KISAH RUYATI SEBELUM DIPENGGAL, DAN TKI LAINNYA MENANTI TEBASAN PEGANG ALGOJO DI ARAB SAUDI


 Rumah itu berada di samping jalan aspal yang terbilang baru. Beralamat di Jalan Raya Sukatani Kampung Ceger, Desa Sukadarma, Sukatani, Kabupaten Bekasi, rumah itu cukup mudah dikenal. Dindingnya cerah warna merah muda. Tapi hati penghuninya tengah dirundung mendung.

Di luar rumah, beberapa karangan bunga berdiri segar. Ada tulisan 'Bupati Kabupaten Bekasi', 'DPRD Kabupaten Bekasi', ada pula tertanda dari Istri Gubernur Jawa Barat.

Tak ada tenda dan kursi yang disewa khusus. Dalam ruang tamu berukuran sekitar 4 x 3 meter persegi, para penghuni berjejer, duduk lesehan di tikar. Ubedawi (59), Een Nuraeni (35), Evi Kurniati (32), Irwan Setiawan (27), serta beberapa sanak keluarga.

Sayup-sayup dari dalam terdengar suara pengunjung melantunkan Surat Yasin. Mereka adalah keluarga Ruyati binti Satubi, buruh migrant yang sekonyong-konyong dihukum pancung di Arab Saudi.

Tak ada kabar, atau telegram duka cita kepada keluarga Ruyati. Seperti bermimpi, putrinya Een, memegang lekat foto Ruyati yang telah ia copot dari bingkainya. Di foto itu, Ruyati berkerudung hitam. Berkali-kali pula Een menyeka air mata dengan jilbabnya yang sudah basah.

Keluarga sempat melarang Ruyati ke Arab Saudi, karena dia sudah tua. "Seharusnya ibu di rumah saja, istirahat. Biar anak-anaknya yang mencari nafkah," kata Evi, putri Ruyati yang kedua. Tapi dia nekat. Bahkan sempat memalsukan umur menjadi sebelas tahun lebih muda. Menurut dia, itu permintaan perusahaan penyalur. Tanpa dimudakan, Ruyati tak boleh ke Arab.

Sudah berkali-kali Ruyati menjadi TKI. Sebelumnya, lima tahun lalu bekerja di Madinah. Yang kedua, Ruyati bekerja selama enam tahun di Kota Abha. Rumah yang ditempati Evi, adalah hasil jerih payah Ruyati. Dari hasil kerja, Ruyati bisa menyekolahkan Evi di keperawatan. Berkat Ruyati, kini Evi bekerja di satu rumah sakit.
Yang terakhir, Ruyati bekerja pada seorang keluarga bernama Omar Muhammad Omar Halwani, di Al Khalidiya Makkah, selama satu tahun empat bulan. Di sinilah pangkal petaka itu dimulai.
***
Pada 14 Januari 2010, Warni --teman Ruyati di Arab Saudi, menghubungi keluarga dan mengatakan Ruyati membunuh ibu majikan, Khairiyah binti Hamid (64).

Dalam persidangan, Ruyati mengaku membunuh karena sakit hati, sering dimarahi korban. Ruyati pernah berencana melarikan diri, tapi gagal. Pintu rumah selalu dikunci. Sehingga, pada satu kesempatan, tepatnya 12 Januari 2010, Ruyati melawan. Ruyati menghujamkan pisau dapur ke tubuh korban. Dan, meninggallah Khairiyah.

Tak ada ampun di pengadilan Arab, kecuali bila keluarga korban mengampuni. Nyawa dibayar nyawa. Pengadilan pun memutuskan Ruyati harus dihukum pancung. Sayangnya, keluarga tak tahu persis kabar miris ini. Mereka hanya tahu,  perempuan 54 tahun itu dituduh membunuh, dan meringkuk di bui.
Keluarga Ruyati sudah pergi ke Kementerian Luar Negeri melacak kebenaran kabar itu. Tak hanya itu, keluarga juga mendatangi Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), dan lembaga swadaya masyarakat Perhimpunan Indonesia untuk Buruh Migran Berdaulat (Migrant Care). "Saya minta bantuan ke semua lembaga agar ibu saya diringankan hukumannya," kata Een. Dia tahu, bila terbukti membunuh, ibunya bakal terkena qisas.

Pada Sabtu, 18 Juni 2011, Ruyati dijemput petugas penjara di Makkah. Tak ada sanak keluarga, atau kerabat yang tahu bagaimana prosesnya. “Bahkan pengacaranya berkunjung sehari setelah eksekusi. Dia terkejut, sel Ruyati telah kosong. Orangnya telah dieksekusi,” ujar Faizol Riza, staf khusus menteri di Kementerian Tenaga Kerja RI.

***
Kritik pun muncul. Bagaimana mungkin eksekusi mati Ruyati yang sudah diketahui sebagai narapidana dengan hukuman mati itu sampai luput dari perhatian pemerintah RI di Arab Saudi?

Kegeraman pun meletup. Yang ditunjuk hidungnya siapa lagi kalau bukan pemerintah. Wakil Ketua Komisi I DPR, Tubagus Hasanuddin, mengatakan pemerintah lamban menangani masalah TKI. DPR, kata dia, kerap kali menegur pemerintah karena tak kunjung beres ihwal buruh migran itu. "Kami teriak-teriak, pemerintah tak peduli."

Lembaga yang memantau nasib buruh di manca negara, Migrant Care, menuding pemerintah teledor melindungi nasib pembantu rumah tangga di luar negeri. Kasus Ruyati, kata dia, telah disampaikan kepada pemerintah sejak Maret 2011. "Namun tidak pernah ada tindak lanjutnya," ujar Direktur Eksekutif Migrant Care Anis Hidayah. Kasus Ruyati bukti terang adanya keteledoran dalam diplomasi perlindungan pekerja Indonesia.

Tapi tudingan pemerintah tak kerja, sepertinya tak tepat benar. Konjen Republik Indonesia (KJRI) di Jeddah penah menghadiri persidangan Ruyati dua kali, pada 3 dan 10 Mei 2010. Dalam sidang itu, Ruyati didampingi dua penerjemah mahkamah berkebangsaan Indonesia, dan dua orang dari KJRI Jeddah. Pada saat proses investigasi dan reka ulang pun, Ruyati didampingi penerjemah.

Konjen Jeddah juga memberikan bantuan hukum, dengan mengirim dua Nota Diplomatik ke Kementerian Luar Negeri Arab Saudi pada 19 Mei 2010 bernomor 1948, dan 14 Agustus Agustus 2010 bernomor 2986. Kedua nota itu meminta akses kekonsuleran seluas-luasnya, termasuk informasi jadwal persidangan, pendampingan dan pembelaan, serta mendapatkan salinan putusan hukum Ruyati.

***

Yang jelas, mesti ada upaya, tapi toh tak mustajab. Pada Sabtu 18 Juni 2011, Ruyati digiring ke tempat hukuman pancung di Makkah. Seperti laporan yang diterima Pemerintah RI, hari menjelang petang saat pedang algojo itu memisahkan kepala Ruyati dan tubuhnya.  Tak ada yang tahu. Tak juga ada saksi dari kerabat, atau pun teman dekat.

Lalu, mengapa informasi itu sampai luput? Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi, Gatot Abdullah Mansyur, upaya membela Ruyati sudah dilakukan jauh hari. “Kami menyewa pengacara dari firma Nasir dan Dhani, yang juga konsultan hukum KBRI di Riyadh,” ujar Gatot.  Soalnya, sejak awal di proses pemeriksaan, Ruyati telah mengaku membunuh majikannya.

Gatot melanjutkan, dalam sistem hukum Arab Saudi, pengakuan adalah segala-galanya. Pengakuan itu adalah soko-nya keadilan dalam hukum pidana Arab. “Jadi kalau pengakuan dan bukti-buktinya dirasa cukup, ya sudah, vonis harus cepat diputuskan,” ujarnya. Setelah Ruyati divonis mati pun, Gatot mengatakan, mereka sempat menjenguknya, dan memantau keadaannya. “Kita tahu bagaimana keadaan Ruyati”.

Itu sebabnya, Gatot heran saat eksekusi terjadi, pihaknya malah tak diberi tahu. Kejadian itu dari berita pagi di koran. “Kami langsung mengutus orang ke kantor polisi untuk mengklarifikasi, dan memang betul Ruyati sudah dipancung dan sudah dimakamkan,” ujar Gatot.  Dia juga sudah mengirimkan dua nota diplomatik, yang intinya agar diberitahu setiap kali proses sidang berlangsung.

Faisol Riza, staf khusus menteri tenaga kerja, pernah diceritakan oleh salah seorang bekas staf lokal KBRI di Arab Saudi, perihal lika liku hukuman mati di Arab Saudi itu. Sang bekas staf lokal itu mengatakan, dalam memantau mereka yang divonis mati, surat menyurat belaka tak cukup. “Rupanya mesti ada lobi intensif, termasuk bersilaturahmi dan berkunjung ke keluarga korban, atau juga para pejabat pengadilan”, ujar Riza.

Pendekatan seperti itu penting. Sebanyak 26 pekerja Indonesia kini di ujung hukuman pancung di Arab Saudi. Berdasarkan data dari Migrant Care, ke-26 TKI ini tengah menunggu vonis dan menunggu eksekusi.

Sebelum Ruyati, dulu ada juga kasus sama. Adalah Yanti Irianti binti Jono Sukardi, yang kepalanya dipenggal oleh pengadilan Arab Saudi. TKI asal Karang Tengah, Cianjur, Jawa Barat itu dituduh membunuh majikan. Dia dieksekusi pada 12 Januari 2008. Tapi hingga kini mayatnya tak pernah dikembalikan ke Indonesia.

Kepala BNP2TKI Jumhur Hidayat mengatakan, saat ini ke-26 TKI itu sedang dalam penanganan pemerintah. "Termasuk kasus Siti Zaenab, karena ahli warisnya belum akil baligh," katanya.  Pemerintah, kata Jumhur, akan terus melobi keluarga korban agar memaafkan TKI bermasalah itu. "Cara itu yang paling krusial," kata Jumhur saat ditemuiVIVAnews.com di kantornya, Selasa pekan lalu.

Zaenab ini, terancam pancung karena dituduh membunuh majikannya. Dia sebenarnya akan dieskekusi pada 1999. Namun, Presiden Abdurrahman Wahid yang mendengar kabar eksekusi langsung mengirim surat penangguhan dan langsung menelepon Raja Arab Saudi, Abdullah bin Abdulaziz al-Saud. "Gus Dur cuma menelepon sekali saja, dan ditanggapi dengan baik," ujar Anis.

Menurut aktivis Migrant Care ini, Gus Dur tahu apa yang harus dilakukan, karena peran raja di Arab Saudi sangat sentral. Untuk itu, sebagai Kepala Negara waktu itu, Gus Dur melakukan hal yang tepat. "Di Arab, otoritas raja adalah segala-galanya," katanya. "Kalau raja memberikan maaf, maka putusan eksekusi bisa dicegah".

Memang tak semuanya terdakwa mati nasibnya berakhir di tangan sang jagal. Kementerian Luar Negeri mengungkap ada 303 Warga Indonesia yang terancam hukuman mati sejak 1999 - 2011. Tiga nama telah dieksekusi  di dua negara, dua dipancung di Arab Saudi dan satu orang dieksekusi di Mesir.

Dari 303 WNI, setidaknya 18 orang lolos dari hukuman mati dan mendapatkan keringan hukuman. Empat di antaranya di Arab Saudi, 12 di Malaysia, satu di Suriah, dan satu lagi di Uni Emirat Arab. 


Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar mengatakan, moratorium mewajibkan sejumlah syarat agar majikan yang mempekerjakan TKI terseleksi lebih baik. Misalnya, calon majikan harus melengkapi surat kelakuan baik, gaji minimum 11 ribu riyal atau sekitar Rp25,2 juta per tahun, peta rumah, jumlah dan foto keluarga, serta pernyataan kesediaan membuka akses komunikasi.
***
Lima hari setelah Ruyati dieksekusi, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akhirnya menyatakan sikap. Bertempat di Kantor Kepresidenan, Kamis 23 Juni, SBY memutuskan moratorium pengiriman TKI ke Arab Saudi. Keputusan itu efektif berlaku 1 Agustus 2011. Moratorium akan diberlakukan hingga ada kesepakatan dengan Arab Saudi. "Saya minta warga patuh, mendukung," kata SBY.

Bukan cuma SBY yang sepakat dengan moratorium. Dua hari sebelumnya, Selasa, 21 Juni 2011, Dewan Perwakilan Rakyat menggelar sidang paripurna terkait eksekusi mati Ruyati. Saat itu, semua fraksi DPR sepakat mendesak pemerintah agar menunda pengiriman TKI, hingga pemerintah membenahi semua sistem rekruitmen.

Tapi, moratorium itu suka tak suka akan "memancung" kesempatan para pencari dinar. Angka mereka yang kecewa juga besar. Menteri Muhaimin mengatakan dalam setahun kini ada 180-216 ribu calon tenaga kerja ke Arab Saudi. Itu baru satu negara. Tahun ini mereka gagal berangkat akibat kebijakan moratorium. Pertanyaan berikutnya: siapkah kita dengan lapangan kerja di negeri sendiri?

Related Posts :

0 komentar:

Poskan Komentar

 

AKU DI PERSIMPANGAN JALAN

Kebingungan saat ini berkecamuk di otak dan dada. Yang kubingungkan adalah kebenaran paling benar itu apa? Siapa? dan Bagaimana? Termasuk tawaran konsep kehidupan setelah mati yang ditawarkan para agamawan yang bersumber dari kitab suci masing masing. Bahkan dalam satu agamapun terdapat berbagai penafsiran tentang kehidupan ke depan setelah mati. Ataukah setelah mati ya habis dan selesai, sebagaimana konsep yang ditawarkan oleh ilmuwan yang tidak beragama, yang mendasarkan pada penelitian fakta fakta alam? Itulah kini yang kadang berkecamuk di otakku, dan kukira banyak berkecamuk pada jutaan manusia lain di bumi ini.
Untuk agar kita tidak teromabang ambing kita harus meyakini dan memilih konsep konsep itu yang kita anggap paling benar. Baik itu yang berdasarkan agama maupun yang bukan berdasarkan agama.
Dan mungkin kalau aku memilih yang berdasarkan agama yang kuanut, meski kadang masih terombang ambing. Dalam hal ini. dosa besarkah aku?

SURAT NOORDIN M TOP KEPADA BAGUS TV

Ekslusif BAGUSTV.com kami redaksi bagustv.com menerima e-mail dari seseorang yang mengaku Noordin M top berikut isi e-mail tersebut: Assalamualaikum Wr. Wb Saya Noordin M Top mau membenarkan bahwa yang meninggal di temanggung Adalah Ibrohim Alias Boim,Sebenarnya saya memang pada waktu itu berada di Temanggung dengan kedua pengawal Saya dan Ibrohim,Tetapi pada waktu Pegepungan saya berhasil lolos dari kepungan polisi.Saya tidak akan pernah menyerah sebelum amerika beserta sekutunya keluar dari irak atau negara islam lainnya.Kami mempunyai landasan mengapa kita akan terus meneror orang asing: 1. Sebagai Qishoh (pembalasan yang setimpal) atas perbuatan yang dilakukan oleh Amerika dan antek-anteknya terhadap saudara kami kaum muslimin dan mujahidin di penjuru dunia 2. Menghancurkan kekuatan mereka di negeri ini, yang mana mereka adalan pencuri dan perampok barang-barang berharga kaum muslimin di negeri ini 3. Mengeluarkan mereka dari negeri-negeri kaum muslimin. Terutama dari negeri Indonesia 4. Amaliyat Istisyhadiyah ini sebagai penyejuk dan obat hati buat kaum muslimin yang terdholimi dan tersiksa di seluruh penjuru dunia Yang terakhir ….. bahwasanya Amaliyat Jihadiyah ini akan menjadi pendorong semangat untuk ummat ini dan untuk menghidupkan kewajiban Jihad yang menjadi satu-satunya jalan untuk menegakkan Khilafah Rosyidah yang telah lalu, bi idznillah. Dan kami beri nama Amaliyat Jihadiyah ini dengan : “SARIYAH JABIR” الله أكبر ولله العزة ولرسوله والمؤمنون Amir Tandzim Al Qo’idah Indonesia Abu Mu’awwidz Nur Din bin Muhammad Top

PUTRIKU NURUL ILMI AINUT TIJAR HAMAMI

PKS JADI PARTAI TERBUKA BAGI NON MUSLIM, BLUNDERKAH?

Langkah PKS yang menjadi partai terbuka dengan memberikan peluang kepada non muslim menjadi anggota dan malah menjadi pengurus partai sangat beresiko.

Demikian dikatakan peneliti LSI Burhanuddin Muhtadi menyikapi strategi marketing politik yang dilakukan PKS dengan merubah citra dari partai konservatif menjadi partai terbuka. Sebagai bukti, PKS membuka pintu bagi kaum non muslim untuk bergabung. Soal mendulang perolehan suara ini, Burhanuddin Muhtadi pesimis. Kalau itu dilaksanakan, kata dia, PKS akan menghadapi dua resiko.

Pertama, tidak mudah bagi PKS untuk menyakinkan basis tradisional PKS yang konservatif terhadap perubahan citra tersebut, apalagi membuka bagi non muslim untuk bergabung. Kalau mereka tidak menerimanya karena merasa perubahan itu membuat PKS jauh dari tujuan awal didirikan, maka basis tradisional PKS, kata Burhanuddin, beramai-ramai pindah ke partai lain.

Kedua, non muslim sendiri tidak mudah dibujuk untuk bergabung, atau diyakinkan untuk bergabung. Pasalnya, karena PKS sudah terlanjur diindentikkan dengan partai Islam yang konservatif.

Sebelumnya di arena Munas ke II PKS, Presiden PKS Lutfi Hasan Ishaq mengatakan, pihaknya tidak perlu risau akan ditinggalkan kaum muslim dengan terbukanya PKS bagi non muslim. Ini lantaran, PKS masih tetap berasaskan Islam dan Pancasila.

ANAKKU BELAJAR AKTING, BAJU MLOROT

AROGANSI AMERIKA SERIKAT


Argumentasi Amerika Serikat (AS) selaku kiblat demokrasi yang sudah tertanam di benak masyarakat perlu dievaluasi lagi. Pasalnya, implementasi di Indonesia jauh lebih maju ketimbang AS dalam banyak persoalan. Buktinya, AS belum menerapkan sistem pemungutan suara one man, one vote, one value (satu orang satu suara, satu pilihan, dan satu nilai).Demokrasi kita jauh lebih maju dari Amerika. Kita lihat sampai saat ini belum sekalipun calon presiden yang berasal dari kaum hawa, apalagi presiden. Begitu juga dengan calon wakil presiden, hanya kali ini perempuan yang diusung menjadi wakil presiden. Selainnya belum pernah

Kita bisa lihat, Israel terlalu dianak-emaskan terutama dalam persoalan nuklir. Sedangkan Iran yang baru akan membuat instalasi sudah dipersoalkan. Padahal tujuan pembangunan pembuatan reaktor nuklir tersebut murni untuk damai dan kebutuhan energi listrik

Sekarang kita tak butuh lagi penatar demokrasi dari Paman Sam. Amerikalah yang perlu belajar demokrasi dengan Indonesia. Namun semua ini belum sepenuhnya difahami sebagian besar pemimpin bangsa. Sehingga, kita masih mengagung-agungkan implementasi demokrasi Amerika. Padahal itu tidak bagus

Sudah saatnya pemerintah mengalihkan perhatiannya kepada Negara Timur Tengah. Kita mengetahui, krisis global sekarang ini tak terlalu berimbas terhadap negara-negara Teluk. Bursa mereka malah naik, bukan melorot. Jadi tak salah kiranya pemerintah membangun hubungan yang lebih hangat dengan Timur Tengah