesai, sebagaimana konsep yang ditawarkan oleh ilmuwan yang tidak beragama, yang mendasarkan pada penelitian fakta fakta alam? Itulah kini yang kadang berkecamuk di otakku, dan kukira banyak berkecamuk pada jutaan manusia lain di bumi ini.
Untuk agar kita tidak teromabang ambing kita harus meyakini dan memilih konsep konsep itu yang kita anggap paling benar. Baik itu yang berdasarkan agama maupun yang bukan berdasarkan agama.
Dan mungkin kalau aku memilih yang berdasarkan agama yang kuanut, meski kadang masih terombang ambing. Dalam hal ini. dosa besarkah aku?

SURAT NOORDIN M TOP KEPADA BAGUS TV

Ekslusif BAGUSTV.com kami redaksi bagustv.com menerima e-mail dari seseorang yang mengaku Noordin M top berikut isi e-mail tersebut: Assalamualaikum Wr. Wb Saya Noordin M Top mau membenarkan bahwa yang meninggal di temanggung Adalah Ibrohim Alias Boim,Sebenarnya saya memang pada waktu itu berada di Temanggung dengan kedua pengawal Saya dan Ibrohim,Tetapi pada waktu Pegepungan saya berhasil lolos dari kepungan polisi.Saya tidak akan pernah menyerah sebelum amerika beserta sekutunya keluar dari irak atau negara islam lainnya.Kami mempunyai landasan mengapa kita akan terus meneror orang asing: 1. Sebagai Qishoh (pembalasan yang setimpal) atas perbuatan yang dilakukan oleh Amerika dan antek-anteknya terhadap saudara kami kaum muslimin dan mujahidin di penjuru dunia 2. Menghancurkan kekuatan mereka di negeri ini, yang mana mereka adalan pencuri dan perampok barang-barang berharga kaum muslimin di negeri ini 3. Mengeluarkan mereka dari negeri-negeri kaum muslimin. Terutama dari negeri Indonesia 4. Amaliyat Istisyhadiyah ini sebagai penyejuk dan obat hati buat kaum muslimin yang terdholimi dan tersiksa di seluruh penjuru dunia Yang terakhir ….. bahwasanya Amaliyat Jihadiyah ini akan menjadi pendorong semangat untuk ummat ini dan untuk menghidupkan kewajiban Jihad yang menjadi satu-satunya jalan untuk menegakkan Khilafah Rosyidah yang telah lalu, bi idznillah. Dan kami beri nama Amaliyat Jihadiyah ini dengan : “SARIYAH JABIR” الله أكبر ولله العزة ولرسوله والمؤمنون Amir Tandzim Al Qo’idah Indonesia Abu Mu’awwidz Nur Din bin Muhammad Top

PUTRIKU NURUL ILMI AINUT TIJAR HAMAMI

PKS JADI PARTAI TERBUKA BAGI NON MUSLIM, BLUNDERKAH?

Langkah PKS yang menjadi partai terbuka dengan memberikan peluang kepada non muslim menjadi anggota dan malah menjadi pengurus partai sangat beresiko.

Demikian dikatakan peneliti LSI Burhanuddin Muhtadi menyikapi strategi marketing politik yang dilakukan PKS dengan merubah citra dari partai konservatif menjadi partai terbuka. Sebagai bukti, PKS membuka pintu bagi kaum non muslim untuk bergabung. Soal mendulang perolehan suara ini, Burhanuddin Muhtadi pesimis. Kalau itu dilaksanakan, kata dia, PKS akan menghadapi dua resiko.

Pertama, tidak mudah bagi PKS untuk menyakinkan basis tradisional PKS yang konservatif terhadap perubahan citra tersebut, apalagi membuka bagi non muslim untuk bergabung. Kalau mereka tidak menerimanya karena merasa perubahan itu membuat PKS jauh dari tujuan awal didirikan, maka basis tradisional PKS, kata Burhanuddin, beramai-ramai pindah ke partai lain.

Kedua, non muslim sendiri tidak mudah dibujuk untuk bergabung, atau diyakinkan untuk bergabung. Pasalnya, karena PKS sudah terlanjur diindentikkan dengan partai Islam yang konservatif.

Sebelumnya di arena Munas ke II PKS, Presiden PKS Lutfi Hasan Ishaq mengatakan, pihaknya tidak perlu risau akan ditinggalkan kaum muslim dengan terbukanya PKS bagi non muslim. Ini lantaran, PKS masih tetap berasaskan Islam dan Pancasila.

ANAKKU BELAJAR AKTING, BAJU MLOROT

AROGANSI AMERIKA SERIKAT


Argumentasi Amerika Serikat (AS) selaku kiblat demokrasi yang sudah tertanam di benak masyarakat perlu dievaluasi lagi. Pasalnya, implementasi di Indonesia jauh lebih maju ketimbang AS dalam banyak persoalan. Buktinya, AS belum menerapkan sistem pemungutan suara one man, one vote, one value (satu orang satu suara, satu pilihan, dan satu nilai).Demokrasi kita jauh lebih maju dari Amerika. Kita lihat sampai saat ini belum sekalipun calon presiden yang berasal dari kaum hawa, apalagi presiden. Begitu juga dengan calon wakil presiden, hanya kali ini perempuan yang diusung menjadi wakil presiden. Selainnya belum pernah

Kita bisa lihat, Israel terlalu dianak-emaskan terutama dalam persoalan nuklir. Sedangkan Iran yang baru akan membuat instalasi sudah dipersoalkan. Padahal tujuan pembangunan pembuatan reaktor nuklir tersebut murni untuk damai dan kebutuhan energi listrik

Sekarang kita tak butuh lagi penatar demokrasi dari Paman Sam. Amerikalah yang perlu belajar demokrasi dengan Indonesia. Namun semua ini belum sepenuhnya difahami sebagian besar pemimpin bangsa. Sehingga, kita masih mengagung-agungkan implementasi demokrasi Amerika. Padahal itu tidak bagus

Sudah saatnya pemerintah mengalihkan perhatiannya kepada Negara Timur Tengah. Kita mengetahui, krisis global sekarang ini tak terlalu berimbas terhadap negara-negara Teluk. Bursa mereka malah naik, bukan melorot. Jadi tak salah kiranya pemerintah membangun hubungan yang lebih hangat dengan Timur Tengah