Showing posts with label perang. Show all posts
Showing posts with label perang. Show all posts

Wednesday, 8 January 2014

KASIHAN BANGET YA VETERAN PERANG AMERIKA. BAHKAN VETERAN PERANG IRAK DAN AFGANISTAN, ADA YANG JADI GELANDANGAN

 Chris, veteran perang AS di Irak dan Afganistan, kini jadi gelandangan di Kota BostonChris, demikian dia dipanggil, dulu adalah seorang tentara Amerika Serikat. Dia mengaku pernah ditugaskan di dua medan besar, Irak dan Afganistan.
Namun, kembali ke negerinya, Chris adalah orang yang gagal. Pewarta foto kantor berita Reuters pada Selasa kemarin menemui Chris menjadi gelandangan di Kota Boston, yang dikenal sebagai kota pendidikan karena bertebaran sejumlah kampus ternama. 

Di tengah cuaca yang sangat dingin, Chris berdiri di pinggir jalan Newbury cukup lama dengan mengandalkan penutup kepala dan jaket militer. Sambil menjulurkan sebuah gelas karton yang sudah kosong, dia berharap ada orang-orang yang berbaik hati memberi derma.

Sesekali ada yang memberi dia uang receh ke dalam gelas. Mereka tampak iba kepada Chris, yang mantan tentara kini malah menjadi gelandangan.

Dia termasuk puluhan ribu orang tuna wisma yang kian menderita akibat serangan cuaca super dingin di 2/3 wilayah AS, termasuk Boston. Salju yang menumpuk tebal di jalan-jalan dan angin dingin yang menusuk tulang dalam suhu di bawah nol derajat celcius membuat Chris selama berhari-hari harus menginap di penampungan.

Apalagi kini makin banyak tuna wisma yang berbondong-bondong ke penampungan karena tidak kuat menahan kejamnya hawa dingin di luar. Para pengelola pun kewalahan menampung mereka.

Menurut data National Alliance to End Homelesness, ada lebih dari 600.000 orang yang hidup sebagai tuna wisma di Amerika Serikat. Sebanyak 9 persen atau lebih dari 57.000 orang di antaranya adalah veteran perang.

Maka, pemerintah di beberapa negara bagian di AS mulai memikirkan cara yang pantas untuk menghargai para veteran perang untuk tidak lagi menggelandang sekaligus menyelamatkan mereka dari serangan cuaca super dingin.

Kota Phoenix di negara bagian Arizona, misalnya, menjadi pelopor bagi program pemberian apartemen bagi para veteran perang yang menggelandang. Keberhasilan Phoenix ini diikuti oleh Salt Lake City di Utah yang juga sukses menggelar program yang sama.

Program ini digelar sejak 2010 lalu di Phoenix yang saat itu hanya memiliki 222 veteran tuna wisma. Per Januari 2013, menurut laporan Kementerian Pembangunan dan Perumahan Kota AS, veteran perang yang tidak punya rumah di kota ini meroket hingga 1.000 orang.

Satu Kamar
Walikota Phoenix Greg Stanton kepada Washington Post bulan lalu mengatakan, seluruh veteran tuna wisma telah tuntas diberikan apartemen satu kamar pada 18 Desember 2013. Sebelumnya November lalu, kota Phoenix telah mengalokasikan dana sebesar US$100.000 (Rp1,2 miliar) untuk sekitar 56 veteran yang belum mendapatkan rumah.

Selama tiga tahun pemberantasan tuna wisma veteran, Phoenix telah menggunakan dana dari pemerintah sebesar US$6,5 juta (Rp79 miliar) dan hampir US$2 juta (24,4 miliar) dari kas kota.

Kesuksesan serupa diikuti oleh kota Salt Lake City, negara bagian Utah. Walikota Salt Lake City Ralph Becker pada wawancara dengan MSNBC Minggu lalu mengatakan bahwa saat ini hanya tinggal delapan veteran yang tidak punya rumah di kotanya. Para veteran ini menolak diberikan tempat tinggal dan akan terus dibujuk.

Untuk merumahkan para veteran, kota ini mengeluarkan dana dari kas kota sebesar US$1,8 juta (Rp22 miliar) dan dari bantuan pusat sebesar US$6,5 juta (Rp79 miliar). Becker mengatakan bahwa seluruh lapisan di pemerintahannya bekerja sama untuk menyukseskan program ini.

"Ini adalah keputusan yang dibuat seluruh komunitas dan kami mendedikasikan diri selama bertahun-tahun. Sumber daya, yang tidak pernah cukup, telah datang dari berbagai komunitas," ujar Becker yang menambahkan bahwa kotanya dan Phoenix tengah melancarkan "kompetisi persahabatan" dalam mengentaskan masalah tuna wisma.

Program kedua kota ini sejalan dengan komitmen pemerintah pusat sejak tahun 2010 untuk memberikan rumah bagi veteran tuna wisma. Presiden Barack Obama menargetkan masalah ini tuntas pada 2015 mendatang.

"Kita harus terus maju, karena tidak boleh ada seorang pun di Amerika, termasuk veteran, hidup di jalanan," kata Obama.

Monday, 30 December 2013

KUMPULAN FOTO SAAT SAAT TERAKHIR ADOLF HITLER




Quote:
Sampul depan koran "Völkischer Beobachter" (Pengamat Völkisch) edisi 12 April 1945 yang memperlihatkan foto upacara penganugerahan medali untuk para Hitlerjugend yang dihadiri oleh Adolf Hitler. Ini membuktikan bahwa upacara ini tidaklah diselenggarakan pada saat ultah Hitler (20 April 1945) seperti yang selama ini banyak dikutip di media maupun internet! Di koran itu sendiri disebutkan bahwa upacara ini diadakan pada tanggal 20 Maret 1945

Adolf Hitler datang ke tempat upacara dan langsung disambut oleh "Heil mein Führer!" dari Reichsjugendführer Artur Axmann. Penganugerahan medali sendiri telah dilaksanakan beberapa saat sebelumnya oleh Axmann (perhatikan Eisernes Kreuz II klasse yang terpasang di dada para Hitlerjugend!), sementara yang Hitler lakukan hanyalah bersalaman, menepuk pipi sambil memberi selamat kepada bocah-bocah tersebut. Deretan jendela ruang makan Reichskanzlei berada tepat di belakang tangan Axmann yang terangkat. Sesudah upacara selesai, Adolf Hitler, Julius Schaub dan Martin Bormann langsung menginspeksi kerusakan yang terjadi di ruang makan. Disanalah foto terakhir Hitler diambil, tanggal 20 Maret 1945, 1 bulan dan 10 hari sebelum dia bunuh diri!



Adolf Hitler memegang bahu seorang anggota Hitlerjugend. Paling kanan adalah Wilhelm "Willi" Hübner, yang mendapat Eisernes Kreuz II klasse setelah penaklukan kembali Lauban di bulan Maret 1945. Dia bertugas sebagai pembawa pesan dan keberaniannya dalam pertempuran tersebut membuatnya mendapatkan penhargaan yang selayaknya.


Adolf Hitler bersalaman dengan Alfred Czech. Hitlerjugend yang hidungnya bertemu dengan hidung Hitler (kelima dari kanan) bernama Erwin Schiedewig






Untuk menambah "bumbu" mengenai kontroversi foto terakhir Hitler, di atas adalah foto yang diambil di Führerbunker saat Hitler memberi selamat kepada Theodor Tolsdorff (pangkat terakhir Generalleutnant) atas penganugerahan medali Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes mit Eichenlaub, Schwerter und Brillanten ke-25 dengan disaksikan oleh Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel. Tolsdorff sendiri menerimanya tanggal 18 Maret 1945, dan biasanya ini adalah pemberitahuan yang dikirim melalui telegram. Tentunya Tolsdorff harus pulang dari front dan pergi ke bunker, yang berarti bahwa foto Tolsdorff di bunker ini diambil SETELAH tanggal 18 Maret! Mungkinkan dia diambil setelah tanggal 20 Maret, tanggal penganugerahan medali Hitlerjugend yang juga tanggal yang secara resmi dianggap sebagai saat terakhir Hitler difoto? Dahsyatnya, DISINI disebutkan bahwa penunjukan Tolsdorff sebagai Panglima LXXXII Armeekorps di Balkan sekaligus promosinya menjadi Generalleutnant berlangsung tanggal 1 April 1945. Apakah ini berarti bahwa tanggal inilah tanggal yang sama saat dia bertemu dengan Hitler di bunker Berlin?
Upacara penganugerahan ini diselenggarakan di taman Reichskanzlei (Kekanseliran) yang terletak di Voßstraße di Berlin, dan para penerimanya adalah anggota unit tempur Hitlerjugend-SS yang menerima Eisernes Kreuzes dari tangan kepala Hitlerjugend, Reichsjugendführer Artur Axmann, dan kemudian mendapat ucapan selamat dari Sang Führer. Selain film, terdapat juga enam buah foto dari upacara yang tercatat sebagai penampilan resmi terakhir Hitler untuk kamera ini. Sebagai fotografernya adalah asisten dari fotografer pribadi Hitler, Heinrich Hoffmann, dan kini foto-fotonya berada di arsip koleksi Dr. Gustav Wrangel.


Dikabarkan bahwa para anak muda tersebut berdiri selama kurang lebih sejam demi menunggu Sang Führer untuk menginspeksi mereka. Tak ada data jelas apakah para bocah-bocah pemberani ini kemudian selamat dari peperangan yang brutal. Yang jelas, salah seorang di antaranya, Armin Lehmann, selamat dan kemudian menuliskan pengalamannya di masa perang dalam sebuah buku. Lehmann tetap tinggal di Berlin sebagai staff dari Artur Axmann dengan tugas sebagai pengantar berita antara markas Axmann dengan Führerbunker. Dia juga tinggal di ruang radio Kriegsmarine untuk mengantarkan pesan-pesan radio. Setelah perang dia tinggal di Amerika Serikat. Satu yang perlu diketahui: Armin Lehmann TIDAK ADA di antara deretan Hitlerjugend yang menerima medali tanggal 20 Maret 1945, melainkan di acara penerimaan medali (juga untuk Hitlerjugend) yang diadakan tanggal 20 April 1945 pas ulang tahun Hitler di Ehrenhof, Reichskanzlei. Kedua upacara ini sering tertukar tempat dan membuat orang bingung. Satu yang pasti: upacara tanggal 20 April 1945 tidak melibatkan satu orang fotografer atau kameraman pun!


Yang menarik adalah, Lehmann mengenang bahwa dia terkejut melihat penampilan Hitler dalam upacara ini. Sang Führer tampak terlihat ringkih, lemah dan bungkuk. Tangan kirinya bergetar hebat sehingga dia menutupinya dengan selalu menyilangkannya di belakang. Dia gemetaran bukan karena takut akan pasukan Rusia yang sudah mengelilinginya, melainkan karena akibat dari gejala Parkinson yang dideritanya, yang semakin menghebat setelah peristiwa 20 Juli 1944 (Pemberontakan Stauffenberg dkk). Ini juga yang tampaknya menjadi penyebab mengapa Hitler memutuskan untuk tetap tinggal di Berlin dan tidak melarikan diri. Kesehatannya begitu buruk sehingga diragukan dia bisa bertahan apabila harus berjalan jauh atau bersembunyi di tempat sempit demi menghindari kejaran pasukan musuh.


Foto-foto di atas diambil tanggal 20 Maret 1945 (dan bukan tanggal 20 April atau pas ulang tahun Hitler seperti yang banyak diberitakan!). Tanggal tersebut juga merupakan tanggal terakhir fotografer atau kameraman Nazi mengambil gambar Hitler dalam acara resmi (bila anda melihat cuplikan filmnya, maka anda bisa melihat seorang fotografer mengambil gambar di waktu yang sama!). Setelah upacara selesai, Hitler lalu melakukan inspeksi sepintas lalu terhadap ruang makan Reichskanzlei yang terletak di sebelah taman. Para bocah Hitlerjugend sendiri sebenarnya berdiri di dasar anak tangga yang mengarah ke bagian belakang kantor Hitler yang berada berhadapan dengan taman. Setelah Hitler pindah tempat, kameraman film tidak mengikuti Hitler yang pergi menuju ke ruang makan bersama dengan SS-Obergruppenführer Julius Schaub. Foto-foto yang diambil di ruang makan, di antara puing-puing, inilah yang merupakan foto TERAKHIR dari Hitler. Sebenarnya terdapat tiga buah foto, hanya saja yang umum beredar cuma satu foto saja sementara dua lainnya jarang diketahui. Saat Hitler dan Schaub melihat-lihat bekas kerusakan yang terjadi, Martin Bormann masuk dan bergabung dengan mereka. Satu foto terakhir memperlihatkan ketiga orang ini, dan inilah yang bisa dikatakan benar-benar merupakan FOTO TERAKHIR DARI ADOLF HITLER!

Sebenarnya terdapat dua acara penganugerahan medali bagi para bocah Hitlerjugend yang hanya berselang seminggu antara satu dengan yang lainnya. Penganugerahan satu lagi dihadiri oleh Menteri Propaganda Joseph Goebbels dan mengikutsertakan pula para anggota tua Volkssturm. Edisi terakhir dari Volkischer Beobachter bertanggal 20 April 1945 juga memberitakan mengenai upacara ini. Pada saat itu koran yang merupakan corong utama Partai Nazi tersebut hanya terdiri dari satu lembar kertas yang dilipat menjadi empat halaman, dan telah seperti ini dari sejak bulan Februari 1945. Pada saat ulang tahunnya (20 April), Hitler memang mengadakan upacara penganugerahan medali bagi para bocah Hitlerjugend, hanya saja upacara tersebut diadakan di dalam Reichskanzlei dan bukan diluarnya, juga tanpa ada fotografer yang mengabadikan sehingga tidak ada satupun foto yang merekam upacara tersebut. 
 
SUMBER : http://forum.viva.co.id/tokoh-dunia/973419-foto-foto-saat-terakhir-hitler.html

Tragedi Perang Bubat Bahaya Laten Yang Juga Perlu Diperhatikan

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhdfF9qcWd4ShVnAi8hgkmr82FJycONjsi4tHUGvOW7mGz2-ZUb_gxUYtxMI5oJZTV20r6Z4T3cmB0Vp6xTM_3BVaxStoVNw7_CJZkP1RyF9vv85p1ugyLynvOazF4hlcaB7sK7Mqp-GKQ/s1600/perangbubat.jpg
Rencana pernikahan

Peristiwa Perang Bubat diawali dari niat Prabu Hayam Wuruk yang ingin memperistri putri Dyah Pitaloka Citraresmi dari Negeri Sunda. Konon ketertarikan Hayam Wuruk terhadap putri tersebut karena beredarnya lukisan sang putri di Majapahit; yang dilukis secara diam-diam oleh seorang seniman pada masa itu, bernama Sungging Prabangkara.

Menurut catatan sejarah Pajajaran oleh Saleh Danasasmita serta Naskah Perang Bubat oleh Yoseph Iskandar, niat pernikahan itu adalah untuk mempererat tali persaudaraan yang telah lama putus antara Majapahit dan Sunda. Raden Wijaya yang menjadi pendiri kerajaan Majapahit dianggap keturunan Sunda dari Dyah Lembu Tal dan suaminya yaitu Rakeyan Jayadarma, raja kerajaan Sunda. Hal ini juga tercatat dalam Pustaka Rajya Rajya i Bhumi Nusantara parwa II sarga 3. Dalam Babad Tanah Jawi, Raden Wijaya disebut pula dengan nama Jaka Susuruh dari Pajajaran. Meskipun demikian, catatan sejarah Pajajaran tersebut dianggap lemah kebenarannya, terutama karena nama Dyah Lembu Tal adalah nama laki-laki.

Alasan umum yang dapat diterima adalah Hayam Wuruk memang berniat memperistri Dyah Pitaloka dengan didorong alasan politik, yaitu untuk mengikat persekutuan dengan Negeri Sunda. Atas restu dari keluarga kerajaan Majapahit, Hayam Wuruk mengirimkan surat kehormatan kepada Maharaja Linggabuana untuk melamar Dyah Pitaloka. Upacara pernikahan rencananya akan dilangsungkan di Majapahit. Pihak dewan kerajaan Negeri Sunda sendiri sebenarnya keberatan, terutama Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati. Ini karena menurut adat yang berlaku di Nusantara pada saat itu, tidak lazim pihak pengantin perempuan datang kepada pihak pengantin lelaki. Selain itu ada dugaan bahwa hal tersebut adalah jebakan diplomatik Majapahit yang saat itu sedang melebarkan kekuasaannya, diantaranya dengan cara menguasai Kerajaan Dompu di Nusa Tenggara.

Linggabuana memutuskan untuk tetap berangkat ke Majapahit, karena rasa persaudaraan yang sudah ada dari garis leluhur dua negara tersebut. Linggabuana berangkat bersama rombongan Sunda ke Majapahit dan diterima serta ditempatkan di Pesanggrahan Bubat.


Kesalah-pahaman

Raja Sunda datang ke Bubat beserta permaisuri dan putri Dyah Pitaloka dengan diiringi sedikit prajurit. Menurut Kidung Sundayana,[rujukan?] timbul niat Mahapatih Gajah Mada untuk menguasai Kerajaan Sunda. Gajah Mada ingin memenuhi Sumpah Palapa yang dibuatnya pada masa sebelum Hayam Wuruk naik tahta, sebab dari berbagai kerajaan di Nusantara yang sudah ditaklukkan Majapahit, hanya kerajaan Sunda lah yang belum dikuasai.

Dengan maksud tersebut, Gajah Mada membuat alasan oleh untuk menganggap bahwa kedatangan rombongan Sunda di Pesanggrahan Bubat adalah bentuk penyerahan diri Kerajaan Sunda kepada Majapahit. Gajah Mada mendesak Hayam Wuruk untuk menerima Dyah Pitaloka bukan sebagai pengantin, tetapi sebagai tanda takluk Negeri Sunda dan pengakuan superioritas Majapahit atas Sunda di Nusantara. Hayam Wuruk sendiri disebutkan bimbang atas permasalahan tersebut, mengingat Gajah Mada adalah Mahapatih yang diandalkan Majapahit pada saat itu.


Gugurnya rombongan Sunda

Kemudian terjadi insiden perselisihan antara utusan Linggabuana dengan Gajah Mada. Perselisihan ini diakhiri dengan dimaki-makinya Gajah Mada oleh utusan Negeri Sunda yang terkejut bahwa kedatangan mereka hanya untuk memberikan tanda takluk dan mengakui superioritas Majapahit, bukan karena undangan sebelumnya. Namun Gajah Mada tetap dalam posisi semula.

Belum lagi Hayam Wuruk memberikan putusannya, Gajah Mada sudah mengerahkan pasukannya (Bhayangkara) ke Pesanggrahan Bubat dan mengancam Linggabuana untuk mengakui superioritas Majapahit. Demi mempertahankan kehormatan sebagai ksatria Sunda, Linggabuana menolak tekanan itu. Terjadilah peperangan yang tidak seimbang antara Gajah Mada dengan pasukannya yang berjumlah besar, melawan Linggabuana dengan pasukan pengawal kerajaan (Balamati) yang berjumlah kecil serta para pejabat dan menteri kerajaan yang ikut dalam kunjungan itu. Peristiwa itu berakhir dengan gugurnya Linggabuana, para menteri, pejabat kerajaan beserta segenap keluarga kerajaan Sunda. Raja Sunda beserta segenap pejabat kerajaan Sunda dapat didatangkan di Majapahit dan binasa di lapangan Bubat.

Tradisi menyebutkan sang Putri Dyah Pitaloka dengan hati berduka melakukan bela pati, bunuh diri untuk membela kehormatan bangsa dan negaranya. Tindakan ini mungkin diikuti oleh segenap perempuan-perempuan Sunda yang masih tersisa, baik bangsawan ataupun abdi. Menurut tata perilaku dan nilai-nilai kasta ksatriya, tindakan bunuh diri ritual dilakukan oleh para perempuan kasta tersebut jika kaum laki-lakinya telah gugur. Perbuatan itu diharapkan dapat membela harga diri sekaligus untuk melindungi kesucian mereka, yaitu menghadapi kemungkinan dipermalukan karena pemerkosaan, penganiayaan, atau diperbudak.


Akibat

Tradisi menyebutkan bahwa Hayam Wuruk meratapi kematian Dyah Pitaloka. Hayam Wuruk menyesalkan tindakan ini dan mengirimkan utusan (darmadyaksa) dari Bali - yang saat itu berada di Majapahit untuk menyaksikan pernikahan antara Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka - untuk menyampaikan permohonan maaf kepada Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati yang menjadi pejabat sementara raja Negeri Sunda, serta menyampaikan bahwa semua peristiwa ini akan dimuat dalam Kidung Sunda atau Kidung Sundayana (di Bali dikenal sebagai Geguritan Sunda) agar diambil hikmahnya. Raja Hayam Wuruk kemudian menikahi sepupunya sendiri, Paduka Sori.

Akibat peristiwa Bubat ini, dikatakan dalam catatan tersebut bahwa hubungan Hayam Wuruk dengan Gajah Mada menjadi renggang. Gajah Mada sendiri menghadapi tentangan, kecurigaan, dan kecaman dari pihak pejabat dan bangsawan Majapahit, karena tindakannya dianggap ceroboh dan gegabah. Ia dianggap terlalu berani dan lancang dengan tidak mengindahkan keinginan dan perasaan sang Mahkota, Raja Hayam Wuruk sendiri. Peristiwa yang penuh kemalangan ini pun menandai mulai turunnya karier Gajah Mada, karena kemudian Hayam Wuruk menganugerahinya tanah perdikan di Madakaripura (kini Probolinggo). Meskipun tindakan ini nampak sebagai penganugerahan, tindakan ini dapat ditafsirkan sebagai anjuran halus agar Gajah Mada mulai mempertimbangkan untuk pensiun, karena tanah ini letaknya jauh dari ibu kota Majapahit sehingga Gajah Mada mulai mengundurkan diri dari politik kenegaraan istana Majapahit. Meskipun demikian, menurut Negarakertagama Gajah Mada masih disebutkan nama dan jabatannya, sehingga ditafsirkan Gajah Mada sendiri tetap menjabat Mahapatih sampai akhir hayatnya (1364).

Tragedi ini merusak hubungan kenegaraan antar kedua negara dan terus berlangsung hingga bertahun-tahun kemudian, hubungan Sunda-Majapahit tidak pernah pulih seperti sedia kala.[1] Pangeran Niskalawastu Kancana — adik Putri Pitaloka yang tetap tinggal di istana Kawali dan tidak ikut ke Majapahit mengiringi keluarganya karena saat itu masih terlalu kecil — menjadi satu-satunya keturunan Raja yang masih hidup dan kemudian akan naik takhta menjadi Prabu Niskalawastu Kancana. Kebijakannya antara lain memutuskan hubungan diplomatik dengan Majapahit dan menerapkan isolasi terbatas dalam hubungan kenegaraan antar kedua kerajaan. Akibat peristiwa ini pula, di kalangan kerabat Negeri Sunda diberlakukan peraturan larangan estri ti luaran, yang isinya diantaranya tidak boleh menikah dari luar lingkungan kerabat Sunda, atau sebagian lagi mengatakan tidak boleh menikah dengan pihak Majapahit. Peraturan ini kemudian ditafsirkan lebih luas sebagai larangan bagi orang Sunda untuk menikahi orang Jawa.

Tindakan keberanian dan keperwiraan Raja Sunda dan putri Dyah Pitaloka untuk melakukan tindakan bela pati (berani mati) dihormati dan dimuliakan oleh rakyat Sunda dan dianggap sebagai teladan. Raja Lingga Buana dijuluki “Prabu Wangi” (bahasa Sunda: raja yang harum namanya) karena kepahlawanannya membela harga diri negaranya. Keturunannya, raja-raja Sunda kemudian dijuluki Siliwangi yang berasal dari kata Silih Wangi yang berarti pengganti, pewaris atau penerus Prabu Wangi.

Beberapa reaksi tersebut mencerminkan kekecewaan dan kemarahan masyarakat Sunda kepada Majapahit, sebuah sentimen yang kemudian berkembang menjadi semacam rasa persaingan dan permusuhan antara suku Sunda dan Jawa yang dalam beberapa hal masih tersisa hingga kini. Antara lain, tidak seperti kota-kota lain di Indonesia, di kota Bandung, ibu kota Jawa Barat sekaligus pusat budaya Sunda, tidak ditemukan jalan bernama “Gajah Mada” atau “Majapahit”. Meskipun Gajah Mada dianggap sebagai tokoh pahlawan nasional Indonesia, kebanyakan rakyat Sunda menganggapnya tidak pantas akibat tindakannya yang dianggap tidak terpuji dalam tragedi ini.

Hal yang menarik antara lain, meskipun Bali sering kali dianggap sebagai pewaris kebudayaan Majapahit, masyarakat Bali sepertinya cenderung berpihak kepada kerajaan Sunda dalam hal ini, seperti terbukti dalam naskah Bali Kidung Sunda. Penghormatan dan kekaguman pihak Bali atas tindakan keluarga kerajaan Sunda yang dengan gagah berani menghadapi kematian, sangat mungkin karena kesesuaiannya dengan ajaran Hindu mengenai tata perilaku dan nilai-nilai kehormatan kasta ksatriya, bahwa kematian yang utama dan sempurna bagi seorang ksatriya adalah di ujung pedang di tengah medan laga. Nilai-nilai kepahlawanan dan keberanian ini mendapatkan sandingannya dalam kebudayaan Bali, yakni tradisi puputan, pertempuran hingga mati yang dilakukan kaum prianya, disusul ritual bunuh diri yang dilakukan kaum wanitanya. Mereka memilih mati mulia daripada menyerah, tetap hidup, tetapi menanggung malu, kehinaan dan kekalahan.

Sunday, 29 December 2013

Perang “Serdadu Siber” RI-Australia. Sejumlah situs sipil lumpuh total di dua negara. Siapa rugi?

 
"Who want a cc number indonesian?" (Siapa yang mau nomor kartu kredit Indonesia?) tulis peretas Australia dalam website Pastebin.com. Voila! Ratusan nomor kartu kredit dijembreng panjang. Terpampang nama-nama khas Indonesia lengkap dengan alamat e-mail serta kode penerbangan. Data rahasia itu diumbar begitu saja di Internet.

Di situs itu, pelaku peretasan yang mengaku sebagai 'AnonAu', atau Anonymous Australia, mengklaim daftar panjang kartu kredit itu adalah pelanggan Garuda Indonesia Airways yang sengaja dicuri. Diduga peretas itu berhasil menyusup ke jaringan database Garuda Indonesia melalui celah di website garuda-indonesia.com. Impresif.

"And how about garuda frequent flyer?" (Bagaimana dengan Garuda Frequent Flyer (GFF)—program loyalty dari Garuda Indonesia yang diperuntukkan untuk pelanggan setia?) AnonAu menambahkan. Kemudian menyusul data-data 317 pelanggan GFF. Juga disertai alamat e-mailnya.

"Yeah.  That's your country, baby … “ tulis AnonAu itu setengah mengejek. Lalu mereka mengatakan data itu dicuri dari dua juta akun milik warga Indonesia di Facebook. “Next... maybe your account... fella," hardik AnonAu dalam pesan itu.

Itulah reaksi para hacker Australia yang berang. Sebab, lebih dari 170 situs tak bersalah asal Australia diobrak-abrik peretas Indonesia, beberapa hari sebelumnya. Aksi balas serang ini telah terjadi lebih dari sepekan. Korban pun  jatuh. Garuda Indonesia dan pelanggannya mungkin hanya secuil dari gambar besar korban "perang."

Garuda membenarkan, bahwa pada Jumat malam hingga Sabtu petang, situs resminya lumpuh. Tidak bisa diakses sama sekali. Itu sebabnya,  kata Vice President Corporate Communication Garuda Indonesia Pujo Broto,  Garuda sengaja mematikan situs mereka.

"Data center kami telah diretas. Untuk pengamanan, kami mematikan situs Garuda selama lima jam,"  ujar Pujo pada VIVAnews, 20 November 2013. Selama itu, para pelanggan maskapai penerbangan nasional itu turut jadi korban. Mereka tak bisa memesan tiket secara online, dan hanya bisa memesan via call center. “Itu buka 24 jam, dan banyak penumpang beralih ke sana,” ujar Pujo.

Rugi? Pujo enggan memaparkan seberapa besar kerugian akibat lumpuhnya sistem pemesanan tiket online Garuda selama masa penyerangan itu. "Tim IT kami langsung bekerja, dan setelah lima jam situs kami kembali live."

Gara-gara disadap

Garuda Indonesia hanya satu dari "sasaran tembak" para “serdadu siber” Australia. Sejumlah situs lain dari Indonesia bernasib sama. Diutak-atik oleh peretas hingga luluh-lantak tak berdaya. Bahkan, sampai hari ini pun mereka masih mati suri.

Jika ditelusuri, tragedi ini berawal dari aksi spionase badan intelijen Australia, Direktorat Sinyal Pertahanan/DSD. Aksi lembaga spion itu terbongkar melalui dokumen rahasia Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat (NSA) yang dibocorkan oleh mantan kontraktornya, Edward Snowden.

Menurut laporan Guardian edisi 2 November 2013, operasi penyadapan oleh DSD dilakukan pada 2009, dan dibantu mitra sekutu, yakni NSA. Target operasinya adalah nomor kontak para pejabat tinggi bidang keamanan Indonesia, tak terkecuali Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono beserta istri, Wapres Boediono, mantan Wapres Jusuf Kalla, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, dan beberapa pejabat tinggi lain.

Fakta ini tentu menyulut api antara Indonesia dan Australia. Di dunia maya, kabar ini memantik amarah sejumlah pihak. Aksi mata-mata itu dianggap kelewatan, dan para peretas asal Indonesia pun menuntut balas. Mereka menggencarkan serangan deface —mengubah tampilan depan website— ke sejumlah situs milik Australia, dengan nama operasi #OpAustralia di Twitter.

Badai serangan sporadis digelar para peretas dari Indonesia. Kurang dari 24 jam, 178 wajah website Australia diacak-acak. Nama-nama grup peretas seperti Blackwhiteanglezwings Team, Indonesian Cyber Army, Jagad dot ID, Wonogiri Cyber Team, Indonesia Security Down pun mejeng di halaman depan situs-situs Australia itu. Tak cuma sebentar, tapi berhari-hari.

Tak luput dari serangan, situs milik pemerintah Australia: asis.gov.au (situs milik badan intelijen Australia ASIS atau Australian Secret Intelligence Service) dan asio.gov.au (situs milik badan pertahanan Australia ASIO atau Australian Security Intelligence Organisation). Selama beberapa jam, kedua situs sempat tak bisa diakses.

"Stop spying Indonesia, If Australia still spy on Indonesia, we do not hesitate Indonesian Hacker reluctant to undermine Australia website. … We will stop if Australia to say sorry to Indonesia," kata salah satu peretas melalui pesan yang ditinggalkan di situs korbannya.

Sejak itu, warga Australia berkeluh kesah tentang serangan yang bodoh dan tidak bertanggung jawab itu di media sosial. Merasa merasa tidak terlibat dengan aktivitas intelijen di masa lalu, namun ironis, kini mereka yang menerima getahnya. Saat dikonfirmasi, mengutip laman Cyber War News, seorang peretas beridentitas xCodeZ asal Indonesia berkilah, Australia-lah yang memulai.

Galau oleh serangan membabi-buta dari Indonesia itu, Anonymous Australia meninggalkan peringatan di situs YouTube. Mereka  meminta pelaku aksi peretasan dari Indonesia agar menghentikan serangan ke situs-situs tak bersalah milik masyarakat sipil Australia, dan fokus pada target situs pemerintahan yang memang dianggap lebih relevan.

"We bid you, as a fellow brother to focus on your main target – governments and spy agencies and leave the innocent bystanders out of this," tulis pesan itu di dalam video.

Namun, pesan itu tak digubris. Sekelompok peretas bergerak. Laman Cyber War News, menyatakan peretas Indonesia menyerang situs sipil, setelah membombardir situs Badan Intelijen Australia, ASIS.gov.au dengan serangan DDoS (distributed denial of service). Itu serangan massif.  Sasaran dihujani bom trafik seketika,  sehingga lumpuh secara infrastruktur.

Serangan itu pun menarik perhatian media massa asing. Dampak dari serangan itu meluas cepat. "Sebuah grup peretas bernama Indonesian Security Down (ISD) Team diyakini telah berada di belakang serangan ke situs ASIS. ISD dan kelompok peretas lain, termasuk Indonesian Cyber Army dan The Java Cyber Army bersumpah untuk melanjutkan serangan tersebut," tulis harian Sydney Morning Herald, edisi Senin 11 November 2013 

Peretas Indonesia pun mendapat sorotan.

Serangan balik

Tak terima negaranya diserang membabi buta, grup peretas Anonymous Australia naik darah.  Mereka pun membuat aksi balasan.  Sebuah video di YouTube diunggah oleh Anonymous Australia. Di video itu, mereka mengancam akan menyerang sejumlah website ternama di Indonesia, milik negara dan swasta, seperti Portal VIVA.co.id, Polri.go.id, Kaskus.com, dan Kpk.go.id.

Peretas Negeri Kanguru itu mengatur serangan balik. Pada Rabu 13 November 2013, beberapa situs besar di Indonesia "kedatangan tamu". Dilaporkan situs milik Angkasa Pura, Solo Airport, Kementerian Pendidikan, hingga Garuda Indonesia tumbang. Sejumlah peretas berhasil menyusup, dan mencuri data-data dari tiap situs 

Penelusuran VIVAnews di situs Pastebin, Anonymous Australia berhasil mencuri laporan neraca AngkasaPura, mengutak atik sistem manajemen database Soloairport.com dan Kemdikbud.go.id, serta mencuri data penumpang Garuda Indonesia beserta nomor kartu kreditnya.

Belum puas, mereka menjembrengkan semua data itu di satu halaman, yang bisa diakses luas oleh siapapun.

"We gave you final warning recently,” tulis kelompok peretas itu. Mereka mengaku telah melumpuhkan sistem di Angkasapura, pendidikan dan banyak lagi situs Indonesia lainnya. “First of all, becAUSE this cyber war, you make our site down. Including charity website, church and micro industry”.

Saat dikonfirmasi, Kepala Biro IT PT Angkasa Pura II, Didi Kristianto membenarkan aksi peretasan di perusahaan itu. "Tapi, yang diretas itu bukan situs, melainkan executive information system (EIS) yang didalamnya terdapat data-data pekerja berupa grafik, statistik penerbangan dan laporan keuangan," ujarnya pada VIVAnews, 20 November 2013.

"Untung, data-data yang ada di EIS itu bukan data rahasia. Data-data itu secara rutin dipublikasi di portal BUMN. Sementara data-data rahasia masih aman, dan tidak tersentuh peretas," dia menjelaskan.

Tapi peretas asal Indonesia beridentitas Scrangger40z tak rela kehilangan muka. Dia membalas serangan Anonymous Australia dengan melumpuhkan beberapa situs milik pemerintah Australia dengan domain gov.au, seperti asio.gov.au, asia.gov.au, australia.gov.au, canberraairport.com.au, alburycity.nsw.gov.au, pm.gov.au, dan masih banyak lagi di tautan ini.

Tak hanya mematikan sistem di website itu, sang peretas juga mengunggah shell (trojan) di situs-situs itu sehingga sewaktu-waktu bisa dilumpuhkan melalui remote.

"We attack Australian because we hate indonesian spying from Australian. if you save airport database from indonesian, we can attack all website of australian." (Kami menyerang situs Australia karena kami tidak suka Indonesia dimata-matai Australia. Jika Anda mencuri database bandara dari Indonesia, kami bisa menyerang semua website Australia)

Dalam laman Pastebin, Scrangger40z mengklaim Anonymous Indonesia telah menyusupi 765.734 situs Australia, 456.225 akun Facebook, 51.445 akun Twitter, dan 55.256 akun BlackBerry.

Meredakan situasi kian semrawut, Anonymous Australia kembali mengunggah video ke YouTube. Di dalamnya, mereka memohon agar perang siber antara Indonesia dan Australia dihentikan. Berikut sepetik pesan yang ditulis Anonymous Australia dalam video.

Menurut pantauan, sebagian besar situs pemerintahan Australia tampak pulih. Begitu pun situs-situs milik Indonesia. Hanya beberapa situs seperti Bank Indonesia dan Badan Narkotika Nasional (BNN) tampak masih babak belur bahkan sampai hari ini.

Belum ada konfirmasi dari pihak yang bertanggung jawab atas kegagalan akses kedua situs pemerintah itu. Namun, dugaan kuat sementara kedua situs itu menjadi sasaran para peretas Australia.

Stop!

Isu perang siber ini pun sampai ke meja Kementerian Komunikasi dan Informatika. Juru bicara Kemenkominfo Gatot S Dewa Broto mengatakan, ramainya pemberitaan di media massa tentang aksi peretasan sangat berpotensi memicu keresahan dari masing-masing negara, khususnya pengguna Internet.

"Tindakan peretasan dilakukan secara demonstratif, tidak dapat dipertanggungjawabkan, hanya akan memperkeruh suasana," ujar Gatot. "Ini juga berpotensi melanggar UU No. 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, yaitu pada Pasal 28 ayat 1 dan 2, Pasal 29, dan Pasal 30 ayat 1, 2, dan 3."

Senada dengan Gatot, pakar keamanan Informasi Jim Geovedi juga mengimbau agar perang siber antara Indonesia-Australia segera dihentikan. "Perang siber adalah istilah besar dan serius. Apa saja aktivitas dalam sebuah perang siber (cyberwar)? Jika mengikuti definisi perang secara umum yang disesuaikan dengan media siber, maka ada beberapa hal yang akan terjadi," kata Jim, dalam blognya.

Pertama, akan terjadi serangan memakan korban. Jika hanya kerugian material, kata Jim, sebuah aksi ekonomi pun bisa menimbulkan kerugian dalam jumlah besar. Karena itu, kerugian material belum bisa menjadi indikasi terjadinya sebuah perang siber.

Kedua, sebuah aksi perang siber harus bersifat instrumental, atau punya tujuan. Dalam konfrontasi militer, satu pihak akan memaksakan pihak berseberangan untuk melakukan yang tidak mereka inginkan.

"Ketiga, perang siber harus bersifat politik. Deklarasi perang adalah mutlak hak istimewa pemimpin negara, bukan hak anak-anak yang bahkan belum punya hak pilih dalam pemilihan umum di negaranya, walaupun mereka meyakini aksi mereka adalah untuk kepentingan negara dan bangsa," ujar Jim.

Menurutnya, sampai hari ini, belum satupun serangan siber memenuhi persyaratan itu.

Dalam blognya, Jim juga mengingatkan Indonesia punya pihak berwenang, dan lebih mampu menangani persoalan ini. Menurut Jim, jika seseorang menilai pemerintah tidak kompeten, silakan melakukan protes kepada para petinggi negara, dan tidak melakukan tindakan sporadis yang justru membahayakan hubungan antarnegara.

"Jika masih bersikeras, silakan pikirkan beberapa hal berikut. Penyadapan bukan hal baru, Indonesia juga melakukannya. Informasi penyadapan diperoleh dari dokumen yang dibocorkan Edward Snowden. Sebelum dokumen tersebut bocor, apakah kalian menyadari aktivitas memata-matai antar kedua negara telah terjadi?" kata Jim.

Serangan siber itu lebih banyak merugikan pihak yang tidak bersalah, maupun terlibat dalam kegiatan mata-mata. “Jika Anda di pihak yang merasa tidak terlibat tetapi menjadi korban, apakah Anda bisa tidur tenang malam ini?,” tulisnya.

Saturday, 28 December 2013

Perang Masa Depan Adu Senjata Teknologi Saraf Otak

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgLmGMkuXUp-z13vvLA_e1M0jh3tZYbKJ7aejZcerTCQ6C4e6wUMn1Fxj2fd2AU8nHBC8M25AAc1WomGWGve_Ek-lcrPxBO2R0orQg5zaFfsXKZTu1oPRr4z4LTDGwY3Y4RXq8XW0cTIMs/s400/2.jpg
Ahli saraf melihat aplikasi pertahanan dan keamanan ke dalam otak. Neuroweapon memiliki kapasitas untuk mengubah cara perang di masa depan.

James Giordano, neurosaintis Potomac Institute for Policy Studies di Arlington, Va, dan Rachel Wurzman, neurosaintis Georgetown University Medical Center di Washington, DC., mencoba mendifinisakan "neuroweapon" di Synesis.

Jangan lagi Anda pikirkan penghancuran dengan mengirim serampangan bom atom atau napalm. Perang masa depan harus tepat, rapi dan bersih yaitu kontrol atas otak manusia.

Kemajuan sains otak dapat menciptakan pil yang membuat tahanan bicara, racun dapat mematikan fungsi otak dalam beberapa menit atau supersoldier tertanam chip di otak secara cepat mengunci lokasi musuh.

Taktik psikologis tradisional telah digunakan dalam perang sebelumnya. Tetapi kapasitas teknologi jauh lebih luas seperti membaca pikiran musuh dengan presisi tinggi.



Teknologi antarmuka otak-mesin memungkinkan kombinasi otak manusia dengan program komputer canggih. Chip otak cepat menyaring sejumlah besar data intelijen. Pilot tempur dengan algoritma dapat cepat mengunci target musuh.

Obat dapat dikembangkan untuk membuat bentuk emosi tahanan dalam ruang interogasi. Hormon oksitosin menjadi kandidat utama yang mengubah tahanan tidak kooperatif menjadi teman.

Jenis lain manipulasi psikofarmakologikal yaitu meningkatkan kinerja prajurit tetap waspada tanpa tidur, meningkatkan kekuatan persepsi dan menghapus kenangan mengerikan di medan perang. Obat dirancang untuk mencegah PTSD.

Namun sejauh ini belum ada obat untuk meningkatkan fungsi otak.

"Jujur saja, tidak banyak dibandingkan kafein atau nikotin," kata Jonathan Moreno, bioetikawan University of Pennsylvania di Philadelphia.

Agen mikroba dan racun dari alam untuk mengacaukan otak musuh secara alami. Dalam daftar ini termasuk neurotoksin dari kerang air yang menyebabkan kematian dalam beberapa menit.

Bakteri dapat menimbulkan halusinasi, gatal dan selera aneh. Mikroba amuba yang merangkak naik ke saraf penciuman menyerang dan membunuh jaringan otak.

"Laporan ini berisi gudang neuroweapon dan banyak mengangkat isu etika serta hukum," kata Jonathan Marks, bioetikawan Pennsylvania State University di University Park.

Beberapa ilmuwan telah berkomitmen untuk menolak penerapan penelitian saraf untuk kepentingan dan tujuan militer yang dianggap ilegal atau tidak bermoral.

"Ini tidak cukup hanya masalah etika. Potensi sains begitu kuat sehingga tanggung jawab ilmu saraf berjalan lebih jauh dari sekedar penelitian," kata Curtis Bell, ilmuwan Oregon Health & Science University di Portland.

Bell telah melihat edaran petisi untuk ahli saraf, penandatangan janji tidak berpartisipasi dalam mengembangkan teknologi untuk tujuan ilegal. Sejauh ini sekitar 200 ahli saraf dari 18 negara telah menandatangani.

"Di satu sisi, apa yang ingin Anda katakan adalah ilmu pengetahuan dan teknologi tidak boleh digunakan untuk melakukan hal-hal buruk," kata Giordano.

Militer Amerika Serikat mengeluarkan dana besar dalam penelitian otak. DARPA (Defense Advanced Research Projects Agency) memiliki beberapa daftar proyek penelitian terkait ilmu saraf.

"Faktanya kami hidup di sebuah dunia di mana ada orang yang ingin melakukan hal-hal buruk kepada kami. Akhirnya, beberapa hal ini menjadi luar sana," kata Moreno.

 

Prajurit Berani Mati Dalam Sejarah Dunia

Berani Mati mungkin itu selogan pembelaan yang sangat seram yang bisa membuat kita bergidik. arti dari berani mati itu adalah rela memberikan nafas dan jiwanya terhadap sesuatu yang dibelanya. Prajurit jaman dahulu memberikan seluruh jiwa raganya untuk bertempur membela negara tanpa memberikan surat "disposisi" kebawahannya atau ke yang lain ;) namun diantara yang sempat tercatat disejarah.
Thomas A. Baker (1944)

Sersan Baker adalah bagian dari gabungan angkatan darat & laut Amerika Serikat yang ditugasin buat merebut pulau Mariana Saipan dari tangan Jepang. Di satu hari saat beberapa pasukannya terdesak serangan senapan mesin dari musuh, baker mengambil sebuah peluncur roket berlari beberapa meter menuju bunker tentara jepang, dan.. Duarrr! Satu tembakan roket membuat bunker kecil itu hancur rata dengan tanah.

Saat hari terakhirnya, Baker menyadari kalau dia beserta pasukannya kini berhadapan sama 5.000 lebih tentara jepang bersenjata lengkap + bayonet. Terkepung dari tiga arah sekaligus, baker bersiap untuk melakukan serangan.

Gelombang serangan pertama dari tentara jepang membuatnya mendapatkan luka yang cukup serius, saat pelurunya habis dia menggunakan apapun yang ada didepannya sebagai senjata, bahkan dia sempat menghajar beberapa musuh dengan tangan kosong. Karena terluka parah, Baker lalu ditandu dari medan pertempuran. Saat itu hampir semua tentara Amerika terpaksa dipukul mundur, tapi Baker rupanya menyadari dirinya yang terluka hanya akan memperlambat pasukannya. Satu permintaan terakhir, dia minta diturunkan dan dibaringkan kebelakang pohon, berbekal sepucuk pistol Colt 1911 terisi 8 peluru penuh dia menyuruh semua pasukannya untuk segera mundur secepat mungkin.

Saat Amerika berhasil merebut pulau Saipan dibulan itu juga, mereka menemukan jasad Baker masih bersender di tempat yang sama saat mereka tinggalkan. Pistol Colt 1911 yang dipegangnya telah kosong. Didepannya kini tergeletak 8 tentara Jepang yang tewas, sama seperti jumlah peluru yang dimiliki baker disaat terakhirnya..

Frank Luke (1918)


Pada waktu perang dunia pertama karena teknologi belum canggih, balon udara biasa oleh Jerman digunakan sebagai alat pengintai. Diliat dari fisiknya sih sebenarnya alat pengintai ini lumayan empuk tapi karena dilindungi satu skuadron pesawat tempur dan pasukan artileri antiudara, usaha untuk menghancurkannya bisa jadi perbedaan antara hidup dan mati.

Frank Luke adalah salah satu dari sekian pilot pesawat tempur amerika yang mempunyai reputasi terbaik untuk urusan yang satu ini. Bahkan dalam 10 kali penerbangan dia sempat menjatuhkan 14 balon pengintai dan 4 pesawat tempur musuh. 1 rekor yang tak terkalahkan selama perang dunia pertama.

Penerbangan terakhir luke terjadi di Murvaux, Perancis tahun 1918. Sendirian dalam jantung pertahanan musuh dia berniat untuk menjatuhkan sekumpulan balon udara yg ada didepannya. Dimulai dengan terbang rendah, dia berhasil menjatuhkan dua balon udara pertamanya. Saat berusaha menghindari serangan dari artileri anti udara dan tembakan senapan mesin, 1 skuadron pesawat tempur musuh menukik dari atas dan siap untuk mengejarnya.

Terkepung baik di darat dan di udara tidak menyurutkan niat Luke untuk terus menyerang. Setelah menghindari beberapa serangannya akhirnya dia berhasil menjatuhkan balon ke tiga dan seterusnya. Pada saat yang bersamaan Luke sebenarnya sudah terluka parah, rentetan tembakan senapan mesin dari sebuah bukit rupanya telah menembus badan pesawat dan mengenai punggungnya. Memastikan kalau tidak ada lagi balon udara yang terbang, Luke lalu memutuskan untuk mendarat darurat disatu lapangan terbuka.

Setelah berhasil mendarat menyadari kini dia dah tidak bisa kemana-mana lagi dan terkepung dari segala penjuru, Luke memutuskan untuk tidak mati begitu aja. Terluka parah ia mengeluarkan pistol Colt Model 1911 miliknya lalu menembak beberapa tentara Jerman yang ada didepannya sebelum akhirnya tewas karena luka tembak didada dan punggungnya

Ia menjadi penerbang pesawat tempur amerika pertama yang dianugerahi medali kehormatan "Medal Of Honor".

Saito Musashibo Benkei (1189)


Benkei adalah seorang raksasa yang sangat kuat. Pada waktu itu dia bergabung dengan kuil lalu menjadi biarawan. Namun dia bukan biarawan seperti pada pada umumnya yang rajin berdoa dan sembahyang didalam kuil dan tentunya tidak berhubungan dengan segala sesuatu yang berbau kontak fisik. Dulu biara atau kuil tidak cuma dijadiin sebagai tempat spiritual aja tapi juga dijadiin sebagai pusat budaya, administrasi dan militer. Karena tidak cocok, beberapa waktu kemudian Benkei berhenti dan memutuskan untuk menjadi Yamabushi, yakni sebuah tradisi lama yang meyakini kekuatan supranatural dapat membuat seorang menjadi pendekar yang kuat.

Disebuah daerah di Kyoto dia menantang siapapun pendekar pedang terkuat untuk mengalahkannya. Lebih dari 999 pedang dah dia kumpulin sebelum akhirnya seseorang bernama Minamoto No Yoshitsune mengalahkannya. Sebagai tanda bukti kekalahannya Benkei lalu bergabung dengan Yoshitsune dan berperang melawan Klan Taira.

Semua berjalan baik, kesuksesan demi kesuksesan diraih duo itu, sebelum pada akhirnya saudara tertua Yoshitsune, Minamoto No Yoritomo karena cemburu memfitnah Yoshitsune sebagai pengkhianat. Mengetahui segalanya akan segera berakhir, Yoshitsune memutuskan kalau jalan terbaik mengakhiri semua ini adalah dengan melakukan ritual Sepukku yang tidak lain adalah ritual bunuh diri. Supaya ritual ini lancar, benkei lalu menjaga istana tempat Yoshitsune berada

Telah terkepung dari segala penjuru, Benkei menjaga satu-satunya gerbang utama memastikan tidak akan ada siapapun yang bisa lewat. Satu persatu prajurit mencoba maju untuk melawan, namun tidak ada satupun yang bisa lewat karena semuanya tewas di tangan Bengkei. Dengan segala kekuatannya Benkei menghabisi siapa saja yang mencoba lewat. Memberikan waktu bagi Yoshitsune untuk menyelesaikan ritual bunuh diri nya.

Menyadari prajurit yang maju itu tidak ada yang berhasil, pasukan musuh memutuskan untuk menembakkan hujan panah ke arah Benkei. Puluhan panah berhasil menembus badannya, but you know what?? Benkei tidak langsung roboh, butuh beberapa waktu untuk menyadari kalau ternyata Benkei sudah mati walaupun dalam keadaan berdiri.

Yoshitsune sudah melakukan ritualnya dan dia mati dalam keadaan terhormat

Vikings Di Jembatan Stamford (1066)


Pada tahun 1066, waktu itu sejumlah Viking yang memutuskan untuk istirahat sejenak sebelum melakukan invasi disergap oleh pasukan Inggris ditempat yang dikenal dengan Jembatan Stamford. Karena diserang tiba-tiba, mereka tidak sempat melakukan persiapan dan seluruh peralatan mereka masih tertinggal di kapal.

Kelompok Viking yang terserang terbagi dua, satu disisi timur dan yang satu lagi di sisi barat jembatan. Setelah menghabisi kelompok yang berada disisi timur, kelompok pasukan Inggris itu lalu memutuskan untuk menghabisi kelompok lainnya yang ada disebelah barat.

Saat mereka mencoba menyebrangi jembatan itulah, seorang Viking bertubuh besar lengkap dengan kapak ditanggannya telah berdiri, bersiap membunuh siapa saja yang mencoba melewatinya. Viking ini ternyata bukan prajurit sembarangan, dengan kapak miliknya nya ia bisa menghancurkan baju jirah, helm dan perisai layaknya sepotong tahu, sabetan pedang pun tidak membuatnya roboh, bahkan dia seperti tidak merasakan sakit sama sekali! Puluhan prajurit Inggris pun tewas satu persatu, perlahan demi perlahan mereka kewalahan. Mereka tidak bisa melewati jembatan selama Monster Viking itu berada di atasnya..

Sampai akhirnya salah prajurit menemukan kelemahan si Viking itu. Dia lalu diam-diam menyiapkan perahu dan berenang menuju bawah jembatan. Mungkin karena sibuk menghajar orang didepannya, si Viking itu tidak menyadari kalau ada musuh berada tepat dibawah tempat dia berdiri. Dengan satu tusukan, tombak pun menembus jembatan dan tepat menusuk selangkangan si Viking serangan vital ini membuat Viking itu roboh, lalu dengan sigap pasukan Inggris pun mengeroyok si Viking yang telah sekarat itu hingga tewas..

Pertempuran ini akhirnya dimenangkan oleh Inggris, dan lebih dari 6000 Viking tewas. Peristiwa ini kemudian menjadi apa yang dikenal dengan sebutan "Akhir Bangsa Viking

Al-Qaeda Makin Kuat di Irak, AS Kirim Rudal dan Drone. AS akan mengirim helikopter Apache jika saja tidak ditolak Kongres

 Drone ScanEagle yang diluncurkan dengan mesin ketapel
Diam-diam Amerika Serikat mengirimkan bantuan senjata mereka pada pemerintah Irak. Puluhan rudal penghancur telah sampai di bumi Irak, tahun depan pesawat mata-mata nirawak (drone) akan ikut meluncur. Bahkan AS berencana mengirim helikopter Apache jika saja tidak ditolak Kongres.

Seperti diberitakan New York Times yang mengutip seorang pejabat Kementerian Luar Negeri, AS pekan lalu telah mengirimkan pesanan Irak, yaitu 75 rudal Hellfire. Untuk satu buah rudal ini, Irak merogoh kocek US$70.000 atau lebih dari Rp859 juta per buahnya. 

Rudal ini akan ditembakkan dari pesawat Cessna turboprop ke markas-markas militan Al-Qaeda di Irak. CIA akan memandu dan memberikan informasi intelijen terkait target serangan.

Selain itu, AS rencananya akan mengirimkan 10 drone mata-mata ScanEagle pada Maret tahun depan. Harga satu drone yang dilemparkan dengan alat semacam ketapel ini mencapai US$100 ribu atau Rp1,2 miliar.

Menurut pejabat AS, bantuan ini diperlukan terutama pasca ditariknya tentara Amerika dua tahun lalu, karena Irak mulai kehabisan rudal Hellfire. Selain itu, Irak yang minim di angkatan udara dan mata-mata udara, sangat terbatas sekaligus kemampuannya untuk melokalisir dan menyerang markas al-Qaeda di barat dan utara negara tersebut.

Untuk mengatasi keterbatasan alat mata-mata Irak, pemerintah Barack Obama juga telah memberikan tiga balon sensor Aerostat, tiga helikopter mata-mata ke militer Irak dan berencana mengirimkan 48 drone mata-mata Raven sebelum tahun 2014 berakhir. Selain itu, AS juga untuk pertama kali akan mengirimkan pesawat tempur F-16 ke Irak pada musim gugur tahun depan.

Sebenarnya Obama juga berencana menyewakan dan menjual helikopter tempur Apache pada Irak, namun ditolak Kongres. Para anggota dewan di AS khawatir, Apache akan digunakan Perdana Menteri Nouri al-Maliki untuk mengintimidasi lawan politiknya.

Akibat tidak mendapatkan Apache dari AS, akhirnya Irak beralih ke Rusia. Dengan Rusia, Irak membeli empat helikopter tempur MI-35 bulan lalu dan berencana membeli puluhan lagi.

Pengiriman rudal dan drone ini sesuai dengan permohonan Maliki saat mengunjungi Washington D.C. Oktober lalu. Maliki tidak ingin pasukan AS tetap di negaranya, namun dia mendesak AS untuk menjual drone dan Apache pada mereka.

Sejak tahun 2005, AS telah menawarkan Irak bantuan sebesar US$35 miliar dalam bentuk senjata dan layanan militer, namun hanya US$8 miliar yang digunakan atau disetujui senat, seperti diungkapkan dalam riset William Hartung, direktur Center for International Policy di Washington.

Menurut Hartung, sebelumnya AS telah menjual ke Irak persenjataan tradisional, seperti tank Abram 140 M1, 18 jet tempur F-16 (yang tertunda), enam pesawat kargo C-130, dan jet serta kendaraan tempur lainnya. Irak sebelumnya telah menawarkan untuk membeli sistem pertahanan udara terintegrasi seharga US$2,4 miliar.

Persenjataan ini diperlukan Irak untuk melawan kekuatan Al-Qaeda yang semakin ganas saja. Menurut laporan PBB, tahun ini saja lebih dari 8.000 rakyat Irak tewas dalam serangan dan pengeboman Al-Qaeda, 952 di antaranya adalah tentara Irak, ini angka tertinggi sejak kekerasan tahun 2008.

kelompok afiliasi Al-Qaeda di regional tersebut, Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), punya kekuatan besar di utara dan barat Irak. Mereka dilaporkan kerap berjalan dalam konvoi bersenjata, mengintimidasi kota-kota dan membantai pejabat lokal.

Pekan lalu, pengebom bunuh diri meledakkan diri dan menewaskan komandan militer Divisi Tujuh Irak dan puluhan tentaranya. Saat itu, Divisi Tujuh sedang menyerbu kamp latihan Al-Qaedah di Rutbah.

Hari Natal lalu, dua bom mobil meledak menewaskan sedikitnya 38 orang dan melukai 70 umat Kristen lainnya di Bagdad. Salah satu bom meledak di luar gereja usai misa Natal, bom lainnya meledak di pasar saat umat Kristiani sedang berbelanja.

Menurut pejabat Irak yang tidak ingin disebut namanya karena takut diincar al-Qaeda, kelompok militan ini mengambil keuntungan dengan menyingkirnya pasukan AS. ISIS, kata pejabat ini, membangun operasi mereka di Irak, meluas hingga Suriah. Di Suriah, mereka mengirimkan pengebom bunuh diri, 30 sampai 40 orang per bulannya. Sasaran mereka tidak hanya kaum Syiah yang menguasai pemerintah, namun pejabat Sunni yang mereka sebut sebagai antek Maliki.

Meningkatnya kekuatan Al-Qaeda menurut para ahli karena pemerintahan mayoritas Syiah Maliki dinilai arogan dan tidak mampu merangkul dan berbagi kekuasaan dengan para tokoh Sunni. Akibatnya, gerombolan sakit hati terutama dari kalangan pemuda, bergabung dengan al-Qaeda.

"Kebijakan pemerintahan yang sektarian berkontribusi pada masuknya elemen pemuda dari komunitas Sunni secara berbondong-bondong ke Al-Qaeda," kata Haitham Abdullah al-Jubouri, pegawai pemerintah di Baquba.

Menyusul penyerangan ISIS yang semakin marak di Irak, juru bicara Kementerian Luar Negeri Jen Psaki mengeluarkan pernyataan keras Minggu lalu. Menurutnya, Al-Qaeda saat ini mulai menguasai wilayah di dalam perbatasan Irak.

"Al-Qaeda adalah musuh bersama Amerika dan Republik Irak, dan ancaman bagi wilayah Timur Tengah seluruhnya," kata Psaki.

Drone Mata-mata Tidak CukupKekuatan ISIS yang semakin meningkat dikatakan tidak akan musnah jika hanya diserang dengan rudal Hellfire. Menurut para ahli, Irak memerlukan drone serang, bukan drone mata-mata yang kemampuan terbangnya terbatas.

"Memberikan mereka drone ScanEagles memang bagus. Tapi apakah akan membuat perubahan? Daya jangkaunya sempit," kata Michael Knights, ahli keamanan Irak di Washington Institute for Near East Policy.

"Apa yang diperlukan saat ini adalah drone yang mampu terbang jauh, berdaya tahan lama, serta bersenjata. Ada satu tempat di dunia di mana Al-Qaeda bisa lari dari drone atau serangan udara AS, yaitu Irak dan Suriah," kata Knight.

Sebenarnya wacana permintaan drone bersenjata jenis Predator atau Reaper telah dilayangkan oleh Menteri Luar Negeri Irak Hoshyar Zebari. Namun Maliki dalam kunjungannya ke Washington tidak secara resmi memintanya.

Selain itu, pemerintah Gedung Putih sepertinya tidak akan mengabulkan jika permintaan tersebut disampaikan. "Kami tidak menerima permintaan resmi untuk drone bersenjata-AS untuk beroperasi di Irak. Kami juga tidak berencana mengirimkan misi I.S.R tersebut ke Irak," kata Bernadette Meehan, juru bicara Dewan Keamanan Nasional. I.S.R singkatan dari intelijen, pengamatan dan mata-mata.

Amerika memang satu dari 11 negara yang memiliki kemampuan drone canggih. Dikendalikan dari jarak jauh, drone ini mampu menjatuhkan serangan ke berbagai wilayah. Namun tidak dipungkiri, penggunaan drone di beberapa tempat seperti Pakistan, Yaman dan Afganistan juga ikut menewaskan warga sipil.

Seiring dengan semakin menyusutnya anggaran pertahanan AS, penggunaan drone ditingkatkan dan rekrutmen tentara dikurangi. Diperkirakan 30 persen dari Patroli Tempur Udara akan dikurangi, digantikan dengan drone yang jumlahnya ditambah, dari 65 menjadi 85.

Tahun 2013, seperti dilansir ABC News, anggaran Pentagon menyusut hingga US$6 miliar menjadi US$525 miliar.

Selain itu, keengganan AS menjual drone tempurnya karena takut teknologi canggih ini jatuh ke tangan yang salah, seperti Al-Qaeda atau Hizbullah. Pejabat intelijen AS kepada Washington Times November lalu mengatakan bahwa saat ini semakin mudah memperoleh teknologi tersebut.

"Semakin mudah bagi aktor non-negara untuk mendapatkan teknologi ini," kata dia.

Sebelumnya pemimpin Hizbullan Hassan Nasrallah mengklaim telah menerbangkan drone buatan mereka ke udara Israel tahun lalu. Negara zionis itu membenarkan telah menembak jatuh drone di udara mereka.

Menurut Nasrallah, drone itu buatan Iran dan dirakit di Lebanon. Tidak diketahui tipe dan kemampuannya.

Hal serupa juga terjadi di Asia saat Jepang menembak jatuh drone China Oktober lalu di atas pulau sengketa. Menurut pengamat, hal ini menunjukkan bahwa teknologi drone mulai juga diminati oleh negara-negara di Asia.

"Teknologi baru yang vital ini meningkatkan kewaspadaan. Namun sebaliknya, jika digunakan dengan gegabah, teknologi ini akan meningkatkan krisis matitim di Laut China Selatan atau Timur," kata Patrick M. Cronin, direktur senior Asia-Pacific Security Program di Center for a New American Security yang berbasis di Washington.

Saturday, 31 August 2013

Jika Barat Menyerang Suriah. Saling serang kemungkinan juga terjadi di dunia siber.

Kapal perang AS, USS Ramage, siaga di Mediterania menunggu perintah serang ke Suriah
Sekitar 6.000 warga Suriah berbondong-bondong melintasi perbatasan Masnaa, Lebanon, Rabu waktu setempat. Jumlah ini berkali-kali lipat lebih banyak ketimbang sebelum penyerangan senjata kimia pekan lalu di wilayah Ghouta, pinggiran Damaskus.
Di hari normal, biasanya hanya sekitar 500 sampai 1.000 pengungsi Suriah datang ke Lebanon, tergantung intensitas dan luas area pertempuran, seperti dilansir CBS News, Kamis 29 Agustus 2013. Sekitar 2.000 orang menyeberang dari Lebanon ke Suriah, mengevakuasi keluarga mereka dari zona tempur.
Selain takut jadi sasaran senjata kimia rezim Bashar al-Assad, kali ini warga Suriah eksodus lantaran khawatir akan serangan Barat. Salah satu dari mereka adalah seorang wanita, sebut saja namanya Ummu Ahmad, 45, yang menyeberang ke Lebanon bersama lima anaknya.
"Seakan tidak cukup seluruh kekerasan dan pertempuran di negara ini, sekarang Amerika ingin mengebom kami?" kata Ummu Ahmad yang enggan memberikan nama aslinya demi keselamatan.
Dia kini menjadi bagian dari dua juta rakyat Suriah yang tinggal di pengungsian di negara-negara tetangga, seperti Turki, Yordania dan Lebanon. Hidup mereka terkatung-katung, bahkan melarat. "Apa yang akan kami lakukan di sini? Akan ke mana kami? Saya tidak tahu, tapi setidaknya kami aman," kata Ummu Ahmad.
Ketakutan yang sama tidak hanya dialami oleh rakyat Suriah. Pemerintah Israel juga ikut ketar-ketir. Pasalnya, mereka kemungkinan akan kena getah pertempuran antara Assad dan Barat.
Untuk itulah Israel mempersiapkan warga sipilnya untuk menghadapi peperangan. Kantor pos Israel ditugaskan mengirimkan masker gas ke lima juta atau sekitar 60 persen dari populasi Israel, untuk mengantisipasi serangan gas beracun. Selain itu, tentara juga ditarik ke dalam untuk melindungi rakyat.
Ketegangan semakin menjadi saat Presiden Barack Obama secara langsung mengatakan bahwa serangan senjata kimia pekan lalu yang menewaskan 1.700 orang adalah ulah rezim Assad. Dalam acara PBS Newshour, Obama mengatakan bahwa dia menyangsikan tuduhan Assad kepada pasukan oposisi.
"Kami tidak percaya, dengan sistem peluncuran yang menggunakan roket, tentara oposisi mampu melakukannya. Kami menyimpulkan bahwa adalah pemerintah Suriah yang telah melakukan aksi keji ini," ujar Obama.
Wakil Presiden AS Joe Biden juga dengan lantang menegaskan "tidak diragukan lagi" Assad menggunakan senjata kimia.
Tuduhan terhadap rezim Assad juga datang dari NATO dan Liga Arab yang mengatakan bahwa Suriah menimbun senjata kimia. "Penggunaan senjata ini tidak bisa diterima dan tidak bisa dibiarkan. Mereka yang bertanggung jawab harus diadili. Kami menganggap penggunaan senjata kimia adalah ancaman pada perdamaian dan keamanan internasional," ujar NATO dalam pernyataannya.
Upaya menghentikan kekerasan Assad di Suriah melalui Dewan Keamanan PBB juga masih buntu. Rancangan resolusi tindakan militer yang diajukan Inggris tidak mencapai mufakat di DK PBB, terutama karena sekali lagi dijegal Rusia dan China.
Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan bahwa resolusi yang diajukan Inggris terlalu prematur. Menurut dia, DK PBB masih harus menunggu laporan dari tim investigasi PBB di Suriah yang telah mengambil sampel dari lokasi insiden senjata kimia.
Obama mengatakan bahwa dia belum mengeluarkan keputusan apapun soal serangan terhadap Suriah. Namun, empat kapal perang AS telah siaga di Laut Mediterania, siap menunggu perintah serang. Begitu pula dengan Inggris dan Prancis. Mereka bersikeras, serangan bisa dilakukan walaupun tanpa restu DK PBB.
"Apakah mungkin merespons serangan senjata kimia tanpa persetujuan Dewan Keamanan PBB? Saya katakan: bisa," Hague menegaskan.
Jika diserang
Menurut para analis, jika memang diserang, Suriah akan menghindari pertempuran langsung dengan AS dan hanya akan menerima hantaman roket, selama serangan itu tidak mengganggu pusat pemerintahannya.
Lagipula, serangan AS nanti dianggap tidak akan memakan waktu lama. Seperti disampaikan berbagai sumber di Gedung Putih, serangan itu bukan untuk menggulingkan Assad, hanya menghukum saja. Diperkirakan, AS hanya akan memborbardir Suriah selama tiga hari.
 "Saya kira kalkulasinya adalah, 'Mari merunduk, terima saja serangan yang terbatas dan bertempur di lain hari,'" kata Shawn Brimley, ahli pertahanan dari Center for a New American Security, sebagaimana diberitakan Reuters.
"Saya justru akan terkejut jika Assad coba menyerang balik, karena itu malah hanya akan memperparah serangan AS," lanjut Brimley, yang juga anggota Dewan Keamanan Nasional Obama.
Namun yang jadi masalah adalah sekutu-sekutu dekat Suriah, seperti Iran dan Hizbullah. Pengamat mengatakan Suriah memang menghindari pertempuran langsung dengan AS. Namun, Assad dan sekutunya bisa menyerang negara-negara tetangga mitra AS di kawasan, seperti Israel, Yordania atau Turki. Pengamat menyebutnya "reaksi asimetris".
Baik Suriah dan Iran memang memiliki kapasitas militer yang tidak bisa dianggap enteng. Itulah sebabnya, Barat lebih memilih menyerang dari jarak jauh ketimbang masuk ke wilayah darat atau udara Suriah.
Kedua negara, Suriah dan Iran, memiliki rudal balistik yang bisa menjangkau Israel, Turki dan Yordania. Belum lagi jika dibantu pasukan Syiah Hizbullah dari Lebanon yang dibekingi Iran. Dengan puluhan ribu roket jarak dekatnya, Hizbullah bisa menyerang hingga pusat kota Israel.
Bantuan dari Iran ini sudah bisa dipastikan. Presiden Hassan Rohani dalam percakapannya dengan Presiden Vladimir Putin seperti diberitakan Press TV mengatakan Iran akan mengupayakan segala cara untuk mencegah serangan Barat ke Suriah.
"Aksi militer akan memiliki dampak yang besar terhadap kawasan. Penting sekali untuk menerapkan seluruh upaya untuk mencegahnya," kata Rohani.
Pernyataan jauh lebih keras disampaikan Panglima Militer Iran, Hassan Firouzabadi, Rabu lalu. Dia mengancam bahwa "setiap serangan ke Suriah, berarti juga membumihanguskan Israel."
Iran diprediksi akan memegang kata-katanya. Namun pengamat menyangsikan Iran akan melakukan serangan langsung terhadap Israel. Pasalnya, serangan ke Israel akan mencoreng citra Rohani yang berjanji meningkatkan hubungan luar negeri Iran.
Hayat Alvi, dosen studi Timur Tengah di U.S. Naval War College mengatakan, Iran kemungkinan akan menggunakan tangan Hizbullah untuk pekerjaan kotor ini. "Serangan Hizbullah ke Israel sangat mungkin, dan banyak yang berspekulasi soal perang Hizbullah-Israel lainnya di Lebanon," kata Alvi.
Hal ini sebelumnya telah disampaikan oleh pemuka Syiah pro-Hizbullah di Lebanon, Syeikh Afif Nabulsi. "Setiap serangan AS terhadap Suriah akan dibalas dengan keras pada kepentingan-kepentingan AS di kawasan dan Israel secara langsung," ujarnya seperti dilansir Daily Star.
Selain negara-negara di kawasan, yang bisa menjadi korban serangan asimetris ini adalah warga Suriah. Serangan terutama akan dilakukan oleh Hizbullah yang telah menurunkan ribuan tentaranya ke wilayah Suriah.
"Hizbullah kemungkinan akan merespons serangan AS dengan menyerukan semua operasi di lapangan yang merencanakan serangan dan pembunuhan, untuk mempercepatnya," kata Matthew Levitt, pakar terorisme dari The Washington Institute for Near East Policy, yang akan meluncurkan buku tentang Hizbullah pekan depan.
"Iran, Suriah dan Hizbullah semuanya cenderung melakukan serangan asimetris," kata Levitt.
Selain itu, konflik ini berpeluang meluas jika Iran mengerahkan kelompok militan Syiah yang didukungnya di Irak. Menurut pejabat AS yang berpengalaman di Timur Tengah, selama ini militan Syiah di Irak belum bergerak menanggapi serangan yang dilakukan kelompok militan Islam.
"Masih ada militan di Irak yang kemungkinan besar akan merespons jika ditekan Iran. Ini yang menjadi keprihatinan dan menganggu pikiran semua orang," kata pejabat yang enggan disebut namanya ini.
Selain itu, serangan tidak hanya dilakukan di ranah pertempuran militer. Alvi memperkirakan, saling serang juga akan terjadi di dunia maya alias siber. "Iran dan Suriah bisa mengincar infrastruktur siber tentara koalisi dan target-target potensial lainnya. Mereka terbukti cukup mumpuni di bidang ini," kata Alvi.

Friday, 8 March 2013

AKAR MASALAH PERANG ANTARA MALAYSIA DAN KESULTANAN SULU


Raungan pesawat tempur terdengar di langit Sabah, Malaysia, Selasa 5 Maret 2013. Terdengar suara mendesing sebelum gelegar bom menggetarkan tanah di Desa Tanjung Labian, Lahad Datu, Sabah. Kengerian mulai menyergap warga setempat.  Di kejauhan, ada suara truk militer menderum melintasi Tanjung Labian menuju Tanduo.
Sekitar setengah jam, Desa Tanduo, 7 kilometer dari Tanjung Labian, diharubiru ledakan bom. Lalu senyap sebentar, sebelum “rat-tat-tat -tat” suara rentetan senapan riuh bersahutan. Rupanya, ratusan serdadu Malaysia menyisir Tanduo yang membentang di pesisir timur Sabah itu. Mereka mencari para militan dari Kesultanan Sulu, Filipina, yang sudah dua pekan menguasai kampung itu.
"Setelah serangan pertama, saya menegaskan para penyusup itu harus menyerah dan jika mereka menolak, maka aparat akan bertindak tegas," kata Perdana Menteri Malaysia M Najib Razak menjelaskan “serangan fajar” itu. “Pemerintah harus mengambil tindakan menegakkan marwah dan kedaulatan.”
Diduga ada 180 orang Sulu di Tanduo.  Di bawah pimpinan Putra Mahkota Sulu Raja Muda Agbimuddin Kiram, mereka menduduki sejumlah kawasan di Lahad Datu, Sabah. Mereka menyatakan Sabah milik Kerajaan Sulu, dan meminta Malaysia menambah bayaran atas “rental” Sabah.
"Ini adalah waktunya,” kata Kiram. “Kami akan tetap bertempur demi hak-hak kami. Mereka tidak bisa menakut-nakuti kami karena kami bertarung demi hak Bangsa Sulu, dan Bangsa Filipina secara umum. Itu jika pemerintah Filipina masih menganggap kami orang Filipina," kata Kiram kepada radio dzMM.

Dan jawaban Kuala Lumpur adalah aksi polisionil yang dilancarkan Selasa pagi itu. Bagi Malaysia, Sabah adalah wilayah kedaulatannya. Rabu, keesokan harinya, puluhan mayat ditemukan bergelimpangan. Malaysia mengklaim, 31 militan Sulu dan 8 polisi Malaysia tewas dalam serangan belasan jam itu.
Kekuatan Sulu habis?  Tidak juga. Kepala Kepolisian Malaysia Ismail Omar menyatakan, sampai Kamis 7 Maret, polisi masih memburu para militan Sulu. “Kami menyudutkan mereka di dua kampung,” katanya.
 “Sewa” atau “Penyerahan”?
Sekitar tahun 1390, seorang perantau Minangkabau bernama Raja Baginda mendarat di Buansa, yang kini terletak di dekat Jolo, Ibukota Provinsi Sulu. Menurut MC Halili, dalam buku “Philippine History” edisi 2004, orang-orang Raja Baginda mudah menaklukkan suku setempat karena memiliki senjata api, sesuatu yang baru di negeri itu. Raja Baginda lalu giat mengislamkan penduduk, dan menjadi penguasade facto wilayah itu.
Pada 1450, Syarif Al Hasyim atau lebih dikenal sebagai Sayid Abu Bakar, seorang ulama Arab, tiba pula di Buansa setelah bertolak dari Johor, semenanjung Malaysia. Sayid Abu Bakar  lalu menikahi Paramisuli, putri Raja Baginda. Setelah ayah mertuanya meninggal, Sayid Abu Bakar lalu meresmikan pemerintahan Kesultanan yang meniru model kekhalifahan di Arab.
Keturunan Sayid Abu Bakar inilah yang menjadi sultan-sultan Sulu sampai hari ini.
Abu Bakar juga membentuk tentara yang terdiri dari warga Sulu asli yakni Tausug. Dengan gelar “Paduka Mahasari Maulana al-Sultan Sharif-ul-H?shim”, dia merapatkan kekuasaan Kesultanan Sulu, meliputi wilayah maritim. Sulu pun berkembang menjadi kekuatan maritim terbesar di kawasan.
Kolumnis Rita Linda V. Jimeno, seperti dimuat oleh Manila Standard Today, Senin 18 Februari 2013, menuliskan antara 1473 hingga 1658, Sabah yang dahulunya dikenal sebagai Borneo Utara adalah wilayah Kesultanan Brunei. Namun pada 1658, Sultan Brunei memberikan wilayah ini kepada Sultan Sulu sebagai balas jasa bagi Sultan Sulu yang membantu meredam perang sipil di Kesultanan Brunei.

Pada 1761, Alexander Dalrymple, seorang pejabat Bristish East India Company, melakukan perjanjian dengan Sultan Sulu menyewa Sabah sebagai pos perdagangan Inggris. Kesepakatan sewa-menyewa itu termasuk penyediaan tentara oleh Kesultanan Sulu untuk mengusir Spanyol. Sementara pantai barat Borneo Utara (Serawak sekarang) diserahkan oleh Sultan Brunei ke Inggris beberapa tahun kemudian.
Tahun 1878, petualang Austria bernama Baron de Overbeck yang melihat Kesultanan Sulu sedang kepayahan menghadapi kekuatan kolonial Spanyol membujuk Sultan Sulu menyewakan Borneo Utara yakni Sabah dengan bayaran (yang diistilahkan Sultan Sulu sebagai “Padjack”) per tahun sebesar 5.000 dolar Malaya, atau sekitar 1.600 dolar Amerika Serikat saat itu. Dan Sultan Sulu yang sedang butuh dana untuk berperang pun mengiyakan.
Namun, alih-alih memakai sendiri izin “sewa” lahan, Overbeck menjual kembali “hak” itu kepada seorang pedagang Inggris, Alfred Dent. Dent kemudian mengelola Sabah di bawah bendera British North Borneo Company.
Kerajaan Inggris lalu memberi status Piagam Kerajaan untuk Sabah. Tapi belakangan Spanyol yang menjajah Sulu, dan Belanda yang sedang menjajah sebagian besar Kalimantan memprotes. Bekalangan, kata Senator Filipina Jovito R. Salonga dalam pidatonya di Senat Filipina pada 30 Maret 1963, Inggris mengklarifikasinya dengan menyatakan “Kedaulatan tetap pada Sultan Sulu” dan perusahaan Dent itu hanya otoritas pengelola.
Namun pada 1885, Inggris, Spanyol, dan Jerman, menandatangani Protokol Madrid yang mengakui kedaulatan Spanyol di Kepulauan Sulu. Pengakuan ini ditukar dengan pelepasan Spanyol atas segala klaimnya di Borneo Utara atau Sabah untuk mendukung Inggris. Pada 1888, Sabah resmi menjadi protektorat Inggris--yang kemudian menduduki Malaysia sebagai jajahan.
10 Juli 1946, enam hari setelah kemerdekaan Filipina, British North Borneo Company mengalihkan semua hak dan kewajibannya pada Kerajaan Inggris. Di masa Presiden Filipina Diosdado Macapagal, tahun 1962, sebelum Malaysia terbentuk, Filipina pun mengajukan klaim atas Sabah.
 “Pendirian kita, Overbeck dan Dent, bukan entitas kedaulatan atau mewakili kedaulatan tertentu, tidak bisa dan tidak menguasai atau berdaulat atas Borneo Utara,” kata Salonga dalam pidato bersejarahnya yang dilansir ulang oleh Inquirer Global Nation pada 4 Maret 2013.
Sebenarnya Inggris pun berniat mengembalikan Sabah ke Kesultanan Sulu. Untuk proses itu, dilakukanlah pemungutan suara, menentukan apakah rakyat Sabah memilih bergabung dengan Federasi Malaysia, atau kembali ke Kesultanan Sulu. Hasilnya, rakyat Sabah lebih memilih Malaysia daripada Sulu. 16 September 1963, Sabah bersatu dengan Malaysia, Sarawak, dan Singapura, membentuk  Federasi Malaysia merdeka.
Malaysia merdeka, sewa Sabah dialihkan dari pemerintah Inggris ke Malaysia. Tahun 1962, Kesultanan Sulu memberikan mandat pada Presiden Filipina Diosdado Macapagal untuk melakukan negosiasi terkait wilayah Sabah yang mereka miliki. Sejak saat itu disepakati, Kuala Lumpur harus membayar sewa tahunan sebesar 5.300 ringgit atau setara 69.700 peso kepada pewaris tahta Kesultanan Sulu.
Juru bicara Kesultanan Sulu, Abraham Idjiran, menyatakan, sampai tahun 2002, Malaysia membayar 73,040.77 peso (Rp17,4 juta) kepada Sultan Sulu Jamalul Kiram III.
"Ini adalah cek yang dibayarkan oleh Kedutaan Besar Malaysia di Filipina. Nilainya setara 69.700 peso, untuk wilayah seluas 77.699 kilometer persegi," kata Idjirani seperti dikutip ABC CBN News, Kamis 21 Februari 2013. “Ini menunjukkan bahwa secara historis dan hukum kami memiliki wilayah itu," ujar Idjirani. 
Namun, jika Sulu menganggap itu uang pajak, Malaysia menganggap itu pembayaran atas penyerahan kedaulatan. Menteri Luar Negeri Malaysia Datuk Seri Anifah Aman menolak klaim pembayaran uang setiap tahun kepada pewaris Sultan Sulu sebagai uang sewa wilayah Sabah. Uang itu dibayarkan untuk penyerahan Sabah.

Menurut Anifah, perjanjian antara Alfred Dent dan Baron von Overbeckn dari the British North Borneo Company dengan Sultan Sulu yang dibuat pada 1878 menyatakan Sultan Sulu menyerahkan wilayah Kalimantan Utara secara permanen.

Dia menambahkan, Sabah telah diakui oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai bagian dari Malaysia. Kata Anifah, dia dan Menteri Luar Negeri Filipina Albert del Rosario bingung mengapa Kesultanan Sulu mengklaim Sabah saat kedua negara tengah menghadapi pemilihan umum.

Upaya damai
Setelah digempur habis-habisan dengan pesawat udara, Kesultanan Sulu mengumumkan gencatan senjata sepihak terhadap tentara keamanan Malaysia. Sultan Jamalul Kiram III meminta para pengikutnya yang masih bertahan di Sabah untuk tidak lagi menyerang tentara keamanan Malaysia.
Namun, niat baik Kesultanan Sulu itu ditolak mentah-mentah oleh pihak keamanan Malaysia. Pernyataan itu terungkap dalam akun Twitter milik Menteri Pertahanan Malaysia, Ahmad Zahid Hamidi, sebagaimana dikutip oleh laman GMA Network.
Ahmad menegaskan Malaysia tidak akan melakukan gencatan senjata kecuali pihak tentara Kesultanan Sulu menyerah tanpa syarat kepada Malaysia. "Demi kepentingan seluruh warga Sabah dan rakyat Malaysia, habisi dulu seluruh tentara militan," kata Hamidi.
Sejak Kamis itu pula, Pemerintah Malaysia menyatakan kawasan di sekitar operasi militer itu sebagai Kawasan Keamanan Khusus. Lima batalyon polisi dan tentara ditempatkan di sana.
Presiden Benigno Aquino juga meminta para militan Sulu di Sabah untuk menyerah. “Langkah kalian salah. Yang tepat dan memang, paling benar kalian lakukan adalah menyerah,” kata Aquino dilansirPhilippines Star.